Amira tidak pernah menyangka hari pertamanya di SMA Dirgantara akan mempertemukannya dengan Alfian—sang kapten basket arogan yang wajah dan suaranya sangat mirip dengan "Sky", teman masa kecil yang memberinya kalung bintang sebelum pergi meninggalkannya bertahun-tahun lalu.
Sayangnya, Alfian bersikap seolah tidak pernah mengenal Amira dan menganggapnya sebagai cewek aneh yang sengaja mencari perhatian, membuat hari-hari sekolah Amira penuh dengan perdebatan sengit dan emosi yang naik turun.
Di balik dingin dan marahnya sang kapten, tersimpan rahasia besar serta memori masa lalu yang terkunci rapat, memaksa Amira terjebak dalam dilema antara rasa rindu pada masa lalu atau membenci kenyataan pahit di hadapannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Madelyn_Sa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Hantaman Meleset dan Kepanikan Sang Kapten
Sejak kejadian bersejarah di koridor kemarin, hidup Amira terasa seperti rollercoaster yang remnya blong.
Gosip soal dirinya yang dilabrak Kak Sisca dan dibela habis-habisan oleh kapten basket langsung menyebar bagai api ditiup angin.
Tapi anehnya, tidak ada satu pun murid yang berani mengganggunya.
Ancaman Alfian terbukti ampuh seratus persen.
"Mir, lo sadar nggak sih? Tiap lo lewat, anak-anak pada minggir ngasih jalan kayak lo itu ibu negara," bisik Maya saat mereka berjalan menuju ruang ganti.
Amira hanya mendengus pelan sambil membetulkan letak kaus olahraganya.
"Bukan ibu negara, May. Tapi lebih kayak buronan yang diawasin," gerutu Amira malas.
Hari ini adalah jadwal pelajaran Olah Raga untuk kelas XI IPS 2.
Karena lapangan outdoor masih becek akibat hujan badai kemarin sore, Pak Yanto terpaksa memindahkan kelas ke gedung olahraga indoor.
Sialnya, setengah lapangan indoor itu sedang dipakai oleh tim basket inti untuk latihan bebas menjelang turnamen.
"Duh, mana kepala gue masih agak pusing lagi gara-gara flu," keluh Amira sambil memijat pelipisnya.
"Ya udah, lo duduk aja di bangku cadangan pinggir lapangan. Biar gue bilang ke Pak Yanto lo masih belum fit," usul Rara penuh pengertian.
Amira mengangguk setuju dengan rasa syukur yang luar biasa.
Ia berjalan gontai menuju deretan bangku kayu panjang di sisi paling pinggir lapangan, jauh dari jangkauan net voli dan ring basket.
Di tengah lapangan, anak-anak cowok kelasnya sedang sibuk melakukan pemanasan voli.
Sementara di separuh lapangan lainnya, derit sepatu kets tim basket bergesekan dengan lantai terdengar sangat nyaring.
Bum! Bum! Ckiit!
Amira menyandarkan punggungnya ke dinding, meluruskan kedua kakinya yang terasa pegal.
Matanya tanpa sadar melirik ke arah anak-anak basket yang sedang berlatih.
Lebih tepatnya, melirik ke arah satu sosok jangkung yang mendominasi permainan.
Alfian tampak sangat fokus, keringat membasahi kaus jersey hitam tanpa lengannya.
Cara cowok itu men-dribble bola, melompat, dan mencetak skor tiga angka berturut-turut sukses membuat beberapa siswi di kelas Amira memekik tertahan.
Kenapa dia bisa kelihatan keren banget sih kalau lagi main? batin Amira tanpa sadar.
Tapi sedetik kemudian, Amira buru-buru menampar pipinya sendiri pelan-pelan.
Sadar, Amira! Dia itu kulkas dua pintu yang arogan! Jangan gampang terpesona! rutuknya dalam hati.
Amira memutuskan untuk menundukkan kepala, membuka ponselnya dan memilih bermain game menyusun blok warna demi mendistraksi otaknya.
Namun, petaka itu datang tanpa permisi.
Di tengah lapangan basket, seorang junior kelas X yang baru masuk tim inti salah mengantisipasi passing keras dari Rio.
Bola basket oranye itu memantul liar ke pinggir lapangan dengan kecepatan penuh.
"Awas! Bola out!" teriak junior itu dengan wajah panik.
Suara peringatan itu kalah cepat oleh laju bola.
Amira yang sedang asyik menunduk menatap layar ponsel sama sekali tidak menyadari bahaya yang datang ke arahnya.
BUGH
Sebuah hantaman keras dan telak menghantam pelipis kiri Amira.
"Aw!"
Ponsel di tangan Amira terlempar ke lantai dengan bunyi nyaring.
Pandangan Amira seketika berkunang-kunang, kepalanya serasa baru saja dihantam godam besi berukuran raksasa.
Rasa pusing dari sisa flu dan hantaman bola itu bergabung menjadi satu, menciptakan sensasi berputar yang luar biasa hebat.
Dalam hitungan detik, kesadaran Amira meredup.
Tubuh mungilnya oleng ke samping, lalu merosot jatuh dari bangku kayu dan membentur lantai semen dengan bunyi berdebum.
BRUGH!
Keheningan mutlak seketika menyelimuti seluruh isi gedung olahraga.
Bahkan suara peluit Pak Yanto yang baru saja ditiup langsung terhenti di udara.
"AMIRA!" jerit Rara dan Maya berbarengan, langsung membuang bola voli mereka dan berlari kencang ke pinggir lapangan.
Namun, ada yang bereaksi jauh lebih cepat dari mereka berdua.
Di tengah lapangan basket, Alfian membeku sepersekian detik melihat tubuh Amira tumbang.
Jantungnya seolah berhenti berdetak saat melihat kepala gadis itu membentur lantai.
"Minggir!" raung Alfian dengan suara menggelegar yang sukses membuat seisi gedung merinding.
Cowok berwajah dingin itu menerobos teman-temannya tanpa ampun.
Ia berlari kesetanan, langkah kakinya begitu panjang dan tergesa hingga ia menabrak bahu Rio dengan keras, tapi ia tak peduli.
Alfian adalah orang pertama yang berlutut di samping tubuh Amira yang sudah tidak sadarkan diri.
Wajah sang kapten yang biasanya selalu datar tanpa ekspresi, kini memucat pasi.
Gurat kepanikan yang luar biasa tercetak jelas di rahangnya yang mengeras dan napasnya yang memburu.
"Amira! Heh, bangun!" panggil Alfian sambil menepuk pelan pipi gadis itu.
Tidak ada respons.
Wajah Amira terlihat sangat pucat, dan ada ruam merah yang mulai membengkak di pelipis kirinya.
Rara dan Maya yang baru sampai langsung menutup mulut mereka dengan tangan, terkejut melihat darah segar mengalir tipis dari hidung Amira akibat benturan keras.
"Astaga, dia mimisan!" panik Rara sambil menangis tertahan.
Mendengar kata mimisan, kewarasan Alfian benar-benar terputus.
Tanpa membuang waktu satu detik pun, Alfian menyelipkan satu lengannya di bawah lutut Amira, dan lengan satunya di punggung gadis itu.
Dengan sekali tarikan napas, Alfian mengangkat tubuh Amira ala bridal style dengan sangat mudah.
"Buka jalannya!" bentak Alfian pada kerumunan murid yang mulai mengerubungi mereka.
Aura mengintimidasi yang menguar dari tubuh cowok itu membuat semua murid langsung membelah diri, memberi jalan seluas-luasnya.
Alfian setengah berlari keluar dari gedung olahraga.
Dadanya bergemuruh hebat, matanya menatap lurus ke depan dengan rahang yang terkatup sangat rapat.
Tangannya memeluk tubuh Amira dengan sangat protektif, seolah takut gadis itu akan hancur jika ia memegangnya terlalu longgar.
Rio yang menyusul dari belakang berlari membawakan tas Amira yang tertinggal.
"Biar gue yang bukain pintu UKS, Yan!" seru Rio sambil berlari mendahului sahabatnya itu.
Sepanjang koridor menuju ruang UKS, banyak murid yang terperangah melihat pemandangan langka tersebut.
Sang kapten arogan yang tidak pernah mau bersentuhan dengan cewek mana pun, kini menggendong seorang siswi baru dengan wajah panik setengah mati.
"Bertahan, sialan. Jangan bikin gue jantungan," bisik Alfian entah pada siapa, suaranya terdengar sangat parau dan bergetar.
Bau menyengat dari obat antiseptik dan minyak kayu putih menjadi hal pertama yang menyapa indra penciuman Amira.
Kelopak matanya terasa sangat berat, seakan dilem dengan selotip berlapis-lapis.
"Ngh..." Amira mengerang tertahan, mencoba menggerakkan kepalanya.
Sebuah rasa nyeri yang tajam langsung menusuk pelipis kirinya.
"Jangan banyak gerak dulu. Pelipis lo lagi dikompres."
Suara bariton yang sangat ia kenal itu menghentikan pergerakannya.
Amira memaksa kelopak matanya terbuka perlahan, menyesuaikan diri dengan cahaya lampu UKS yang lumayan terang.
Pandangannya masih sedikit kabur, tapi ia bisa melihat siluet seseorang duduk di kursi samping ranjangnya.
Begitu pandangannya fokus, mata Amira membelalak lebar.
Alfian duduk di sana.
Tapi penampilannya tidak seperti Alfian yang biasanya sempurna dan rapi.
Kaus jersey-nya basah oleh keringat, rambut hitamnya berantakan seperti baru saja diacak-acak frustrasi, dan napasnya belum sepenuhnya teratur.
Tangan kanan cowok itu sedang menekan lembut sebungkus es batu yang dibalut handuk kecil ke pelipis Amira.
"A-aku kenapa?" tanya Amira dengan suara serak, tenggorokannya terasa sangat kering.
"Menurut lo?" balas Alfian ketus, tapi anehnya suara cowok itu terdengar sedikit lega.
"Lo nangkep bola basket nyasar pakai jidat lo. Hebat banget."
Amira mengerutkan dahi, mencoba mengingat kejadian sebelum ia pingsan.
Ah, ya. Bola nyasar. Sakit kepala luar biasa. Gelap.
"Terus... yang bawa aku ke sini?" tanya Amira ragu-ragu, melirik wajah Alfian dari jarak sedekat ini.
Aroma parfum mint menguar kuat, mengalahkan bau minyak kayu putih di ruangan itu.
"Malaikat maut," jawab Alfian asal, sengaja menghindari tatapan mata Amira.
Cowok itu menarik kompres es dari pelipis Amira, lalu meletakkannya di atas meja kecil.
"Gue yang bawa lo. Kenapa? Nggak terima?" tantang Alfian dengan wajah datarnya yang kembali terpasang sempurna.
Amira terdiam.
Ia memperhatikan wajah cowok itu lekat-lekat.
Meski mulutnya berucap sinis, Amira tidak buta untuk melihat jejak kepanikan yang belum sepenuhnya hilang dari raut wajah Alfian.
Ada kantung tipis di bawah matanya, dan tangan cowok itu yang diletakkan di atas paha tampak mengepal erat.
"Kamu panik ya?" tebak Amira polos, suaranya sangat pelan karena menahan pusing.
"Hah?" Alfian tersentak kaget, wajahnya mendadak sedikit salah tingkah.
"Nggak usah geer. Gue cuma takut dituntut sama orang tua lo kalau lo sampai mati di lapangan gue," elak Alfian cepat, membuang muka ke arah jendela UKS.
Amira mendengus pelan, lalu meringis karena hidungnya terasa perih.
"Makasih," ucap Amira tulus, mengabaikan gengsi gengsian yang biasa selalu ia agung-agungkan di depan cowok ini.
Alfian menoleh, tertegun mendengar ucapan terima kasih yang diucapkan tanpa nada sarkasme sama sekali.
Mata bulat Amira menatapnya dengan lembut, tidak ada kilatan amarah seperti saat di halte hujan kemarin.
Hening kembali menyelimuti ruang UKS itu.
Suara detak jam dinding terdengar seperti pengatur ritme jantung mereka berdua.
"Lain kali..." Alfian berdehem pelan, memecah kecanggungan yang tiba-tiba mengudara.
"Lain kali kalau ada di pinggir lapangan, pakai mata lo buat merhatiin sekitar. Jangan bengong ngeliatin HP terus."
"Ya aku kan nggak tahu kalau bolanya bakal terbang ke arah situ," bela Amira mengerucutkan bibirnya sedikit.
"Makanya perhatiin!" omel Alfian lagi, kali ini nadanya kembali naik tapi tidak semenakutkan biasanya.
Kriet.
Pintu ruang UKS tiba-tiba terbuka lebar, menampilkan sosok Rio yang menenteng dua botol teh manis dingin.
Langkah Rio terhenti di ambang pintu, menatap dua orang di dalam ruangan itu dengan senyum jahil yang tertahan.
"Wah, wah. Udah siuman ternyata Tuan Putri," goda Rio sambil berjalan masuk.
Alfian langsung beringsut mundur dari kursi, menjauhkan jaraknya dari ranjang Amira dengan gerakan kaku yang kentara sekali dibuat-buat.
"Berisik lo, Rio," desis Alfian tajam, berusaha menutupi rasa gugupnya.
Rio tertawa kecil, meletakkan salah satu botol teh di nakas samping Amira.
"Nih, minum dulu, Mir, biar glukosa lo naik," kata Rio ramah.
"Makasih, Rio," jawab Amira sambil memaksakan diri duduk bersandar di kepala ranjang.
Rio menoleh ke arah sahabatnya yang kini berdiri melipat tangan di dekat jendela.
"Gimana, Yan? Udah turun belum tuh detak jantung lo dari seratus delapan puluh per menit?" goda Rio sengaja memancing perkara.
Alfian melotot tajam ke arah Rio, memberikan isyarat tutup-mulut-kalau-masih-mau-hidup.
"Maksudnya?" tanya Amira bingung, mengusap hidungnya yang kebas.
"Maksudnya, Mir, lo harusnya lihat gimana tampang kapten kita ini tadi pas lo pingsan," Rio sengaja memelankan suaranya seperti sedang bergosip.
"Dia lari nabrak gue sampai gue nyaris nyungsep, terus—"
"Rio! Mulut lo gue lakban ya kalau nggak bisa diam!" potong Alfian dengan raut wajah memerah menahan malu.
Amira berkedip menatap Alfian.
Tiba-tiba, perutnya terasa sedikit menggelitik.
Bukan karena mual habis pingsan, melainkan karena ada perasaan aneh yang membuncah melihat sisi lain dari Alfian Pratama.
Sisi yang ternyata tidak sedingin dan tidak searogan yang ia pikirkan selama ini.
Kamu ini... sebenarnya cowok jahat apa cowok baik sih? batin Amira, tersenyum sangat tipis tanpa sadar.