Indonesia
NovelToon NovelToon
Mr.Possessive

Mr.Possessive

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Romansa Fantasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Biqy fitri S

Jingga Arletha Alinka punya segalanya—kecerdasan, karier gemilang, dan kehidupan glamor sebagai pewaris perusahaan besar. Sayangnya, satu hal yang tidak pernah masuk dalam daftar pencapaiannya adalah: pacar. Bukan karena tak ada yang mendekat, tapi karena ia terlalu sibuk dengan tumpukan pekerjaan dan target perusahaan.
Sampai akhirnya, orang tuanya melemparkan sebuah “kejutan”: perjodohan dengan Levin Artama Putra. Levin adalah pengusaha muda sukses, anak tunggal yang super manja dan Possessive. Tampan? Tentu saja. Menyebalkan? Jelas.
Pertanyaannya, bagaimana mungkin seorang wanita tegas seperti Jingga bisa cocok dengan pria yang bahkan tidak percaya pada cinta? Atau jangan-jangan, justru pertemuan konyol inilah yang akan mengubah hidup mereka berdua selamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biqy fitri S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terciduk

Arin baru saja merebahkan tubuhnya di kasur setelah seharian bekerja. Dengan malas ia meraih ponsel, membuka layar, lalu menatapnya sebentar. Entah dorongan dari mana, jarinya langsung mengetik.

Arin: “Roy, kamu lagi apa?”

Tak butuh waktu lama, layar ponselnya menyala kembali.

Roy: “Baru sampai di apartemen. Kenapa?”

Arin menggigit bibir, ragu-ragu sejenak, lalu mengetik lagi.

Arin: “Hari ini aku mau ke mall. Aku mau beliin hadiah buat Kak Mozza, kado pernikahan. Bisa temenin aku?”

Jawaban Roy muncul cepat.

Roy: “Tentu bisa. Jam 7 aku jemput, ya.”

Senyum lebar langsung merekah di wajah Arin.

---

Tepat pukul tujuh malam, sebuah mobil berhenti di depan rumah Arin. Ia keluar dengan gaun kasual yang manis, wajahnya berseri-seri. Roy yang menunggu di balik kemudi sempat terpana beberapa detik sebelum menyapa.

“Cantik.,” ucap Roy pelan sambil melirik.

Arin tersentak, langsung pura-pura batuk kecil.

“Ih, jangan gitu ah. Aku cuma pakai baju biasa.”

Roy terkekeh ringan. “Biasa menurutmu, luar biasa menurutku.”

+

Arin hanya bisa menunduk, menggenggam tasnya erat-erat. Pipinya jelas sudah merona.

“Naiklah,” ujarnya singkat namun hangat.

Sepanjang perjalanan, Arin tak bisa menyembunyikan rasa senangnya.

“Aku jadi nggak enak, nyusahin kamu,” ucapnya sambil menunduk.

Roy melirik sekilas. “Nyusahin gimana? Aku malah senang bisa nemenin kamu.”

Arin hanya bisa nyengir kecil, menahan debaran.

Di perjalanan, mereka sempat terjebak macet sebentar. Arin mencoba mencairkan suasana.

“Eh, Roy… kamu tuh biasanya kalau beliin kado buat orang, tipe yang nyari sesuai hobi atau sekadar yang cantik dilihat?”

Roy berpikir sejenak. “Kalau aku sih, lebih ke sesuatu yang punya makna. Biar tiap kali dipakai atau dilihat, orangnya inget siapa yang ngasih.”

Arin menoleh, menatapnya sekilas. “Hmm… kedengarannya bijak banget.”

Roy tersenyum kecil. “Kalau kamu?”

Arin tersipu, lalu menjawab asal. “Aku… biasanya lihat yang lucu aja. Kalau lucu, ya aku beli.”

Roy tertawa. “Pantes aja kamu sendiri lucu.”

“Hei!” Arin langsung memalingkan wajah ke jendela, tapi senyum lebar sudah tak bisa ia sembunyikan.

----

Sesampainya di mall, mereka berjalan berdampingan. Beberapa kali lengan mereka nyaris bersentuhan, membuat Arin salah tingkah.

Di sebuah toko home living, Arin sempat berhenti.

“Lihat deh, ini bagus nggak buat dekor rumah Kak Mozza nanti?” katanya sambil menunjuk hiasan meja.

Roy menimbang sebentar.

“Bagus sih, tapi kayaknya terlalu umum. Kado pernikahan harusnya lebih personal.”

Arin mengangguk pelan, merasa kalah argumen. “Iya juga sih…”

Mereka lalu masuk ke toko perhiasan. Arin terpaku melihat deretan kalung, anting, dan gelang yang berkilau.

“Kalau aku beliin kalung, kira-kira Kak Mozza suka nggak ya?” gumam Arin sambil menatap etalase.

Roy menoleh, tapi bukannya melihat kalung, matanya justru fokus ke sebuah gelang sederhana dengan hiasan permata kecil.

“Menurutku, gelang ini lebih pas. Elegan, tapi nggak berlebihan.”

Arin mengikuti arah tatapannya. “Hmm… iya juga. Cantik.”

Tanpa banyak kata, Roy langsung meminta pramuniaga untuk membungkus gelang itu.

“Eh, Roy! Itu kan aku yang harusnya beliin,” protes Arin.

Roy menoleh sambil tersenyum tenang. “Nggak apa-apa. Anggap aja ini hadiah dari kita berdua. Lebih bermakna kan?”

Arin terdiam, hatinya hangat. “Dari… kita berdua?” ulangnya lirih.

Roy mengangguk. “Iya..”

Arin mematung, wajahnya langsung merah padam. Ia buru-buru menunduk, menutupi senyumnya dengan rambut panjang yang tergerai.

Setelah selesai mereka pun keluar dari toko, Arin masih memeluk kotak kecil berisi gelang itu. “Makasih ya, Roy. Serius… aku nggak nyangka kamu bakal segini perhatian.”

Roy menoleh sekilas, nada suaranya tenang tapi dalam. “Aku memang selalu perhatian… cuma kamu aja yang kadang nggak sadar.”

Arin mendadak terdiam. Hatinya berdegup tak karuan, seolah seluruh mall menjadi saksi rahasia kecil mereka.

Mereka berjalan pelan, sesekali tertawa kecil saat membicarakan hal-hal ringan.

“Serius deh, kalau Kak Mozza lihat gelang ini, dia pasti suka banget,” kata Arin sambil menatap hadiah itu dengan penuh puas.

Roy mengangguk, lalu menatapnya sebentar. “Kalau kamu yang milih, pasti suka. Apalagi aku yang bayarin,” godanya dengan nada pelan.

Arin langsung manyun. “Hei! Itu kan harusnya kado dari aku—”

Belum sempat ia melanjutkan kalimatnya, tiba-tiba terdengar suara memanggil dari kejauhan.

“Arin… Roy…”

Keduanya sontak berhenti melangkah. Mereka saling berpandangan cepat, wajah panik jelas tergambar. Perlahan, mereka menoleh bersamaan ke arah sumber suara itu.

Dan benar saja—

“Jingga… Tuan Levin…” suara Arin tercekat, sementara Roy hanya bisa menghela napas panjang.

Di depan mereka berdiri Jingga dengan wajah pura-pura terkejut, tangannya menutupi mulut seakan baru saja menyaksikan sesuatu yang tak diduga. Levin berdiri di sampingnya, menatap tajam ke arah Roy, meski bibirnya melengkung samar seperti menahan tawa.

“Eh… kalian… di sini juga?” Jingga membuka suara, berusaha terdengar santai, meski matanya jelas menyipit penuh rasa penasaran.

Arin mencoba tersenyum kaku. “I-iya… kebetulan aja… aku sama Roy lagi… lagi nyari kado buat Kak Mozza.”

Roy menambahkan dengan nada datar, “Iya, cuma belanja biasa kok.”

Namun, tatapan Levin seolah berkata lain. Ia melipat tangan di dada, menatap keduanya lekat-lekat. “Belanja biasa? Sampai keluar toko perhiasan bareng, ya?”

Arin hampir tercekik sendiri, sementara Jingga menahan tawa di balik ekspresinya yang pura-pura polos.

“Wah, kebetulan banget. Daripada ngobrol di sini, gimana kalau kita cari tempat makan bareng? Bisa sekalian cerita-cerita juga kan?”

Roy dan Arin langsung mematung, jelas mereka tak bisa mengelak. Dengan berat hati, mereka mengangguk.

“Baiklah,” jawab Roy singkat.

Levin menepuk bahu Roy dengan gaya setengah menggoda, setengah mengancam. “Sip. Aku traktir malam ini. Tapi….”

Arin menelan ludah keras-keras, sementara Jingga hanya tersenyum penuh arti. Dalam hati ia sudah tak sabar untuk menginterogasi keduanya di meja makan nanti.

Mereka pun tiba di sebuah retoran . Setelah pelayan meninggalkan meja usai mencatat pesanan, suasana sejenak hening. Hanya terdengar musik lembut dari restoran. Levin mencondongkan tubuhnya, tatapannya tajam penuh selidik.

“Jadi…” Levin membuka suara, suaranya tenang tapi menusuk. “Udah dari kapan kalian jalan?”

Arin dan Roy sontak menegang. Keduanya saling pandang, bingung siapa yang harus menjawab lebih dulu. Roy akhirnya menarik napas dalam, lalu dengan nada mantap ia berkata,

“Hmmm… kami dekat semenjak saya mengantarkan Arin pulang setelah makan malam Bersama Tuan dan Nona.”

Arin menoleh cepat, matanya berkaca-kaca. Mendengar Roy mengakuinya dengan tegas membuat hatinya hangat, seolah beban yang ia simpan akhirnya lepas.

Levin menatap ke arah Arin. “Apakah benar, Arin?”

Arin menelan ludah sebelum mengangguk pelan. “Iya, Vin. Kita sering berkomunikasi… sekadar berbagi kabar, saling cerita.”

Jingga memasang wajah serius, pura-pura tegang seolah sedang ikut sidang penting. Padahal di dalam hati, ia hampir pecah menahan tawa melihat ekspresi dua orang yang seperti tertangkap basah warga sekampung.

Levin menyilangkan tangan di dada, lalu menoleh lagi ke Roy. “Oke, aku mau nanya sama kamu, Roy. Jawab jujur.”

Roy menegakkan badan, wajahnya lurus penuh ketegasan. “Siap, Tuan.”

“Apa yang kamu rasakan tentang Arin?”

Ruangan seakan menahan napas. Roy tak ragu sedikit pun.

“Siap, Tuan. Saya menyukainya, Tuan.”

Arin menunduk, tubuhnya bergetar. Air mata yang ia tahan akhirnya jatuh juga. Perlahan ia mengangkat wajah, menatap Roy dengan penuh perasaan.

“Royyy…” bisiknya lirih, campuran tegang, senang, bahagia, terharu, semua jadi satu.

Levin belum puas. “Terus?”

Roy menghela napas, lalu menatap Arin lekat. “Saya tertarik dan nyaman ketika bersama Arin. Dan… saya mulai mencintainya.”

Tanpa aba-aba, Arin langsung bersuara terburu-buru, emosinya meledak.

“Aku juga! Aku juga suka banget sama kamu. Cinta banget sama kamu! Bahkan rasaku melebihi siapapun…”

Suasana meja mendadak cair. Levin dan Jingga langsung saling senggol di bawah meja, berusaha menahan ekspresi. Jingga sampai hampir terbahak, wajahnya merah menahan tawa.

Roy tersenyum—senyuman langka yang jarang orang lihat. Senyum itu hanya untuk Arin.

Levin akhirnya mengangguk singkat, suaranya tenang tapi menggelegar bagi keduanya.

“Baik. Mulai sekarang kalian pacaran. Saling jaga, saling cinta, dan saling menghormati.”

“H-haaaahhh?!” Arin langsung terkejut, tangannya gemetar, wajahnya memerah seperti tomat.

“Ya ampun, Levin…” Arin menepuk dadanya sendiri. “Gue sampe gemeter, kirain lo nggak bakal merestui kita.”

Jingga tak tahan lagi, ia tertawa keras sampai menutupi wajah. “Hahaha… Arin, sumpah ya, dari tadi gue sesak banget. Nahan ketawa tuh rasanya kayak mau meledak!”

Roy dan Arin hanya bisa saling pandang, masih belum percaya kalau moment ‘interogasi’ barusan berubah jadi resmi jadian.

Levin menyandarkan tubuhnya ke kursi, menatap Roy dan Arin yang duduk berseberangan. Senyumnya samar tapi tajam. Sementara itu, Jingga yang duduk di sampingnya, menatap pasangan baru itu dengan tatapan penuh arti.

“Sebenarnya kita sudah curiga sama kalian dari pas liburan itu,” ucap Jingga sambil memainkan sedotan minumannya. Lalu ia menoleh ke Levin dengan senyum nakal. “Ya kan, sayang?”

Levin mengangguk pelan, matanya masih fokus ke arah Roy. “Waktu di pantai. Cara kamu mandang Arin tuh beda, Roy. Aku udah bisa baca dari situ.”

Arin spontan membeku, wajahnya memerah habis. Ia menoleh cepat ke Roy seolah mencari pertolongan.

“J-jangan gitu dong, kalian…” gumamnya gugup.

Roy justru tersenyum tipis, tidak lari dari tatapan Levin. “Kalau memang sudah kelihatan dari awal… berarti aku memang tidak cukup pandai menyembunyikan perasaan, Tuan.”

Jingga langsung menutup mulutnya menahan tawa. “Aduh, Roy. Serius banget jawabnya.”

Arin makin salah tingkah. “Ya ampun, sumpah kayak bener-bener lagi diciduk orang tua aja rasanya,” katanya sambil menutup wajah dengan kedua tangannya.

Levin hanya menghela napas kecil lalu menegaskan, “Intinya sekarang jelas. Kalian serius? Bukan main-main?”

Roy dan Arin saling bertatapan sebentar. Arin mengangguk pelan, sementara Roy menjawab mantap, “Serius, Tuan. Saya tidak pernah main-main dengan perasaan Arin.”

Setelah selesai makan, mereka semua keluar restoran. Jingga masih cekikikan sambil menggoda Arin, sementara Levin terlihat puas karena berhasil membuat Roy dan Arin “ketahuan” sekaligus resmi jadian.

Begitu sampai di depan pintu keluar, Levin dan Jingga sengaja melangkah lebih dulu, memberi ruang untuk dua orang di belakang.

Roy berjalan di sisi Arin. Awalnya keduanya hanya diam, sama-sama canggung dengan status baru yang masih hangat. Tapi kemudian, Roy perlahan mengulurkan tangannya.

Arin melirik sekilas, jantungnya berdebar kencang. Ia ragu sejenak, lalu akhirnya membiarkan tangannya digenggam. Sentuhan itu sederhana, tapi membuat wajah Arin memerah seketika.

1
csgym
bagus ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!