Indonesia
NovelToon NovelToon
Bound By Starlit (Terikat Anggota Starlit)

Bound By Starlit (Terikat Anggota Starlit)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Bad Boy / Teen
Popularitas:478
Nilai: 5
Nama Author: Bella Kristy Cecilia

Berkisah tentang Varro Aldrian Wijaya, cowok playboy paling top di kampus. Semua wanita sudah jatuh hati padanya, kecuali aku, Gisella Vanessa Setiawan. Sebenarnya, Varro tidak seburuk itu. Kekurangannya hanya ada tiga, dia adalah ketua geng motor, playboy dan sangat egois. Sementara itu, aku paling membenci cowok sepertinya. Namun, seiring berjalannya waktu, kami semakin dekat. Bisakah cowok playboy dan egois sepertinya mampu berkomitmen untuk mencintai satu wanita saja? Apakah perjalanan cintaku akan berakhir bahagia atau malah tidak ada harapan bagiku sejak awal? Ikuti terus kisahnya!

Note : Mohon untuk tidak menjiplak karya Author!

IG = @bellakristyc_
E-mail = bellakristyc@gmail.com

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bella Kristy Cecilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dosa Masa Lalu yang Menghancurkan Cinta

Bumi tempatku berpijak seolah amblas tak bersisa. Udara di lorong rumah sakit yang tadinya dingin mendadak terasa mencekik, merampas seluruh pasokan oksigen dari paru-paruku. Lembaran kertas berlogo kepolisian yang sudah menguning di tanganku bergetar hebat seiring dengan tubuhku yang limbung.

Kasus Tabrak Lari dan Pengambilalihan Aset Paksa. Tersangka Utama, Wijaya Corp.

Korban Meninggal Dunia: Herman Setiawan.

Herman Setiawan. Papa.

Tulisannya terukir jelas, tak terbantahkan. Pria penuh tawa yang selalu menggendongku di atas pundaknya saat aku masih kecil, pria yang banting tulang membangun bisnis kecilnya demi menghidupi Mama, aku, dan adik-adikku yang baru lahir... nyawanya direnggut secara paksa di atas aspal jalanan sepuluh tahun silam.

Dan kebangkrutan tragis yang membuat keluargaku harus hidup melarat dalam bayang-bayang utang... semuanya adalah ulah kekejaman tangan besi keluarga Wijaya.

"Gisel? Lo kenapa? Wajah lo pucat banget!"

Suara Brandon memecah keheningan yang memekakkan telinga. Pria berkacamata itu melangkah cepat menghampiriku, tepat sebelum kedua lututku benar-benar menghantam lantai marmer. Ia menahan lenganku, raut wajahnya dipenuhi kepanikan.

Aku tidak sanggup menjawab. Mulutku terkunci rapat oleh isak tangis yang tertahan di tenggorokan. Dengan tangan bergetar, kusodorkan lembaran dokumen usang itu ke dada Brandon.

Brandon mengerutkan kening, menerima kertas tersebut. Matanya dengan cepat memindai barisan kalimat laporan kepolisian itu. Dalam hitungan detik, raut wajah Brandon yang selalu tenang dan penuh perhitungan seketika berubah pucat pasi. Mata di balik kacamatanya membelalak tak percaya.

"Astaga..." desis Brandon tertahan, menatapku dengan raut syok yang teramat dalam. "Gisel... ini... dokumen ini..."

"Itu Papa gue, Kak Brandon..." bisikku dengan suara yang terdengar begitu serak dan pecah. Air mata yang sejak tadi menggenang akhirnya jebol, membasahi kedua pipiku tanpa ampun. "Orang yang dibunuh dan dihancurkan perusahaannya sama Tuan Wijaya sepuluh tahun lalu... itu Ayah kandung gue!"

Brandon tertegun kaku. Ia menatap ke arah pintu kamar VIP tempat Varro terbaring, lalu kembali menatapku dengan pandangan penuh belas kasihan. "Gisel, gue bener-bener gak tahu soal ini. Varro juga pasti gak tahu apa-apa! Sepuluh tahun yang lalu Varro masih kecil, dia sama sekali gak terlibat dalam bisnis kotor ayahnya!"

"Gue tahu!" jeritku tertahan, memukul dadaku sendiri yang terasa remuk redam. "Gue tahu Varro bukan ayahnya! Gue tahu dia pria yang baik yang bahkan rela mati buat nyelamatin gue! Tapi... tapi darah yang mengalir di tubuhnya adalah darah dari pria yang udah ngebunuh Papa gue, Kak!"

Aku melangkah mundur, melepaskan pegangan tangan Brandon dari lenganku. Napasku tersengal-sengal oleh gelombang rasa sakit yang tak terlukiskan.

Bagaimana mungkin aku bisa memeluk Varro lagi? Bagaimana mungkin aku bisa menatap mata Mama di rumah, wanita yang menangis setiap malam meratapi kematian suaminya, sambil menggandeng tangan putra dari sang pembunuh? Cinta yang baru saja tumbuh mekar di hatiku beberapa jam yang lalu... kini dipaksa layu dan membusuk oleh racun dari masa lalu.

"Gisel, lo mau ke mana? Tenang dulu, kita bicarakan ini baik-baik," bujuk Brandon, mencoba meraih tanganku lagi.

"Gue gak bisa, Kak... Gue gak bisa tatap muka dia sekarang," isakku, memeluk tubuhku sendiri yang gemetar kedinginan. "Gue harus pergi. Tolong... tolong jangan kasih tahu Varro dulu. Biarin dia sembuh. Tolong jaga dia buat gue."

Sebelum Brandon sempat mencegahku lebih jauh, aku membalikkan badan dan berlari sekencang mungkin menyusuri koridor rumah sakit, menerobos pintu darurat, dan menghilang di balik tangga. Aku melarikan diri, membawa serta hatiku yang telah hancur berkeping-keping.

Tiga jam berlalu sejak kepergianku.

Di dalam kamar VIP, kelopak mata Varro bergetar pelan. Efek obat penahan rasa sakit perlahan memudar, membiarkan rasa perih di lambungnya kembali menyapa kesadaran. Varro mengerang pelan, menolehkan kepalanya ke arah kursi di samping ranjang.

Kosong.

Tidak ada Gisel. Tidak ada senyum hangat yang menunggunya bangun.

"Gisel...?" panggil Varro dengan suara serak.

Kepanikan seketika menyergap dadanya. Apakah Raka datang ke rumah sakit? Apakah ada yang melukai gadisnya lagi?! Varro memaksakan diri untuk bangun, mengabaikan rasa sakit yang merobek perutnya. Ia bahkan bersiap untuk mencabut paksa jarum infus di punggung tangannya.

"Al! Lo ngapain, Gila?!"

Pintu kamar terbuka kasar. Marcel berlari masuk dan menahan bahu Varro dengan panik, memaksanya kembali berbaring. Brandon menyusul di belakangnya, mengunci pintu kamar dengan wajah yang teramat suram dan kelabu.

"Lepasin gue, Cel! Mana Gisel?! Dia ke mana?!" bentak Varro memberontak, matanya berkilat liar mencari sosok gadis yang paling dicintainya. "Apa anak-anak Viper nyusup ke sini?!"

"Tenang, Al! Gisel aman! Dia gak diculik!" seru Marcel, berusaha menenangkan ketua gengnya itu. "Gisel pulang ke rumahnya sendiri."

Pergerakan Varro terhenti. Ia menatap Marcel, lalu beralih menatap Brandon yang berdiri mematung di ujung ranjang. Insting Varro sebagai seorang pemimpin langsung menyadari ada sesuatu yang tidak beres dari raut wajah sahabatnya itu.

"Kenapa dia pulang gak pamit sama gue?" tanya Varro curiga, suaranya menurun menjadi dingin. "Ada apa, Bran? Apa yang terjadi pas gue tidur?"

Brandon menghembuskan napas yang teramat berat, melepas kacamatanya, dan memijat pangkal hidungnya. Rasanya seperti menancapkan pisau kedua kalinya ke tubuh sahabatnya sendiri.

Brandon melangkah mendekat, lalu meletakkan amplop cokelat beserta dokumen laporan kepolisian itu tepat di atas pangkuan Varro.

"Tadi... ada kurir misterius yang ngirim ini buat Gisel saat dia lagi nungguin lo di lorong," ucap Brandon pelan. "Gue udah baca isinya, Al. Dan gue rasa... lo juga harus baca ini sekarang."

Varro menatap amplop itu dengan dahi berkerut. Dengan jemari yang masih lemas, ia membuka lembaran dokumen yang sudah menguning itu. Matanya menyusuri barisan kalimat yang diketik rapi.

Satu detik. Dua detik. Tiga detik.

Binar kehidupan di mata cokelat gelap Varro seketika padam tanpa sisa. Wajah tampannya yang pucat kini berubah menjadi seputih kertas. Tangannya yang memegang dokumen itu bergetar hebat, hingga kertas tersebut merosot jatuh berserakan di atas sprei putih.

"Ini... ini gak mungkin..." bisik Varro dengan suara yang terdengar begitu hancur dan putus asa. "Kecelakaan sepuluh tahun lalu... ayah Gisel... Bokap gue yang lakuin ini...?"

"Gisel syok berat, Al. Dunia dia bener-bener hancur," tambah Brandon dengan nada lirih. "Dia menangis histeris di lorong, dan dia lari ninggalin rumah sakit. Gue gak bisa cegah dia."

Varro terpaku. Dadanya naik turun dengan cepat, bukan karena luka fisiknya, melainkan karena luka batin yang merobek sanubarinya. Gadis yang baru saja mengakui perasaannya... Gadis yang berjanji tidak akan pernah melepaskan tangannya... kini memiliki alasan paling absolut di dunia ini untuk membencinya seumur hidup.

"AARRGGGHHH!!"

Varro meledakkan raungan frustrasi yang memekakkan telinga. Ia memukul kasur dengan kepalan tangannya yang memar berulang-kali tanpa peduli pada darah yang kembali merembes dari perban di perutnya. Air mata penyesalan dan keputusasaan, air mata yang tak pernah tumpah dari seorang ketua Starlit yang arogan, kini mengalir deras membasahi wajahnya.

Dosa sang ayah telah membunuh cinta sejatinya, bahkan sebelum cinta itu sempat mekar sempurna.

Di luar sana, langit senja Jakarta menyajikan warna jingga kelabu yang suram. Hujan gerimis perlahan turun, menyamarkan air mata yang terus mengalir membasahi pipiku.

Aku duduk meringkuk di sudut kamar yang gelap. Seragam kafe masih menempel di tubuhku. Di ruang depan, suara tawa polos Glenn dan Gwen terdengar samar-samar. Mereka tidak tahu apa-apa. Mama juga tidak tahu bahwa putrinya baru saja jatuh cinta pada putra dari pria yang telah menghancurkan hidup mereka.

Aku memeluk kedua lututku erat-erat. Rasa rindu pada Varro dan rasa bersalah pada almarhum Papa saling bertabrakan, menyiksaku tanpa ampun.

Drt... Drt...

Ponsel baru pemberian Varro yang tergeletak di atas kasur kembali bergetar pelan. Layarnya menyala, menampilkan sebuah pesan masuk dari nomor asing yang sama.

Dengan tangan bergetar, kuraih ponsel tersebut dan membuka pesannya.

Pengirim Asing:

[Bagaimana rasanya mengetahui kebenaran, Gisella? Ini baru permulaan. Jauhi Varro Aldrian Wijaya sejauh mungkin dari hidupmu. Atau... Tuan Wijaya sendiri yang akan turun tangan secara langsung untuk menyingkirkan keluargamu malam ini, persis seperti yang beliau lakukan pada ayahmu sepuluh tahun lalu.]

Jantungku serasa berhenti berdetak. Ponsel itu terlepas dari genggamanku dan jatuh ke lantai. Ancaman itu begitu nyata dan mengerikan. Bukan hanya Raka... kini musuh yang jauh lebih besar dan berkuasa telah menaruh perhatian padaku.

Demi keselamatan Mama dan adik-adikku... dan demi nyawa Varro sendiri, hanya ada satu jalan keluar yang tersisa bagiku.

Aku harus menghilang dari kehidupan pangeran Starlit itu, untuk selama-lamanya.

Bersambung……

Halo readers, makasih udah mampir ke novel ini. Tolong like, vote, komen, dan berikan hadiah kalau kalian suka sama ceritanya ya!

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!