Indonesia
NovelToon NovelToon
L.S. Underworld

L.S. Underworld

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Bad Boy / Mafia
Popularitas:366
Nilai: 5
Nama Author: ANDIKA,312

Andika pria miskin asal Makassar yg mencoba mengadu nasib di negara Amerika,tepatnya di los Santos,dia berharap menjadi kaya raya dan dapat hidup dengan layak setelah merantau di sana,akan tetapi dia justru terjerumus ke dalam dunia gelap los Santos

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANDIKA,312, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 27

Keesokan harinya, matahari sore merayap perlahan di atas garis langit Los Santos. Cahaya jingga kemerahan memantul di atas seng-seng tua sebuah gudang terbengkalai yang berdiri terisolasi di pinggiran kawasan industri Cypress Flats. Lokasi ini sengaja dipilih oleh Lester Crest sebagai titik kumpul akhir (staging area) karena posisinya yang tersembunyi dari jangkauan patroli kepolisian, namun memiliki akses cepat menuju jalan tol utama Del Perro Freeway.

Suasana di dalam gudang tua itu terasa sangat dingin, lembap, dan sarat akan ketegangan yang pekat. Debu-debu halus berterbangan melintasi celah atap seng yang berlubang, tertimpa pendar pilar sinar matahari sore. Di tengah-tengah ruangan gudang yang luas, berdiri sebuah meja besi raksasa yang dikelilingi oleh perlengkapan taktis tingkat tinggi, serta satu unit van Declasse Burrito warna hitam polos dengan kaca gelap yang sudah terparkir siap tempur.

Orang pertama yang tiba di lokasi adalah Lester Crest. Pria paruh baya itu datang menggunakan van khusus yang dimodifikasi sebagai markas komando seluler. Di dalam gudang, Lester segera membongkar dan merakit peralatan canggihnya. Di atas meja besi, ia menyusun tiga unit laptop hardened-military specification yang terhubung dengan antena satelit portabel berdaya tinggi, beberapa monitor peretas frekuensi radio, serta sebuah perangkat jammer sinyal seluler berkapasitas masif. Di samping jajaran alat peretas digital tersebut, tergeletak dua tas kargo hitam tebal yang berisi mesin bor termal bertekanan tinggi (thermal drill) buatan pabrikan militer, lengkap dengan empat tabung gas kompresi cadangan, kabel pemantik, dan kacamata pelindung panas.

Tak lama kemudian, suara deru halus mesin V8 terdengar memecah keheningan di luar. Franklin Clinton melangkah masuk melalui pintu samping gudang yang menganga. Pria muda itu mengenakan jaket santai, namun matanya yang tajam dan fokus memancarkan kesiapan mental yang luar biasa. Franklin mengangguk singkat ke arah Lester yang sedang memutus baris kode di layar monitornya.

"Lester," sapa Franklin singkat, melangkah mendekati meja besi dan memeriksa tas kargo berisi bor termal.

"Kau datang tepat waktu, Frank," jawab Lester tanpa mengalihkan pandangannya dari layar. "Periksa semua kabel bor itu. Jangan sampai ada koneksi yang longgar saat Andika mengeksekusi pintu brankas nanti."

Belum sempat Franklin merapikan tali tas kargo tersebut, raungan gahar mesin 225cc kustom kembali memecah heningnya kawasan industri Cypress Flats.

BHRRUMMM! BLEGAR-BLEGAR-BLEGAR!

Chopper Scorpio hitam mengkilat milik Andika meluncur masuk melewati pintu gerbang besi gudang yang terbuka separuh. Andika mematikan kunci kontak, menutupi motor kesayangannya di sudut gudang dengan kain terpal hitam tebal agar tidak menarik perhatian, lalu melangkah mendekati Franklin dan Lester. Wajahnya tampak sangat segar setelah istirahat cukup semalam, dan raut mukanya tenang seolah hendak menghadiri pertemuan bisnis biasa, bukan sebuah aksi perampokan bank terbesar di kota itu.

"Sore, Frank. Lester," panggil Andika datar, menyalami Franklin dengan genggaman tangan yang mantap.

"Semuanya siap, Bro?" tanya Franklin.

"Selalu siap," balas Andika singkat.

Sepuluh menit berlalu, giliran sedan hitam Michael De Santa yang meluncur masuk secara perlahan. Michael keluar dari mobilnya dengan langkah mantap seorang eksekutor veteran. Ia mengenakan kemeja santai, membawa sebuah tas kain tebal berisi amunisi ekstra, lalu melemparkannya ke atas meja besi.

"Di mana si gila itu?" tanya Michael langsung, melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul 14:15 sore. "Dia tidak lupa dengan janji hari ini, kan?"

"Siapa lagi kalau bukan Trevor," desah Lester sambil menggelengkan kepala. "Pria itu selalu menjadi variabel tak terduga dalam setiap kalkulasiku."

Namun, tepat ketika ucapan Lester berakhir, sebuah suara dentuman mesin tua yang menderita terbatuk-batuk bersahutan dengan raungan klakson yang tak henti-hentinya memecahkan ketenangan Cypress Flats!

BRRAAANG! BUM-BUM-BUM! BIIIIIIP-BIIIIIIP!

Sebuah truk pikap Canis Bodhi tua berwarna merah pudar dengan ceceran lumpur kering menerobos masuk ke dalam gudang dengan kecepatan tinggi, melakukan pengereman mendadak hingga meninggalkan bekas garukan ban yang tebal di atas lantai semen berdebu!

SREEEEEECH!

Pintu mobil terbuka kasar, dan Trevor Philips melompat keluar dari balik kemudi sambil membawa sebuah kaleng bir setengah kosong. Wajahnya penuh celak ungu pudar dari malam sebelumnya, rambut menipisnya berantakan, namun matanya memancarkan energi gila yang membakar.

"APA KABAR, PARA MEE-MANGSA SEJATI LOS SANTOS?!" jerit Trevor histeris, menenggak sisa birnya lalu melemparkan kaleng kosong itu hingga hancur menabrak dinding seng gudang. "Maaf aku sedikit terlambat! Ada dua prajurit pengangkut barang di jalanan gurun yang mencoba mengajariku tata krama, jadi aku harus mengajari mereka cara merayap di dalam selokan terlebih dahulu!"

Michael memegang jembatan hidungnya, menghembuskan napas panjang. "Terserah apa alasanmu, T. Yang penting kau sudah di sini. Sekarang waktunya bersiap."

Dengan berkumpulnya seluruh kelima anggota, atmosfer di dalam gudang tua itu mendadak berubah seratus delapan puluh derajat. Tidak ada lagi lelucon, tidak ada lagi perdebatan santai. Waktunya eksekusi tiba.

"Baiklah, semuanya," panggil Michael dengan suara berat yang dipenuhi wibawa kepemimpinan. "Berganti pakaian sekarang!"

Mereka berlima bergerak menyebarkan peralatan. Empat setelan jas formal mahal yang dibeli Andika dua hari lalu dikeluarkan dari tas pelindungnya.

Secara berurutan, Michael, Franklin, Andika, dan Trevor mulai melepaskan pakaian kasual mereka. Mereka mengenakan kemeja putih bersih yang kaku, memasangkan kancing kemeja hingga ke ujung leher, lalu mengenakan celana kain hitam berpotongan presisi. Setelah itu, dasi berwarna merah darah diikat rapi di leher masing-masing. Terakhir, jas hitam tebal berpotongan elegan disarungkan ke tubuh mereka.

Empat pria tersebut kini berdiri anggun dalam balutan setelan jas formal yang sangat kontras dengan latar belakang gudang tua yang kumuh—menciptakan kesan perampok profesional kelas atas yang dingin, terorganisir, dan sangat berbahaya.

"Penampilan yang sangat elegan untuk sebuah perampokan gila," gumam Franklin sambil merapikan ikatan dasi merahnya di depan kaca spion van.

"Penampilan ini yang akan membuat para sandera menuruti setiap kata-katamu tanpa berani membantah," timpal Michael seraya mengancingkan jas hitamnya.

Selanjutnya, mereka beralih ke pemeriksaan persenjataan dan perlengkapan taktis.

Trevor melangkah ke peti kayu pertama buatan militer yang dibawanya dari Sandy Shores, membuka kaitnya, dan mengeluarkan empat unit senapan serbu M4 Carbine. Dengan gerakan jemari yang sangat terlatih, Trevor mempreteli pengunci laras, memeriksa kebersihan mekanisme bolt carrier group, lalu mengokang larasnya satu per satu untuk memastikan tidak ada amunisi yang tersangkut.CKLAK-BUMP! CKLAK-BUMP!

"M4 siap menyalak, Micky," kata Trevor sambil menyodorkan satu senapan ke arah Michael, satu ke arah Franklin, dan satu lagi ke arah Andika, sementara satu senapan terbaik disandarkan di bahunya sendiri.

Andika menerima M4 Carbine tersebut, menimbang bobotnya yang mantap di tangan, lalu memeriksa magazin berisi 30 butir peluru berkaliber 5.56mm. Dari peti kedua, ia menyambar lima magasin cadangan dan memasukkannya ke dalam saku dalam jas hitamnya yang sudah dirancang khusus. Selain itu, Andika mencabut sebuah pistol Glock 17 kustom, memeriksa keaslian peluru 9mm di dalamnya, lalu menyisipkannya ke dalam holstik ketiak di balik jasnya.

Sementara itu, Franklin dan Michael sibuk memasang perlengkapan komunikasi taktis. Mereka mengambil unit radio Handy Talkie (HT) kecil berfrekuensi terenkripsi dari peti ketiga, menyepitkannya di pinggang celana di balik jas, lalu memasangkan kait headset earpiece transparan ke dalam lubang telinga masing-masing.

"Cek frekuensi. Suara satu, dua, tiga... kau mendengarku, Andika?" tanya Franklin melalui mikrofon kecil yang menempel di kerah jasnya.

"Sangat jelas, Frank," balas Andika pelan, menguji suara di earpiece telinga kanannya.

Setelah persenjataan dan alat komunikasi terpasang sempurna, keempatnya mengenakan rompi anti-peluru (body armor) kelas militer berwarna hitam tebal. Rompi ini dirancang sangat tipis namun sanggup menahan hantaman peluru kaliber tebal, dipasang secara rapat di bawah jas hitam mereka sehingga tidak terlalu mencolok dari luar namun tetap memberikan perlindungan maksimal pada organ vital.

Langkah berikutnya adalah pemeriksaan kendaraan pelari (getaway vehicle).

Andika, Franklin, dan Michael melangkah mendekati van Declasse Burrito warna hitam polos yang terparkir di tengah gudang. Franklin membuka kap mesin depan, memeriksa kondisi oli, cairan pendingin radiator, serta kekencangan tali kipas. Sementara itu, Andika memeriksa keempat roda van yang sudah dilapisi karet ban lapis baja anti-kempes (run-flat tires), memastikan tekanan anginnya berada pada angka sempurna untuk manuver kecepatan tinggi di jalanan berliku.

Di dalam bagasi belakang van, Trevor dan Franklin memasukkan dua tas kargo berisi mesin bor termal, empat tabung gas kompresi cadangan, tiga tas kargo kosong ukuran jumbo buatan bahan kanvas tebal untuk menampung lembaran uang tunai dan emas batangan nanti, serta beberapa unit bom tempel (sticky bombs) cadangan untuk situasi darurat.

Setelah seluruh pakaian, persenjataan, perlengkapan komunikasi, dan kendaraan diperiksa secara menyeluruh tanpa ada satu pun celah cacat, suasana di dalam gudang mendadak hening.

Waktu menunjukkan pukul 14:40 sore. Puncak eksekusi tinggal menghitung menit.

Lester Crest memutar kursi rodanya mendekati empat pria berjas hitam yang kini berdiri berjejer tegap di hadapannya. Di tangan Lester, tergeletak empat buah topeng badut karet yang dibeli Andika dua hari lalu—topeng-topeng badut dengan ukiran senyuman merah aneh, hidung bulat mencolok, dan tatapan mata yang sangat menyeramkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!