Umur lima belas, **Laras** cuma cewek tomboy anak bengkel di gang sempit Bekasi—rambut cepak, kunci inggris selalu di tangan, ditakuti satu sekolah. Sampai suatu sore, sebuah Mercedes berhenti di depan warung, menurunkan bocah laki-laki sepuluh tahun yang menangis tanpa berani mengetuk pintu. Ibunya pergi begitu saja. Namanya **Rayhan**.
"Mbak… kamu mirip kakak laki-lakiku," kata bocah itu sambil menyeka air mata.
Laras kira dia cuma adik kecil cengeng dan manja, yang tiap hari nempel memanggilnya "**Bang Laras**". Dia tidak pernah sadar—di balik wajah manis si juara kelas, diam-diam tumbuh seekor "serigala" yang seumur hidup hanya mengincar satu orang: dirinya.
Bertahun-tahun kemudian, bocah cengeng itu sudah menjadi pemuda jangkung yang lolos ke ITB—dan ternyata **anak di luar nikah seorang konglomerat properti**. Dari anak buangan yang dulu dihina, ia bangkit menjadi **pewaris tunggal kerajaan bisnis triliunan**. Tapi satu hal tak pernah berubah: obsesinya pada Laras.
"Aku bukan adikmu lagi," bisiknya, mengurung Laras di antara lengannya. "Sekarang, giliran kamu yang memanggilku… **abang**."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nayara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2
Bab 2
Panggil Aku Mbak
Anak ini sepertinya benar-benar akan menetap di sini.
Pikiran itu belum hilang ketika Rayhan menurunkan kaus lama dari dadanya.
"Aku boleh pakai kamar mandi?"
"Tanya Bapak, jangan gue."
Pak Darto menunjuk pintu belakang. "Handuknya ambil yang biru. Habis itu sholat Magrib dulu, Le."
Malam turun bersama bau tanah basah dan suara minyak mendesis dari warung yang akhirnya dibuka. Lampu di rumah Mbah Surti menyala, tetapi perempuan tua itu belum juga datang mencari cucunya.
Pak Darto menghidangkan nasi lagi. Baru dua suap, ponsel tuanya berdering. Sebuah mobil mogok di tanjakan arah Cibubur dan harus ditarik malam itu juga.
"Laras, jaga rumah. Bapak mungkin pulang tengah malam."
"Rayhan diapain?"
"Masa digoreng? Ya ditemani. Nanti antar ke Mbah kalau warung sudah tutup."
Pak Darto pergi membawa jaket lusuhnya. Suara pikap menjauh, menyisakan Laras dan Rayhan di meja makan.
Rayhan menghabiskan nasi tanpa suara. Setelah Laras menaruh piring di bak cuci, ia ikut berdiri.
"Aku cuci."
"Bisa?"
"Bisa belajar."
Ia menggulung lengan kaus pudar yang kebesaran. Busa sabun sampai ke siku. Satu piring hampir terlepas, membuat Laras refleks menangkapnya.
"Pelan-pelan. Kalau pecah, ganti."
"Aku nggak punya uang."
Jawaban itu membuat Laras diam sesaat.
"Ya udah, jangan dipecahin."
Rayhan menyusun piring di rak, miring dan tidak beraturan, lalu mengelap meja sampai tiga kali. Ketika selesai, ia menatap Laras seperti menunggu nilai.
"Lumayan," kata Laras.
Hanya satu kata. Namun dada kecil Rayhan terangkat bangga.
Menjelang pukul delapan, Laras mengantarnya ke warung. Pintu gulung sudah ditutup separuh. Lampu ruang belakang terang. Dari dalam terdengar batuk Mbah Surti dan suara televisi.
Rayhan mengetuk pelan.
"Mbah? Ini Ray."
Televisi mendadak mengecil. Tidak ada langkah mendekat.
Rayhan mengetuk sekali lagi. "Mbah, boleh buka?"
Seseorang berdeham di dalam, lalu sunyi kembali.
Laras menekan bibir. "Mbah, saya Laras. Rayhan saya antar."
Tetap tidak ada jawaban.
Rayhan berdiri dengan kepala tertunduk. Tangan yang tadi bangga karena bisa mencuci piring kini meremas ujung kaus pinjaman.
"Mungkin Mbah tidur," katanya pelan.
"Tidur sambil nonton sinetron? Hebat juga."
Laras sengaja mengeraskan suara, tetapi pintu tetap tertutup. Ia akhirnya menarik ransel Rayhan.
"Udah. Balik."
"Kalau Pak Darto marah?"
"Rumah gue, Bapak gue. Biar gue yang dimarahin."
Di balik pintu warung, sebuah bayangan bergerak. Laras melihatnya dari celah bawah, tetapi tidak membongkar kepura-puraan Mbah Surti. Harga diri orang tua kadang lebih keras daripada pintu besi.
Malam itu Rayhan tidur di kasur tipis dekat ruang tengah. Sebelum lampu dimatikan, ia memanggil Laras yang hendak masuk kamar.
"Bang Laras."
Laras berbalik. "Apa?"
"Ceritain sesuatu. Aku nggak bisa tidur."
"Gue bukan pendongeng."
"Cerita apa aja."
Laras duduk bersila di ambang pintu. Ia bercerita tentang pelanggan bengkel yang salah memasang bensin ke motor diesel, meskipun cerita itu jelas bohong karena tidak ada motor diesel di gang mereka. Rayhan tetap mendengarkan sampai matanya berat.
"Kamu kayak kakak laki-laki," gumamnya.
Laras tertawa pendek. "Bagus. Jangan panggil Kakak, terlalu lembek. Panggil Bang Laras aja."
"Tapi kamu perempuan."
"Terus kenapa?"
Rayhan memikirkan itu, lalu tersenyum kecil. "Bang Laras."
"Nah. Pinter. Tidur."
Pagi-pagi sekali, Laras mendapati sebungkus lontong sayur dan dua telur rebus tergantung di pagar. Tidak ada nama. Dari seberang jalan, tirai warung Mbah Surti bergerak cepat.
Laras membawa bungkusan itu masuk tanpa komentar. Rayhan makan satu telur. Satu lagi disimpannya di piring untuk Pak Darto yang baru pulang.
"Itu buat kamu," kata Laras.
"Pak Darto kerja semalaman."
Laras menatapnya, lalu mengacak rambutnya sekali. "Sok dewasa."
Selepas sarapan, Laras berangkat ke SMP 12 Bekasi. Rayhan pulang ke warung setelah Mbah Surti akhirnya membuka pintu dan memarahinya karena membuat orang sekampung ribut.
"Lain kali ketuk yang keras! Kamu punya tangan buat apa?"
"Mbah kemarin dengar?"
"Nggak! Mbah tidur!"
Rayhan tidak berani tersenyum, tetapi saat menoleh ke Laras, sudut bibirnya naik sedikit.
Mbah Surti menyambar ranselnya lalu memeriksa isinya. Hanya dua kaus, satu celana pendek, buku pelajaran, dan sikat gigi.
"Ibumu bilang berapa lama kamu tinggal?"
Rayhan menggeleng.
Rahang Mbah Surti mengeras. "Nomornya nanti kasih ke Mbah. Sekolahmu juga harus diurus. Jangan karena orang dewasa nggak becus, kamu ikut telantar."
Nada suaranya tetap tajam, tetapi ia menarik Rayhan masuk dan menyuruhnya mandi lagi karena masih ada lumpur di belakang telinga.
Laras hendak pergi ketika Rayhan mengejarnya sampai teras.
"Bang Laras."
"Sekarang apa lagi?"
Rayhan mengeluarkan selembar kertas kecil dari saku. Di sana ada nomor telepon yang ditulis Yanti, sebagian tintanya luntur oleh air selokan.
"Kalau Ibu telepon rumah Pak Darto, bilang aku di Mbah, ya. Takutnya Ibu nyari."
Laras menerima kertas itu. Ia tidak tega mengatakan bahwa orang yang benar-benar mencari tidak akan meninggalkan anak tanpa mengetuk pintu.
"Iya," jawabnya. "Nanti gue bilang."
Baru setelah Rayhan masuk, Laras melipat kertas itu dan menyimpannya di balik casing ponselnya agar tidak makin rusak.
Di sekolah, Laras datang terlambat lima menit. Ia menjatuhkan tas ke kursi di samping Nadia, gadis bertubuh besar yang selalu membawa bekal bertingkat.
"Kenapa kusut begitu?" tanya Nadia.
"Semalam ngurus bocah."
"Kamu punya adik?"
"Bukan. Titipan kiamat."
Nadia terkikik. Tawanya berhenti ketika tiga siswi dari bangku belakang mendekat. Salah seorang mengambil kotak bekalnya tanpa izin.
"Wah, makanannya banyak lagi. Pantes kursinya bunyi terus."
Teman-temannya tertawa.
Nadia mengulurkan tangan. "Balikin. Itu buatan ibu aku."
"Kalau mau, ambil."
Kotak itu diangkat tinggi. Nadia mencoba meraih, tetapi sebuah botol air dilempar dari belakang. Botol itu meleset dan menghantam pelipis Laras.
Kelas langsung sunyi.
Laras menyentuh sisi kepalanya. Basah. Air menetes ke kerah seragamnya.
"Nggak sengaja," kata si pelempar, tanpa sedikit pun terdengar menyesal.
Laras membuka tas. Bukan buku yang ia keluarkan, melainkan kunci inggris pendek yang biasa ia bawa untuk membantu Pak Darto sepulang sekolah.
Brak!
Besi itu menghantam meja pemimpin kelompok sampai tempat pensilnya melompat.
"Kotaknya balikin."
Gadis itu tersentak, lalu melempar kotak bekal ke meja Nadia. "Sok jago banget."
"Nggak sok. Emang bisa."
"Berani kalau sendirian?"
"Coba aja."
Gadis itu mendekat sampai wajah mereka hanya berjarak sejengkal. "Pulang sekolah. Belakang gang. Jangan kabur."
Bel masuk berbunyi. Guru belum datang, tetapi semua orang sudah kembali ke kursi, pura-pura sibuk.
Nadia memegang lengan Laras. "Jangan datang. Mereka berenam."
Laras mengelap kunci inggrisnya dengan ujung rok seragam. "Bagus. Biar cepat selesai."
Waktu merayap sampai siang. Saat bel pulang akhirnya berdering, kursi-kursi bergeser serempak. Di luar jendela, enam siswi sudah menunggu.
Laras berdiri.
Jemarinya menutup rapat pada gagang kunci inggris.