Annisa menerima perjodohan kedua orang tuanya setelah mengetahui jika calon suaminya adalah cinta pertamanya.
Anissa yang awalnya bahagia berubah sedih ketika mengetahui bahwa suaminya sama sekali tidak mencintainya pada malam pertama mereka.
"Aku menikahimu hanya karena terpaksa. Aku telah memiliki seorang kekasih. Kami telah menjalin hubungan lebih dari 6 tahun. Jadi aku ingatkan, jangan berharap aku akan memberikan hak kamu sebagai istri."
Annisa memegang dadanya yang terasa sesak mendengar ucapan Farhan yang menusuk hatinya. Annisa mengira dia akan bahagia karena menikah dengan cinta pertamanya, tapi semua itu berubah setelah pernyataan yang membuat Anissa sadar. Bahwa dirinya tidaklah dicintai.
"Aku akan terus bersabar, bahkan sampai kesabaran itu sendiri merasa lelah dengan diriku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Dua Puluh Tiga.
Setelah Farhan berpakaian, Annisa memgambil nasi uduk yang dibawanya. Annisa menyuapi Farhan dengan penuh perhatian.
"Kenapa,Kak? Nggak enak?" tanya Annisa melihat Farhan yang mengunyah makanan pelan.
"Masakanmu selalu enak. Selera makan aku aja yang nggak ada."
"Kak Farhan mau aku masakin apa?" tanya Annisa.
"Aku mau sup tunjang. Apa kamu bisa memasaknya untukku?" tanya Farhan.
"Nanti aku minta bibi ke pasar membeli tunjang. Insha Allah aku bisa masaknya?"
"Terima kasih, Nissa."
"Aku belum memasaknya. Kak Farhan tunda dulu ucapan terima kasihnya," ucap Annisa becanda sambil tertawa.
"Sekarang Kak Farhan tidurlah, aku mau bersih rumah dulu. Sekalian minta bibi belikan tunjang."
"Annisa ...," panggil Farhan.
"Ada apa, Kak?"
"Terima kasih banyak untuk semua yang pernah kamu lakukan. Aku nggak tau harus berkata apa. Aku merasa tertampar dengan sikap baikmu ini."
"Aku sebenarnya tidak sebaik yang Kak Farhan pikirkan. Hatiku masih ada merasakan luka dan kesakitan saat Kak Farhan mengabaikan."
"Itu hal biasa. Sebagai manusia pasti kita akan merasakan sakit saat dikecewakan. Namun, kamu bisa memendam rasa kecewamu dan bisa mengendalikannya. Aku menyesal baru menyadari ketulusanmu,"gumam Farhan.
"Penyesalan tidak dapat mengubah masa lalu, begitu pula kekhawatiran tidak dapat mengubah masa depan. Terlalu menyesali hanya akan membuat kita lupa untuk bersiap memperbaiki."
"Aku nggak akan lupa untuk memperbaiki diriku menjadi manusia yang lebih berguna. Harusnya Tuhan ciptakan waktu berjalan dua arah supaya aku bisa kembali ke masa lalu untuk menghapus semua penyesalan dan kesalahanku. Sebesar apa pun penyesalanku, masa lalu tetap tak bisa diubah. Akan tetapi, lebih baik kalau aku tidak mengingatnya," lirih Farhan.
"Jangan pernah menyesali masa lalu. Ia juga perlu diingat untuk menjadi pelajaran untuk melangkah lebih baik lagi," ucap Annisa.
"Jika kamu ingin bahagia, jangan biarkan masa lalu mengusikmu. Kamu boleh melihat ke belakang, namun jangan membawanya kembali. Masa lalu mengajarkan arti untuk memahami, mengikhlaskan, dan melaju menuju masa depan.Jangan salahkan masa lalu dalam hidupmu. Tanpanya, kau tak akan bisa membandingkan dengan kehidupan saat ini," ucap Annisa lagi.
"Sekali lagi aku ucapkan terima kasih, Nissa. Atas pengertianmu."
"Istirahatlah, Kak. Aku masak dulu."
Annisa keluar dari kamar Farhan menuju dapur. Annisa mencari bibi dan memintanya belanja ke pasar terdekat.
Sementara bibi ke pasar, Annisa membersihkan rumah. Satu jam lamanya bibi ke pasar. Pulang dengan membawa tulang daging untuk di sup.
Annisa memasak sup hingga satu jam di dapur. Setelah masak Annisa membawa semangkok sup dan sepiring nasi ke kamar Farhan.
Saat akan masuk kamar Annisa mendengar suara Farhan sedang menelepon dengan Sherlin.
"Aku nggak kerja. Sedang sakit," ucap Farhan.
"Kalau gitu aku kerumah sekarang, kamu mau aku bawakan apa?" tanya Sherlin.
"Jangan pernah lagi datang ke rumahku!"
"Kenapa, istrimu melarang aku ke rumah, dia marah? Kamu terlalu lemah hingga dia ngelunjak."
"Nissa nggak akan pernah melarang.Selama ini aku sudah sering menyakiti hatinya. Namun, tidak pernah sekalipun aku melihatnya marah."
"Sekarang kamu sering membelanya."
"Aku bukan membelanya, tapi itu kenyataan. Jikapun aku membelanya, bagiku itu wajar. Dia istriku."
"Jadi sekarang kamu sudah mengakui dia itu istrimu."
"Emang kenapa? Aku nggak mau banyak bicara saat ini. Setelah aku pulih, kita ketemu. Banyak yang harus kita bahas dan omongkan."
"Aku merasa nggak enak mendengarnya. Aku kerumahmu saat ini."
"Jangan nekat. Aku nggak akan memaafkan jika kamu datang. Tunggu aku pulih,kita bicara. Aku mau istirahat dulu.
Farhan mematikan sambungan ponselnya. Setelah yakin Farhan tidak mengobrol lagi, barulah Annisa masuk.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung