SALAHKAN AKU MENCINTAIMU
Sinopsis
Pernikahan kedua orang tua mereka tidak hanya menyatukan dua kepala, tetapi juga menyematkan status baru bagi Devan dan Aluna: saudara tiri.
Tinggal di bawah satu atap yang sama membuat mereka tidak pernah benar-benar bisa saling menghindari. Di sekolah, mereka mengikat janji untuk bersikap layaknya kakak-adik biasa—canggung, berjarak, dan sewajarnya. Namun, di balik dinding rumah yang sunyi, perhatian-perhatian kecil Devan, tatapan mata yang tertahan, dan rasa nyaman yang tumbuh mendalam perlahan berubah menjadi perasaan yang tak seharusnya ada.
Di antara seragam putih-abu, riuk pikuk koridor sekolah, dan keheningan malam di dalam rumah, Devan dan Aluna terjebak dalam dilema cinta pertama yang paling rumit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: KONFRONTASI DI BALIK HUJAN
Sore harinya, cuaca di luar rumah berubah mendung pekat. Awan hitam tebal menggantung rendah di atas langit kompleks perumahan sebelum akhirnya mencurahkan hujan deras yang menghantam genteng dan kaca-kaca jendela berlantai dua tersebut. Suara gemuruh air yang jatuh menciptakan dinding isolasi alami dari dunia luar. Ayah Danu dan Ibu belum kembali dari agenda luar kota mereka hingga menjelang malam nanti, meninggalkan interior rumah yang megah itu tenggelam dalam ketenangan samar yang menghimpit.
Aluna duduk mematung di meja belajarnya. Buku-buku pelajaran sekolah terhampar terbuka di hadapannya, tetapi tak selembar pun halaman yang sanggup ia baca. Jemari mungilnya menempel dingin pada permukaan meja saat mata cantiknya menatap titik-titik air hujan yang membasahi kaca jendela kamar. Bayangan raut wajah Reno yang mengancam serta tekanan kecemburuan Devan di dalam mobil tadi siang terus berputar bagai lingkaran setan di kepalanya, menciptakan sesak di dada yang tak kunjung surut.
Ketuk... ketuk.
Suara engsel pintu kamar Aluna terdorong pelan. Devan melangkah masuk tanpa menimbulkan suara berarti. Pria itu baru saja selesai mandi; helai rambut hitamnya masih sedikit basah dan acak-acakan. Ia mengenakan kaus santai polos berwarna hitam yang melekat pas di tubuh tegapnya serta celana panjang gelap. Suasana di sekitar Devan terasa begitu dominan dan pekat, memancarkan aura protektif yang tak terbendung begitu ia melangkah mendekat.
Devan tak mengucap sepatah kata pun. Ia memangkas jarak di antara mereka, menjangkau kedua lengan Aluna dan menarik tubuh mungil gadis itu berdiri dari kursi belajarnya. Sebelum Aluna sempat membuka suara untuk bertanya, Devan membawa adiknya ke dalam dekapan, merengkuh pinggang mungil Aluna rapat-rapat ke dadanya yang tegap dan hangat.
"Masih kepikiran soal cowok sialan itu?" suara Devan terdengar rendah, serak, dan penuh intonasi berat di dekat telinga Aluna.
Aluna menyandarkan kepalanya di dada tegap Devan, mendengarkan detak jantung pria itu yang berpacu stabil namun menyembunyikan amarah yang dalam. "Aku cuma takut, Kak... Kalau rumor itu benar-benar disebar sama Reno, nama baik Kak Devan di sekolah dan nama keluarga kita yang jadi taruhannya. Ayah sama Ibu pasti hancur kalau sampai tahu."
Devan menarik sedikit tubuhnya. Ibu jarinya terulur mendongakkan dagu Aluna hingga mata mereka saling mengunci di tengah keremangan kamar yang hanya diterangi pendar lampu meja.
"Reno sudah tidak bakal mengganggu kamu lagi. Dia tidak akan berani," ujar Devan dingin, tenang, namun dengan ketegasan mutlak yang tak memberi ruang untuk ragu.
Aluna membelalakkan matanya, napasnya tertahan seketika. "Kak Devan... Kakak ketemu sama Reno? Kapan?"
"Aku cuma menyadarkan dia soal batas mana yang tidak boleh dia lewati," bisik Devan seraya merapatkan kembali tubuh mereka tanpa jarak. Tangannya yang hangat merayap naik ke tengkuk Aluna, menyusup ke sela-sela rambut hitam adiknya yang halus dan terurai. "Aku sudah bilang, Aluna... aku tidak akan biarkan siapa pun menyentuh, mengancam, atau mencoba mengambil apa yang sudah menjadi milikku."
Sebelum Aluna sempat mencerna seluruh implikasi dari tindakan nekad Devan, pria itu menunduk dan membungkam bibir Aluna dengan ciuman yang mendalam. Ciuman Devan kali ini sangat dominan, sarat akan rasa kepemilikan mutlak dan penumpahan rasa lega setelah menyingkirkan ancaman di luar sana.
Ciuman yang panas dan menuntut itu membakar habis sisa keraguan, kepanikan, dan kecemasan yang membayang-bayangi Aluna sepanjang hari. Aluna meremas kuat kaus hitam Devan, mendesah pasrah di dalam kungkungan hangat kakak tirinya, membiarkan dirinya ditarik kembali ke dalam pusaran perasaan terlarang yang makin mengikat jiwa dan raga mereka.
Di balik riuh hujan deras yang membungkus rumah mereka dari dunia luar, Aluna memejamkan mata dan membalas pelukan Devan erat-erat—sepenuhnya menyerahkan diri pada perlindungan pria yang kini menjadi satu-satunya tempat ia berlabuh.