Keira Sutanto sudah punya semua yang diimpikan perempuan lajang: karier sebagai ilustrator, tabungan sendiri, apartemen mewah… dan satu suami hasil perjodohan kilat yang bahkan tak tinggal serumah. Menikah tiga hari, suaminya sudah terbang ke luar negeri. "Suami tajir yang tak pernah pulang" — hidup macam apa lagi yang lebih tenang dari ini?
Yang Keira tak tahu: **Nathan Halim**, si "programmer" yang dinikahinya, adalah putra kedua konglomerat Halim sekaligus pendiri NARA — perusahaan AI bernilai dua miliar dolar. Tiga tahun lebih muda darinya, jenius, dingin di depan orang… dan diam-diam terobsesi padanya sampai ke ujung jari.
Begitu tahu Keira punya seorang "kakak" tanpa hubungan darah yang tak pernah rela melepasnya, Nathan memindahkan seluruh perusahaannya pulang ke Indonesia — kantornya, tepat di sebelah kantor sang istri.
"Kalau di kantor tak boleh kupanggil 'Sayang'," bisiknya sambil tersenyum, "kupanggil 'Cici' saja, ya?"
Keira kira ini cuma pernikahan kontrak yang akan cepat berakhir. Ia tak menyangka: suami berondong-nya ini akan melamarnya untuk kedua kalinya, memburunya sampai ke ujung dunia saat ia diculik, dan menghancurkan setiap orang yang berani menyakitinya.
Hanya saja… rahasia masa lalunya belum semuanya terbongkar. Ibu kandung yang membuangnya. Seorang adik yang bahkan tak tahu mereka sedarah. Dan seorang "kakak" yang, malam itu, memutuskan bahwa kalau tak bisa memilikinya, ia akan merebutnya dengan cara apa pun—
Ponsel Keira bergetar. Satu pesan dari nomor tak dikenal:
*"Kei, ayo pulang. Kita bicara berdua saja."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aluna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Bab 16
Empat Keluarga, Tiga Pangeran
Core Club dibangun untuk orang-orang yang tidak ingin namanya tercatat pada meja reservasi. Ruang privat bertema Paris di lantai dua memiliki pintu kedap suara, dinding biru tua, dan jendela yang tidak dapat dilihat dari luar.
Fabian masuk tanpa mengetuk.
Erwin Gunawan duduk sendirian dengan gelas wiski. Ia tidak berdiri. "CEO Grup Kencana ternyata datang sendiri."
"Aku tidak membawa sekretaris untuk urusan keluarga."
Kevin menutup pintu setelah mereka, lalu menuangkan minuman. "Kalian bicara. Aku hanya pemilik tempat yang tidak mendengar apa-apa."
Erwin tertawa dingin. "Pemilik tempat yang menjual semua kabar dengan harga tepat."
Di Jakarta lama, empat keluarga sering disebut Empat Keluarga: Halim, Tanaya, Lie, dan Gunawan. Mereka bukan satu-satunya yang kaya, tetapi nama mereka berulang di dewan perusahaan, yayasan, rumah sakit, dan halaman bisnis. Generasi muda punya tiga laki-laki yang paling sering dibicarakan: Marcus Halim, Adrian Tanaya, serta Darius Lie.
Marcus mewarisi ketenangan Andreas dan kendali atas Grup Halim. Adrian membangun Antares Aerospace dengan wajah ramah yang membuat semua orang merasa diperhatikan. Darius kembali dari Eropa Timur membawa bekas luka serta cara bisnis yang tidak memberi lawan waktu bernapas. Ketiganya tumbuh dalam acara keluarga yang sama, tetapi tidak pernah benar-benar menjadi teman.
Erwin selalu berdiri satu lingkaran di luar mereka. Ia memiliki uang Gunawan, namun bisnis teknologinya belum cukup besar untuk membuat namanya sejajar. Zenith menjadi jalan tercepat, dan NARA sekarang berdiri tepat di depannya seperti tembok.
"Kau menginginkan akses mereka, bukan hanya klien," kata Fabian.
Erwin tidak menyangkal. "Model NARA lima tahun lebih maju. Kalau Zenith mendapat satu bagian saja, pasar akan berhenti memperlakukan kami sebagai peniru."
"Satu bagian tidak akan cukup untuk orang sepertimu."
"Begitu juga satu peran kakak tidak cukup untukmu."
Kevin memotong dengan menawarkan makanan. Tak satu pun menerima.
Nathan jarang masuk hitungan karena terlalu lama tinggal di Amerika. Kepulangannya mengubah peta itu.
"NARA mengambil dua calon klien Zenith bulan ini," kata Erwin. "Adik kecil Halim itu pulang dan langsung mengganggu pasar."
"Aku tidak datang membahas keluhanmu."
"Lalu apa?"
Fabian duduk. "Nathan menikahi Keira."
Erwin menatapnya sesaat, lalu tertawa. "Jadi rumor itu benar. Dulu keluarga kami pernah mempertimbangkan Keira untukku. Fenny menolak keras. Katanya gadis yang dibawa masuk keluarga Sutanto tidak sepadan. Sekarang justru menjadi menantu Halim. Ironis."
"Jangan membicarakan Keira seperti barang."
"Kau mengajakku ke sini karena memperlakukannya sebagai milikmu. Jangan pura-pura suci."
Kevin menggeser gelas menjauh dari dua laki-laki itu.
Fabian tidak terpancing. "Aku ingin pernikahan itu berakhir sebelum pemberkatan besar."
"Bunuh saja suaminya."
"Aku tidak membunuh orang."
"Kau hanya menghancurkan hidup mereka dari balik meja?"
"Aku memilih cara yang tidak menumpahkan darah."
Erwin menyesap minuman. "Apa hubungannya denganku?"
Fabian menyebut Yovita.
Di luar ruangan, Cindy Tanaya kebetulan keluar dari lift bersama dua teman. Ia melihat Fabian masuk, lalu mengirim pesan kepada Dimas bahwa malam ini Core Club dipenuhi nama besar. Ia tidak mendengar isi percakapan, tetapi gosip keluarga Gunawan sudah lama beredar.
Fenny, istri kedua Hendra, tidak pernah akur dengan Erwin, putra dari istri pertama. Yovita adalah putri Fenny dan Hendra, adik tiri yang selalu diperlakukan Erwin seperti bukti pengkhianatan ayah mereka. Yovita sendiri membuka galeri dan bermimpi menikah dengan nama yang cukup kuat untuk keluar dari bayang-bayang keluarga.
Cindy pernah melihat Yovita menghentikan satu pesta karena susunan bunga tidak sesuai tema, lalu membayar seluruh staf dua kali lipat setelah marah. Ia bukan perempuan bodoh, hanya dibesarkan dalam rumah yang mengajarinya bahwa perhatian selalu harus dimenangkan.
Pesan Cindy kepada Dimas berubah menjadi rangkaian gosip tentang siapa duduk dengan siapa. Dimas membalas agar ia tidak ikut campur. Cindy mengirim emoji tertawa dan berjanji hanya mengamati. Tanpa sadar, keberadaannya malam itu menjadi jejak bahwa Fabian dan Erwin pernah berada di tempat yang sama.
Marcus menjadi pilihan paling bergengsi. Adrian terlalu ramah kepada semua perempuan. Darius terlalu berbahaya. Nathan, sampai pekan lalu, bahkan tidak ada di daftar.
Fabian meletakkan foto pernikahan Keira dan Nathan di meja.
"Yovita cantik, berpendidikan, dan tahu cara masuk ke lingkaran keluarga," katanya. "Dekatkan dia pada Nathan."
Erwin menyeringai. "Kau ingin adikku merayu laki-laki yang sudah menikah?"
"Aku ingin sebuah keadaan yang cukup meyakinkan. Tidak perlu hubungan nyata. Foto, kamar yang sama, atau saksi yang salah memahami."
"Keluarga Halim tidak mudah dipermainkan."
"Justru karena nama baik mereka. Kalau skandal muncul, Andreas akan memaksa penyelesaian yang terlihat bertanggung jawab. Nathan masih muda. Pernikahannya hasil perjodohan kilat."
Kevin akhirnya bicara. "Kalian menganggap Keira akan menerima begitu saja?"
"Tidak," jawab Fabian. "Keira akan pergi. Dia tidak menoleransi pengkhianatan. Sebelum pesta, perceraian lebih mudah daripada setelah semua keluarga berdiri di depan altar."
"Dan Yovita?" tanya Erwin.
"Kalau Nathan terpaksa bertanggung jawab, dia menjadi menantu Halim. Bukankah itu yang diinginkan keluarga kalian?"
Erwin memutar es dalam gelas. Ia membenci Fenny dan anak perempuannya, tetapi menggunakan Yovita untuk mengganggu NARA memberi dua keuntungan. Jika berhasil, Nathan kehilangan fokus dan keluarga Halim menghadapi skandal. Jika gagal, Yovita yang menanggung malu.
"Dia tidak akan menurut kepadaku," katanya.
"Jangan perintah. Buat dia percaya itu pilihannya."
Fabian menjelaskan titik lemahnya. Yovita bosan diperlakukan sebagai hiasan galeri. Ia ingin membuktikan bisa mendapatkan laki-laki terbaik tanpa bantuan Fenny. Katakan Nathan tidak mencintai istrinya. Katakan pernikahan itu kontrak. Beri sedikit ruang untuk membayangkan kemenangan.
"Kau sudah mempelajari semua orang," ujar Erwin.
"Aku hanya memastikan Keira tidak terjebak dengan laki-laki yang salah."
"Itu kalimat orang sakit."
Fabian tersenyum tipis. "Kau tidak perlu sehat untuk menghasilkan rencana yang bekerja."
Erwin bertanya imbalannya.
"Grup Kencana akan mempertimbangkan Zenith untuk proyek rumah pintar," jawab Fabian. "Akses uji integrasi bisa dibuka setelah kerja sama NARA berjalan."
Mata Erwin menyipit. "Kau bilang tidak mau NARA diganggu."
"Aku bilang pernikahan Nathan harus berakhir. NARA punya kegunaan lain bagiku. Jangan sentuh sistem mereka tanpa sepengetahuanku."
"Aku tidak suka batas dari mitra."
"Kalau begitu jangan menjadi mitra."
Udara diam beberapa detik. Kevin menuangkan minuman baru, tetapi tak seorang pun menyentuhnya.
Erwin akhirnya mengulurkan tangan. "Aku akan bicara dengan Yovita. Tidak ada jaminan dia berhasil."
Fabian menjabatnya. "Aku hanya perlu dia mencoba."
"Kalau dia bertanya kenapa Nathan layak dikejar?"
"Katakan NARA akan bernilai lebih besar daripada Grup Halim dalam sepuluh tahun. Katakan Nathan hanya memilih Keira karena keluarga mengaturnya. Dan jangan sebut bahwa Keira bekerja di gedung sebelah. Biarkan Yovita menemukan sendiri, supaya ia merasa sedang memburu informasi."
Erwin tertawa pelan. "Kau memahami manipulasi lebih baik daripada yang kukira."
"Aku memahami orang yang tidak sabar."
"Termasuk dirimu?"
Fabian tidak menjawab.
Kesepakatan itu tidak ditulis. Tidak ada rekaman di ruangan. Kevin tetap menjadi saksi yang memilih pura-pura tidak mendengar, meski wajahnya kehilangan humor.
Setelah Fabian pergi ke balkon untuk menerima panggilan, Kevin merendahkan suara. "Kau benar-benar mau membawa Yovita masuk?"
"Dia ingin nama besar. Aku memberinya kesempatan."
"Nathan bukan anak bodoh."
"Semua laki-laki bodoh kalau ego disentuh."
"Dan Fabian?"
Erwin melihat sosok di balik kaca. "Yang itu bukan bodoh. Dia putus dari kenyataan. Orang seperti itu berguna selama kita tahu kapan harus menjauh."
Di balkon, Fabian membuka pesan dari Mariana tentang makan keluarga Jumat. Foto yang menyertainya memperlihatkan Keira, Herman, dan Nathan tertawa di meja. Nathan duduk terlalu dekat.
Fabian memperbesar wajah Keira. Ia mengingat gadis enam belas tahun yang dulu berdiri canggung di rumah baru, lalu cara gadis itu pertama kali memanggilnya Ko Fabian. Dalam ingatannya, Keira selalu membutuhkan seseorang untuk menunjukkan jalan.
Ia menolak melihat bahwa perempuan dalam foto sudah mampu memilih sendiri.
Fabian mengetik balasan kepada Mariana bahwa ia akan menyiapkan Restoran Renjana, lalu menghapusnya. Keira sudah menolak. Memaksa terlalu cepat hanya akan membuatnya semakin dekat pada Nathan.
Ia kembali ke ruangan.
"Ada satu hal lagi," kata Erwin. "Zenith butuh akses lebih dalam daripada proyek integrasi biasa."
"Nanti."
"Kapan?"
"Setelah Nathan percaya Grup Kencana adalah keluarga."
Kevin memandang keduanya dan sadar rencana ini tidak hanya menyentuh pernikahan. Kode, saham, dan dendam keluarga mulai berada di meja yang sama.
Fabian mengambil mantelnya. "Keira cepat atau lambat akan melihat siapa yang paling mencintainya."
Di Apartemen Verde, pada saat yang sama, Nathan berdiri di dapur menunggu Keira pulang sambil menjaga sup agar tidak dingin. Ia tidak tahu dua orang baru saja menjadikan pernikahannya sasaran.
Pintu apartemen berbunyi.
Wajah Nathan langsung hangat ketika Keira masuk.
Ia mengambil tas Keira setelah bertanya, lalu menunjukkan dua mangkuk sup. Keira mencicipi dan mengatakan rasanya terlalu asin. Nathan menambahkan air tanpa tersinggung.
Di tempat lain, Fabian dan Erwin baru saja membangun perang dari asumsi bahwa pernikahan kilat itu kosong. Mereka tidak melihat perubahan kecil di dapur: seseorang mengkritik tanpa takut, seseorang memperbaiki tanpa merasa harga dirinya diserang.
Justru hal-hal kecil itulah yang membuat rencana mereka mungkin datang terlambat.
Namun ancamannya sudah telanjur bergerak mendekat.
Cepat.