Indonesia
NovelToon NovelToon
Kakak, Aku Bukan Adikmu Lagi

Kakak, Aku Bukan Adikmu Lagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Kisah cinta masa kecil / Cintapertama
Popularitas:120
Nilai: 5
Nama Author: Nayara Putri

Umur lima belas, **Laras** cuma cewek tomboy anak bengkel di gang sempit Bekasi—rambut cepak, kunci inggris selalu di tangan, ditakuti satu sekolah. Sampai suatu sore, sebuah Mercedes berhenti di depan warung, menurunkan bocah laki-laki sepuluh tahun yang menangis tanpa berani mengetuk pintu. Ibunya pergi begitu saja. Namanya **Rayhan**.

"Mbak… kamu mirip kakak laki-lakiku," kata bocah itu sambil menyeka air mata.

Laras kira dia cuma adik kecil cengeng dan manja, yang tiap hari nempel memanggilnya "**Bang Laras**". Dia tidak pernah sadar—di balik wajah manis si juara kelas, diam-diam tumbuh seekor "serigala" yang seumur hidup hanya mengincar satu orang: dirinya.

Bertahun-tahun kemudian, bocah cengeng itu sudah menjadi pemuda jangkung yang lolos ke ITB—dan ternyata **anak di luar nikah seorang konglomerat properti**. Dari anak buangan yang dulu dihina, ia bangkit menjadi **pewaris tunggal kerajaan bisnis triliunan**. Tapi satu hal tak pernah berubah: obsesinya pada Laras.

"Aku bukan adikmu lagi," bisiknya, mengurung Laras di antara lengannya. "Sekarang, giliran kamu yang memanggilku… **abang**."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nayara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3

Bab 3

Satu-Satu atau Rame-Rame?

Jemarinya menutup rapat pada gagang kunci inggris.

"Laras, jangan," bisik Nadia sekali lagi.

Laras menyampirkan tas ke bahu. "Pulang aja."

"Terus ninggalin kamu?"

"Kalau kamu ikut, gue malah harus jagain dua orang."

"Dua?"

Laras mengangguk ke luar pagar. Di bawah pohon mangga, Rayhan berdiri dengan seragam SD dan ransel di punggung. Entah sejak kapan ia menunggu. Kedua tangannya masuk ke saku celana, tetapi wajahnya jelas tegang melihat kelompok siswi yang mengikuti Laras.

"Bang Laras!"

"Ngapain ke sini?"

"Mbah suruh jemput."

"Mbah nyuruh anak SD jemput anak SMP? Bohongnya kurang pinter."

Rayhan menunduk, ketahuan. Laras mendorong bahunya ke sisi warung dekat pagar.

"Tunggu di sini. Jangan ikut."

Enam siswi itu berjalan ke lahan kosong di belakang sekolah. Beberapa murid lain ikut dari jauh, haus tontonan. Pemimpin kelompok melempar tasnya ke tanah.

"Katanya jago?"

Laras mengeluarkan kunci inggris, menimbangnya di telapak tangan. Ia tidak mengayun. Cukup membiarkan matahari sore memantul pada besinya.

"Mau satu-satu atau rame-rame?"

Kerumunan langsung ribut.

Salah seorang gadis maju setengah langkah, lalu berhenti. Mereka mungkin sudah membayangkan Laras akan takut karena kalah jumlah. Tidak ada yang memperhitungkan ketenangannya.

"Jangan sok preman," kata pemimpin mereka.

"Kalian yang ngajak. Gue cuma datang."

"Kalau gue maju duluan?"

Suara laki-laki terdengar dari belakang. Bima berjalan menembus kerumunan bersama dua temannya. Seragamnya tidak dimasukkan, dasinya dililit ke pergelangan tangan.

Nadia langsung mundur. Wajahnya pucat. Bima sering ikut menertawakannya di sekolah.

Pemimpin kelompok itu tersenyum lega. "Nah, Bim. Bantuin, dong. Anak bengkel ini banyak gaya."

Bima berhenti di samping Laras. Ia melihat kunci inggris, lalu enam siswi di depan mereka.

"Gue paling males lihat orang keroyokan," katanya. "Kalau enam lawan satu, gue berdiri di sini. Biar seimbang dikit."

"Lo bela dia?"

"Gue bela tontonan yang adil."

Tawa pecah. Wajah kelompok itu memerah. Laras melirik Bima.

"Gue nggak minta bantuan."

"Santai. Gue juga nggak gratis. Nanti traktir es."

Nadia yang berdiri di belakang Laras menatap Bima dengan bingung. Anak laki-laki yang beberapa minggu lalu ikut menertawakan kotak makannya kini justru memasang badan. Bima menangkap tatapan itu dan mengangkat dagu.

"Apa? Gue masih punya batas, kali."

Nadia tidak menjawab. Ia hanya bergeser lebih dekat ke Laras, tetapi ketakutan di wajahnya sedikit berkurang.

Belum ada yang sempat bergerak ketika peluit panjang menyayat udara.

"Kalian! Berhenti!"

Pak BK datang bersama guru olahraga. Para penonton lari ke segala arah. Enam siswi yang tadi berani mulai saling menyalahkan.

Laras memasukkan kunci inggris ke tas sebelum dirampas.

"Siapa yang mulai?" bentak Pak BK.

"Saya cuma kebetulan lewat, Pak," kata Bima dengan wajah paling polos.

"Kebetulan lewat beramai-ramai? Ke ruang BK semua!"

Di balik bahu guru, Laras melihat Galih berdiri dekat kantor. Ketua kelas itu merapikan kacamatanya, lalu pura-pura membaca papan pengumuman.

Setelah satu jam ceramah, surat peringatan, dan ancaman memanggil orang tua, mereka akhirnya dilepas. Enam siswi itu mendapat hukuman piket bersama dan harus meminta maaf kepada Nadia. Pertarungan bahkan tidak sempat dimulai, tetapi meja yang dihantam Laras membuatnya ikut dihukum membersihkan gudang olahraga selama seminggu.

Di gerbang, Galih menunggu sambil membawa dua buku.

"Kebetulan lewat juga?" tanya Laras.

"Iya."

"Kantor guru bukan jalan pulang lo."

Galih mengangkat bahu. "Kalau gue nggak panggil Pak BK, besok sekolah bisa kekurangan murid."

"Takut gue babak belur?"

"Takut mereka masuk rumah sakit. Bapak mereka bisa nuntut sekolah."

Laras mendecakkan lidah, tetapi sudut mulutnya hampir tersenyum. Galih menyerahkan satu buku catatan.

"PR matematika. Jangan lupa."

"Nanti gue salin punya lo."

"Itu bukan mengerjakan."

"Yang penting selesai."

Galih pergi sambil menggeleng. Nadia mengamati punggungnya, lalu berbisik, "Dia khawatir sama kamu."

"Dia khawatir nilai kelas turun."

Rayhan masih menunggu di warung. Tangannya menggenggam beberapa lembar uang yang kusut.

"Kamu kenapa lama banget?"

"Diceramahin. Ayo pulang."

Rayhan menarik ujung tasnya. "Makan dulu. Aku traktir."

"Pakai uang siapa?"

"Uangku. Aku kumpulin."

Jumlahnya tidak banyak. Cukup untuk sepiring gorengan, dua telur rebus, dan teh manis plastik. Rayhan menghitung uang dua kali sebelum membayar. Wajahnya sangat serius sampai penjual warung memberi satu bakwan tambahan.

Mereka duduk jongkok di tepi trotoar. Laras mendorong salah satu telur ke arah Rayhan.

"Buat kamu."

"Aku yang traktir. Berarti kamu yang makan."

"Gue nggak suka telur."

Rayhan menatapnya. Pagi tadi ia melihat Laras mengambil telur dari lontong sayur Pak Darto.

"Bohong."

"Banyak omong. Makan."

Rayhan membelah telur itu menjadi dua dan mengembalikan separuhnya. "Kalau gitu bagi dua."

Laras menerima. Telur itu tidak istimewa, tetapi cara Rayhan menghitung receh dan menungguinya membuat rasa asin menempel lebih lama di lidah.

"Tadi kamu takut?" tanya Laras.

Rayhan mengangguk jujur. "Takut kamu kena pukul."

"Gue nggak gampang dipukul."

"Kalau mereka rame-rame?"

"Makanya lo jangan ikut. Kalau gue sibuk jagain lo, baru gue kalah."

Rayhan menatap separuh telur di tangannya. "Nanti kalau aku udah gede, aku yang jagain kamu."

Laras tertawa sampai hampir tersedak teh. "Tinggi lo aja baru sedada gue."

Rayhan tidak ikut tertawa. Ia menyimpan kalimat itu baik-baik.

Malamnya, Mbah Surti datang ke rumah Pak Darto sambil membawa pisang goreng satu tampah. Ia mengucapkan terima kasih karena sudah menampung Rayhan, lalu langsung berubah galak saat tahu Laras hampir berkelahi.

"Kamu ngajarin cucuku jadi apa nanti?"

"Saya nggak ngajarin apa-apa, Mbah."

"Baru dua hari dia sudah panggil kamu Bang!"

Pak Darto pulang tepat ketika omelan mencapai puncak. Setelah mendengar cerita sekolah, ia menyuruh Laras duduk di meja makan.

"Kerjakan PR."

"Besok aja, Pak."

"Sekarang."

"Capek."

Pak Darto mengambil kunci inggris dari tas Laras dan menaruhnya di atas lemari. "Kalau PR belum selesai, ini Bapak tahan."

Laras memelototinya, lalu membuka buku Galih. Lima menit kemudian, ia mulai menyalin jawaban.

Rayhan duduk di seberang, mengerjakan soal sendiri. Sesekali ia melirik lembar Laras.

"Nomor tiga salah."

"Lo anak SD, tahu apa?"

Rayhan memutar buku dan menunjukkan hitungannya. Jawabannya berbeda dengan milik Galih, tetapi setelah diperiksa, justru jawaban Rayhan yang benar.

Laras menyipitkan mata. "Lo manusia apa kalkulator?"

Rayhan akhirnya tertawa. Dari dapur, Pak Darto dan Mbah Surti saling pandang.

Di tengah rumah kecil yang berisik itu, bocah yang dua hari lalu tidak berani mengetuk pintu mulai terdengar seperti anak yang memang tinggal di Gang Mawar.

Sebelum pulang, Galih mengirim pesan ke ponsel Laras.

Jangan cuma salin. Besok gue periksa.

Laras menatap pesan itu, lalu Rayhan yang masih membetulkan hitungannya.

Entah kenapa ia merasa hidupnya baru saja kedatangan dua orang yang sama-sama suka mengatur.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!