Indonesia
NovelToon NovelToon
Istri Butaku Direbut Sahabatku

Istri Butaku Direbut Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam / Obsesi
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Sibewok

Rania Almira, gadis buta yang membawa rahasia keluarga Aristama, mengira telah berhasil meninggalkan suaminya, Brian Aristama.

Namun, ia tidak tahu bahwa pria yang ditinggalkannya sedang datang untuk merebutnya kembali dari tangan Daffa.

Saat obsesi, cinta, dan dendam saling bertabrakan, mampukah Brian merajut kembali rumah tangganya dan memberikan Daffa pelajaran yang membuat pria itu menyesal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sibewok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 - Istriku Aku Kembali

Sudah tiga minggu berlalu sejak Rania meninggalkan kehidupan lamanya.

Tiga minggu sejak ia menandatangani surat perceraian.

Tiga minggu sejak terakhir kali ia mendengar suara pria yang selama ini menjadi suaminya.

Brian Aristama.

Namun anehnya...

Semakin Rania berusaha melupakan pria itu, semakin jelas suara Brian terngiang di dalam kepalanya.

'Aku akan kembali.'

Rania menggigit bibir bawahnya, ia tidak tahu mengapa kalimat itu masih melekat begitu kuat dalam ingatannya.

Padahal, ia sudah pergi, ia telah memilih untuk meninggalkan pria itu.

Perlahan, jemari Rania meraba permukaan meja di hadapannya, secangkir teh hangat berada tepat di samping tangannya.

Ia mengangkat cangkir tersebut, kemudian meniup permukaannya sebelum menyeruput sedikit.

Aroma bunga yang lembut memenuhi penciumannya, Rania tersenyum tipis.

Setidaknya, di tempat ini, ia bisa bernapas dengan tenang.

Tidak ada keluarga Aristama, tidak ada pernikahan kontrak, tidak ada tatapan dingin Brian, dan kelak tidak ada pertanyaan mengenai anak yang sedang tumbuh di dalam rahimnya.

Rania tanpa sadar mengusap perutnya, masih datar.

Namun di sana, ada kehidupan kecil yang menjadi alasan terbesar mengapa ia harus pergi.

"Maafkan Mama," bisiknya. "Aku hanya ingin kau lahir tanpa membawa masalah keluarga Aristama."

Jemarinya bergerak perlahan di atas perutnya. Rania menarik napas panjang.

Ia tahu keputusannya meninggalkan Brian bukanlah sesuatu yang mudah, setelah semua yang ia lalui bersama pria itu di kediaman Aristama.

Namun jika Brian mengetahui bahwa dirinya sedang mengandung, ia tidak tahu apa yang akan terjadi.

Terlebih setelah semua yang terjadi di antara mereka.

Rania memejamkan mata, meski penglihatannya masih belum sepenuhnya pulih, kini ia sudah mampu melihat bayangan dengan lebih jelas.

Siluet meja.

Jendela.

Pintu.

Bahkan warna-warna samar dari benda yang berada di sekelilingnya. Namun ia tetap menggunakan tongkat ketika berjalan keluar kamar.

Bukan karena tidak mampu berjalan tanpa tongkat, melainkan karena ia tidak ingin orang lain mengetahui bahwa penglihatannya perlahan mulai membaik.

Termasuk...

Daffa.

Pria yang saat ini menjadi satu-satunya orang yang mengetahui sebagian besar rahasianya.

Tiba-tiba terdengar suara langkah dari arah lorong. Rania segera menoleh.

"Rania." Suara itu, tubuhnya langsung menegang.

Daffa.

Pria itu muncul dari balik pintu sambil membawa sebuah nampan. "Kau belum makan?"

Rania menggeleng. "Aku belum lapar."

Daffa meletakkan nampan di atas meja. "Jangan keras kepala."

"Aku benar-benar tidak lapar." Daffa menatapnya beberapa detik.

Kemudian ia duduk di hadapan Rania. "Kau sedang mengandung. Kau tidak boleh melewatkan makanan."

Rania terdiam, tangannya secara refleks kembali menyentuh perutnya.

Daffa memperhatikan gerakan itu, senyum tipis muncul di sudut bibirnya. "Anak itu membutuhkan ibunya."

Rania mengangkat wajah. "Kak..."

Daffa langsung terdiam, panggilan itu. Rania masih memanggilnya seperti dulu.

Sebagai seorang kakak.

Padahal sejak mereka berpisah dulu, perasaan Daffa terhadap Rania sudah berubah jauh dari sekadar hubungan seorang kakak dan adik.

"Kau tidak perlu memanggilku seperti itu lagi," ucap Daffa.

Rania mengernyit. "Kenapa?"

"Karena sekarang aku bukan kakakmu," jawab Daffa.

Keheningan memenuhi ruangan. Rania menundukkan kepalanya.

Ia tahu, ia sangat tahu apa yang dimaksud Daffa. Dan justru itulah yang membuatnya semakin gelisah.

Daffa kemudian mendorong piring makanan mendekati Rania. "Makanlah."

Rania menghela napas. "Baik."

Ia mengambil sendok, namun baru satu suapan masuk ke mulutnya, Rania langsung berhenti.

Perutnya terasa mual, ia menutup mulut.

Daffa segera berdiri. "Rania?"

Rania menggeleng. "Aku tidak apa-apa."

Daffa mengambil segelas air dan memberikannya. "Minumlah."

Rania menerimanya, setelah beberapa teguk, rasa mual itu perlahan mereda.

Daffa menatap wajah Rania dengan penuh perhatian. "Kau semakin sering seperti ini."

"Aku hanya..." Rania berhenti, ia tidak ingin mengatakan bahwa tubuhnya semakin sensitif sejak kehamilannya.

Daffa seolah memahami sesuatu, namun ia tidak bertanya lebih jauh. "Kalau begitu, makan sedikit saja."

Rania mengangguk, beberapa menit berlalu dalam keheningan.

Sampai akhirnya, Daffa mengambil ponselnya yang bergetar di atas meja, karena ada sebuah pesan masuk.

Tatapan pria itu langsung berubah.

Rania yang duduk tidak jauh darinya dapat merasakan perubahan suasana.

"Ada apa?" tanya Rania.

Daffa tidak menjawab.

"Daffa?" tanya Rania lagi.

Daffa perlahan mengangkat wajah, lalu mematikan layar ponselnya. "Tidak ada."

Namun suara itu terdengar berbeda. Rania mengernyit. Ia tidak bisa melihat ekspresi Daffa dengan jelas.

Tetapi ia mengenal pria itu. Dan Daffa sedang menyembunyikan sesuatu.

"Apa yang terjadi?" tanya Rania kembali.

Gadis yang tengah berbadan dua itu cukup keras kepala.

Daffa berdiri. "Kita harus pergi dari sini."

Rania langsung terkejut. "Pergi?"

"Hm," jawab Daffa singkat.

"Ke mana?" tanya Rania.

Daffa mengambil jaketnya. "Tempat yang lebih aman."

Rania terdiam. "Kenapa?"

Daffa tidak menjawab, ia hanya berjalan mendekati Rania.

Kemudian berjongkok di hadapannya. "Rania."

"Hm?" jawab Rania lemas.

"Mulai sekarang, kau harus berada di sisiku," Nada suara Daffa terdengar serius.

Rania menelan ludah. "Kenapa kau bicara seperti itu?"

Daffa menatapnya lama, kemudian tangannya terangkat dan menyentuh kepala Rania. "Karena aku takut seseorang menemukanmu."

Namun jauh dalam hatinya Daffa bergumam, "Karena kau milikku, Rania. Aku sudah susah payah merebutmu dari Brian. Aku tidak akan pernah memberinya kesempatan untuk menemukanmu kembali." batinnya.

Sementara Rania, ia merasa jantungnya berdetak lebih cepat. "Seseorang?"

Daffa tersenyum tipis. "Jangan takut."

Namun entah mengapa, senyum itu justru membuat Rania semakin tidak tenang.

Daffa kemudian berdiri.

Sementara itu, jauh dari tempat mereka berada...

Sebuah mobil hitam berhenti di depan sebuah rumah sakit.

Pintu belakang terbuka.

Seorang pria turun perlahan.

Brian Aristama.

Tubuhnya masih terlihat belum sepenuhnya pulih, satu tangannya memegang tongkat.

Langkahnya sedikit berat, namun sorot matanya, tidak pernah kehilangan ketajamannya.

Rio segera turun dari sisi pengemudi. "Tuan, dokter meminta Anda tidak terlalu banyak berjalan."

Pria itu tidak menjawab, ia hanya menatap lurus ke depan. "Sudah tiga minggu." ucapnya.

Rio terdiam.

"Tiga minggu aku kehilangan jejaknya." Pria itu mengepalkan tangan.

"Dan selama tiga minggu itu..." ia menarik napas panjang, "aku tidak tahu di mana istriku."

Rio menundukkan kepala. "Tuan..." Pria itu mengangkat wajah.

"Temukan dia," titahnya.

"Baik, Tuan." Jawab Rio.

"Berapa pun biayanya." Lanjut pria itu.

Rio mengangguk, pria itu kemudian berjalan menuju mobil kembali, untuk menurunkan kursi roda.

Namun sebelum Brian duduk di kursi roda, ia kembali memanggil, "Rio."

"Ya, Tuan?" Asistennya terdiam beberapa detik, ketika Tuannya menatap langit sore.

"Satu hal lagi." ucapnya.

"Apa, Tuan?"

Tatapan dinginnya perlahan berubah, untuk pertama kalinya, ada sesuatu yang jauh lebih dalam di balik sorot matanya.

"Temukan Daffa."

Rio membeku. "Kenapa?"

Brian tersenyum tipis, senyum yang membuat udara di sekitarnya terasa dingin. "Karena aku ingin tahu," ucapnya, ia menatap kakinya yang masih di balut perban akibat kecelakaan tiga minggu lalu, "mengapa sahabatku membawa istriku pergi, di saat keadaan ku sedang terpuruk."

Brian menatap berkas perceraian yang telah ia tandatangani beberapa waktu lalu.

Jemarinya meremas sisi berkas itu.

Dulu, ia sendiri yang menginginkan pernikahan itu berakhir.

Namun sekarang...

Entah mengapa, melihat tanda tangan itu justru membuat dadanya terasa sesak.

Pria itu kemudian duduk di kursi rodanya, dan Rio mendorongnya memasuki bangunan rumah sakit.

Pencarian Brian Aristama telah dimulai.

Dan di tempat lain...

Rania masih belum mengetahui bahwa pria yang selama ini ia pikir tidak akan pernah kembali, sedang datang untuk mencarinya.

Bersambung...

1
Nisa Nisa
cerita nya seru, baru awal aja udah buat penasaran
Michelle Azahrah
응 anooo ini serius judulnya itu? sarkas bet, tapi aku suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!