Evelyn Noire terbangun di dalam novel thriller psikologis yang pernah ia baca. Bukan sebagai tokoh utama.
Bukan juga pemeran penting. Melainkan anggota keluarga yang ditakdirkan dibantai dengan sadis oleh seorang psikopat tak tersentuh.
Altair Varellion.
Mahasiswa sempurna di mata dunia. Tampan, cerdas, tenang.
Namun di balik senyumnya, tersembunyi monster yang mengendalikan pembunuhan berantai, perdagangan manusia, dan dendam berdarah yang diwariskan turun-temurun.
Dalam novel asli, Evelyn mati mengenaskan. Dan lebih buruknya lagi, Altair tidak pernah gagal memburu targetnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luxw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lift
Suara alarm kembali berbunyi nyaring memenuhi apartemen.
TIN. TIN. TIN.
Evelyn yang masih tenggelam di bawah selimut langsung mengerang sengsara, karena gadis itu merasa bermimpi di dalam mimpi sampai suara aneh yg ia dengar semalam.
"Tolong... Gue baru merem lima menit..." Dengan mata berat, ia meraba-raba ponsel di meja samping sofa lalu mematikan alarmnya asal.
Namun saat matanya melihat layar, tubuhnya langsung membeku.
10.00 AM.
Hening dua detik. Lalu..
"ANJIRRRR!"
Evelyn langsung bangkit dari sofa seperti mayat hidup yang kena petir. “SATU JAM LAGI KELAS!"
Ia buru-buru berdiri sambil hampir tersandung selimut sendiri. Efek mimpi buruk semalam benar-benar bikin kualitas tidurnya hancur.
Bahkan setelah terbangun tengah malam itu, ia sempat mandi lama buat nenangin diri.
Dan hasilnya, kesiangan.
"Bagus Evelyn. Mahasiswa baru hari kedua udah mau telat."
Ia langsung bergerak super cepat. Cuci muka. Skincare asal. Makeup tipis seadanya. Rambut dirapikan kilat. Masker dipasang. Tas disambar. Dan dalam waktu kurang dari lima belas menitmenit, Evelyn sudah berlari keluar apartemen seperti dikejar debt collector. Pintu lift di ujung koridor hampir tertutup saat ia sampai.
"WAIT WAIT WAIT!"
Tangannya langsung memencet tombol cepat. Pintu lift terbuka kembali perlahan.
"Hah... hah..." Evelyn masuk sambil ngos-ngosan. Namun karena masih kepikiran mimpi semalam, refleks matanya melirik ke arah unit 2701. Pintu itu tertutup rapat seperti biasa. Diam. Tidak mencurigakan.
Namun justru itu yang bikin bulu kuduknya agak merinding. Mimpi semalam terasa terlalu nyata. Sampai sekarang pun ia masih ingat suara bisikan dingin itu. Evelyn buru-buru menggeleng. "Stop. Jangan mikir aneh-aneh pagi-pagi." gumamnya pelan.
Dan tepat saat ia membalik tubuh, langkahnya langsung berhenti. Di dalam lift ternyata ada orang lain. Seorang pria tinggi berdiri santai di pojok lift.
Mengenakan pakaian kampus serba hitam sederhana. Earphone menggantung di lehernya. Rambut gelapnya sedikit berantakan natural. Dan wajah itu...
Kael Reneth.
Evelyn refleks mundur setengah langkah. Sedangkan Kael hanya melirik sekilas sebelum sudut bibirnya naik tipis. "...pagi."
Suaranya rendah dan santai.
Evelyn masih loading beberapa detik. "Oh-...eh pagi."
Ya Tuhan.
Sejak kapan dia ada di situ?!
Jangan bilang dari tadi lihat dia panik sendiri.
Malunya langsung naik setengah mati. Lift mulai bergerak turun perlahan. Suasananya agak canggung beberapa detik. Kael melirik sekilas ke arah Evelyn yang masih sedikit berantakan karena buru-buru. "Kesiangan?"
Evelyn langsung tertawa kaku. "Hehe...Sedikit."
"Sedikit?" Kael melirik layar jam lift. “Jam sepuluh lewat."
"Kalau gue bilang gue tadi pingsan, lo percaya gak?" ucap evelyn.
Kael terkekeh pelan mendengar hal itu. Dan jujur... itu pertama kalinya Evelyn melihat dia tersenyum sedikit.
Tidak semenyeramkan yang ia kira.
"Jurusan bisnis kan?" tanya pria itu lagi.
Evelyn langsung menoleh. "Hah? Kok tau?"
"Kemarin lihat lo di gedung fakultas bisnis." jawabnya santai.
"Oh..." evelyn.
Kael mengangguk kecil.
"Kebetulan gue juga ke sana hari ini."
Evelyn diam sebentar memperhatikan pria itu diam-diam. Tapi... ternyata tidak terasa seperti pria di pikirannya.
Tidak seperti sosok mengerikan dalam novel. Dan tidak seperti pria dalam mimpi buruknya semalam. Mungkin... dia memang cuma mahasiswa biasa.
Kael memasukkan tangan ke saku celana.
"Lo tinggal sendiri?" tanya Kael santai.
Tapi lertanyaan itu membuat Evelyn sedikit waspada lagi. Namun ia cepat-cepat menjawab santai. "Hmm iya. Rumah lagi di renovasi."
bohongnya.
Kael mengangguk pelan. Tidak bertanya lebih jauh. Dan itu malah membuat Evelyn sedikit lega. Lift akhirnya sampai di lobby. Pintu terbuka perlahan. Beberapa orang langsung masuk dan keluar gedung.
Kael berjalan keluar lebih dulu lalu berhenti sebentar.
"Kalau mau... bareng aja ke kampus" Ia menoleh ke arah Evelyn.
"Hah?" evelyn sedikit kaget.
"Mobil gue di basement." lanjut kael.
Evelyn langsung refleks melambaikan tangan cepat. "Eh.. Enggak usah!"
Jawabannya terlalu cepat sampai Kael mengangkat satu alisnya. Evelyn langsung batuk kecil membenarkan sikapnya.
"Maksud gue...gue bawa mobil sendiri kok hehe...." ucap Evelyn biar tidak jadi salah paham.
"Oh." Kael tampak santai saja. Tidak tersinggung. "Yaudah." Namun sebelum pergi, ia melirik sekilas ke arah Evelyn. Tatapannya tenang.
"Tapi jangan nyetir sambil ngantuk. Lo kelihatan belum sadar penuh."
Entah kenapa kalimat sederhana itu membuat Evelyn sedikit diam.
*
*
Mobil Evelyn melaju sedikit lebih cepat dari biasanya membelah jalan kota pagi itu.
Bukan karena gaya. Tapi karena panik. Ia berkali-kali melirik jam di dashboard sambil menggerutu sendiri.
"Telat."
"Telat."
Begitu memasuki area kampus, Evelyn langsung memarkir mobilnya asal rapi. Tas diambil. Pintu dibanting pelan. Lalu ia berlari menuju gedung fakultas bisnis dengan napas ngos-ngosan. Mahasiswa lain yang lewat sampai beberapa kali menoleh dan ada yg sedikit menyingkir juga.
Bukan cuma karena Evelyn cantik. Tapi karena auranya benar-benar seperti pekerja rodi.
"Hah... hah... Kenapa...
kelas pagi... diciptakan..."
Untungnya ruang kelas hari ini masih di lantai yang sama dengan kemarin.
Jadi Evelyn tidak perlu sprint lintas gedung seperti karakter anime sekolah. Dan setelah perjuangan penuh penderitaan, akhirnya ia sampai juga di depan kelas. Ia langsung membuka pintu cepat.
Ceklek.
Napasnya tertahan sebentar.
Untung. Dosennya belum masuk.
"Alhamdulillah... Masih hidup." Evelyn langsung berjalan masuk sambil mengatur napas.
Dan tentu saja, Celine yang sudah duduk manis dari tadi langsung memperhatikan penampilan temannya itu. Langkah lemas. Tatapan kosong. Aura menyerah pada kehidupan. Celine sampai berkedip beberapa kali.
Rambut agak berantakan.
"...Ev." ucap celine.
"Hm..." evelyn.
"Lo kenapa kayak mayat habis lembur tujuh hari?" matanya sambil menatap temannya itu.
Evelyn langsung menjatuhkan tubuh ke kursi di sebelahnya.
BRUK.
"Jangan tanya... Gue habis perang lawan hidup." ucapnya lemas.
Celine tertawa kecil.
"Kurang tidur?"
"Kurang waras." Evelyn langsung menyender lemas ke kursi. Matanya bahkan nyaris tertutup lagi. Beberapa detik kemudian ia baru teringat sesuatu. "Eh."
"Hm?" celine merespon.
"Hari ini jadwal kita apa aja sih? Gue belum sempet ngecek detail." tanya evelyn.
Celine langsung membuka ponselnya. "Bentar... Hari ini kayaknya ada tiga matkul."
Evelyn langsung mendongak perlahan. "...hah?"
Celine membaca satu per satu. "Jam sebelas sampai setengah satu Pengantar Manajemen Bisnis. Jam satu sampai setengah tiga Statistik Dasar."
"Terus..." Evelyn.
Celine menyipit melihat layar. "...jam empat sampai jam enam Etika Bisnis."
Hening. Evelyn menatap kosong ke depan. Jiwanya seperti keluar pelan-pelan.
"Banyak banget... Ini kampus apa kerja rodi. Mana gue belum sarapan..."
Celine ngakak kecil melihat ekspresinya. "Makanya bangun pagi.' "
"Gue baru tidur jam berapa tau." ucap Evelyn.
"Habis ngapain?" tanya celine penasaran.
Evelyn langsung diam. Masa iya bilang habis trauma mimpi psikopat. "Hmm...meditasi.”
"Halah."
Tak lama kemudian dosen masuk. Kelas langsung mulai.
......
Sesi pertama berjalan cukup aman. Walaupun bagi Evelyn... suara dosen lama-lama berubah seperti ASMR pengantar tidur. Ditambah ruangan AC dingin.
Kursi nyaman. Dan perut kenyang karena tadi sempat nyemil roti dari vending machine.
Sungguh kombinasi mematikan. Namun ia masih bisa bertahan. Sampai akhirnya masuk sesi kedua, matakuliah Statistik Dasar. Dan di sinilah penderitaan dimulai. Evelyn duduk sambil menatap papan tulis dengan mata kosong.
Rumus angka mulai memenuhi layar proyektor.
Otaknya perlahan shutdown.
Ditambah dosennya... serius banget. Suaranya datar. Tidak ada emosi. Seperti AI pengajar matematika.
"Jika nilai mean meningkat..."suara dosen menjelaskan.
Evelyn berkedip lambat.
"...maka standar deviasi..."
Kelopak matanya makin berat. Di sebelahnya, Celine mulai sadar temannya sedang sekarat. Ia langsung menyenggol lengan Evelyn kecil.
"Ssst."
"Bangun."
Evelyn langsung tegak lagi.
"Iya..." Lima menit kemudian, kepalanya turun lagi.
Celine menyenggol lagi.
"Ev."
"Hm..."
"Tidur lo?."
"Enggak..." Padahal matanya bahkan sudah setengah tertutup.
Beberapa mahasiswa lain mulai menahan tawa melihat perjuangan Evelyn melawan kantuk. Namun masalahnya, dosen Statistik ini terkenal killer. Dan nasib buruk memang suka datang tepat waktu.
"Saudari Evelyn."
Deg.
Seluruh kelas langsung diam. Evelyn masih loading beberapa detik sebelum sadar namanya dipanggil. "Hah-eh?"
Dosen wanita berkacamata di depan kelas menatap tajam.
"Kalau mengantuk, silakan cuci muka dulu."
Hening.
Beberapa mahasiswa langsung menunduk menahan ketawa. Sedangkan Evelyn cuma bisa duduk diam dengan jiwa melayang. "...baik bu."
Dengan langkah lemas penuh penderitaan, ia berdiri dari kursinya. Bahkan saat berjalan keluar kelas, auranya benar-benar seperti NPC habis kalah perang.
Celine sampai menutup mulut menahan ngakak. "Semangat Ev..."
Sesampainya di toilet lantai tiga, Evelyn berjalan masuk dengan langkah lemas seperti arwah penasaran. Suasana toilet kampus siang itu cukup sepi.
Hanya terdengar suara air dari wastafel dan dengungan AC samar dari atas, bahkan kamar mandinya pun ada AC, sungguh kampus elit.
Evelyn berdiri beberapa detik di depan cermin. Menatap bayangannya sendiri. Masker masih terpasang. Rambut mulai sedikit berantakan. Mata panda samar mulai muncul. "...gue kelihatan kayak korban duluan."
Ia menghela napas panjang. Niat awalnya memang cuma mau cuci muka. Tapi semakin dipikirdipikir malah semakin malas. Tatapannya perlahan bergeser ke deretan pintu toilet.
Lalu ide buruk itu muncul.
"...tidur bentar kayaknya enak."
Lima menit. Cuma lima menit.
Mana mungkin hidupnya lebih hancur lagi. Akhirnya Evelyn masuk ke salah satu bilik toilet paling ujung. Mengunci pintu. Lalu duduk di atas toilet sambil menyender ke dinding.
"Ah...Nyaman juga."
Kelopak matanya mulai turun perlahan. Tubuhnya yang sedari tadi capek langsung terasa berat. Dan untuk beberapa detik dunia terasa tenang. Sampai-
BRAK!
Suara keras terdengar dari luar bilik toilet. Evelyn langsung membuka mata, mengerutu.
"Ck! Apa lagi sih..."
Lalu terdengar suara langkah kaki cepat. Dan suara seseorang seperti sedang berdebat atau berantem?... Samar. Tidak jelas. Namun suaranya terdengar kasar.
Evelyn mengernyit.
"Berantem?"
Ia mendecak sebal. "Kenapa sih... gue cuma mau tidur bentar."
Suara gaduh itu makin dekat. Lalu mendadak- sunyi.
Hening total.
Deg.
Entah kenapa bulu kuduk
Evelyn langsung berdiri.
Perasaan aneh mulai muncul lagi. Perlahan ia berdiri dari duduknya. Tangannya bergerak menuju kunci pintu toilet.
Ceklek-
Dan tepat sebelum pintu
terbuka-
BLESS!
Suara benda tajam menembus kayu pintu bilik toiletnya, terdengar keras tepat di depan wajahnya, hanya berjarak beberapa centi saja.
"__*"
curang tauuu😒😒