Indonesia
NovelToon NovelToon
Gadis Geng Motor Adalah Istriku

Gadis Geng Motor Adalah Istriku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Balas Dendam
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Viie27

Sinopsis

Clara Evellyn dikenal sebagai gadis cantik yang keras kepala dan berani. Di balik penampilannya yang anggun, Clara ternyata merupakan anggota geng motor yang disegani. Ia terbiasa hidup bebas, penuh tantangan, dan tidak takut menghadapi siapa pun.

Namun, hidupnya berubah ketika sebuah perjanjian keluarga membuat Clara harus menikah dengan Fedro Alexsander, seorang pria tampan, dingin, dan sangat berkuasa.

Fedro sama sekali tidak menyangka bahwa wanita yang menjadi istrinya ternyata adalah gadis geng motor yang sering membuat kekacauan di jalanan.

Awalnya, pernikahan mereka dipenuhi pertengkaran, rahasia, dan saling curiga. Clara ingin mempertahankan kebebasannya, sementara Fedro berusaha membuat istrinya mengikuti aturan yang telah ia tetapkan.

Tetapi semakin mereka dekat, semakin sulit bagi keduanya untuk menyangkal perasaan yang mulai tumbuh.

Ketika masa lalu Clara mulai mengejar dan mengancam keselamatan mereka, Fedro harus memilih: tetap menjaga jarak atau melindungi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viie27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 27

Gadis Geng Motor Adalah Istriku

Bab 27 — Gudang Pertama dan Rahasia yang Terkunci

Malam semakin larut.

Langit di atas kediaman keluarga Evellyn tampak gelap tanpa bintang.

Namun tidak ada seorang pun yang berniat tidur.

Di halaman rumah, beberapa anggota geng motor Serigala Merah masih berjaga. Sementara Raka dan beberapa orang kepercayaannya memeriksa setiap sudut rumah untuk memastikan tidak ada lagi penyusup.

Clara berdiri di ruang keluarga.

Gelang milik Alena masih berada dalam genggamannya.

Jari-jarinya mencengkeram benda itu begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

Datanglah ke gudang pertama.

Bawa tiga bagian kunci E-17.

Jika tidak, Alena mati.

Kalimat itu terus berputar di kepalanya.

“Kita tidak boleh datang begitu saja.”

Suara Rafael membuat Clara menoleh.

Pria itu berdiri beberapa langkah darinya.

Wajah Rafael terlihat serius.

“Ini jelas jebakan.”

Clara menatapnya dingin.

“Aku tahu.”

“Kalau tahu, kenapa masih ingin pergi?”

“Karena Alena ada di sana.”

“Kita belum tahu apakah dia benar-benar di sana.”

Clara mengangkat gelang tersebut.

“Ini miliknya.”

“Bisa saja mereka mendapatkannya dari tempat lain.”

Clara melangkah mendekat.

“Rafael.”

“Ya?”

“Kalau yang diculik adalah orang yang kamu sayangi, apakah kamu akan duduk diam dan menunggu bukti?”

Rafael terdiam.

Clara menghela napas.

“Aku tidak bisa.”

“Aku tidak menyuruhmu diam.”

Rafael menatapnya.

“Aku hanya ingin memastikan kamu tidak masuk ke perangkap.”

“Sudah terlambat.”

Clara menunjuk liontin di lehernya.

“Sejak aku tahu E-17 ada, hidupku sudah menjadi perangkap.”

Fedro yang sejak tadi berdiri di dekat jendela akhirnya mendekat.

“Clara benar.”

Rafael menoleh.

Fedro melanjutkan,

“Kita pergi.”

Rafael mengerutkan kening.

“Dengan membawa tiga bagian kunci?”

“Tidak.”

Fedro menatap Clara.

“Kita membawa kunci palsu.”

Clara langsung memahami maksudnya.

“Jadi mereka mengira kita membawa kunci asli.”

Raka yang baru masuk mengangguk.

“Itu lebih aman.”

Clara terdiam.

Kemudian ia menatap Alena yang tidak ada di ruangan itu.

“Kalau mereka menyadari kita membawa kunci palsu?”

Raka menjawab,

“Maka kita harus memastikan mereka tidak punya waktu untuk menyadarinya.”

Clara mengepalkan tangan.

“Baik.”

Ia menatap semua orang.

“Kita berangkat sekarang.”

Namun Gabriel tiba-tiba berdiri.

“Aku ikut.”

Clara menoleh.

“Tidak.”

Gabriel terkejut.

“Kenapa?”

“Karena aku belum mempercayaimu.”

Gabriel tersenyum pahit.

“Setidaknya kau jujur.”

Clara menatapnya tajam.

“Paman tahu terlalu banyak.”

“Aku tahu.”

“Paman tahu tentang Ibu.”

“Ya.”

“Paman tahu tentang Leonard.”

“Ya.”

“Dan Paman tahu siapa yang mengendalikan E-17.”

Gabriel terdiam.

Clara semakin mendekat.

“Tapi sampai sekarang Paman tidak pernah benar-benar menjelaskan semuanya.”

Gabriel menundukkan kepala.

“Karena ada hal yang bahkan aku takut untuk mengatakannya.”

Clara membeku.

“Apa?”

Gabriel menatapnya.

“Jika aku mengatakan semuanya malam ini, mungkin kalian tidak akan pernah bisa kembali menjadi keluarga seperti sebelumnya.”

Clara tertawa getir.

“Keluarga?”

Air matanya mulai menggenang.

“Keluargaku sudah hancur sejak kalian semua memutuskan untuk berbohong kepadaku.”

Gabriel terdiam.

Clara menghapus air matanya.

“Jadi jangan gunakan keluarga sebagai alasan untuk menyembunyikan kebenaran lagi.”

Ruangan menjadi sunyi.

Akhirnya Gabriel mengangguk.

“Baik.”

Ia mengambil jaketnya.

“Aku ikut.”

Clara tidak melarang lagi.

 

Dua puluh menit kemudian, tiga mobil meninggalkan kediaman keluarga Evellyn.

Mobil pertama dikendarai Raka.

Mobil kedua dikendarai Fedro, dengan Clara dan Aria di dalamnya.

Sementara Rafael dan Gabriel berada di mobil ketiga.

Mereka menuju gudang lama yang disebutkan dalam pesan.

Gudang pertama.

Tidak ada seorang pun yang tahu mengapa tempat itu disebut demikian.

Namun Adrian memberikan satu petunjuk.

Gudang itu adalah tempat pertama keluarga Evellyn menyimpan dokumen E-17 tujuh belas tahun lalu.

Clara menatap keluar jendela.

Lampu kota berlalu dengan cepat.

Pikirannya kembali kepada ibunya.

Ibu masih hidup.

Namun mengapa?

Mengapa wanita itu tidak pernah kembali?

Dan yang paling menyakitkan—

mengapa ia berkata kepada Clara agar tidak mencarinya?

“Clara.”

Suara Fedro membuyarkan lamunannya.

Clara menoleh.

“Ya?”

“Kamu baik-baik saja?”

Clara tersenyum tipis.

“Aku tidak tahu.”

Fedro meraih tangannya.

“Kamu boleh menangis.”

Clara menggeleng.

“Aku sudah terlalu banyak menangis.”

“Kalau begitu marahlah.”

Clara menatap suaminya.

“Marah?”

“Ya.”

Fedro menggenggam tangannya lebih erat.

“Kalau semua kebohongan ini membuatmu marah, jangan tahan.”

Clara menunduk.

“Aku marah kepada semuanya.”

“Termasuk aku?”

Clara menggeleng.

“Tidak.”

“Kenapa?”

“Karena kamu satu-satunya orang yang tidak pernah memintaku untuk percaya tanpa memberikan alasan.”

Fedro tersenyum kecil.

“Aku tidak akan pernah memaksamu.”

Clara menyandarkan kepalanya ke kursi.

“Aku takut, Fedro.”

“Aku tahu.”

“Aku takut ketika semua ini selesai, tidak ada lagi keluarga yang tersisa.”

Fedro menatap jalan.

“Kalau mereka meninggalkanmu, kamu masih punya aku.”

Clara menatapnya.

“Janji?”

“Janji.”

Namun percakapan mereka tiba-tiba terhenti.

Raka yang berada di mobil depan menghubungi mereka melalui radio.

“Fedro.”

“Ada apa?”

“Kita sedang diikuti.”

Fedro langsung menegang.

“Berapa kendaraan?”

“Tiga.”

Clara mendekat.

“Black Viper?”

Raka mengamati melalui kaca spion.

“Belum tahu.”

Beberapa detik kemudian terdengar suara motor.

Semakin dekat.

Semakin banyak.

Clara melihat dari jendela.

Puluhan motor muncul dari belakang.

“Black Viper.”

Fedro menginjak pedal gas.

“Pegangan.”

Mobil melaju semakin cepat.

Motor-motor itu mengejar.

Raka memberi perintah kepada anak buahnya.

“Pecah formasi!”

Beberapa motor Serigala Merah yang sebelumnya mengikuti dari belakang segera bergerak menyebar.

Kejar-kejaran terjadi di jalan yang sepi.

Clara memegang kursi.

“Kenapa mereka tahu kita pergi?”

Fedro mengerutkan kening.

“Karena seseorang memberi tahu mereka.”

Clara terdiam.

Matanya langsung teringat kepada semua orang yang mengetahui rencana mereka.

Adrian.

Amara.

Gabriel.

Rafael.

Raka.

Dan dirinya sendiri.

“Fedro…”

“Aku tahu.”

“Berarti ada seseorang yang membocorkan keberangkatan kita.”

Fedro mengangguk.

“Ya.”

Clara menatap kaca spion.

Sebuah motor hitam terus mengikuti mereka.

Pengendaranya memakai helm gelap.

Clara tiba-tiba merasa familiar.

“Fedro.”

“Apa?”

“Motor itu.”

“Ada apa?”

“Pengendaranya.”

Clara memperhatikan gerakannya.

“Aku pernah melihat cara dia mengendarai motor.”

Fedro melirik sekilas.

“Siapa?”

Clara mengerutkan kening.

“Aku tidak yakin.”

Motor itu tiba-tiba mendekat.

Pengendaranya mengangkat tangan.

Sebuah benda kecil dilemparkan ke arah mobil.

Brak!

Benda itu menghantam kaca belakang.

Raka langsung mengerem.

Namun benda tersebut bukan bom.

Sebuah ponsel.

Clara mengambilnya.

Layar ponsel menyala.

Ada satu video.

Ia menekan tombol putar.

Wajah Alena muncul.

Clara langsung membeku.

“Kak Alena!”

Alena terlihat duduk di sebuah kursi.

Tangannya terikat.

Wajahnya pucat.

Namun masih sadar.

Kemudian seorang pria muncul di belakangnya.

Leonard.

“Kalian terlalu lambat.”

Clara mengepalkan tangan.

Leonard menatap kamera.

“Kalau ingin Alena tetap hidup, datang ke gudang pertama tanpa polisi.”

Video berhenti.

Clara langsung menatap Fedro.

“Kita semakin dekat.”

 

Dua puluh menit kemudian, mereka tiba di sebuah kawasan industri tua.

Gudang-gudang besar berdiri berjajar.

Sebagian sudah tidak digunakan.

Lampu jalan hanya beberapa yang menyala.

Raka turun dari mobil.

“Gudang pertama ada di ujung.”

Clara keluar.

Ia menatap bangunan tua di hadapan mereka.

Dindingnya penuh lumut.

Pintu besi besar sudah berkarat.

Namun anehnya, terdapat kamera baru di atas pintu.

“Tempat ini sudah dipersiapkan.”

Rafael turun dari mobil.

“Benar.”

Clara menatapnya.

“Paman yakin Alena di sini?”

Gabriel mengamati bangunan itu.

“Ya.”

“Kenapa?”

“Karena gudang ini dulu milik Leonard.”

Clara membeku.

“Leonard?”

Gabriel mengangguk.

“E-17 pertama kali dipindahkan ke sini sebelum ibumu menghilang.”

Clara menatap pintu.

“Jadi Ibu pernah berada di sini?”

“Ya.”

Clara mengepalkan tangan.

“Buka.”

Raka memberi isyarat kepada anak buahnya.

Pintu gudang perlahan dibuka.

Suara engsel berderit terdengar panjang.

Di dalam gelap.

Tidak ada suara.

Clara melangkah masuk.

Fedro berada di sampingnya.

Rafael dan Gabriel mengikuti.

Aria berjalan di belakang.

Tiba-tiba Aria berhenti.

“Kak.”

Clara menoleh.

“Apa?”

Aria memegang kepalanya.

“Aku mengenal tempat ini.”

Clara mendekat.

“Kamu pernah ke sini?”

Aria menggeleng.

“Tidak secara sadar.”

Ia memejamkan mata.

“Tapi aku ingat.”

“Apa?”

“Suara.”

Aria terlihat ketakutan.

“Suara seorang wanita.”

Clara menegang.

“Ibu?”

Aria mengangguk.

“Dia pernah menangis di sini.”

Clara membeku.

“Kenapa?”

“Aku tidak tahu.”

Aria memegang kepalanya semakin kuat.

“Kemudian ada suara seorang pria.”

“Siapa?”

Aria membuka mata.

“Dia berkata…”

Aria menatap Clara.

‘Kalau kau ingin anak-anakmu selamat, serahkan E-17.’

Clara merasakan dadanya sesak.

“Ibu menolak?”

Aria mengangguk.

“Lalu terdengar suara tembakan.”

Semua terdiam.

Clara menatap Gabriel.

“Paman tahu tentang ini?”

Gabriel tidak menjawab.

Clara semakin marah.

“Paman!”

Gabriel akhirnya berkata,

“Aku tidak berada di sini malam itu.”

“Tapi Paman tahu.”

“Ya.”

“Siapa pria itu?”

Gabriel menundukkan kepala.

“Aku tidak tahu.”

Clara menatapnya penuh kecurigaan.

“Kebohongan lagi.”

Gabriel menggeleng.

“Clara, aku benar-benar tidak tahu.”

Tiba-tiba lampu gudang menyala.

Semua terkejut.

Di ujung ruangan, sebuah layar besar menyala.

Leonard muncul.

“Selamat datang.”

Clara mengepalkan tangan.

“Di mana Alena?”

Leonard tersenyum.

“Tenang.”

Sebuah kamera berpindah.

Alena terlihat berada di ruangan lain.

“Kak Clara!”

Clara langsung melangkah.

“Alena!”

Leonard tertawa.

“Jangan terburu-buru.”

Clara menatap layar.

“Kau ingin apa?”

“Tiga bagian kunci.”

“Kami membawanya.”

Leonard tersenyum.

“Letakkan di meja.”

Raka membawa kotak kecil.

Ia meletakkannya.

Leonard mengamati.

“Buka.”

Kotak dibuka.

Di dalamnya terdapat liontin, cincin, dan kartu.

Leonard tersenyum.

“Bagus.”

Clara menghela napas.

“Sekarang lepaskan Alena.”

“Belum.”

“Apa lagi?”

Leonard menatap Clara.

“Aku ingin satu orang datang ke ruangan ini.”

“Siapa?”

“Rafael.”

Semua menoleh kepada Rafael.

Rafael mengerutkan kening.

“Aku?”

Leonard mengangguk.

“Ya.”

Clara menatap Rafael.

“Kenapa dia?”

Leonard tertawa.

“Karena Rafael tahu sesuatu yang kalian tidak tahu.”

Rafael mengepalkan tangan.

“Jangan libatkan mereka.”

Leonard tersenyum.

“Kalau begitu katakan kepada Clara.”

Rafael diam.

Clara menatapnya.

“Katakan apa?”

Rafael menghela napas.

“Clara…”

“Jangan.”

Clara menggeleng.

“Jangan panggil namaku kalau kamu masih menyimpan rahasia.”

Rafael menatapnya.

“Aku pernah melihat ibumu.”

“Aku tahu.”

“Bukan hanya di rumah Damian.”

Clara terdiam.

Rafael melanjutkan,

“Aku bertemu dengannya tujuh tahun lalu.”

Clara membeku.

“Tujuh tahun?”

“Ya.”

“Kenapa baru sekarang kamu mengatakannya?”

Rafael menundukkan kepala.

“Karena dia memintaku untuk merahasiakannya.”

Clara merasa marah.

“Dan kamu menurut?”

“Dia mengatakan jika aku memberitahumu, kamu akan menjadi target.”

Clara tertawa getir.

“Semua orang selalu punya alasan yang sama.”

Rafael menatapnya.

“Aku tahu.”

“Di mana kamu bertemu Ibu?”

Rafael menjawab,

“Di sebuah rumah aman.”

“Di mana?”

“Aku tidak tahu lokasi tepatnya.”

Clara hampir kehilangan kesabaran.

“Lalu apa yang kamu tahu?”

Rafael menatapnya.

“Ibumu tidak sedang bersembunyi dari kalian.”

Clara membeku.

“Lalu?”

“Ibumu sedang bersembunyi dari seseorang.”

“Siapa?”

Rafael belum sempat menjawab.

Leonard tertawa dari layar.

“Bagus.”

Clara menoleh ke layar.

“Kau tahu siapa?”

Leonard mengangguk.

“Aku tahu.”

“Siapa?”

Leonard tersenyum.

“Orang yang paling kalian lindungi.”

Clara mengerutkan kening.

“Siapa?”

Leonard tidak menjawab.

Sebaliknya, pintu besi di belakang mereka tiba-tiba terkunci.

BRAK!

Raka langsung berlari.

“Terkunci!”

Lampu padam.

Jeritan terdengar.

Kemudian suara tembakan.

Dor!

Semua berpencar.

“Clara!”

Fedro menarik Clara ke belakang.

Aria menjerit.

“Di mana Alena?!”

Sebuah suara terdengar dari pengeras suara.

“Permainan baru dimulai.”

Clara menatap layar yang kembali menyala.

Namun kali ini bukan Leonard yang muncul.

Seorang wanita.

Wajahnya tertutup bayangan.

Clara membeku.

Suara itu…

Ia mengenalnya.

“Ibu?”

Wanita itu tersenyum.

“Clara.”

Air mata Clara langsung jatuh.

“Kenapa Ibu melakukan ini?”

Wanita itu tidak menjawab.

Ia hanya berkata,

“Karena ada satu hal yang harus kamu ketahui sebelum semuanya terlambat.”

Clara menatap layar.

“Apa?”

Wanita itu menjawab,

“Alena bukan satu-satunya yang mereka culik.”

Clara membeku.

“Maksud Ibu?”

Wanita itu menatap kamera.

“Pamanmu Gabriel juga telah mereka jadikan sandera.”

Clara langsung menoleh.

Gabriel berdiri beberapa meter darinya.

Namun—

tubuh pria itu perlahan jatuh.

Bruk!

“Paman!”

Clara berlari.

Gabriel tergeletak di lantai.

Di dadanya terdapat luka kecil.

Bukan luka tembakan.

Sebuah jarum.

Rafael segera berlutut.

“Dia masih bernapas.”

Clara menatap layar.

Wanita itu masih tersenyum.

“Ibumu menyayangimu, Clara.”

Clara menangis.

“Kalau begitu lepaskan kami!”

“Belum.”

“Kenapa?”

Wanita itu menjawab dengan suara dingin.

“Karena sebelum kalian keluar dari gudang ini…”

Layar berubah.

Muncul gambar tiga bayi.

Clara.

Alena.

Aria.

Kemudian muncul satu foto seorang pria.

Clara menatap foto itu.

Wajahnya asing.

Namun Adrian pasti mengenalnya.

Wanita itu berkata,

“Cari pria ini.”

Clara mendekat ke layar.

“Siapa dia?”

Wanita itu tersenyum.

“Dia ayah kandung kalian.”

Clara membeku.

Namun sebelum ia sempat melihat wajah pria itu dengan jelas—

layar mati.

Dan gudang kembali gelap.

Kemudian terdengar suara pintu besi terbuka.

Puluhan anggota Black Viper masuk.

Clara berdiri.

Air matanya masih mengalir.

Namun tatapannya berubah menjadi penuh kemarahan.

Ia menatap Fedro.

“Kita bawa Paman Gabriel.”

Fedro mengangguk.

Raka bersiap menghadapi musuh.

Rafael berdiri.

Aria menggenggam tangan Clara.

Namun sebelum mereka bergerak, suara Alena terdengar dari pengeras suara.

“Kak Clara…”

Clara langsung menoleh.

“Kak Alena!”

Suara Alena terdengar ketakutan.

“Jangan percaya…”

Suaranya terputus.

Clara menegang.

“Jangan percaya siapa?”

Tidak ada jawaban.

Kemudian terdengar satu kalimat terakhir.

“Orang yang datang bersamamu.”

Clara membeku.

Perlahan ia menoleh.

Tatapannya menyapu semua orang.

Fedro.

Raka.

Rafael.

Gabriel yang terbaring.

Aria.

Dan dirinya sendiri.

Siapa yang dimaksud Alena?

Siapa yang sebenarnya menjadi pengkhianat?

Dan mengapa ibu mereka sengaja membawa mereka ke gudang pertama?

Clara menggenggam liontin burung di lehernya.

Malam itu, ia akhirnya sadar.

Mungkin selama ini mereka bukan sedang mencari E-17.

Mungkin…

E-17-lah yang sejak awal sedang mencari mereka.

Bersambung…

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!