Dia bukan pahlawan. Dia adalah bencana yang berjalan.
Terlahir kembali di dunia yang hancur oleh perang kuno, Arlen membawa ingatan dari kehidupan sebelumnya sebagai Aster Valerius-sang ksatria legendaris. Tapi kali ini, dia tidak terikat oleh kode kehormatan yang rapuh. Dia memiliki sesuatu yang lebih berbahaya: Aether, sumber kekuatan asli yang mampu memotong sejarah dan menghancurkan realitas itu sendiri.
Dari hutan terlarang hingga takhta dewa, Arlen akan menginjak siapa pun yang menghalanginya. Monster? Dia akan menyerap darahnya. Dewa? Dia akan meremukkan takhtanya. Manusia yang berkhianat? Dia akan mengajarkan mereka arti ketakutan sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arian verse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Mage tipe sensor
Arlen bangkit, membersihkan kotoran dari lutut di celananya. Kemudian berbalik menuruni bukit dengan perlahan dan tidak lama dia sudah hampir tiba di dekat gerbang rumah nya namun tepat saat itu, insting waspadanya tiba-tiba menyala. Bulu-bulu di lengannya berdiri.
Di atas pagar kayu halaman depan rumahnya, seekor burung gagak hitam besar sedang hinggap. Burung itu tidak bergerak. Matanya yang berwarna merah gelap menatap tajam ke arah Arlen, seolah menembus langsung ke kedalaman jiwa nya. Itu bukan tatapan hewan liar. Itu tatapan pengamat.
Lingkaran Suci, pikiran Arlen langsung melompat pada kesimpulan paling mengerikan.
Apakah mereka sudah mencium bau perubahan energi di sini? Ataukah ini sekadar kebetulan?
Arlen tidak menunjukkan rasa takut. Ia tidak lari. Ia tidak mengeluarkan Aura defensif yang mungkin justru akan memicu alarm sihir burung itu. Sebaliknya, ia melakukan hal yang lebih licik.
Ia memiringkan kepalanya, meniru gerakan anak kecil yang penasaran pada burung, lalu berjalan santai melewati pagar. Namun, saat dia berada tepat di bawah burung itu, Arlen dengan halus mengubah frekuensi Auranya. Ia tidak menyerang. Ia membuat Auranya bergetar pada frekuensi rendah yang tidak nyaman bagi indra makhluk sensitif—seperti dengungan nyamuk yang mengganggu telinga.
Burung gagak itu tersentak. Kepalanya menggeleng-geleng gelisah, seolah mendengar suara bising yang tiba-tiba muncul di kepalanya. Dengan kaget, burung itu mengepakkan sayapnya dan terbang menjauh, menghilang ke langit kelabu senja.
Arlen menghela napas lega. Hampir saja. Burung itu kemungkinan besar adalah Familiar atau mata-mata sihir. Jika ia bereaksi agresif, burung itu mungkin akan mengirim sinyal balik ke tuannya. Tapi dengan gangguan halus tadi, burung itu hanya merasa tidak nyaman dan pergi.
Ancaman ternyata sudah lebih dekat dari yang aku kira.
Sesampainya di dalam rumah, suasana terasa mencekam. Cedric duduk di meja kayu sederhana, wajahnya suram menatap selembar surat resmi bermaterai lilin merah. Elena berdiri di sampingnya, tangannya gemetar memegang pundak suaminya.
"Ayah? Ibu apa yang terjadi?" tanya Arlen, meski ia sudah bisa menebak isi surat itu dari ekspresi mereka.
Cedric mendongak, paksaan senyum tipis terlihat di wajahnya yang lelah. "Surat dari Kantor Penguasa Wilayah, Nak. Mereka... mereka mengirim tim inspeksi. Lusa hari ini."
"Lusa?" Arlen mengerutkan kening. "Untuk apa?"
"Mereka mendengar rumor bahwa tanah kita mungkin mengandung endapan mineral atau sisa-sisa artefak kuno," jawab Cedric berat. "Jika tim inspeksi—yang dipimpin oleh seorang Sensor mage—menemukan sesuatu yang bernilai, mereka berhak mengambil 'pajak temuan' sebesar lima puluh persen sebelum kami bahkan sempat menjualnya. Atau lebih buruk, mereka akan menyita tanah itu demi 'keamanan kerajaan'."
Elena menelan ludah, matanya berkaca-kaca. "Kita tidak punya apa-apa di tanah itu, Cedric! Hanya tanah tandus dan semak belukar!"
"Tapi mereka tidak percaya itu," desis Cedric frustrasi. "Mereka hanya mencari alasan untuk mengusir kita. Tuan Karis ingin tanah ini."
Arlen diam sejenak, otaknya bekerja cepat. Sensor mage. Mereka menggunakan sihir deteksi untuk merasakan konsentrasi Mana atau jejak energi kuno di dalam tanah.
Jika mereka menemukan Daun Perak Dingin yang sedang ia rawat, atau area bukit belakang yang telah ia manipulasi aliran Mananya, permainan akan berakhir. Keluarga Ashford akan hancur.
"Apa yang akan terjadi jika mereka tidak menemukan apa-apa?" tanya Arlen tenang.
"Mereka akan kecewa, mungkin marah, tapi mereka harus pergi sesuai protokol hukum," jawab Cedric. "Tapi bagaimana mungkin mereka tidak menemukan apa-apa? Tanah kita luas, dan mage tipe sensor sangat teliti."
Arlen tersenyum kecil, sebuah senyuman dingin yang tidak sesuai dengan wajah polosnya. "Mereka teliti terhadap Mana, ya. Mereka mencari gumpalan energi, kebocoran sihir, atau resonansi elemen. Mereka buta terhadap hal-hal yang tidak memiliki 'suara' atau sihir."
"Apa maksudmu, Nak?" tanya Elena bingung.
"Aku punya ide," kata Arlen, matanya berkilat cerdik. "Biarkan aku mengurus halaman belakang dan bukit kecil di ujung tanah kita malam ini. Jangan biarkan siapa pun masuk ke sana sampai lusa pagi."
Cedric dan Elena saling pandang, ragu. Tapi melihat ketenangan aneh di mata putra mereka, mereka akhirnya mengangguk pelan . Mereka tidak punya pilihan lain.
Malam itu, ketika bulan tertutup oleh awan tebal, Arlen menyelinap keluar lagi. Ia membawa sekop kecil dan beberapa kerikil biasa dari sungai.
Arlen pergi menuju bukit hitam di ujung tanah mereka—tempat di mana dia sebelumnya telah menyiapkan lahan untuk Daun Perak Dingin dan tanaman langka lainnya.
Alih-alih menyembunyikan tanaman itu secara fisik, Arlen melakukan sesuatu yang lebih efektif. Ia menggali lubang-lubang kecil di titik-titik strategis yang membentuk pola geometris terbalik di sekitar area tanaman.
Di setiap lubang, Arlen menanam kerikil yang telah ia "isi" dengan Aura statis. Ingatannya tentang eksperimen siang hari membantunya sekarang. dia tahu bahwa Aura bisa bertindak sebagai perisai atau pemantul.
Dengan konsentrasi penuh, Arlen mengalirkan Aura ke dalam kerikil-kerikil itu, tetapi ia mengatur frekuensinya agar bersifat menyerap dan memecah. Kerikil-kerikil ini akan berfungsi sebagai "Penyebar Sinyal".
Ketika mage tipe sensor mengirimkan gelombang deteksi Mana ke area ini besok, gelombang itu tidak akan memantul kembali menunjukkan adanya konsentrasi energi tinggi (tanaman). Sebaliknya, gelombang itu akan dihamburkan oleh jaringan kerikil ber-Aura, membuat seluruh area bukit terdeteksi sebagai zona "kosong", "mati", dan "tandus" secara magis.
Ini adalah ilusi tingkat tinggi yang dibangun bukan dengan sihir, tapi dengan pemahaman mendalam tentang fisika energi.
Arlen berdiri di puncak bukit setelah menanam kerikil terakhir. Napasnya berat, keringat dingin membasahi punggungnya. Menggunakan Aura untuk memanipulasi objek mati dalam jumlah banyak jauh lebih melelahkan daripada sekadar memperkuat tubuh.
Tapi hasilnya sempurna. Jika ia menyentuh tanah itu sekarang, ia masih bisa merasakan aliran Mana yang kaya di bawah permukaan, tempat akar-akar tanaman miliknya sedang menyerap nutrisi. Namun, dari luar? Bukit itu terasa seperti batu mati.
"Silahkan cari sesuka kalian," gumam Arlen lirih, menatap ke arah cahaya lampu di kediaman Penguasa Wilayah yang jauh di kejauhan. "Kalian hanya akan melihat kehampaan dan kekosongan. Dan ketika kalian pergi dengan tangan kosong..."
Ia mengepalkan tangan, merasakan sisa getaran Aura di jarinya.
"...aku akan terus mengumpulkan kekayaan ini langsung di bawah hidung kalian."
Arlen berbalik, berjalan pulang dengan langkah ringan meski tubuhnya lelah. Rencana pertama telah disiapkan. Sekarang, ia hanya perlu menunggu. Kekuatan terbesar bukanlah seberapa keras kau memukul, melainkan seberapa baik kau bersembunyi hingga musuh percaya bahwa kau tidak ada.
Pagi yang ditunggu sekaligus ditakuti akhirnya tiba. Kabut belum sepenuhnya lenyap dari permukaan tanah, namun debu sudah beterbangan di sepanjang jalan utama menuju kediaman Ashford. Suara derap kuda dan bunyi roda kereta yang berat terdengar mendekat, memecah keheningan wilayah yang biasanya sepi itu.
Cedric dan Elena sudah berdiri tegak di depan pagar kayu rumah mereka sejak lama, pakaian terbaik yang mereka miliki sudah dikenakan. Di samping mereka berdiri Arlen, berpakaian rapi namun sederhana, wajahnya tenang tanpa menunjukkan kegelisahan sedikit pun.
Tak lama kemudian, rombongan itu tiba. Terdiri dari tiga kereta kuda yang dihiasi ukiran indah dan diiringi belasan pengawal bersenjata lengkap. Di kereta paling depan turunlah Tuan Karis dengan wajah angkuh seperti biasa, dan di belakangnya ada seorang pria tua bertubuh kurus berpakaian jubah kelabu yang berjalan tertatih-tatih namun matanya tajam menatap sekeliling.
Di kereta kedua, turun pula seorang wanita muda yang mengenakan pakaian lebih mewah, memegang tongkat kayu berujung batu permata berkilauan—ia adalah penyihir yang bertugas memeriksa kandungan tanah dan perubahan energi di sekitar wilayah Ashford.
"Tuan Cedric Ashford," sapa Tuan Karis sambil merapikan lengan bajunya, seolah enggan berdiri terlalu lama di tanah itu. "Sesuai perintah Penguasa Wilayah, kami datang untuk memeriksa seluruh batas tanah kekuasaanmu. Jika ditemukan sumber daya apa pun, hak pengambil alihan nya akan diserahkan kepada pengelola kerajaan sebagai pembayaran utang pajakmu."
Cedric menundukkan kepalanya sedikit sebagai tanda hormat, namun suaranya tegas. "Silakan lakukan pemeriksaan, Tuan. Tanah ini sederhana, kami tidak pernah menemukan sesuatu yang istimewa di sini."
"Kita lihat saja nanti," jawab Tuan Karis sambil memberi isyarat kepada wanita penyihir di sebelahnya. "Lakukan tugasmu, Nona Mira. Cari apa pun yang tersembunyi di wilayah ini."
Wanita yang dipanggil Mira itu mengangguk singkat. Ia berjalan beberapa langkah ke depan, mengangkat tongkatnya ke atas. Batu permata di ujung tongkat itu mulai bersinar terang berwarna biru muda. Ia memejamkan mata, melantunkan kata-kata yang hampir tak terdengar. Seketika itu juga, gelombang cahaya samar menyebar dari ujung tongkatnya, merambat menjalar ke seluruh tanah di sekitarnya, masuk ke dalam lapisan tanah seolah menjadi jangkauan penglihatan yang tak kasat mata.
Arlen berdiri diam di tempatnya, namun kesadarannya terpusat sepenuhnya ke arah bukit hitam di kejauhan. Ia bisa merasakan gelombang tenaga itu melintas. Ia berdoa dalam hati agar susunan batu penutup yang dia pasang dua malam lalu berfungsi sebagaimana mestinya.
Penyihir itu berjalan perlahan menjauhi rumah, mengarahkan tongkatnya ke segala arah, penyihir itu berhenti sesekali seolah merasakan sesuatu, lalu berjalan lagi. Ia melewati ladang tandus, melewati sela-sela pepohonan, hingga akhirnya ia berdiri tepat di hadapan lereng bukit tanpa nama itu.
Mira berhenti bergerak. Cahaya di ujung tongkatnya berkedip-kedip seolah bingung. Mira mengerutkan keningnya, mencoba memperkuat aliran tenaganya. Namun yang ia rasakan hanyalah tanah yang dingin, keras, dan benar-benar kosong—seolah ada selubung tebal yang menghalangi penglihatannya.
"Aneh..." gumamnya pelan. "Ada gangguan samar, tapi tidak ada jejak energi berharga apa pun. Hanya tanah biasa yang mati."
Ia berbalik kembali mendekati Tuan Karis dan orang-orang lain sambil menggelengkan kepalanya. "Seluruh wilayah ini hanya memiliki kandungan energi yang sangat rendah dan tipis. Tidak ada bijih logam berharga, tidak ada sumber mata air ajaib, dan tidak ada tanaman bernilai tinggi yang tumbuh di sini. Tanah ini memang tandus dan miskin, mana di wilayah ini juga sangat tipis, seperti yang dikabarkan kebanyakan orang"