Indonesia
NovelToon NovelToon
KIDUNG KINANTI UNTUK PANGLIMA KABUT

KIDUNG KINANTI UNTUK PANGLIMA KABUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Misteri
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Kirana Paramitha terbangun dari Peti Kaca Rembulan menghadapi Hukum Sumpah Sejiwa: wanita berusia dua puluh tahun wajib bersuami. Saat tunangannya kabur demi adik angkatnya, Kirana menjumpai Rangga Adinata, Panglima Kabut yang dilanda Krisis Api Darah. Dengan kidung dan ramuan ia menenangkannya, lalu bersumpah sejiwa. Tersembunyi sebagai penyanyi "Kinanti", Kirana membangun rumah tangga, melahirkan tiga anak bertalenta naga, dan bersama Rangga menyatukan ras-ras Cakrawala dalam Majelis Sejagat.

note : support para pembaca sangat berarti bagi penulis untuk tetap berkarya dan upload minimal 3 bab per hari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20 - PANGLIMA RANGGA BERBOHONG PADA ISTRINYA?

Panggilan diputus. Kirana menjatuhkan diri ke atas ranjang dan menghela napas lega panjang.

"Tidak kenal," begitu jawaban pria itu tadi. Ia hampir tidak percaya, sekaligus ingin tertawa mendengarnya.

Panglima Rangga adalah Panglima Pertama Kekaisaran Cakrawala. Siapa berani mengaku tidak mengenalnya?

Jika memang ada orang yang paling akrab dengannya, tentu saja Bagaskara sang Baginda — toh mereka berdua itu paman dan keponakan.

Selebihnya, ya para perwira di bawah komandonya.

Maka jelas sudah: Tuan Senja hanyalah pegawai biasa yang bekerja di istana. Tidak ada kaitannya dengan Rangga, dan keseharian mereka pun mustahil bersinggungan.

Benar-benar tidak ada hubungannya sama sekali. Hati Kirana akhirnya tenang.

Sebelum panggilan diputus, ia sempat berpamitan, "Baiklah, Tuan Senja, sampai jumpa." Dan dari seberang terdengar jawaban pelan yang tak kalah hangatnya, "Sampai jumpa."

Guruh mengelilingi meja kerja tuannya berulang kali, tidak bisa menahan gerutuan di dalam hatinya. Tuan Panglima, orang yang hampir tidak pernah berbohong selama hidupnya, baru saja mengucapkan beberapa kebohongan dalam satu percakapan yang sama, padahal biasanya ia adalah orang yang paling sulit diminta mengucapkan sepatah kata palsu pun, bahkan di hadapan Baginda sekalipun.

Dan yang paling parah, kebohongan itu diucapkannya dengan lancar di hadapan istrinya sendiri, yang sama sekali tidak tahu apa-apa dan bahkan menaruh kepercayaan penuh kepadanya.

Rangga yang sedang menandatangani dokumen menundukkan mata, lalu berkata pelan, "Dia takut padaku sekarang. Jika kujujuri siapa aku sebenarnya, dia tidak akan mau mengobrol denganku selama itu. Aku lebih suka mendengar suaranya berbincang riang daripada melihat wajahnya membeku karena ketakutan." Sesaat jemarinya berhenti di ujung pena, seolah kata-kata itu terasa asing bagi mulutnya sendiri.

Guruh memeriksa catatan waktu percakapan pada jalur gema itu dengan teliti, menaksir menit demi menit, lalu berseru, "Tsk, dua puluh delapan menit, sungguh lama sekali. Bahkan rapat bersama para jenderal saja tidak pernah selama itu."

"Nyonya sanggup mengobrol dua puluh delapan menit lamanya dengan orang asing, tetapi enggan membalas pesan Tuan meski hanya sepatah kata pun. Aku mulai merasa sedikit kasihan kepada Tuan." Guruh bergumam sambil menggeleng-gelengkan kepalanya penuh iba. Padahal seharusnya akulah yang paling mengerti betapa rumitnya perasaan seorang panglima, batinnya menambahkan.

"Tuan, mengapa dahulu Tuan menolong keluarga Wijaya? Itu sudah bertahun-tahun yang lalu. Dan aku yakin bukan karena Tuan menyukai hidangan mereka, karena Tuan adalah orang yang bahkan enggan menenggak ramuan dasar untuk sekadar bertahan hidup."

Rangga mengangkat dokumen di depannya dan membacanya dengan saksama, sama sekali tidak menggubris celoteh Guruh yang terus mengoceh.

Guruh menghela napas panjang lalu menyusup kembali ke dalam Gelang Lentera. Ia berharap suatu hari bisa menikmati sepiring hidangan dari rumah makan itu, meskipun tuannya tidak pernah mengizinkannya.

---

Di vila keluarga Wijaya, Kirana bergegas menghadap Ki Ageng di ruang belajarnya untuk melaporkan kabar baik yang baru saja ia peroleh sore ini.

"Kakek, dengan bantuan Tuan Senja, kita tidak perlu lagi khawatir dengan segala ulah keluarga Prasaja yang sedang menyusahkan kita. Dia berjanji akan menjaga jalur pasokan kita tetap aman."

Ki Ageng bertanya seperti apa Tuan Senja itu sebenarnya. Kirana berpikir sejenak, menata ingatannya, lalu menjawab, "Dia tidak menyalakan cermin gema, jadi aku tidak melihat wajahnya sama sekali. Tetapi dari suaranya, usianya kira-kira tiga puluhan hingga empat puluhan, dan kesannya sangat lembut serta menenangkan. Kurasa dia pegawai istana biasa yang sederhana, bukan orang penting."

"Katanya dia menyukai hidangan keluarga kita. Nanti kalau cabang di Kedaton sudah beroperasi, aku akan memasakkan hidangan terbaik untuknya sendiri, sebagai tanda terima kasih!" Mata Kirana berbinar penuh semangat membayangkannya.

Ki Ageng tersenyum baik hati sambil mengelus-elus janggutnya, "Kau sendiri bisa memasak. Jangan sampai nanti Kakek yang justru masak untukmu."

"Kakek pasti meremehkan aku. Dua tahun ini aku sudah banyak belajar. Bagaimana kalau hari ini aku masakkan dua hidangan untuk Kakek?" Kirana tersenyum manja, menggoyangkan lengan sang kakek.

Agar masuk akal bahwa ia bisa memasak, selama dua tahun sejak terbangun Kirana mencurahkan perhatiannya untuk belajar memasak sambil memulihkan tubuhnya, sekaligus untuk menyembunyikan pengetahuan Alam Kuna yang ia miliki dari mata orang lain, karena mustahil ia tiba-tiba menguasai hal yang tidak pernah ia pelajari sebelumnya.

Setiap hari ia menghabiskan waktu di dapur bersama para peracik ramu, berlatih hingga tangannya hafal setiap takaran.

Ki Ageng menggeleng, "Hari ini sudah terlalu larut dan perut Kakek masih penuh. Masaklah besok saja, Kakek pasti memakannya sampai habis."

"Baik, Kakek." Kirana menyahut gembira.

Begitu keluar dari ruang belajar kakek, Kirana bermaksud menuju dapur untuk mengambil bahan-bahan, tetapi ia berpapasan dengan Ratih yang sedang memotong sayur di dapur.

Meskipun kini banyak keluarga menggunakan pelayan sihir untuk urusan rumah tangga, anggota keluarga Wijaya tetap senang memasak dan menyiapkan hidangan sendiri di dapur mereka.

Ratih memotong sayur dengan pisau dapur yang berkilau; di sampingnya berdiri Sekar dengan mata sembab; kaki yang masih terbalut perban itu ditegakkannya sekuat tenaga, penuh tekad meski jelas-jelas sedang menahan sakit.

Dengan suara terisak, Sekar berkata, "Bu, aku benar-benar tidak sengaja mengalami kecelakaan itu. Aku juga tidak menyangka panggilan yang kulakukan dalam kepanikan itu tersambung ke kakak Danendra, sungguh aku tidak sengaja. Jangan marah kepadaku, ya?"

Ratih memotong wortel dengan suara berdebam-debam, memotongnya hingga halus-halus seolah-olah wortel itu adalah kepala seseorang, lalu mencibir, "Panikmu ternyata sangat tertata rapi. Siapa pun tidak kauhubungi, kok justru calon pengantinnya yang kauhubungi? Sekarang Danendra tidak jadi menikahi Rara, kau senang, bukan? Jawab dengan jujur."

"Bu, aku tidak... aku benar-benar tidak..." Sekar menggigit bibir, air matanya semakin deras.

"Aku bukan ibumu! Jangan berteriak!"

Kirana yang berada di dekat situ segera maju untuk memisahkan keduanya, sebelum pertengkaran itu semakin menjadi-jadi. Ia berdiri di antara ibunya dan Sekar, membentangkan tangan sebagai pembatas.

Hatinya perih melihat ibunya terluka seperti ini. Sejak insiden pernikahan itu, Ratih tampak semakin mudah tersulut amarah dan semakin sering menangis diam-diam, seolah menanggung beban yang sangat berat.

Kirana teringat malam-malam Ratih menangis di kamarnya, menahan sakit hati yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun di rumah, menangis sampai suaranya serak lalu tertidur kelelahan.

Pandangannya beralih ke Sekar, gadis yang selalu tampil sebagai korban, selalu punya alasan, dan selalu berhasil membuat orang lain terpancing marah.

Ia memilih untuk menuntun Sekar menjauh sebelum pertengkaran itu semakin panas dan menyakitkan hati ibunya.

Namun di dalam hatinya, sebuah pikiran dingin menetap: kecelakaan, lagi-lagi kecelakaan. Entah yang ke berapa kali ia mendengar kata itu keluar dari mulut Sekar, dan setiap kali selalu berakhir dengan amarah yang salah sasaran.

---

Malam harinya, di dalam kamar, Kirana berbisik kepada Kunang, "Awasi Sekar. Jika ia berniat macam-macam lagi, kabari aku secepatnya."

Kunang mengangguk patuh, "Baik, Nyonya. Aku akan menjaga dengan sepenuh hati."

Sementara itu di istana, Rangga yang masih duduk di mejanya membuka kembali catatan percakapan sore itu, membiarkan suara Kirana bergema pelan di ruangan yang sepi dan redup, seraya jemarinya menelusuri kata-kata yang barusan diucapkannya, seolah ingin menghafalnya sampai larut malam.

Guruh menggerutu lirih, "Tuan, bukankah itu perempuan yang sama yang Tuan janjikan untuk dilindungi dengan sepenuh jiwa?" Rangga tidak menjawab. Di luar jendela, rembulan purnama menggantung tenang, dan untuk sementara rahasia itu akan tetap ia simpan di antara mereka berdua.

1
🩷 ⃟🌴⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🥑⃟YAYA℘ℯ𝓃𝓪
😭 Kirana gak akan di makan sama Rangga kan yahhh...
Cimol krispy
api darah itu semacam masa bir*h* kali ya
Cimol krispy
bukannya harusnya kenalin dulu pengantin pria nya
Xlyzy
Jangan jangan itu jadi salah satu spot kesukaan lagi🤭
Xlyzy
Alah usia itu bisa menipu, ada yang masih muda tapi wajah nya sudah tampak lebih dewasa dari pada usia nya
Miu.Nuha
mungkin ... em...
sebuah menyatuan gitu 🤔☺
Miu.Nuha
loh? namanya tidak diralat 🤔
entar denandra donk yg tercantun namanya dan terikat sumpah pernikahan...
Miu.Nuha
dan Kirana begitu teguh dan percaya diri ya
semoga acaranya tetep lancar 🤧
Filan
kok malah nampar sih? Jangan-jangan Sekar anak haram bapaknya.
Filan
parah nih ayahnya
Filan
baiklah apa nih?
btw, paras cantik/ganteng selalu menguntungkan 😌
-Thiea-
mungkin ada unsur kesengajaan biar kamu gagal nikah Kirana.
-Thiea-
jangan-jangan dia ada hubungan dengan sekar. makanya dia lebih mentingin Sekar daripada Rara..🤨
Myz Pena
berarti panas donk...bisa angus itu kirana kalau panasnya kayak tungku kayu bakar nggak sih 🤣🤣🤣
Myz Pena
akhirnya rangga dan kirana resmi menjadi pasangan sejiwa 🤭
Myz Pena
ini ceritanya di kiss kah ?? 🤣
Myz Pena
astaga rangga harus cepat di tangani.. 🤧
Kartika Candrabuwana
ini pengobatan yang membara ya
Myz Pena: unik banget cara pengobatannya... 🤭
total 1 replies
Kartika Candrabuwana
seleaai juga acara ritual pernikahannya. rangga perlu dibantu tuh
Kartika Candrabuwana
iya cepat.. rangga sepertinya dalam kondisi yang aneh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!