Naya selalu diabaikan Aslan, suaminya. Hingga suatu hari Aslan pergi dinas dan tak pulang selama tiga bulan.
Naya yang khawatir memutuskan untuk menyusulnya, Namun dia justru mendapati Aslan telah menikah siri dengan wanita lain secara diam-diam.
Tanpa marah dan tanpa meminta penjelasan, Naya memilih pergi dari kehidupan suaminya.
Namun, ketika Naya benar-benar menghilang, Aslan justru mulai menyadari bahwa kehilangan istrinya adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18
“Mari bercerai, Aslan.”
Kalimat itu jatuh di ruang makan seperti bom yang meledak pelan-pelan. Liza yang berdiri di belakang Aslan membelalak. Ranti membuka mulut, tapi tidak ada suara yang keluar. Aslan sendiri terasa darahnya naik kembali ke kepala.
“Tidak!” sentaknya, nada suaranya naik dan penuh penolakan. “Aku tidak akan menceraikanmu, Naya! Jangan berani-berani mengancamku dengan hal seperti itu!”
Naya tertawa kecil. Tawa itu pendek, dingin, dan sama sekali tidak mengandung rasa takut. “Tapi kamu sudah menandatanganinya, Aslan!” balasnya, suaranya tak kalah tinggi dan penuh keyakinan.
"Aku tidak pernah menandatangi apapun!" tegas Aslan.
"Oh ya....kau lupa dokumen yang kemarin kau tandatangani" Ejek Naya sambil menatap suaminya.
Wajah Aslan berubah pucat. Ia melangkah maju satu langkah, seolah ingin merebut sesuatu yang sudah terlambat. “Brengs*k kamu Naya!! Kau menipuku"
“Aku tidak menipumu.Tapi, kamu sendiri yang tidak pernah mau membaca apa pun yang kuberikan. Kamu terlalu sibuk dengan wanitamu itu. Sekarang terima konsekuensinya" balas Naya.
Aslan mengacak rambutnya kasar, napasnya memburu. “Aku tidak akan biarkan perceraian itu terjadi! Aku akan ....."
“Silakan,” potong Naya tenang. “Pengacara saya sudah siap. Semua bukti sudah diserahkan, termasuk bukti pernikahan siri kalian di Bandung, dan pengabaian selama bertahun-tahun. Kalau kamu mau melawan, kita bertemu di pengadilan.”
Liza akhirnya memberanikan diri maju. “Mas… jangan dengar dia. Dia hanya mengancam—”
Naya mengalihkan pandangannya ke Liza. Tatapannya dingin. “Diam. Kamu tidak punya hak bicara di sini.”
Ranti ingin menyela, tapi Naya lebih dulu mengangkat tangan, menghentikan siapa pun yang ingin ikut campur. Ia mengambil tasnya dari sandaran kursi, lalu menatap Aslan untuk terakhir kalinya di ruang makan itu.
“Aku sudah selesai menjadi istrimu,” ucapnya pelan, tapi setiap kata terdengar sangat jelas. “Dari sekarang, semua urusan lewat pengacara. Jangan menghubungi, dan jangan pernah mencariku lagi.
Aslan masih berdiri kaku, mulut terbuka, seolah ingin bilang sesuatu tapi tidak menemukan kata-kata. Rasa panik mulai menggerogoti marahnya. Ia baru sadar bahwa wanita di hadapannya bukan lagi Naya yang dulu bisa ia bentak, ia abaikan, atau ia perintah sesuka hati.
Naya berjalan melewati ketiga orang itu tanpa menoleh. Langkahnya stabil, punggung tegak, meski pipinya masih perih. Ia naik ke kamar tamu hanya untuk mengambil barang-barangnya yang sudah dia kemas sejak subuh. Setelah itu, lalu turun kembali dengan membawa seluruh sisa barangnya.
Di pintu utama, ia berhenti sejenak. Tanpa berbalik, ia mengucapkan kalimat terakhir dengan suara yang cukup keras untuk didengar semua orang di ruang makan.
“Selamat tinggal, Aslan. Semoga kamu bahagia dengan pilihanmu.”
Klek....
Pintu ditutup pelan. Bunyi mesin mobil menyala beberapa detik kemudian, lalu menjauh meninggalkan kompleks.
Di dalam rumah, Aslan masih mematung di ruang makan. Tangan yang tadi menampar kini gemetar hebat. Liza mencoba menyentuh lengannya, tapi ia menepis. Ranti hanya menggelengkan kepala dengan wajah kompleks.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aslan masih berdiri kaku di tempatnya, napas naik-turun tidak beraturan. Tangan kanannya yang tadi menampar kini gemetar hebat, seolah baru sadar akan konsekuensi dari apa yang ia lakukan.
Liza yang sejak tadi hanya berdiri diam akhirnya memberanikan diri melangkah mendekat. Ia meraih lengan Aslan dengan hati-hati, lalu mengusapnya pelan naik-turun seperti biasa. Wajahnya dibuat lembut, penuh perhatian, meski di balik matanya ada kilatan lega yang samar.
“Sudahlah, Sayang,” bisiknya pelan, nada suaranya manja sekaligus menenangkan. “Lebih baik kita fokus saja dengan bayi kita. Biarkan saja Naya pergi.”
Aslan menoleh tajam ke arahnya. Matanya masih penuh badai emosi, marah, panik, dan sesuatu yang mirip takut. “Kamu bilang biarkan saja?” ulangnya, suaranya serak. “Dia baru saja bilang sudah menandatangani dokumen perceraian. Dia punya bukti. Dia punya pengacara. Kamu pikir ini masalah sepele?!”
Liza tidak mundur. Ia malah mendekat lebih rapat, menempelkan tubuhnya ke sisi Aslan, lalu meletakkan tangan di perutnya yang masih datar. “Sayang… lihat aku. Lihat bayi kita. Naya sudah tidak mencintaimu lagi. Dia sudah berani membentakmu, berani pergi semalaman. Perempuan seperti itu tidak pantas kamu pertahankan. Biarkan dia pergi. Kita mulai hidup baru. Aku dan anak kita… itu yang penting.”
Ranti yang sejak tadi diam mulai angkat bicara. “Dengar istri itu, Aslan. Naya sudah menunjukkan sikapnya. Kalau dia mau cerai, biarkan. Lebih baik kamu bebas dari perempuan liar seperti itu, daripada terus menderita dengannya. Liza sedang hamil, diia butuh ketenangan, bukan drama terus-menerus.”
Aslan menghela napas kasar. Ia menarik tangannya dari genggaman Liza, lalu berjalan mondar-mandir dengan tangan di pinggang. Kepalanya penuh. Di satu sisi, ego laki-lakinya menolak dikalahkan oleh Naya. Ia tidak mau kala, ia tidak mau istri sahnya pergi dengan membawa bukti dan kemenangan di pengadilan.
“Aku tidak bisa begitu saja melepaskannya,” gumamnya akhirnya, lebih pada diri sendiri. “Rumah ini, harta, nama baik… semuanya akan berantakan kalau sampai kami bercerai.”
Liza menyusulnya, berdiri di depan dadanya, lalu menatap wajah Aslan dengan mata yang dibuat berkaca-kaca. “Sayang… kamu masih memikirkan dia? Setelah semua yang dia lakukan? Setelah dia menghinaku? Aku yang di sini. Aku yang mengandung anakmu. Aku yang selalu ada untukmu, bukan dia.”
Ia meraih tangan Aslan lagi, menaruhnya di perutnya. “Bayi ini butuh ayah yang fokus. Bukan ayah yang masih sibuk memikirkan istri lama yang sudah tidak menghargainya. Biarkan Naya pergi. Kita urus perceraiannya dengan cepat, lalu kita menikah resmi. Aku tidak mau anak kita lahir tanpa status yang jelas.”
Aslan menatap perut Liza, lalu ke wajah wanita itu yang penuh harap dan sedikit tekanan. Kalimat-kalimat Liza masuk ke telinganya satu per satu, menekan rasa paniknya dengan janji-janji masa depan yang terlihat lebih mudah.
Ia mengusap wajahnya kasar dengan kedua tangan. Rasa kesal terhadap Naya masih membara, tapi di saat yang sama, rasa lelah mulai muncul. Melawan Naya di pengadilan berarti menghadapi semua bukti itu. Melepaskannya… mungkin lebih cepat selesai.
“Aku harus pikirkan dulu,” ucapnya akhirnya, suaranya serak. “Ini bukan keputusan yang bisa diambil dalam semalam.”
Liza menggigit bibir, sedikit kecewa, tapi segera menyembunyikannya dengan senyum lembut. Ia menyandarkan kepala di dada Aslan, mendengarkan detak jantung yang masih cepat. “Baiklah, Sayang. Tapi jangan terlalu lama. Aku dan bayi ini menunggu kepastian darimu"
Ranti mengangguk dari belakang, puas dengan arah pembicaraan. “Biarkan dia berpikir, Liz. Laki-laki memang butuh waktu. Yang penting, jangan biarkan Naya menguasai situasi.”
Aslan berdiri diam, membiarkan Liza menempel di dadanya. Matanya menatap kosong ke arah pintu utama yang tadi dilalui Naya. Di dalam kepalanya, dua suara terus bertarung, satu yang ingin mengejar Naya dan memaksanya kembali, dan satu lagi yang mulai mempertimbangkan untuk melepaskan saja semuanya demi ketenangan yang ditawarkan Liza.
Aslan merasa benar-benar terjepit. Dan kali ini, tidak ada jalan mudah yang bisa ia pilih tanpa konsekuensi.
jadi kenapa kamu harus marah?