Lima tahun lalu, Victoria kabur dari pelukan suaminya yang paling ditakuti di pesisir timur—seorang Capo mafia berdarah dingin—sambil menyembunyikan sebuah rahasia di dalam rahimnya. Kini ia hidup sederhana di sebuah kota pesisir kecil, menjahit seragam dan menjual pai lemon, membesarkan dua putra kembar yang… terlalu istimewa. León, si sulung, punya tatapan sedingin es dan naluri seorang pemangsa. Cristo, si bungsu, mampu membaca manusia semudah membaca buku. Mereka rupawan. Mereka jenius. Dan mereka adalah salinan sempurna pria yang paling ingin Victoria lupakan.
Namun sebuah mobil hitam kembali muncul di ujung jalan.
Dante Moretti tak pernah berhenti mencari. Dan ketika ia akhirnya menemukan bukan hanya istri yang meninggalkannya, tapi dua pewaris darah dagingnya yang tak pernah ia tahu ada—dunia yang sudah susah payah dibangun Victoria runtuh dalam semalam. Ia diseret kembali ke istana kaca penuh bayangan, ke dalam perang antara cinta dan kuasa, antara seorang ibu yang bersumpah melindungi anak-anaknya dari kegelapan, dan seorang ayah yang bertekad merebut kembali segala yang menjadi miliknya.
Tapi musuh sesungguhnya bukan hanya di antara mereka berdua. Ada rahasia keluarga yang lebih kelam dari yang Dante kira, pengkhianat di balik setiap pintu, dan sepasang bocah kembar yang—tanpa disadari siapa pun—mulai menyusun langkah mereka sendiri di papan catur para raja.
Antara peluru dan gairah, dendam dan penebusan, satu pertanyaan tersisa: bisakah cinta yang lahir dari kegelapan akhirnya memutus lingkaran itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lobelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Mercedes hitam itu berhenti pada jarak yang aman, tersembunyi di balik bayangan sebuah gudang garam tua. Dante Moretti tidak langsung turun. Ia tetap di sana, mesin mendengung dalam bisikan yang nyaris tak terdengar, sementara jari-jarinya yang terbungkus sarung tangan kulit hitam mencengkeram setir begitu kuat hingga bahannya berderit.
Dari balik kaca depan yang diperkuat, San Vicente tampak seperti kartu pos dari sebuah kehidupan yang tak pernah bisa ia miliki. Sebuah desa tempat waktu seakan berhenti, tempat orang-orang tidak saling curiga, tempat udara tidak berbau ambisi, melainkan berbau laut. Tapi Dante tidak datang untuk pemandangan. Ia datang demi perempuan yang telah mencuri jiwanya, dan menurut laporan Marco, demi sesuatu yang jauh lebih berharga.
"Itu dia, Bos," bisik Marco dari kursi penumpang, menunjuk dengan dagunya ke arah alun-alun kecil di depan kedai es krim di dermaga.
Dante membetulkan kacamata hitamnya, lalu, dalam gerakan tak sabar, melepasnya. Ia perlu melihat perempuan itu tanpa penghalang apa pun.
Victoria ada di sana. Ia mengenakan gaun bermotif bunga yang sederhana, rambutnya diikat ekor kuda tinggi yang membiarkan lehernya terbuka, leher yang telah ribuan kali ia cium dalam keremangan kamar mereka. Perempuan itu duduk di bangku kayu, memegang dua kerucut es krim yang meleleh di bawah matahari sore.
Lalu, terjadilah.
Dua sosok kecil berlari keluar dari balik sebuah kios kerajinan tangan, tertawa dengan energi yang seolah menghentikan denyut nadi Dante. Victoria tergelak, tawa yang bening, nyata, tawa yang tak pernah lagi ia dengar dalam dua tahun terakhir pernikahan mereka, lalu menyambut kedua bocah itu dengan tangan terbuka.
Dante merasa seakan sebuah palu besi menghantam tulang dadanya.
"Matikan mesinnya, Marco," perintahnya dengan suara yang retak.
Ia terpaku. Salah satu bocah itu, yang dipanggil Victoria dengan nama León, berhenti di hadapan sang ibu lalu menyilangkan tangan di dada. Itu bukan gerakan seorang anak lima tahun; itu adalah tiruan persis dari sikap bertahan yang biasa Dante ambil sebelum sebuah negosiasi yang sulit. Bocah itu memiringkan kepala ke kiri, mengamati sesuatu di jalanan dengan kecurigaan naluriah yang menjalari tulang punggung ayah biologisnya.
"Ini tidak mungkin…" gumam Dante pada dirinya sendiri, menempelkan dahinya ke kaca yang dingin.
Melihat Victoria adalah rasa sakit yang sudah ia kenal, sebuah penderitaan yang telah ia pelajari cara hidup berdampingan dengannya. Tapi melihat kedua bocah itu… itu sesuatu yang baru. Rasanya seperti melihat dirinya sendiri di dalam cermin yang memantulkan versi masa kecilnya yang telah dirampas darinya.
Ia mengamati Cristo, bocah yang satu lagi, yang duduk di samping Victoria dan mulai menyantap es krimnya dengan keanggunan yang senyap. Cristo memandang sekelilingnya dengan mata yang analitis, menggerakkan kepala berirama, memproses lingkungan di sekitarnya.
Dante mengenali tatapan itu. Itu tatapan seorang ahli strategi, tatapan orang yang tak percaya pada penampilan luar.
"Lihat mereka, Marco," ucap Dante, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, suaranya tidak memancarkan kewibawaan, melainkan keheranan yang nyaris menyerupai kekhusyukan. "Mereka punya garis rahangku. Mereka punya caraku berdiri."
Benturan emosi, ganas dan primitif, mengguncangnya. Selama lima tahun ia telah membenci Victoria karena meninggalkannya. Ia telah membayangkan ribuan cara untuk menghukumnya, membuatnya membayar atas "pengkhianatannya". Tapi melihat perempuan itu di sana, menjadi pusat semesta dua bocah kecil itu, membuatnya mempertanyakan segalanya. Victoria bukan sekadar kabur darinya; ia telah menyelamatkan kedua anak itu agar tak menjadi seperti dirinya.
Dante merasakan sengatan iri yang membakar isi perutnya. Iri pada tawa Victoria. Iri pada cara León memandang ibunya dengan pemujaan yang mutlak. Ia lelaki paling berkuasa di seluruh pesisir timur, tapi di alun-alun desa itu, ia bukan siapa-siapa. Ia hanyalah orang asing yang mengamati kehidupan yang secara tak langsung ia biayai dengan rasa sakitnya sendiri.
"Bos, regu penjemputan sudah pada posisi," lapor Marco, memecahkan lamunannya. "Kita bisa menjemput mereka sekarang. Sepuluh menit lagi mereka sudah ada di dalam jet."
Dante mengangkat tangannya, menghentikan bawahannya.
"Tidak. Belum sekarang."
"Dante, kalau dia melihat kita…"
"Sudah kubilang tidak," ulang Dante, berpaling ke tangan kanannya. Mata kelabunya menyala dengan campuran ketertarikan dan amarah. "Lihat mereka, Marco. Mereka bukan sekadar anak-anak. Mereka Moretti."
Ia kembali memusatkan pandangan pada León. Bocah itu baru saja mendeteksi sesuatu. Ia berdiri, dengan halus memposisikan dirinya di depan Victoria, melindungi sang ibu dengan tubuh mungilnya sementara matanya menyapu jalanan, berhenti tepat satu detik ke arah Mercedes hitam. Dante menahan napas. Selama satu momen yang terasa abadi, ayah dan anak beradu pandang menembus jarak seratus meter dan sekeping kaca antipeluru. Bocah itu tidak takut; ia hanya mengernyitkan alis, seolah tengah mencatat sebuah keganjilan di dalam wilayahnya.
"Dia punya naluriku," bisik Dante, dan senyum getir yang penuh kebanggaan terukir di bibirnya. "Dia coba menyembunyikan mereka di pasir, tapi darah tak bisa disembunyikan. Darah selalu memanggil darah."
Rasa memiliki, yang selalu menjadi penggerak Dante, bermutasi menjadi sesuatu yang lebih rumit. Ia tak hanya menginginkan Victoria kembali untuk menghukumnya. Ia menginginkan kedua bocah itu. Ia ingin mengajari mereka cara memerintah. Ia ingin melihat bagaimana "tatapan dingin" itu berubah menjadi senjata paling ampuh di imperiumnya. Tapi pada saat yang sama, sebuah bagian kecil dan nyaris terlupakan dari hatinya, bagian yang pernah dicintai Victoria, merasakan sengatan rasa bersalah.
Kalau ia membawa mereka pergi bersamanya, tawa Victoria itu akan mati. Kedua bocah itu akan berhenti menyantap es krim di bawah matahari untuk mulai belajar tentang pengkhianatan, senjata, dan bayang-bayang.
Dante memejamkan mata dan memijat pangkal hidungnya. Konflik batin itu mencabik-cabiknya. Apakah merebut mereka kembali adalah tindakan cinta, atau tindakan egoisme tertinggi?
"Dia tampak bahagia," ucap Marco, hampir seperti pikiran yang tak sengaja terucap.
"Kebahagiaan adalah kemewahan yang tak boleh dimiliki mereka yang menyandang namaku," putus Dante, memulihkan topeng besinya. Kelemahan sekejap itu sirna, digantikan tekad tanpa ampun seorang Capo. "Victoria membuat keputusan untuk kami berdua lima tahun lalu."
Kini giliranku yang mengambil keputusan terakhir.
Ia membuka pintu mobil. Udara asin desa itu menampar wajahnya, kontras yang brutal dengan udara tersaring di kantornya di Manhattan. Ia merapikan jasnya lalu melangkah ke aspal.
"Tetap di sini," perintahnya kepada Marco. "Aku tak mau ada yang bergerak sampai aku beri isyarat."
Dante mulai berjalan ke arah alun-alun, membaur di antara orang-orang pasar. Setiap langkahnya mempersempit jarak antara lelaki yang ia jalani dengan lelaki yang seharusnya bisa ia jadi. Ia mengamati Victoria sekali lagi. Perempuan itu tengah membersihkan noda es krim dari pipi Cristo, dengan kelembutan yang tak pernah Dante ingat pernah ia terima sepanjang hidupnya.
Ia berhenti di balik sebuah kios bunga, hanya berjarak dua puluh meter dari mereka. Ia bisa mencium aroma Victoria. Ia bisa mendengar gema tawanya. Tapi yang terutama, ia bisa melihat tatapan León, yang kini terpaku padanya dengan intensitas yang membuatnya membeku. Bocah itu tahu ialah bahaya itu. Bocah itu tahu musim dingin telah tiba di San Vicente.
Dante tidak turun tangan. Ia hanya mengamati, menyimpan setiap detail dalam ingatannya: cara kedua bocah itu berjalan, cara Victoria melindungi mereka. Dunianya, yang telah berhenti selama lima tahun, kembali berputar, tapi kini dengan kecepatan yang menghancurkan.
Sudah kutemukan kau, Victoria, batinnya, sementara setetes air mata kesepian, yang tak terlihat siapa pun, mati di sudut matanya. Dan kali ini, tak ada hutan yang cukup dalam untuk menyembunyikanmu dari jati dirimu: seorang Moretti.
Dante kembali ke mobil sebelum perempuan itu sempat melihatnya, tapi jiwanya tertinggal di sana, di bangku kayu itu, ditandai oleh tatapan dingin seorang putra yang belum tahu bahwa ayahnya adalah raja bayang-bayang.