Bertahun-tahun Sarah disiksa suaminya hingga trauma berat dan akhirnya memilih untuk pergi. Adik kembarnya, Sera, datang untuk membalas dendam. Mengetahui suami kakaknya licik dan telah merampas seluruh harta kakaknya, Sera berjanji akan mengambil kembali semua hak milik kakaknya—meski harus merangkak naik ke atas ranjang Sean, paman dari suami kakaknya yang berkuasa.
Berhasilkah rencana Sera? Bisakah ia mengambil kembali segala hak milik kakaknya? Atau penyamarannya akan terbongkar, menjatuhkannya ke dalam bahaya yang jauh lebih mengerikan di tangan keluarga yang kejam dan penuh kelicikan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hello Ketty., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
"Kakek sudah memutuskannya. Kakek tidak akan mendengar apa pun yang mau kalian katakan. Kakek hanya percaya dengan apa yang Kakek lihat."
Adiguna tiba-tiba berdiri dari duduknya. "Mulailah berusaha keras, karena Kakek akan kembali memeriksa Sarah. Kakek pamit dulu. Rika, Sean, Ayah pergi dulu."
"Baik, Ayah. Hati-hati," jawab Sean bersama Rika.
Pria tua itu langsung melangkah keluar dari rumah, diiringi oleh asisten pribadinya yang setia selalu menjaganya.
Adrian menoleh kearah Sera dengan tatapan marah.
"Lihat sekarang! Aku akan kehilangan semuanya kalau kau tidak segera hamil! Lagian kok kamu tidak hamil-hamil sih? Kita sudah menikah lima tahun, tapi kamu masih belum hamil juga!" Adrian berbicara keras pada istrinya.
"Kenapa kita tidak periksa saja ke dokter? Siapa tahu kamu yang bermasalah," jawab Sera.
"Apa katamu? Kau bilang aku mandul?!"
"Aku tidak bilang seperti itu! Aku cuma bilang periksa ke dokter, kan?" Suara Sera juga sedikit meninggi. Dia benar-benar geram dengan Adrian yang sudah menyiksa kakaknya.
"Oh, berani kamu meninggikan suara didepan aku ya?!"
"Aku tidak bermaksud meninggikan suara didepan mu. Lima tahun kita menikah dan aku belum hamil, kan belum tentu masalahnya di aku! Kenapa tidak periksa kamu juga?" Sera langsung berdiri dari duduknya.
"Berani kamu membantah?!" Adrian mengangkat tangan ingin menampar Sera.
Tapi Sera menghindar. Dia langsung menjauh, lalu mendekati Sean.
"Paman, lihat dia! Dia mau memukulku!" ujar Sera langsung berlindung pada Sean.
Sean berdiri dan menatap Adrian tajam. Adrian seketika menciut dan menurunkan tangannya.
"Paman tidak bisa terlalu mencampuri urusan rumah tanggaku dengan Sarah," ujar Adrian.
"Aku tidak mencampuri urusan rumah tanggamu. Tapi ini rumahku, dan akulah yang mengatur orang-orang yang ada di dalam rumah ini," jawab Sean tegas.
Adrian menarik napas kasar, lalu beranjak pergi dengan perasaan murka.
Rika juga ikut berdiri bersama putrinya, Raisa.
"Aku heran denganmu, Sean. Aku melihat kau terlalu membela wanita itu. Jangan sampai kau punya rasa padanya," ujar Rika sinis.
"Iya, benar itu, Paman. Apa yang dibilang Ibu itu benar," Raisa juga ikut berusaha memojokkan.
"Kalau kalian sudah bosan tinggal di rumah ini, silakan angkat kaki," ujar Sean dengan nada tenang.
Skakmat!
Rika dengan wajah murka langsung bergegas pergi menarik putrinya.
Lihat saja! Aku akan memberimu pelajaran! batin Rika sambil menatap tajam ke arah Sera.
Dasar nenek sihir! batin Sera.
"Buatkan aku kopi, bawa ke ruanganku," perintah Sean pada Sera, lalu bergegas meninggalkan Sera sendirian di ruangan itu.
Setelah mendapat perintah dari Sean, Sera patuh menuju dapur dan membuatkan kopi untuk pria itu. Selesai membuatnya, dia berniat mengantar kopi tersebut.
Saat berada di lantai atas, dia tidak sengaja melihat Adrian yang sedang berjalan bersama Alena. Karena penasaran, Sera mengikuti mereka diam-diam sambil tetap memegang nampan berisi cangkir kopi di tangannya.
Melihat mereka masuk ke dalam kamar. Dia mendekat perlahan, lalu mencoba memutar sedikit kenop pintu.
Mereka tidak menguncinya. Dia membuka sedikit celah pintu dan mengintip dari luar. Dari gerak-gerik mereka, sepertinya berdua sedang ingin membahas sesuatu yang penting.
"Mas..."
"Ada apa Alena?"
"Aku hamil, Mas."
"Apa?!" Adrian sangat kaget. "Kamu hamil? Jangan bercanda! Sarah saja sampai sekarang belum hamil, kok kamu sudah hamil duluan? Bisa gawat ini!"
"Aku juga tidak tahu... aku sudah telat sebulan, makanya aku coba periksa, dan ternyata aku benar-benar hamil," jelas Alena.
Adrian mengusap wajahnya dengan kasar, lalu memijat pelipisnya yang tiba-tiba berdenyut.
"Kamu tahu, Alena? Si Kakek tua bangka itu sudah mengancamku. Kalau Sarah tidak segera hamil, maka aku harus menceraikannya, dan seluruh fasilitasku akan ditarik kembali!"
"Kenapa kamu bodoh sekali sih, Mas? Kamu kan yang mengelola hartanya Sarah. Harta itu juga sudah pindah sepenuhnya atas namamu. Kalaupun fasilitasmu ditarik, kau masih bisa hidup dengan harta itu," ujar Alena kesal.
"Jangan ajari aku soal itu! Kau tahu? Perbandingan harta kekayaan Paman dengan perusahaan milik Sarah? Itu tidak ada apa-apanya dibandingkan saham yang akan aku dapatkan! Aku tidak akan membiarkan kehilangan kesempatan untuk memiliki 45 persen dari sahamnya!" Ujar Adrian marah.
Di luar pintu, Sera tersenyum miring mendengar semuanya.
Hamil ya... gumamnya pelan di dalam hati. Dia langsung bergegas melangkah pergi dari sana. Setelah mengetahui ternyata Alena sedang hamil, dia punya rencana baru.
Sera berjalan menuju ruangan kerja Sean, lalu mengetuk pintu.
Tok... Tok... Tok...
Tanpa menunggu jawaban, dia langsung membuka pintu dan masuk ke dalam. Dia melihat Sean yang sedang sibuk di balik meja kerjanya, menyusun beberapa dokumen.
"Ini kopi, Paman," ujar Sera sambil meletakkan cangkir kopi itu di atas meja.
Sean melirik tangan Sera sejenak, lalu kembali berpura-pura sibuk dengan berkas-berkasnya.
Sera masih berdiri di tempatnya, tidak pergi. Seperti biasa, Sean sudah menduga ada sesuatu yang ingin gadis itu katakan.
"Ada apa?" tanya Sean. Dia mengangkat pandangannya dan menatap langsung ke arah Sera, menunggu apa yang ingin dibahas oleh gadis itu. Apalagi rencana picik gadis ini, batinnya.
"Aku kan sudah menikah selama lima tahun, Paman... Tapi sampai sekarang aku belum hamil. Ya... Gimana kalau aku periksa saja ke dokter bersama dengan Mas Adrian? Siapa tahu saja aku atau Mas Adrian yang bermasalah," ujar Sera dengan tatapan memohon.
Dia tidak ingin kehilangan kesempatan itu. Dia mau memastikan kebenarannya—apakah benar Alena sedang hamil anak Adrian? Jika benar seperti itu, dia sudah punya rencana. Dan jika ternyata anak dalam kandungan Alena itu bukan milik Adrian, maka dia punya rencana yang jauh lebih menarik lagi.
Sean menatap curiga gadis di hadapannya. "Kenapa kau tidak minta langsung saja sama suamimu?"
"Ayolah, Paman... Dia pasti tidak mau. Karena Mas Adrian itu tidak pernah mendengarkanku," jawab Sera memelas.
"Aku akan mempertimbangkannya," jawab Sean singkat, lalu kembali sibuk dengan pekerjaannya.
Tidak bisa! Kau harus mau! Batin Sera tidak menyerah.
Dia mengelilingi meja kerja dan berdiri tepat di belakang kursi Sean. Sean melirik sekilas, namun segera berpura-pura masih fokus pada berkas.
Sera mulai mengangkat tangan memijat pelan bahu pria itu.
"Paman... Paman mau ya? Bilang begitu ke Mas Adrian. Dia kan paling takut sama Paman," bisiknya mulai menggoda.
Sean menarik salah satu sudut bibirnya.
Kau ingin menggodaku, Sera? Kau tahu apa kesalahanmu? Kesalahanmu adalah kau tidak mau mencari tahu siapa suamimu yang sebenarnya. Kau terlalu angkuh sehingga tidak mau memandang suamimu. Kau tidak akan susah-susah merendahkan harga dirimu di depanku seperti ini hanya untuk mencapai tujuanmu, kalau kau tahu siapa aku. Batin Sean. Dia tersenyum dalam hati melihat kelicikan gadis itu. Tapi tidak apa-apa... Aku akan ikut bermain-main.
"Baiklah, nanti aku akan bilang sama Adrian," ujar Sean akhirnya.
"Nah, gitu dong, Paman..." Sera tersenyum lebar.
Sera tiba-tiba mendekatkan wajahnya ke telinga Sean dan berbisik. "Aku masih punya permintaan satu lagi, Paman." Lanjut Sera.
Tangan Sean terhenti.
Gadis ini... Lagi-lagi dia memancingku. Sebelumnya aku tidak pernah terpancing olehnya karena menganggap Sarah itu seperti adik. Tapi sekarang... Mengetahui kalau dia bukan Sarah, melainkan Sera, istriku... Perlakuannya seperti ini membuatku panas dingin, batin Sean bergemuruh berusaha menahan gejolak aneh dari tubuhnya disetiap sentuhan Sera.
"Paman... Boleh enggak?" Tambah Sera saat Sean hanya diam tak menjawabnya.