**Demi menyelamatkan pernikahan mewah sang kakak, Kayla dijadikan tumbal keluarga sendiri.**
Diberi obat bius, dijebak masuk ke kamar hotel untuk dijadikan "simpanan" demi melahirkan ahli waris keluarga Chandra—begitulah rencana kakak dan calon iparnya. Tapi takdir salah alamat: nomor kamar tertukar, dan Kayla justru terdampar di suite **Kapten Adrian Gunawan**, pria berwajah dingin yang katanya paling anti disentuh perempuan.
Malam itu mengubah segalanya.
Untuk lepas dari jeratan keluarga yang ingin menjual harga dirinya, Kayla nekat menikah kilat—dan pria yang dijodohkan padanya, entah kebetulan atau takdir, ternyata Adrian yang itu juga.
*"Kalau kau berharap bisa menjebakku dan menuntut tanggung jawab, jangan harap."*
*"Kebetulan sekali. Aku juga tidak mau kau bertanggung jawab,"* balas Kayla dingin.
Semua orang mengira pernikahan ini cuma kontrak tiga tahun yang cepat atau lambat berakhir cerai. Semua orang mengira Kapten Adrian tidak mungkin mencintai dokter IGD berlatar keluarga toko sembako itu.
Sampai orang-orang mulai memergoki sang kapten dingin memapah istrinya dengan sebutan *"sayang"* di setiap kalimat…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
Bab 31
Ada yang Bermain di Belakang
"Dokter membuka berkas saya tanpa izin?"
dr. Wina berdiri di pintu kantor Kayla dengan dagu terangkat.
Kayla mematikan tampilan jadwal, bukan menyembunyikannya. "Saya mengaudit laporan pusat sesuai surat tugas. Berkas itu milik institusi, bukan milik pemeriksa."
"Kapten Sandi sudah dinyatakan fit."
"Statusnya ditahan karena ia meninggalkan pemeriksaan ulang."
"Anda sengaja mencari kesalahan saya."
"Saya mencari data yang bisa diverifikasi. Kalau laporan Anda lengkap, audit justru melindungi Anda."
Wina meletakkan map di meja. Isinya surat keberatan terhadap kebijakan baru, ditandatangani dua staf.
"Operasional akan kacau kalau semua keputusan Anda harus melewati pemeriksaan tambahan."
Kayla membaca lalu menandai waktu penerimaan. "Saya teruskan kepada dr. Rendra. Sampai ada keputusan tertulis, status Sandi tetap ditahan."
Wina pergi tanpa menjawab.
Keesokan paginya, dr. Rendra memanggil Kayla ke ruangannya. dr. Hana hadir sebagai saksi. Di layar terdapat ringkasan log akun lama dan daftar arsip hilang.
"Kepala pusat sebelumnya pindah ke Fortuna tiga bulan lalu," kata Rendra. "Mereka menawari gaji hampir dua kali lipat dan membawa lima dokter. Saya pikir itu hanya persaingan tenaga kerja."
"Akun beliau aktif setelah keluar," kata Kayla.
"Dan tiga kotak data mentah terakhir ditandatangani olehnya. Tidak pernah sampai ke gudang."
Rendra mengusap wajah. "Saya terlalu sibuk menutup jadwal kosong sampai tidak memeriksa serah terima."
"Kita perbaiki sekarang. Siapa selain kepala lama yang memiliki akses?"
"Wina, administrator data, dan saya."
"Apakah kredensial dipakai bersama?"
Rendra terdiam terlalu lama.
"Kadang akun ruangan dipakai staf saat sistem lambat."
"Mulai hari ini berhenti. Setiap orang memakai akun sendiri dan autentikasi tambahan. Kalau tidak, kita tidak akan tahu siapa mengubah apa."
Rendra menyetujui. Ia lalu meminta Kayla ikut ke Menara Argatama bertemu Hendra.
Karin, sekretaris Hendra, menyambut mereka di lantai eksekutif.
"Silakan masuk, Nyonya Muda. Pak Hendra sudah menunggu."
Kayla berhenti. "Panggil saya dr. Kayla. Saya datang untuk urusan pusat medis."
Karin tampak canggung. "Baik, Dokter."
Di dalam kantor, Hendra menutup pintu sendiri.
"Saya yang meminta dr. Lukas mengirim kamu," katanya tanpa basa-basi.
"Jadi penugasan ini bukan hanya karena kekurangan dokter."
"Kekurangannya nyata. Tapi saya juga tidak percaya orang lama memeriksa dirinya sendiri."
Hendra menunjukkan laporan bisnis Angkasa Timur. Setelah perpindahan tenaga ke Fortuna, beberapa akun anonim menyebarkan isu bahwa maskapai mengabaikan kesehatan kru. Belum ada bukti kecelakaan, tetapi satu skandal kapten mabuk dapat menghancurkan kepercayaan penumpang dan memicu pemeriksaan regulator.
"Seseorang sedang menyiapkan masalah lalu menunggu kami jatuh," katanya.
Hendra membuka tiga surat elektronik anonim. Yang pertama menuduh pusat aeromedis meloloskan kapten dengan hipertensi. Yang kedua menyebut tes alkohol hanya formalitas. Yang ketiga, dikirim kepada dua jurnalis, menjanjikan bukti besar dalam waktu dekat.
"Mereka tahu titik lemah internal," kata Kayla.
"Tepat. Kalau tujuannya hanya mempermalukan, mereka bisa membocorkan laporan lama. Tapi mereka menunggu kejadian baru. Itu berarti proses berbahaya mungkin masih berjalan."
"Dan kalau Sandi terbang setelah minum, mereka mendapat korban sekaligus skandal."
Hendra mengangguk. "Atau kecelakaan."
Kata itu membuat ruangan sunyi.
Kayla teringat lebih dari seratus penumpang dalam penerbangan Denpasar. Satu tanda tangan palsu tidak hanya mengubah angka di kertas. Ia dapat menempatkan seluruh kabin di tangan orang yang tidak layak terbang.
"Saya perlu akses ke jadwal perubahan kru, daftar siapa yang meminta pemeriksaan dipercepat, dan kontrak vendor alat," katanya.
"Karin akan mengaturnya."
"Bukan melalui Karin seorang. Kirim melalui portal resmi agar jejaknya tercatat."
Hendra tersenyum singkat. "Baik."
"Siapa yang diuntungkan?"
"Fortuna ingin mengambil rute dan kru kami. Di dalam keluarga, ada orang yang ingin membuktikan saya gagal mengelola Angkasa Timur."
"Herwan? Alwin?"
"Saya belum punya bukti. Jimmy Tanujaya dari Fortuna juga tidak bergerak sendirian. Jangan tulis nama siapa pun sebagai tersangka sebelum ada hubungan."
Kayla mengangguk. "Saya hanya menangani keselamatan dan bukti medis. Politik saham bukan dasar keputusan fit."
"Itu alasan saya memilih kamu."
Hendra memberikan surat kewenangan. Kayla dapat menjadwalkan ulang pemeriksaan kru berisiko, meminta audit alat, merekrut dokter tambahan secara terbuka, dan melaporkan langsung kepada komite keselamatan independen.
"Adrian membantu rekrutmen kapten baru," lanjut Hendra. "Kita perlu orang dari luar jaringan lama."
"Suami saya tidak boleh menentukan hasil medis mereka."
"Dia hanya menilai kompetensi terbang. Tim kamu tetap menentukan kelayakan medis."
Rendra menambahkan, "Saya akan menandatangani pemisahan wewenangnya."
Kayla menerima surat setelah membacanya penuh. "Saya juga ingin pengadaan alat melewati tiga penawaran dan catatan konflik kepentingan."
"Disetujui," kata Hendra.
"Satu hal lagi. Tidak ada anggota keluarga Gunawan yang boleh meminta hasil kesehatan kru langsung kepada saya, termasuk Om dan Adrian. Laporan keselamatan agregat bisa diberikan. Data pribadi hanya melalui jalur yang sah."
Rendra menoleh, menunggu reaksi Hendra.
"Disetujui," ulang Hendra. "Kalau saya melanggar, tulis keberatan."
Kayla menandai kalimat itu di notulensi. Ia tidak mau kata percaya bergantung pada suasana hati seorang pemilik perusahaan.
Sebelum meninggalkan gedung, ia dan Rendra menyusun tindakan dua puluh empat jam: memanggil Sandi untuk tes konfirmasi dan wawancara disiplin, memeriksa ulang seluruh laporan berisiko tinggi, mengganti kredensial akses, serta mengamankan cadangan server di lokasi terpisah.
"Wina tetap bekerja?" tanya Rendra.
"Sampai bukti cukup, iya. Tapi ia tidak boleh menyetujui sendiri kasus yang sedang diaudit. Semua hasilnya ditinjau dokter kedua."
"Kalau dia menghapus sesuatu?"
"Akses lama sudah dicadangkan. Perubahan baru justru menjadi bukti tambahan."
Dalam perjalanan pulang, Kayla membuka pesan dari TI. Satu alamat perangkat yang mengakses akun lama terhubung ke jaringan kantor Fortuna, tetapi rutenya melewati layanan jarak jauh sehingga belum cukup mengidentifikasi pengguna.
Adrian menelepon ketika mobil memasuki jalan tol.
"Rapatmu selesai?"
"Aku baru tahu Om Hendra sengaja menjadikanku umpan untuk memancing orang dalam."
"Aku akan meneleponnya."
"Jangan. Aku sudah menerima kewenangannya. Tapi lain kali, keluargamu harus belajar memberi informasi sebelum menaruhku di tengah papan permainan."
"Setuju. Aku bicara kepadanya sebagai pengelola, bukan sebagai suami yang mengambil alih pekerjaanmu."
Kayla tersenyum tipis. "Kamu belajar cepat."
"Ada kabar lain. Rekrutmen kapten sudah memilih satu orang. Pengalamannya kuat, tetapi latar keluarganya berkaitan dengan Fortuna."
"Kalau lolos pemeriksaan kerja dan medis, perlakukan sama."
"Besok dia melapor. Namanya Ethan Lienata."
Kayla menutup berkas di pangkuannya. Nama itu belum berarti apa-apa baginya.
Baginya, kapten baru tetaplah satu nama lagi yang harus melewati seluruh aturan pusat tanpa perlakuan khusus sedikit pun sejak hari pertama.
Ia tidak tahu bahwa besok, pemilik nama itu akan menatapnya terlalu lama.