"Sayang, aku ke toilet sebentar ya," ucap Sean halus, sambil menepuk pelan jemari Aura yang berada di atas pangkuan.
Aura mengangguk pelan, memberikan senyuman terbaiknya. "Jangan lama-lama ya, Sean."
Sean berdiri dan melangkah menjauhi meja makan melingkar itu, menghilang di antara kerumunan alumni yang sedang asyik mengobrol. Aura kembali menyesap minuman dinginnya, mencoba menikmati suasana. Namun, jarum jam seolah berputar lambat. Lima menit berlalu, lalu sepuluh menit, hingga tak terasa hampir 15 menit Sean tak kunjung kembali ke meja mereka.
Rasa khawatir dan curiga mulai merayapi pikiran Aura. Dengan menghela nafas panjang, ia berpamitan singkat pada teman-teman seangkatannya lalu berdiri untuk menyusul kekasihnya. Langkah kakinya yang beralaskan gaun anggun dan sepatu hak tinggi mengayun perlahan menyusuri lorong katering yang agak remang-remang menuju area toilet.
Namun, sebelum langkahnya benar-benar sampai di depan pintu toilet pria, langkah Aura terhenti seketika.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan Mutlak Sang CEO
Sementara itu, di lantai paling atas gedung pencakar langit A&P Group, suasana ruang kerja eksekutif bernuansa kaca dan kayu jati itu terasa begitu tenang dan berwibawa. Cahaya matahari siang menembus dinding kaca tebal, memantul di atas meja kerja megah milik Arsenio Pratama.
Arsen duduk menyandarkan punggung kokohnya di kursi kebesaran, melepaskan dasinya sedikit untuk memberi kenyamanan. Di hadapannya, beberapa map dokumen berisi rekam jejak dan lembar penilaian para pelamar yang telah selesai menjalani sesi wawancara pagi tadi tersusun rapi. Tangannya yang berjemari panjang dan tegap mengusap dagu pelan, sementara matanya yang pekat meneliti setiap nilai dan catatan yang ditulis oleh tim penguji serta wakil direktur.
"Dari sekian banyak kandidat divisi analisis data, beberapa memiliki latar belakang pendidikan luar negeri yang sangat mengesankan, Pak Arsen," ujar sang wakil direktur yang berdiri sopan di samping meja, menyerahkan satu lembar resume teratas.
Arsen tak langsung menjawab. Jemari tangannya justru menggeser berkas-berkas bergelar mentereng itu dan menarik sebuah map berwarna biru muda yang berada di bagian tengah. Di sampul depannya, tertera nama yang sangat dikenalinya: Aura Kirana.
Pria berusia 32 tahun itu membuka map tersebut, menatap foto formal Aura dengan kemeja putih dan senyum tipis yang memancarkan ketegaran. Rekam jejak akademis gadis itu sangat bersih, nilai-nilainya konsisten tinggi, dan portofolio proyek yang pernah ia kerjakan selama kuliah menunjukkan kecerdasan analisis yang luar biasa ketat.
"Tapi dari semuanya, hanya gadis ini yang memiliki keberanian, kejujuran, dan motivasi tanpa batas," ucap Arsen dengan suara berat dan dalam, mengusap tepi kertas resume Aura.
Wakil direktur melirik laporan penilaian Aura yang memang mendapat skor hampir sempurna. "Nona Aura Kirana memang menunjukkan performa wawancara yang sangat luar biasa dan lugas, Pak. Karakter dan pemahaman teknisnya sangat menonjol dibanding kandidat lain."
Arsen menutup map biru itu dengan gerakan mantap, lalu menggesernya ke tepi meja—memberikan instruksi tanpa perlu perdebatan.
"Siapkan surat penerimaan dan kontrak kerjanya," perintah Arsen tegas dengan kilatan minat yang tersirat di mata hitamnya. "Aku ingin dia mulai masuk kerja awal minggu depan."
Suara pintu ruang kerja eksekutif berkerit pelan saat Ketua HRD—seorang pria paruh baya berkacamata yang membawa setumpuk map tebal berisi dokumen pelamar lainnya—melangkah masuk mendekati meja kerja megah tempat Arsen dan Wakil Direktur berdiri.
Melihat map biru milik Aura Kirana sudah berada di tumpukan berkas teratas yang ditandatangani, Ketua HRD itu sempat menghentikan langkahnya sejenak dengan dahi berkerut halus.
"Apa Bapak tidak mau melihat rekam jejak pelamar yang lain?" tanya Ketua HRD itu hati-hati, berusaha memastikan apakah keputusan sang CEO tidak terlalu terburu-buru mengingat masih ada puluhan kandidat bergelar lulusan luar negeri yang antre di daftar mereka.
Arsen perlahan menegakkan tubuh tegapnya. Ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada, menatap lurus ke arah Ketua HRD dengan pandangan mata yang begitu tajam dan mengintimidasi. Aura kepemimpinan yang dingin dan tak terbantahkan seketika memenuhi setiap sudut ruangan itu.
"Tidak perlu," ucap Arsen tegas dan singkat.
Suara berat sang CEO bergaung dingin tanpa meninggalkan celah untuk perdebatan sekecil apa pun. Bagi Arsen, seorang analis data tidak hanya membutuhkan nilai akademis yang tinggi di atas kertas, tetapi juga mentalitas baja, kejujuran yang murni, serta fokus yang tak mudah digoyahkan oleh tekanan—semua kualitas yang baru saja ia lihat langsung dari sosok Aura Kirana selama sesi wawancara tadi.
Ketua HRD itu menelan ludah pelan, lalu segera mengangguk hormat. "Baik, Pak Arsen. Saya akan segera memproses surat penerimaan kerja dan menghubungi Nona Aura Kirana hari ini juga."
"Pastikan kontrak kerjanya sudah siap lusa," tambah Arsen datar, lalu kembali mengalihkan pandangannya pada layar monitor tablet di mejanya.
Saat Ketua HRD dan Wakil Direktur pamit mundur dan melangkah keluar dari ruangan, Arsen menyandarkan kembali punggungnya di kursi kebesaran. Sebuah senyum tipis—hampir tak terlihat—terukir samar di sudut bibirnya. Ia membayangkan bagaimana reaksi gadis tegar itu saat menerima kabar bahwa ia kini resmi menjadi bagian dari perusahaan raksasa yang dipimpinnya.