Dua tahun hidup seperti janda meski masih bersuami, Larasati terus dihina mandul oleh keluarga suaminya. Sampai sebuah kecelakaan membangkitkan ingatannya: ia hanyalah istri karbitan dalam sebuah novel, tokoh malang yang ditakdirkan mati agar Rendra dan selingkuhannya hidup bahagia.
Kali ini Laras menolak menjadi korban. Ia menuntut cerai, merebut kembali harga dirinya, lalu menerima lamaran Mayor Bramantyo Adiningrat, perwira dingin yang juga dikabarkan tak bisa punya keturunan.
Pernikahan mereka seharusnya hanya sebuah kesepakatan. Namun sang Mayor perlahan menjadi lelaki yang selalu berdiri di depannya saat bahaya datang. Dengan keahlian sebagai dokter hewan dan mimpi yang dapat menunjukkan masa depan, Laras membangun hidup baru, menaklukkan wabah, dan membungkam setiap orang yang pernah merendahkannya.
Semua orang menertawakan pernikahan dua manusia yang dianggap mandul. Mereka tidak tahu bahwa satu rahasia akan segera terungkap: Laras bukanlah sumber masalah dalam pernikahan pertamanya.
Dan ketika tes itu menunjukkan dua garis, siapa sebenarnya yang akan menjadi bahan tertawaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
Bab 10: Hari Pernikahan
Namun pada hari pernikahan, satu pintu masuk yang sama akan menunggu mereka.
Pagi itu, Laras belum memikirkan pintu gedung atau pasangan lain.
Ia duduk di depan cermin kamar kos, mengenakan kebaya gading yang dipilihnya bersama Ratih. Tidak banyak payet, tidak ada perhiasan berlebihan. Tahi lalat merah di ujung mata kirinya tetap terlihat, dan rambutnya disanggul sederhana di balik kerudung tipis.
Rina berdiri di belakang sambil memasang peniti terakhir. "Kalau Rendra melihatmu hari ini, dia pasti menggigit lidah sendiri."
"Saya menikah bukan untuk membuat dia menyesal."
"Aku tahu. Tapi kalau dia menyesal, itu bonus."
Laras tertawa kecil. Di meja, map plastik berisi akta cerai terletak di sebelah berkas pernikahan baru. Dua dokumen itu seperti dua pintu yang berdiri berdekatan. Satu sudah ia tutup. Hari ini, ia memilih membuka yang lain dengan sadar.
Ratih masuk membawa kotak mahar. Matanya langsung berkaca-kaca.
"Bunda belum boleh menangis," kata Laras. "Riasan Bunda bisa rusak."
Ratih memeluknya hati-hati. "Bunda menangis karena senang. Kamu masih boleh berubah pikiran, Nak. Bram menunggu di luar dan tidak akan menyalahkanmu."
"Saya tidak berubah pikiran."
"Yakin?"
"Yakin, Bunda."
Untuk kedua kalinya, kata itu keluar mudah. Ratih menarik napas gemetar lalu mencium kening Laras.
Akad nikah dilaksanakan di aula KUA yang dihias bunga putih dan daun hijau. Tidak sebesar gedung resepsi, tetapi kursi-kursinya penuh. Pak Sutrisno dan setengah tim peternakan duduk di sisi Laras. Rina berada di barisan depan. Di sisi Bram, beberapa perwira hadir dalam pakaian resmi, sementara Wahyu sibuk memastikan semua dokumen berada di meja penghulu.
Bram duduk tegak di hadapan wali dan penghulu. Pakaian beskap modern berwarna gelap membuat bahunya terlihat semakin lebar. Wajahnya tetap tenang, tetapi Laras melihat jari telunjuknya mengetuk lutut sekali sebelum berhenti.
Lelaki itu ternyata tegang.
Kesadaran tersebut membuat Laras sedikit lebih tenang.
Penghulu memeriksa kembali identitas, status hukum, izin satuan, wali, dua saksi, dan mahar. Ia kemudian meminta konfirmasi Laras secara langsung, terpisah dari keramaian.
"Saudari Larasati, apakah pernikahan ini dilakukan atas kemauan sendiri?"
"Iya, Pak. Atas kemauan saya sendiri."
"Tidak ada paksaan dari calon suami, keluarga, atau pihak lain?"
"Tidak ada."
"Apakah Saudari menerima mahar yang telah disebutkan?"
"Saya menerima."
Jawaban itu dicatat. Baru setelah semua pihak menyatakan siap, ijab kabul dimulai.
Suasana aula berubah hening.
Bram menjabat tangan wali Laras. Kalimat ijab diucapkan jelas, lalu Bram menjawab dalam satu tarikan napas, tegas tanpa salah satu kata pun.
"Sah," kata saksi pertama.
"Sah," sahut saksi kedua.
Suara hamdalah memenuhi ruangan.
Laras menunduk. Ada getaran aneh di dadanya, bukan ketakutan seperti ketika dulu memasuki pernikahan bersama Rendra. Kali ini tidak ada kebohongan yang dibungkus janji manis. Ia tahu kondisi Bram, tahu batas hubungan mereka, dan tahu dirinya boleh tetap menjadi Laras.
Bram berpindah duduk di dekatnya. Untuk pertama kalinya sejak akad, tatapan mereka bertemu sebagai suami dan istri.
"Assalamualaikum," katanya pelan.
"Waalaikumsalam."
Bram menyerahkan mahar dengan kedua tangan. Laras menerimanya, lalu mereka menandatangani dokumen pencatatan. Dua buku nikah diletakkan di atas meja, satu diserahkan kepada Bram dan satu kepada Laras.
Laras mengusap sampul bukunya dengan ibu jari. Benda itu tidak terasa seperti rantai. Ia lebih mirip bukti bahwa syarat, hak, dan pilihan mereka diakui secara resmi.
Ratih kemudian membawa dua cincin sederhana. "Ini bukan bagian wajib dari akad," katanya cepat. "Kalau kalian tidak mau, simpan saja."
Bram mengambil cincin yang lebih kecil, tetapi tidak langsung menyentuh tangan Laras. "Boleh?"
Satu pertanyaan itu membuat tenggorokan Laras menghangat. Selama dua tahun, tubuhnya sering diperlakukan seperti milik keluarga suami. Jamu dipaksa masuk, pemeriksaan dijadwalkan tanpa bertanya, dan rasa sakitnya dianggap harga yang wajar demi seorang cucu.
Kini, bahkan untuk memasangkan cincin, Bram menunggu izin.
Laras mengulurkan tangan kanan. "Boleh."
Jemari Bram besar dan hangat. Ia memasukkan cincin perlahan, memastikan tidak terlalu sempit, lalu segera melepaskan tangannya tanpa mengambil kesempatan menyentuh lebih lama.
Giliran Laras memasangkan cincin kepada Bram. Laki-laki itu menatap wajahnya, bukan tangan mereka. Sorot matanya tetap tenang, tetapi napasnya terdengar lebih berat ketika cincin mencapai pangkal jari.
"Pas?" tanya Laras.
"Pas."
Rina yang berdiri di dekat fotografer berbisik cukup keras, "Cincinnya atau istrinya?"
Beberapa tamu tertawa. Telinga Bram memerah tipis. Laras menahan senyum, sementara Ratih langsung memeluk Rina karena menganggap lelucon itu sangat bagus.
"Mulai hari ini," ujar penghulu, "jaga rumah tangga dengan musyawarah, saling menghormati, dan jangan menjadikan kekurangan pasangan sebagai senjata."
Kalimat terakhir membuat Ratih terisak. Bram menoleh kepada ibunya, lalu kembali pada Laras.
"Saya akan mengingatnya," katanya.
Setelah doa, para tamu bergantian memberi selamat. Pak Yohanes menjabat tangan Bram dengan kuat.
"Pak Mayor, Bu drh. masih kami pinjam untuk peternakan. Jangan dikurung di rumah."
"Itu sudah menjadi syarat sebelum saya diterima," jawab Bram.
Pak Sutrisno tertawa. "Bagus. Berarti beliau tahu cara bernegosiasi."
Rina memeluk Laras dan berbisik, "Dia bahkan hafal syaratmu. Jangan terlalu cepat jatuh cinta."
"Kami menikah demi kepentingan masing-masing."
"Tentu. Dan aku datang cuma demi nasi kotak."
Laras mencubit lengannya pelan.
Pak Yohanes mendekat sambil membawa ponsel. Ia tidak ingin merusak suasana, tetapi laporan suhu terbaru dari peternakan baru masuk. Dua domba di zona merah kembali demam, sedangkan kandang hijau masih bersih.
Laras membaca angkanya, menanyakan asupan minum, lalu meminta pekerja memeriksa selaput lendir dan mengirim foto luka terbaru kepada tim Dinas.
"Maaf mengganggu hari pernikahan," kata Pak Yohanes.
"Penyakit tidak melihat kalender. Setelah laporan dikirim, Bapak kembali ke kandang sesuai jadwal. Jangan tinggalkan zona hanya untuk resepsi."
Bram berdiri di samping mereka. "Perlu Laras pergi ke peternakan sekarang?"
"Belum," jawab Pak Yohanes. "Tim Dinas masih di sana. Kami cuma butuh arahannya."
"Kalau kondisinya berubah, telepon," kata Laras. "Saya bawa tas kerja di mobil."
Bram tidak menunjukkan kecewa. Ia justru meminta Wahyu memastikan jalur kendaraan tidak menghalangi mobil darurat bila Laras harus keluar dari gedung. Pak Yohanes mengangguk kagum.
"Kalian benar-benar pasangan paling serius yang pernah saya lihat."
"Kami sudah memperingatkan Bapak," jawab Laras.
Setelah laporan selesai, Bram menyerahkan segelas air kepadanya. "Sekarang sepuluh menit tanpa memikirkan kandang."
"Itu perintah Mayor?"
"Permintaan suami."
Kata terakhir membuat Laras terdiam sepersekian detik sebelum menerima gelas.
Di luar aula, mobil pengantin telah menunggu. Kendaraan hitam itu dihias bunga putih sederhana. Di belakangnya berbaris mobil Ratih, kendaraan rekan satuan, serta beberapa mobil dan bak tertutup milik koperasi yang sudah dibersihkan serta tidak digunakan mengangkut ternak selama karantina.
Rombongan terlihat panjang bukan karena Bram menyewa kemewahan, melainkan karena begitu banyak orang ingin mengantar mereka.
Sebelum masuk mobil, Bram membuka pintu untuk Laras. "Hati-hati, tangganya tinggi."
Laras mengangkat ujung kain dan duduk. Bram mengambil tempat di sampingnya, menyisakan jarak yang sopan.
"Buku nikahmu?" tanyanya.
"Di tas. Punya Mayor?"
"Di saku dalam."
Bram diam sejenak. "Kamu tidak harus memanggil saya Mayor di luar urusan satuan."
Laras menoleh. "Lalu saya harus memanggil apa?"
"Bram cukup. Atau Mas Bram, kalau kamu nyaman."
Sapaan itu terasa jauh lebih dekat daripada gelar militer. Laras mencoba mengucapkannya dalam hati sebelum akhirnya berkata, "Baik, Mas Bram."
Ada perubahan kecil pada mata Bram. Hampir tak terlihat, tetapi Laras menangkapnya.
"Laras juga cukup," katanya. "Bukan Ny. Adiningrat setiap saat."
"Baik, Laras."
Mobil mulai bergerak. Di luar jendela, Rina dan para pekerja melambaikan tangan. Ratih di mobil belakang masih menyeka air mata.
Di rumah Bu Marni, suasana jauh berbeda.
Seorang tamu yang baru datang menunjukkan siaran langsung akad Laras dari ponselnya. Rekaman itu memperlihatkan Bram mengucapkan kabul, para perwira hadir, dan rombongan kendaraan menunggu di halaman.
"Itu Laras?" Bu Marni merebut ponsel. "Dia benar-benar menikah dengan Mayor?"
"Bukan cuma menikah. Lihat tamunya. Katanya komandan-komandan satuan ikut hadir."
Wajah Bu Marni berubah. Ia teringat perempuan yang dua minggu lalu masih memasak di dapurnya, menelan jamu tanpa melawan, dan selalu menunduk ketika dimarahi. Sekarang Laras duduk dalam mobil pengantin di samping seorang mayor.
"Pasti cuma karena kasihan," katanya cepat. "Lelaki itu mandul. Tidak ada perempuan lain yang mau."
Namun suaranya tidak sekeras biasanya.
Vania yang sedang dirias mendengar semuanya dari kamar. Ia meminta ponsel tersebut, melihat Laras dalam kebaya gading, lalu memeriksa jumlah kendaraan di belakangnya.
"Rombongan kita sudah siap?" tanyanya.
"Tiga mobil," jawab Bu Marni. "Cukup. Yang penting sama-sama masuk gedung."
Rendra berdiri di ambang pintu dengan pakaian pengantin. Matanya terpaku pada wajah Laras di layar lebih lama daripada seharusnya.
Vania mematikan video. "Mas, kita berangkat."
Dua rombongan bergerak menuju Gedung Flobamora dari arah berbeda.
Wahyu telah mengatur agar rombongan Bram masuk lebih dulu melalui jalur kanan. Pengelola gedung berjanji rombongan Rendra diarahkan ke sisi kiri beberapa menit kemudian.
Rencana itu hampir berhasil.
Ketika mobil Laras dan Bram berbelok ke halaman gedung, sebuah minibus putih berhenti melintang karena sopir catering menurunkan baki di jalur kiri. Kendaraan Rendra terpaksa memotong ke jalur kanan pada saat yang sama.
Dua mobil pengantin berhenti saling berhadapan di depan pintu utama.
Di balik kaca, Laras melihat Vania.
Dan Rendra melihat Laras duduk sebagai istri Mayor Bramantyo Adiningrat.