Indonesia
NovelToon NovelToon
HALAMAN TERAKHIR

HALAMAN TERAKHIR

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Teen School/College / Cinta pada Pandangan Pertama / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Tamat
Popularitas:236
Nilai: 5
Nama Author: T.K. OKVIANDI

Bagi Rindu Setia Wiratman, hidup adalah buku catatan yang penuh dengan aturan ketat, ekspektasi, dan kesempurnaan semu. Sebagai gadis populer yang selalu memegang kendali, ia tidak pernah menyangka bahwa takdir akan menuliskan babak paling menyakitkan di saat ia merasa paling rapuh—ketika keluarganya runtuh dan dunianya hancur perlahan.

Di sisi lain, ada Langit Batara Nugroho, cowok arogan yang kehadirannya selalu berhasil menyulut emosi Rindu. Di balik sikapnya yang menyebalkan, Langit menyimpan luka masa lalu yang belum tuntas dan sebuah rahasia besar yang sengaja dikubur rapat-rapat.

Pertemuan mereka bukanlah sebuah kebetulan, melainkan bagian dari halaman-halaman berat yang harus mereka balik bersama. Ketika badai menerpa hidup Rindu, justru Langit—seseorang yang paling ia benci—menjadi satu-satunya tempat untuk bersandar.

Namun, pertanyaannya: apakah mereka akan bertahan hingga akhir babak cerita, atau justru terhenti di halaman terakhir kisah ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon T.K. OKVIANDI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HALAMAN TIGA BELAS

Waktu terus berjalan, hingga akhir nya setelah beberapa lama bis itu terdiam saja, terlihat kendaraan-kendaraan di depan bis tersebut mulai berjalan perlahan. Para siswa yang berada diluar bis pun mulai memasuki bis dan duduk di tempatnya masing-masing. Bis mulai berjalan perlahan-lahan dan Langitpun mulai merapihkan dan meletakkan kembali laptopnya kedalam tas. Setelah bis itu melaju terlihat disisi kiri jalan ada 3 buat mobil yang mengalami kecelakaan dijalan tol, ternyata itulah yang menyebabkan kemacetan dari tadi disana. Para siswa yang penasaran, ramai-ramai melihat ke jendela sisi kiri bis untuk mengetahui ada apa disana kecuali Langit dan Rindu yang mengabaikan hal itu. Akhirnya jalanan sudah terlihat normal, bis itu dapat melaju dengan kecepatan normalnya tanpa hambatan kembali bahkan sesekali menambah kecepatannya jikalau jalanan lenggang.

Matahari sudah menghilang berganti cahaya bulan yang hadir disana, Bis pun sudah keluar gerbang tol pasteur melanjutkan perjalanannya melalui jalan kota menuju arah lembang dimana akan bermalam selama perlumbaan berlangsung hingga hari minggu. Perjalanan berlangsung lancar, hingga bis menyalakan lampu sign kirinya untuk menepi di sisi jalan dekat saung pengkolan lembang. Para siswa dan guru-gur dari bis serta dari minibus mulai menuruni kendaraan menuju kedalam rumah makan tersebut. Para siswipun mulai mencari meja dan bangku nya masing-masing dan beberapa guru mulai memesankan makanan untuk seluruh siswa disana. Rindu yang merasa tidak ada teman dekatnya dan teman ekskul yang seangkatan terlihat duduk tanpa bicara kepada siswa didekatnya hingga akhirnya Allisya datang dan duduk di bangku yang kosong disebelah Rindu.

"Kak ini kosong kan? Boleh ya aku duduk disini? Oh iya kak kenalin aku Allisya , eh iya kakak kan udah kenal aku " sapa Allisya sambil menyodorkan tangannya kepada Rindu.

"Iya sya duduk aja nggak apa-apa kok kan kosong ini" Jawab Rindu mempersilahkan Allisya duduk.

Allisya langsung duduk dibangku itu dan memulai percakapan dengan Rindu sambil menunggu makanan datang. "Kak aku mau nanya boleh nggak? Tapi kakak jangan marah" tanya Allisya.

"Iya sya, mau nanya apa? Masa orang mau nanya harus marah" Jawab Rindu.

"Hehehe, kakak tadi di bis marah ya sama aku pas aku bagiin boks, kalau iya kakak marah aku minta maaf ya kak, tapi marah kenapa ya kak kalau boleh aku tahu?" Tanya Allisya kembali.

"nggak kok sya , aku nggak marah, cuma tadi emang lagi bete aja maafin ya kalu tadi aku kelihatanmarah sama kamu, tapi sumpah deh nggak marah kok, cuma bete aja sama keadaan tadi pas sebelum bis jalan " Rindu terkejut akan pertanyaan Allisya tersebut, Rindu berusaha untuk tetap tersenyum menanggapi pertanyaan tersebut.

"Beneran kak ? ya udah makasih ya kak, tapi tadi kakak kenapa sih sama kak Langit? Kak Langit ada salah ya sama kakak? Atau ada hal yang tersembunyi kak?" Tanya Allisya penuh keingin tahuan.

Rindu menjadi bingung menjawab semua pertanyaan dari Allisya tersebut, dia tahu Allisya dekat dengan Langit , jadi tidak mungkin dia menjelek-jelekan menjatuhkan Langit kepada Allisya. Lama berpikir hingga akhirnya makanan pun tersedia di hadapan mereka berdua. "Wah makanan nya udah dateng, makan dulu ya sya, biar cepat jalan lagi kita hehehe" Ucap Rindu mengalihkan pertanyaan Allisya.

"Iya kak" Jawab Allisya

Seluruh siswa akhirnya mulai menyantap semua makanan yang disajikan, termasuk sate kelinci yang sudah menjadi penomenal di rumah makan itu.. terlihat beberapa siswa mengabadikan moment istimewa tersebut dalam jepretan kamera dan handphone. Keceriaan sangat terlihat dari para siswa disana termasuk dari Rindu dan Langit yang jika didalam bis tidak ada sama sekali senyuman walau kecil. Seluruj makanan di ats meja sudah habis semua, para siswa pun mulai bangkit dari tempat duduknya menuju kedalam bis. Saat semua siswa sudah naik kedalam bis terlihat Langit berpesan kepada Rindu yang akan naik bis, bahwa dia mau ke toilet dulu. Dia berpesan agar memberitahukan ke supir atau gurunya. Rindu mengiyakan saja dan langsung bergegas naik kedalam bis dan duduk di tempat duduknya. Setelah waktu berselang beberapa menit dan sudah terlihat tidak ada lagi siswa yang naik kedalam bis, Bu Riri selaku pembina Osis pun mulai bertanya kepada para siswa bahwa semua sudah naik ke bis.

"Coba dicek temen sebangkunya sudah ada semua atau belum" Ucap Bu Riri.

Seluruh siswa pun menjawab sudah, termasuk Rindu yang mempunyai niatan meninggalkan Langit. Dia sengaja tidak menyampaikan pesan Langit tersebut agar Langit ditinggalkan disana. Mesin bis pun dinyalakan, dan perlahan bis mulai bergerak dari posisi parkirnya. Dari dalam rumah makan terlihat Langit berjalan kearah bis dengan santainya karena belum menyadari bahwa bis yang akan dinaikinya itu sudah mulai berjalan.

Dari dalam bis, seorang siswa yang melihat Langit yang masih ada di luar bis , berusaha membuka pintu belakang bis dan teriak memanggil Langit. Langit yang mendengarnya pun langsung berlari mengejar bis yang sedang berjalan lambat, dan berusaha naik kedalam bis walau dalam keadaan bis itu berjalan. Langit akhirnya berhasil masuk kedalam bis walau sempat terjatuh di pintu bis. Langit langsung berjalan ke tempat duduknya dengan wajah kesal menatap Rindu.

"Mau lu apa sih? Gue udah bilang mau ke toilet dulu tungguin, nggak mungkin kalau lu lupa, lu pasti emang sengaja kan" Ucap Langit dengan kesal.

"Oh iya lupa gue, maaf ya gue lupa tuh, aduh pikun banget ya gue" Balas Rindu dengan meledek

"nggak usah sok lupa lu, gue yakin lu emang sengaja kan, sekali lagi apa emang salah gue ke lu" Langit marah atas tindakkan Rindu.

"Banyak !!!" Rindu berucap dengan nada tinggi dan langsung duduk memalingkan wajahnya dari Langit.

Langit langsung duduk di tempat duduknya dan mengambil air minum kemasan dari tas nya. Sambil minum Langit memasangkan kembali headset d telinganya dan duduk dengan tenang saat bis itu melaju ditemani lagu "Dia" milik Anji dari handphonenya.

Bis akhirnya tiba di penginapan yang dituju, bis tersebut segera masuk dan parkir di tempat yang disuruh oleh satpam penginapan tersebut. Tidak lama setelah bis diparkirkan, seluruh siswa segera mengambil tas dan bawaan lain yang diletakkan di bagasi atas kursi bis tersebut. Para siswa itu akhirnya segera menuri bis dan berjalan ke lubby penginapan. Beberapa siswa terlihat berfoto disana , ada juga yang mengupdate status media sosialnya. Akhirnya mobil yang ditumpangi kepala sekolah tiba , mobil yang tadi sempat terpisah karena mengisi bahan bakar.

Beberapa guru menuju ke meja resepsionist penginapan, mengurus semua kamar termasuk biaya-biaya. Akhirnya kunci kamar penginapan untuk siswa sudah ditangan bu Riri dan pak Amir, siswa dibagi menjadi 2, yang laki-laki ke pak Amir sedangkan yang perempuan ke Bu Riri. Pak Amir dan Bu Riri langsung membagikan kunci kepada para siswa, 1 kunci kamar di gunakan untuk 3 sampai 4 orang siswa, yang laki-laki di lantai 3 bersama Pak Amir sebagai pengawasnya dan yang perempuan dilantai 2 dengan Bu Riri sebagai pengawasnya dimana dalam kamar terdapat 2 tempat tidur double untuk yang 4 orang sedangkan untuk yang 3 orang terdapat tempat tidur double dan 1 tempat tidur single, sementara kepala sekolah dan guru lainnya di lantai 1 termasuk supir bis.

Setelah seluruh siswa menerima kunci kamar masing-masing, para siswa langsung berlarian mencari dimana kamar mereka berada, tidak kurang dari mereka yang terjatuh atau bertabrakkan satu sama lain. Rindu mendapatkan kamar bersama Allisya dan satu orang siswi kelas 10 yang bernama Nila, sedangkan Langit sekamar dengan Ferry selaku ketua ekskul basket dan 2 orang siswa kelas 11 yang merupakan anggota dari ekskul basket.

Rindu telah sampai dikamarnya, dia mulai merapihkan bawaannya dan berbagi lemari kepada Allisya dan Nila. Tampak Allisya dan Nila sedang sibuk merapihkan bawaan mereka, melihat hal tersebut Rindu memutuskan untuk mandi terlebih dahulu. Dengan membawa handuk dan baju salin, Rindu melangkahkan kaki nya ke kamar mandi. Disaat Rindu sedang mandi, terlihat Allisya sedang memasukkan pakaiannya ke dalam lemari dan mencharger handphonenya. Di tempat lain terlihat Langit dan teman sekamarnya baru sampai di depan kamar nya. Teman sekamar Langit langsung masuk dan meletakkan tasnya di dalam lemari, begitu juga Langit tapi setelah meletakkan tasnya Langit langsung berlalu keluar kamar membawa buku kecil dan sebuah pena.

Langit berlalu meninggalkan kamarnya berjalan menuruni anak tangga hingga akhirnya duduk di sebuah kursi dekat dengan sebuah taman dalam penginapan. Dengan santai sembari menyilangkan kakinya Langit menatap kearah gelapnya langit malam. Terlihat di wajahnya Langit seakan sedang memikirkan sesuatu. Dengan buku kecil dan pena yang dia bawa, Langit mencoretkan beberapa tulisan dalam kertas tersebut.

Tidak berselang lama setelah Langit menuliskan sebuah puisi dalam buku kecilnya, dari arah belakang terdengar suara memanggil nama nya. "Kak Langit...." Suara perempuan yang terdengar dari belakang Langit.

Ternyata itu adalah Allisya yang baru saja menuruni anak tangga dan berlari kecil ke arah Langit, dengan mengenakan pakaian training panjang lengkap dengan kerudungnya, Allisya langsung duduk di kursi dekat Langit. Allisya berusaha mencari tahu apa yang sedang ditulis oleh Langit, walau Langit enggan memberitahunya.

"Lagi apa sih kak?" tanya Allisya.

"Enggak Sya, ini lagi nyari angin aja, di kamar belum ngantuk, enak disini dingin nggak kayak di Jakarta" jawab Langit.

"Itu apa kak yang di tangan kakak, lagi nulis apa sih kak, coba aku liat" ucap Allisya.

"Cuma corat-coret aja kok sya, bukan apa-apa, nggak penting kok" Ucap Langit sambil berusaha menyembunyikan kertas tersebut.

"Ya udah kak kalau nggak penting sini aku mau liat hehehehe, kalau diumpetin gitu pasti penting" Ucap Allisya

Dengan penuh keraguan Langit menyerahkan kertas tersebut kepada Allisya, Langit tidak berpikir tentang Allisya jika membaca puisinya tersebut. Dengan mencoba merangkai sebuah alasan-alasan sederhana dalam pikirannya jika nanti Allisya bertanya tentang tulisan itu, kertas itu berpindah ketangan Allisya. Allisya menerima dan langsung membaca, memahami tiap kata yang terkandung dalam tulisan itu tanpa mengedipkan matanya. Akhirnya yang dipikirkan Langit terjadi , dengan penasaran Allisya bertanya kepada Langit.

"Bagus kak kata-kata nya, tapi kok ini dibilang nggak penting ya? Menurut aku sih kakak nulis ini sesuai isi hati kakak ya? Hehehe, hayo nnggaku kak"Ucap Allisya

"Sok tahu kamu sya, itu nulis iseng-iseng aja nggak ada kaitannya sama perasaan atau orang lain. Oh iya besok kan harus berangkat pagi-pagi buat ke lukasi pertandingan pertama, kakak duluan ya" Ucap Langit sambil bangun dari tempat duduknya.

Langit pergi meninggalkan Allisya sendiri di kursi itu, dia berjalan menuju anak tangga untuk kelantai 3 dimana kamarnya berada. Tidak berselang pergi menuju kamarnya di lantai 2.

Suasana di sebuah kamar terlihat Nila sedang duduk diatas tempat tidur menonton televisi dengan Rindu yang sedang tertidur tertutup selimut. Suasanya dalam kamar sudah redup, hanya cahaya dari televisi yang ada, itu juga tidak terlalu terang, karena acara yang ditonton adalah film horor. Disaat Nila sedang serius menatap kearah televisi, terdengar suara ketukan pintu "Tok Tok Tok" , Nila terkejut, ingin rasanya membangunkan Rindu tapi sudah terlihat lelap tidurnya. Nila berusaha memberanikan diri menuju kearah pintu.

Perlahan langkah Nila mulai bergerak tanpa suara, Nila segera membuka kunci pintu tersebut, dengan perlahan dia membuka pintu sedikit demi sedikit, hingga terlihat dari celah pintu yang terbuka sosok seorang perempun yang ternyata adalah Allisya. Nila yang sudah lega mengetahui itu adalah Allisya , langsung membuka pintu kamarnya dan kembali ke tempat tidurnya meneruskan menonton televisi.

Allisya masuk kedalam kamar dan langsung menuju ke kamar mandi. "Aku kira siapa kak, bikin takut aja" Ucap Nila kepada Allisya

"Lagian kamu udah tau malem jumat, nontonnya begituan" Jawab Allisya

"Hehehe abis nya seru , terus nggak ada yang rame lagi selain ini" Balas Nila

"Ya udah lanjutkan" Ucap Allisya

Allisya pun masuk ke dalam kamar mandi, di depan cermin dia mulai membersihkan wajahnya dan menyikat giginya. Allisya mulai berpikir tentang Langit dan Rindu. Mengapa selalu saja bertengkar tanpa alasan yang jelas, tapi disisi lain Langit selalu memuji Rindu secara tidak langsung. Selalu berusaha berbuat agar Rindu tidak ada kesedihan. Tapi kalau dari lugikanya, Allisya yakin nggak mungkin Langit ada hati dengan Rindu. Ya , perasaan memang tidak selalu menggunakan lugika, hati kecil Allisya berkata lain, Langit ada perasaan dengan Rindu tapi tidak bisa terungkap, mungkin karena ego mereka berdua yang sama-sama tidak bisa melunak.

Waktu sudah menunjukkan pukul setengah 5 pagi, terlihat Rindu, Nila , dan Allisya masih pulas tertidur, hingga akhirnya Rindu mulai membuka matanya. Rindu terlihat mulai bangun dari tidurnya perlahan-lahan dan langsung menuju kamar mandi. Idak berlalu lama, Rindu keluar dari kamar mandi, dia berniat keluar kamar mencari udara segar dipagi hari. Dengan perlahan Rindu berjalan ke arah pintu kamar tanpa bersuara agar tidak mengganggu tidurnya Nila dan Allisya.

Sesaat akan membuka kunci pintu kamar, tanpa sadar kaki Rindu menginjak sebuah kertas. Rindu lalu membukanya, dia terkejut melihat ada namanya disana dan beberapa kata-kata. Rindu lalu keluar kamarnya, didepan kamarnya dia membaca tulisan dalam kertas tersebut.

Bila ini bukanlah cinta.

Mengapa separuh jiwa ini tersimpan bayangmu ?

Bila ini bukan kasih dan sayang.

Mengapa kehidupanku tak sempurna tanpa senyum darimu?

Dan bila ini bukan sedekar suka.

Mengapa pandanganku terus menyelusuri kemana bayanganmu melangkah?

Dan telinnggaku terbiaskan suaramu..

Lalu..

Harus kuberi nama apa rasa ini..

Rindu SW.

Perasaan Rindu tercampur aduk antara terkejut dan bingung setelah membaca tulisan itu. Rindu berpikir dengan eras tentang apa maksud dari itu semua dan siapa yang menulisnya. Apakah itu dari teman satu sekolahnya, atau dari orang lain yang dia kenal kebetulan menginap disana juga atau malah seorang yang belum dikenalnya tapi hanya mengenal Rindu. Rindu merasa nggak mungkin temen satu sekolahnya, karena kalau memang teman sekolahnya, tidak pernah ada yang mengiriminya surat atau puisi kepadanya, kenapa harus disini? Kenapa tidak disekolah saja? Pikiran itu berputar terus dikepala Rindu.

Rindu mencoret dalam pikirannya bahwa yang mengirimi dia tulisan itu adalah teman satu sekolahnya, dia mulai melingkari dalam pikirannya bahwa itu adalah orang yang mungkin dia kenal, mungkin teman lama, atau teman di social medianya yang kebetulan menginap di penginapan itu, tapi enggan diketahui identitasnya oleh Rindu. Dengan tersenyum, Rindu berusaha tidak terlalu memikirkan tentang siapa pengirimnya, dia senang setidaknya ada yang jatuh hati kepadanya dengan romantis menuliskan tulisan itu kepada dia yang selama ini belum pernah dia dapatkan. Masalah tentang siapa itu, Rindu yakin kelak dirinya akan mengetahui dengan sendirinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!