"Arman itu sekarang makin tidak perhatian sama Ibu," tulis pesan dari Ibu Lestari dalam tangkapan layar tersebut. "Setiap bulan uang belanja selalu berkurang. Pasti uangnya dipakai untuk hal-hal yang tidak jelas. Beda sekali sama Yoga. Tapi Yoga juga sama saja, makin ke sini makin tunduk sama Isma. Apa-apa selalu Isma yang didahulukan, sampai-sampai ibunya sendiri sering dilupakan."
Pesan berikutnya memperlihatkan balasan dari Aini yang terkesan memprovokasi, "Sabar ya, Bu. Aini sama Mas Arman selalu usahakan yang terbaik buat Ibu. Kalau Mas Yoga mungkin repot karena harus mengurus Kak Isma juga."
Dan balasan terakhir dari Ibu Lestari membuat napas Isma tertahan: "Repot bagaimana? Anak saja belum punya sampai sekarang. Sudah lima tahun menikah tapi belum ada tanda-tanda. Ibu ini makin tua, ingin menimang cucu dari anak sulung. Tapi kalau rahimnya memang mandul, mau bagaimana lagi. Kasihan Yoga, hidupnya habis cuma buat membiayai perempuan yang tidak bisa memberikan keturunan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PILIHAN HATI DAN LANGKAH PERTAMA
"Baiklah, kalau kamu terus diam... Aku berangkat kerja dulu ya," ucap Yoga akhirnya dengan nada suara lesu.
Ia menyentuh pundak Isma sebentar, memberikan usapan lembut yang penuh rasa bersalah, lalu mengecup puncak kepala istrinya dengan penuh kasih sayang. Isma tidak bergeming, tetapi matanya terpejam sesaat merasakan sentuhan itu. Ketika mendengar helaan napas panjang Yoga dan bunyi pintu kamar yang tertutup rapat, dada Isma terasa begitu sesak.
Sejujurnya, Isma sangat tahu bahwa Yoga adalah suami yang baik. Selama lima tahun pernikahan mereka, Yoga tidak pernah berbuat kasar, selalu bersikap lembut, dan selalu berusaha membahagiakannya. Namun, kerapuhan terbesar suaminya adalah rasa bakti yang berlebihan hingga mudah dimanipulasi oleh ibunya sendiri. Hasutan demi hasutan yang terus ditiupkan oleh Ibu Lestari dan Aini perlahan-lahan mulai mengikis keteguhan hati Yoga. Apalagi, Isma sangat memahami betapa besar kerinduan Yoga untuk memiliki seorang anak. Keinginan mendalam untuk menjadi seorang ayah itulah yang dimanfaatkan oleh sang ibu untuk menanamkan rasa kecewa dan meragukan Isma.
Setelah dipastikan Yoga benar-benar telah berangkat kerja dan suasana rumah mulai hening, Isma menarik napas panjang. Ia membuka laptopnya kembali. Di layar monitor, deretan angka royalti bernilai ratusan juta rupiah berkilat tenang. Uang hasil karya tulisannya selama ini lebih dari cukup untuk membeli rumah baru atau bahkan membiayai program kehamilan yang paling canggih sekalipun secara mandiri.
Isma menyapu air mata yang sempat menetes di pipinya, lalu mengganti tatapan matanya menjadi penuh keyakinan. Ia tidak boleh terus-menerus meratapi keadaan dan membiarkan dirinya diinjak-injak. Jika uang tiga juta rupiah yang diberikan Yoga dipertanyakan dan dianggap cukup untuk membiayai satu rumah, maka Isma akan membuktikannya dengan cara yang paling nyata.
Isma bangkit dari kursi kerjanya, mengambil tas kecil serta kunci motor. Hari ini, ia memutuskan untuk mengambil kendali atas hidupnya sendiri—dimulai dari mengelola anggaran dapur dengan caranya sendiri, tanpa lagi mengorbankan perasaan dan tabungan pribadinya demi orang-orang yang tidak pernah menghargainya.
Pagi masih menyisakan udara dingin ketika Isma menyusuri lorong-lorong Pasar Tradisional yang riuh. Di antara riuk-pikuk suara pedagang yang menawarkan barang dagangan dan aroma rempah segar yang menyeruak, Isma melangkah dengan penuh perhitungan. Matanya secara cermat meneliti setiap deretan sayuran, tempe, tahu, serta ikan segar yang terpajang di atas meja-meja kayu para pedagang.
Isma sadar betul, keputusan Yoga menyunat uang belanja dari lima juta menjadi tiga juta rupiah bukanlah hal yang bisa diabaikan begitu saja. Jika ia menggunakan seluruh uang tiga juta itu untuk menutupi kebutuhan makan enam orang dewasa di rumah besar mertuanya selama sebulan, maka ia hanya akan memanjakan orang-orang yang selama ini meremehkannya. Oleh karena itu, Isma telah menyusun strategi keuangan baru yang sangat ketat.
Dari uang tiga juta rupiah yang diberikan Yoga pagi tadi, Isma membaginya secara sistematis ke dalam tiga bagian secara tegas: satu juta rupiah langsung ia transfer ke dalam rekening tabungan khususnya, satu juta rupiah ia sisihkan di dalam amplop terpisah untuk dana darurat dan kebutuhan mendadak keluarga—terutama kebutuhan Yoga—dan hanya satu juta rupiah sisanya yang dialokasikan khusus untuk belanja bahan makanan selama satu bulan penuh.
"Satu juta rupiah untuk makan enam orang selama tiga puluh hari," bisik Isma dalam hati seraya tersenyum tipis. Artinya, anggaran belanja harian dapur kini dipatok maksimal tiga puluh tiga ribu rupiah saja per hari.
Dengan anggaran seketat itu, Isma dengan lihai memilih bahan-bahan makanan yang terjangkau namun tetap bernutrisi: beberapa papan tempe dan tahu, bayam segar, kangkung, telur ayam sekilo, serta ikan asin dan bumbu-bumbu dapur secukupnya. Tidak ada lagi daging sapi, ayam segar, ataupun buah-buahan impor mahal yang biasanya selalu memenuhi lemari es rumah mertuanya atas biaya pengeluarannya selama ini.
Sekembalinya dari pasar, Isma langsung sibuk di dapur memasak menu sederhana: tumis kangkung terasi, tempe goreng renyah, tahu bacem, serta sambal terasi yang pedas menggugah selera. Aromanya memang harum dan menggoda, namun penampilannya di atas meja makan jauh dari kata mewah.
Saat waktu makan siang tiba, Ibu Lestari dan Aini melangkah ke meja makan dengan senyum jumawa, bersiap menyantap hidangan seperti biasanya. Namun, begitu tudung saji dibuka, raut wajah Ibu Lestari langsung berubah drastis menjadi ketus dan penuh kekecewaan.
"Isma! Apa-apaan menu makanan seperti ini?!" seru Ibu Lestari dengan nada tinggi sembari menunjuk piring-piring di atas meja. "Kenapa cuma ada tempe, tahu, dan kangkung? Mana daging atau ayamnya? Makanan seadanya begini mana memuaskan selera?!"
Aini yang duduk di sebelah mertuanya ikut menimpali dengan raut wajah berlipat, "Iya nih, Kak Isma. Mas Arman itu kerja keras butuh asupan protein yang bergizi. Masa dikasih makan tempe sama tahu melulu?"
Isma dengan tenang meletakkan mangkuk sambal di meja, lalu menatap ibu mertua dan adik iparnya tanpa rasa gentar sedikit pun.
"Maaf, Bu, Aini," sahut Isma dengan nada suara datar dan santai. "Uang belanja yang diberikan Mas Yoga bulan ini kan cuma tiga juta. Setelah dipotong kebutuhan wajib lainnya, anggaran belanja dapur yang tersisa hanya cukup untuk menu sederhana seperti ini. Kalau mau menu daging atau makanan mewah setiap hari, silakan tambahkan uang belanjanya dari uang Mas Arman."
Kata-kata Isma yang begitu menohok dan masuk akal seketika membuat Ibu Lestari dan Aini bungkam, menyisakan rasa jengkel yang tertahan di dada mereka.