"Budget nya ini terlalu berlebihan, harus lebih efisien!"
Kenzo Swara, memberikan revisi untuk Rain Edelweis tak terhitung jumlahnya.
Lelah dan ingin marah, tapi nasib sial Rain memang ada di tangan Teman Rival kantornya itu. Kepala Tim Marketing vs Kepala Tim Perencanaan memang sering bentrok.
Di sisi lain, ada Divisi Humas yang selalu jadi penengah.
Apa jadinya kalau rival kantor Rain malah diam diam suka sama Rain?
Padahal setiap hari Rain selalu mencacinya.
Simak kisah mereka disini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Peri Bumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Canggung
Pagi setelah malam di kafe itu, Rain sampai di kantor dengan perasaan campur aduk. Dia sengaja datang lebih pagi dari biasanya, berharap bisa menenangkan diri sebelum bertemu siapa pun, terutama Pandu.
Namun harapan itu buyar begitu dia sampai di lantai kerjanya. Pandu sudah ada di sana, seperti biasa, duduk di mejanya dengan laptop menyala. Sesaat mata mereka bertemu, dan ada kecanggungan yang jelas terlihat di wajah keduanya.
"Pagi," sapa Pandu, mencoba terdengar seperti biasa, meski suaranya sedikit kaku.
"Pagi," Rain membalas, senyumnya juga terasa dipaksakan.
Mereka berdua sama-sama tahu, hubungan yang dulu terasa begitu natural kini butuh waktu untuk kembali ke titik nyaman, kalaupun bisa kembali sepenuhnya seperti dulu.
Sepanjang pagi itu, Rain berusaha bersikap seprofesional mungkin, fokus pada pekerjaan sambil sesekali mencuri pandang ke arah meja Pandu yang tampak lebih pendiam dari biasanya. Rekan-rekan kerja lain yang biasanya jeli menangkap perubahan suasana, untungnya, terlalu sibuk dengan pekerjaan masing-masing untuk menyadari ketegangan halus di antara keduanya.
---
Menjelang siang, Rain menuju ruangan proyek bersama Kenzo, tempat mereka biasa mendiskusikan progres. Begitu masuk, dia mendapati Kenzo sudah lebih dulu ada di sana, sibuk memeriksa laporan di layar laptopnya.
"Kamu kelihatan capek," komentar Kenzo begitu Rain duduk, tanpa mengalihkan pandangan dari layarnya.
"Nggak tidur nyenyak," jawab Rain jujur, tidak berniat menjelaskan lebih jauh.
Kenzo akhirnya menoleh, memerhatikan wajah Rain lebih seksama. "Ada masalah?"
Rain terdiam sejenak, mempertimbangkan apakah harus bercerita atau tidak. Tapi entah kenapa, di antara semua orang, dia justru merasa paling nyaman bercerita jujur ke Kenzo, orang yang dulu paling dia hindari untuk diajak bicara hal-hal personal.
"Semalam Pandu nembak aku," kata Rain akhirnya, memilih langsung ke intinya.
Kenzo terdiam, ekspresinya sulit dibaca. "Terus?"
"Aku nolak," lanjut Rain, menatap Kenzo lurus-lurus, mencoba mencari reaksi apa pun di wajah yang biasanya begitu datar itu.
Untuk sepersekian detik, ada sesuatu yang berkilat di mata Kenzo, bukan senyum lebar, tapi semacam kelegaan yang berusaha dia sembunyikan di balik ekspresi tenangnya.
"Kenapa?" tanya Kenzo, suaranya lebih pelan dari biasanya.
Rain menghela napas, memutuskan untuk jujur sepenuhnya, meski jantungnya berdebar kencang memikirkan konsekuensi dari kejujuran itu. "Karena aku sadar, aku nggak lagi seyakin dulu soal perasaanku ke dia. Ada orang lain yang belakangan ini bikin aku mikir ulang soal banyak hal."
Kenzo menatapnya lama, tidak langsung menjawab. Ruangan itu terasa hening, hanya suara AC yang berdengung pelan mengisi kekosongan di antara mereka.
"Rain," kata Kenzo akhirnya, suaranya lebih serius dari biasanya, "aku nggak mau kamu bilang sesuatu cuma karena kamu lagi bingung atau baru aja patah hati. Aku nggak mau jadi pelarian."
Kalimat itu mengejutkan Rain. Dia tidak menyangka Kenzo akan mengucapkan sesuatu sehati-hati itu, alih-alih langsung mengambil kesempatan yang mungkin banyak orang lain akan ambil.
"Kamu bukan pelarian," Rain menjawab tegas. "Justru sebaliknya. Aku baru sadar, perasaanku ke kamu itu udah ada dari sebelum aku nolak Pandu. Aku cuma... terlalu takut buat mengakuinya, karena aku pikir itu nggak masuk akal, benci jadi suka, secepat itu."
"Nggak secepat itu," Kenzo membetulkan, akhirnya sedikit tersenyum. "Kita udah kerja bareng berbulan-bulan. Cuma kamu aja yang keras kepala nolak ngakuin dari awal."
Rain tertawa kecil, meski matanya mulai berkaca-kaca karena terlalu banyak emosi yang tertahan sejak semalam. "Kamu ini, di saat kayak gini pun masih sempat-sempatnya sindir aku."
"Kalau aku nggak sindir, nanti kamu nggak sadar-sadar," jawab Kenzo, nada bicaranya melembut meski tetap dengan gaya khasnya yang blak-blakan.
---
Mereka berdua terdiam sejenak, menikmati momen yang terasa berbeda dari biasanya, bukan lagi rival yang saling berdebat soal budget dan strategi, tapi dua orang yang akhirnya berani mengakui sesuatu yang sudah lama tumbuh di antara mereka tanpa disadari.
"Jadi, sekarang gimana?" tanya Rain, mencoba mencairkan suasana yang terlalu serius.
"Sekarang," Kenzo menjawab, menutup laptopnya perlahan, "aku pengen ajak kamu makan malam. Bukan sebagai rekan proyek. Sebagai...." dia berhenti sejenak, seolah mencari kata yang tepat, "sebagai orang yang akhirnya berani ngomong langsung, daripada nunggu waktu yang sempurna kayak orang lain."
Rain tersenyum lebar, hatinya terasa hangat mendengar itu. "Aku terima. Tapi dengan satu syarat."
"Apa?"
"Jangan galak-galak kalau aku telat dateng," Rain bercanda, mencoba meredakan ketegangan yang masih tersisa dari percakapan berat sebelumnya.
Kenzo, untuk pertama kalinya sejak Rain mengenalnya, tertawa benar-benar tertawa, bukan sekadar senyum tipis seperti biasanya. "Nggak janji, tapi aku coba."
---
Namun di balik momen manis itu, Rain tidak bisa sepenuhnya menghilangkan rasa bersalah yang menggantung di hatinya. Sepanjang sore, dia sesekali melirik ke arah meja Pandu, memerhatikan sahabatnya yang tampak berusaha keras bersikap seperti biasa di depan rekan kerja lain, meski Rain tahu persis betapa beratnya hal itu.
Menjelang sore, saat kebanyakan staf sudah mulai bersiap pulang, Rain memberanikan diri menghampiri meja Pandu.
"Pandu," panggilnya pelan.
Pandu menoleh, mencoba tersenyum meski terlihat jelas dia masih menyimpan luka. "Ada apa?"
"Aku cuma mau mastiin, kamu beneran nggak apa-apa," kata Rain, khawatir.
"Aku bakal baik-baik aja, Rain," jawab Pandu, kali ini senyumnya terlihat lebih tulus meski masih ada bekas kesedihan di matanya. "Butuh waktu, mungkin. Tapi aku nggak akan biarin ini ngerusak kerjaan kita, atau pertemanan kita."
"Makasih, Pandu. Beneran," Rain berkata, matanya berkaca-kaca lagi.
"Cuma satu pesenku," kata Pandu, sebelum Rain sempat berbalik pergi. "Jangan pernah ragu buat jujur sama perasaan kamu sendiri lagi, kayak yang kamu lakuin kemarin. Aku belajar banyak dari kesalahanku sendiri, orang yang kamu sayang, nggak akan selalu nunggu sampai kamu siap."
Rain mengangguk, menghargai kedewasaan yang ditunjukkan Pandu meski di tengah rasa sakitnya sendiri. "Kamu bakal nemuin orang yang tepat, Pandu. Orang yang bakal hargain semua kebaikan kamu tanpa kamu harus ragu-ragu dulu."
Pandu tersenyum, kali ini lebih ringan. "Semoga."
---
Malam harinya, Rain pulang dengan hati yang jauh lebih ringan dibanding malam sebelumnya. Di tengah perjalanan pulang, ponselnya bergetar—pesan dari Kenzo.
**Kenzo:** Sabtu ini aku ada acara keluarga. Mama pengen ketemu kamu.
Rain membeku sejenak membaca pesan itu, jantungnya berdebar dengan cara yang benar-benar baru.
**Rain:** Secepat itu?
**Kenzo:** Mama udah nanya-nanya dari lama. Katanya penasaran sama orang yang bikin anaknya pulang kerja sambil senyum-senyum sendiri.
Rain tertawa kecil membaca pesan itu, wajahnya memerah membayangkan skenario yang belum pernah dia bayangkan sebelumnya, bertemu keluarga Kenzo, memasuki dunia yang selama ini terasa begitu jauh dari kehidupannya sendiri.
**Rain:** Oke. Tapi kamu harus temenin aku, jangan ninggalin aku sendirian kalau aku gugup.
**Kenzo:** Nggak akan.
Rain menatap layar ponselnya lama, tersenyum sendiri sepanjang sisa perjalanan pulang. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, dia merasa masa depan yang penuh ketidakpastian itu, entah kenapa, terasa lebih menjanjikan daripada menakutkan.
se mistery apa dia...
biasany kalo rival gitu kan harus deket buat saling cekcok 🤭 tpi nyatanya ada hati disana...