**Demi menyelamatkan pernikahan mewah sang kakak, Kayla dijadikan tumbal keluarga sendiri.**
Diberi obat bius, dijebak masuk ke kamar hotel untuk dijadikan "simpanan" demi melahirkan ahli waris keluarga Chandra—begitulah rencana kakak dan calon iparnya. Tapi takdir salah alamat: nomor kamar tertukar, dan Kayla justru terdampar di suite **Kapten Adrian Gunawan**, pria berwajah dingin yang katanya paling anti disentuh perempuan.
Malam itu mengubah segalanya.
Untuk lepas dari jeratan keluarga yang ingin menjual harga dirinya, Kayla nekat menikah kilat—dan pria yang dijodohkan padanya, entah kebetulan atau takdir, ternyata Adrian yang itu juga.
*"Kalau kau berharap bisa menjebakku dan menuntut tanggung jawab, jangan harap."*
*"Kebetulan sekali. Aku juga tidak mau kau bertanggung jawab,"* balas Kayla dingin.
Semua orang mengira pernikahan ini cuma kontrak tiga tahun yang cepat atau lambat berakhir cerai. Semua orang mengira Kapten Adrian tidak mungkin mencintai dokter IGD berlatar keluarga toko sembako itu.
Sampai orang-orang mulai memergoki sang kapten dingin memapah istrinya dengan sebutan *"sayang"* di setiap kalimat…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
Bab 35
Badai di RUPS
Pukul dua siang, ruang rapat Angkasa Timur penuh.
Kayla duduk di antara dr. Rendra dan Hendra. Di seberang mereka, tim keselamatan, HR, hukum, dan operasi memeriksa hasil tiga alat serta formulir palsu Wina.
Keputusan awal dibacakan satu per satu.
Kapten Sandi tetap diskors dari tugas terbang menunggu pemeriksaan konfirmasi, wawancara disiplin, dan proses sesuai peraturan perusahaan. Kontrak dr. Wina direkomendasikan untuk diakhiri setelah ia mengakui pembuatan hasil tanpa pemeriksaan dan bukti digital diverifikasi. Seluruh laporan yang pernah disetujuinya masuk audit ulang.
"Apakah perlu mengumumkan nama?" tanya kepala komunikasi.
"Tidak ke publik," jawab Kayla. "Laporkan insiden kepada pihak yang diwajibkan oleh aturan keselamatan melalui jalur resmi. Kepada penumpang, cukup sampaikan perbaikan sistem tanpa membuka data kesehatan individu."
Hendra mengangguk. "Tidak ada kebocoran ke akun gosip. Tapi tidak ada laporan wajib yang ditahan."
Sebelum rapat selesai, undangan RUPS luar biasa masuk.
Tim hukum sempat mempertanyakan apakah masalah operasional perlu dibawa ke pemegang saham pada hari yang sama. Surat Herwan tidak hanya meminta penjelasan insiden. Ia juga mengusulkan pembekuan anggaran Hendra, penggantian pimpinan keselamatan, dan penyerahan sementara rute strategis kepada komite transisi.
"Mereka sudah menulis solusi sebelum tahu hasil pemeriksaan," kata Kayla.
Hendra menunjukkan waktu pembuatan dokumen. Berkas itu disusun pukul empat pagi, sebelum Sandi datang ke pusat.
"Jadi seseorang tahu kita akan menemukan sesuatu hari ini," kata Rendra.
Kayla meminta salinan metadata dimasukkan sebagai bahan tata kelola, bukan bukti medis. Ia juga memastikan laporan wajib tentang Sandi dikirim sebelum RUPS dimulai agar tidak ada pihak yang dapat menekan tim menunda kewajiban.
"Kalau setelah rapat saya diminta mengubah satu kalimat, catat sebagai intervensi," katanya kepada bagian kepatuhan.
Herwan meminta rapat pemegang saham Argatama sore itu juga. Alasannya, kegagalan pusat aeromedis membahayakan nilai perusahaan dan membuktikan Hendra tidak layak memimpin Angkasa Timur.
"Cepat sekali," kata Rendra.
"Terlalu cepat," jawab Hendra. "Berarti dia menunggu kesempatan."
Menara Argatama berubah tegang menjelang pukul empat. Di ruang RUPS, Engkong Herman duduk sebagai pemegang saham pengendali. Hansen, Herwan, Hendra, Adrian, dan perwakilan pemegang saham lain mengambil tempat. Jimmy Tanujaya hadir mewakili kepentingan Fortuna yang memiliki hubungan usaha dan sebagian kepemilikan melalui kendaraan investasi.
Reyner diundang sebagai saksi operasi. Kayla dan Rendra hanya hadir untuk menjelaskan proses keselamatan, bukan ikut memilih.
Herwan membuka serangan sebelum semua orang selesai duduk.
"Seorang kapten hampir diterbangkan dalam keadaan mabuk. Dokter memalsukan laporan. Pimpinan Angkasa Timur harus bertanggung jawab."
"Setuju," kata Hendra. "Karena itu kami menghentikan penerbangan, mengamankan bukti, dan melapor."
"Masalah itu terjadi di bawah kepemimpinanmu."
"Pemalsuan dimulai ketika kepala lama masih menjabat dan akses bersama dibiarkan bertahun-tahun."
Herwan memukul meja. "Jangan melempar kesalahan ke masa lalu."
Adrian membuka laporan lama. "Papa memimpin komite pengawasan Angkasa Timur pada periode awal penggunaan akun bersama. Tiga temuan audit tentang kontrol akses ditunda atas tanda tangan Papa."
Wajah Herwan berubah.
"Kamu menuduh ayahmu sendiri?"
"Saya membaca dokumen."
Hansen menyela. "Kita tidak perlu saling menyalahkan. Solusinya restrukturisasi penuh."
"Dengan siapa sebagai kepala baru?" tanya Engkong Herman.
Hansen tersenyum tipis. "Dewan bisa mencari profesional."
"Atau Alwin," kata Hendra. "Proposal restrukturisasi yang beredar pagi ini mencantumkan namanya sebagai koordinator transisi."
Semua mata beralih kepada Herwan.
Ia tidak menjawab dari mana proposal itu datang.
Jimmy Tanujaya mengetukkan pena. "Fortuna siap membantu menyediakan dokter dan sistem pemeriksaan jika Angkasa Timur tidak mampu. Kami punya pusat yang lebih lengkap."
Kayla menatapnya. "Lima dokter yang pindah dari pusat kami sekarang bekerja di Fortuna. Begitu juga kepala lama yang membawa data mentah. Sebelum menawarkan bantuan, sebaiknya Fortuna menjelaskan apakah menerima arsip yang bukan miliknya."
Jimmy tersenyum. "Dokter punya bukti?"
"Saya punya log unduhan, catatan serah terima yang tidak selesai, dan alamat jaringan yang bersinggungan dengan kantor Fortuna. Itu belum membuktikan siapa penggunanya. Karena itu saya menyebut fakta, bukan menuduh."
Jawaban itu membuat senyum Jimmy menipis.
Engkong Herman memanggil Kayla maju.
"Jelaskan apa yang terjadi tanpa bahasa dokter."
Kayla berdiri di depan layar. Ia tidak menampilkan nama kru selain Sandi yang sudah menjadi subjek rapat tertutup. Ia menunjukkan pola laporan identik, alat yang sedang diservis tetapi tetap menghasilkan data, formulir nol yang dibuat sebelum orang tiba, dan tiga hasil konfirmasi yang konsisten.
"Kesimpulannya," katanya, "sistem memungkinkan satu orang menguji, mencatat, dan menyetujui tanpa kontrol kedua. Kekurangan staf membuat jalan pintas tampak normal. Seseorang kemudian memakainya untuk meloloskan kru yang tidak layak hari itu."
"Apakah Angkasa Timur tidak aman?" tanya seorang pemegang saham.
"Hari ini lebih aman daripada kemarin karena celahnya ditemukan dan penerbangan dihentikan. Menyebut semua penerbangan tidak aman tanpa audit lengkap juga tidak benar."
"Berapa biaya perbaikannya?"
Kayla menampilkan rencana: kalibrasi dan penggantian alat, perekrutan dokter, akses individual, audit eksternal, jalur pelapor terlindungi, dan evaluasi ulang berbasis risiko.
Ia membagi kebutuhan menjadi tiga tahap. Tujuh hari pertama untuk mengamankan akses, mengulang kasus berisiko tinggi, dan memastikan jumlah dokter cukup bagi jadwal kritis. Tiga puluh hari untuk audit seluruh laporan Wina serta kepala lama. Sembilan puluh hari untuk integrasi perangkat langsung ke server agar hasil tidak bisa diketik manual tanpa penanda.
"Siapa auditor eksternalnya?" tanya Hansen.
"Dipilih komite audit melalui tender dan wajib menyatakan konflik kepentingan," jawab Hendra. "Bukan orang Kayla, bukan orang saya."
Jimmy menyandarkan tubuh. "Fortuna bisa merekomendasikan firma."
"Fortuna terkait dengan perpindahan kepala lama," kata Engkong Herman. "Rekomendasi Anda dicatat, tapi tidak ikut memilih."
Jimmy tersenyum tanpa kehangatan.
Kayla melanjutkan, "Kami juga membutuhkan mekanisme kru melaporkan tekanan untuk terbang tanpa takut kehilangan pekerjaan. Kalau hanya menghukum individu dan tidak mengubah target operasional yang mendorong jalan pintas, kasus akan berulang dengan nama berbeda."
Seorang komisaris independen bertanya apakah Kayla berani menyampaikan hal yang sama jika pelanggar berikutnya adalah anggota keluarga.
"Kalau dia duduk di kokpit, nama belakangnya tidak mengurangi alkohol dalam darah atau risiko bagi penumpang," jawab Kayla.
Beberapa orang yang sejak awal diam akhirnya mengangguk.
"Lebih kecil daripada biaya satu kecelakaan," katanya.
Reyner mengonfirmasi bahwa prosedur tiga alat tidak dipengaruhi tekanan jadwal. Ia menjelaskan penerbangan tertunda, kru pengganti lolos pemeriksaan, dan penumpang ditangani tanpa membuka data pribadi.
Herwan kembali menyerang. "Tetap saja, Hendra membiarkan pusat rusak sampai menantunya datang."
"Kayla bukan menantu Hendra," kata Adrian. "Dia dokter yang menemukan masalah yang tim lama abaikan. Jangan kecilkan pekerjaannya menjadi hubungan keluarga hanya karena fakta tidak mendukung Papa."
"Kamu selalu membela istrimu."
"Dalam rapat ini saya membela bukti. Kebetulan bukti itu ditemukan istri saya."
Engkong Herman mengetukkan tongkat ke lantai.
"Cukup."
Ruangan langsung diam.
"Kita tidak mengganti kepala perusahaan ketika timnya baru saja mencegah pelanggaran menjadi bencana," katanya. "Usul pencopotan Hendra ditolak."
Herwan menuntut pemungutan suara.
Sebelum suara dihitung, ia berkeliling meminta dukungan. Ia menjanjikan kursi komite baru kepada dua pemegang saham kecil dan mengatakan harga saham akan jatuh jika Hendra tetap bertahan.
Adrian tidak bergerak dari kursinya. Ia hanya mengirimkan metadata proposal pukul empat pagi kepada seluruh peserta.
"Kalau kekhawatiran ini baru muncul setelah insiden, mengapa rencana pengambilalihan dibuat sebelum pemeriksaan dimulai?" tanyanya.
Herwan menuduh waktu sistem salah. Karin menghadirkan verifikasi dari server tanda tangan digital yang memakai zona waktu sama dengan gedung. Alasan itu runtuh sebelum selesai.
Hansen yang semula hendak mendukung memilih abstain. Dua pemegang saham kecil menarik janji setelah Engkong Herman mengingatkan bahwa tawaran kursi harus dilaporkan sebagai konflik kepentingan.
Pemungutan suara dilakukan. Tidak ada pemegang saham besar yang mendukung proposalnya selain blok kecil yang terkait langsung dengannya. Hansen memilih abstain setelah melihat arah ruangan.
"Perbaikan sistem disetujui," lanjut Engkong Herman. "Audit eksternal dimulai. Semua laporan wajib disampaikan kepada otoritas. Tidak ada satu pun anggota keluarga membocorkan data kesehatan atau spekulasi kepada media. Komunikasi publik melalui perusahaan."
Jimmy menutup map. "Keputusan yang hati-hati."
"Keputusan yang benar," balas Herman.
Setelah rapat, Herman meminta Hendra tinggal. Mereka memeriksa daftar orang yang sudah menyiapkan proposal transisi sebelum hasil tes diumumkan.
"Herwan terlalu mudah terlihat," kata Herman. "Cari siapa yang memberinya bahan."
"Hansen bertemu orang Jimmy dua kali bulan ini," jawab Hendra. "Tapi belum ada bukti transaksi."
"Jangan bergerak sampai ada."
Di parkiran, Adrian membuka pintu mobil untuk Kayla. Begitu duduk, Kayla melepaskan sepatu dan menyandarkan kepala.
"Aku membenci rapat keluarga," katanya.
"Itu rapat pemegang saham."
"Lebih buruk. Keluargamu memakai proyektor."
Adrian memijat telapak tangannya. "Maaf kamu terseret."
"Aku memilih menerima tugas ini. Tapi aku tidak memilih mereka memakai pekerjaanku untuk saling menjatuhkan."
"Mulai sekarang aku berdiri di depan kalau serangan menyentuh keluarga. Kamu tetap di depan untuk urusan medis."
Kayla membuka mata. "Kesepakatan yang masuk akal."
Adrian mengeluarkan kotak makan dari konsol. Isinya roti dan sup hangat yang dipesan Nico sebelum rapat selesai.
"Aku tidak lapar."
"Kamu belum makan sejak pagi."
"Kamu mengawasi?"
"Tiana memberi tahu bahwa kamu hanya minum kopi. Dia lebih menakutkan daripada auditor."
Kayla menerima sendok. Setelah suapan pertama, tangannya baru terasa lelah. Selama presentasi ia berdiri tegak, tetapi kini bahunya turun dan matanya panas.
"Aku takut salah bicara dan membuat pusat kehilangan kepercayaan," katanya.
"Kamu mengatakan apa yang bisa dibuktikan dan mengakui apa yang belum bisa. Itu sebabnya mereka percaya."
"Kamu selalu punya jawaban?"
"Tidak. Kalau tidak punya, aku membawa sup."
Kayla tertawa kecil, lalu menyandarkan kepala pada bahunya lagi.
Di depan lift, Jimmy berpapasan dengan mereka.
"Adrian," katanya. "Angkasa Timur ini air keruh. Cepat atau lambat akan menenggelamkanmu."
Adrian menekan tombol lift. "Saya bisa berenang."
Pintu menutup di antara mereka.
Engkong Herman berdiri beberapa langkah di belakang. Tatapannya beralih dari Adrian kepada Kayla, dan untuk pertama kalinya, ada penghormatan yang tidak ia sembunyikan.