Indonesia
NovelToon NovelToon
Transmigrasi Menjadi Istri Gendut Sang Kapten

Transmigrasi Menjadi Istri Gendut Sang Kapten

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:84.6k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

"Gak usah pura-pura amnesia. Dan ingat, meski kamu bunuh diri berkali-kali, aku bakal tetep ceraiin kamu."

"Hei, Pak Tentara! Saya benar-benar gak kenal Anda!"

Vivian, desainer ternama, mengalami kecelakaan mobil dan jatuh ke sungai. Namun, saat membuka mata, ia justru terbangun di tubuh Levia, istri gendut Kapten Arvandra Jayasena.

Semua orang tahu, Levia terobsesi pada Vandra. Demi menjadi istrinya, ia menjebak sang kapten hingga terpaksa menikahinya. Akibatnya, pernikahan mereka hanya dipenuhi kebencian, hingga Levia nekat mengakhiri hidupnya.

Kini, Vivian yang menempati tubuh Levia sama sekali tidak berniat mengejar cinta Vandra. Ia hanya ingin mengubah takdir pemilik tubuh dengan cara menurunkan berat badan dan mengejar kembali mimpinya sebagai desainer.

Namun, ketika Levia berhenti mengejar, perlahan Vandra malah enggan melepaskannya.

"Via... kita mulai dari awal."

"Mulai dari awal? Maaf, Kapten. Saya bukan aplikasi yang bisa di-reset ke pengaturan pabrik."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

9. Orang Asing di Ruang Tamu

Suara langkah kaki yang terdengar mendekat membuat Vandra yang semula duduk langsung berdiri dan mengangkat kepala. Tatapannya langsung bertemu dengan Levia.

Namun, ada pemandangan yang membuat alisnya sedikit berkerut. Levia berjalan santai sambil memeluk lengan Bram Gultom.

Di wajah wanita itu tak tampak senyum berbunga-bunga seperti biasanya. Tidak ada tatapan berbinar. Tidak ada langkah tergesa-gesa yang selalu menyambut kedatangannya. Seolah-olah, ia benar-benar hanya tamu biasa.

Bram dan Levia menghampiri.

"Malam, Vandra," sapa Bram lebih dulu.

"Malam, Yah."

Vandra mengangguk sopan, lalu tanpa sadar kembali melirik Levia. Biasanya, sebelum ia atau Gultom sempat mengatakan sesuatu, Levia sudah lebih dulu berdiri di depannya. Dan berkata,

"Kak Vandra... akhirnya datang juga."

Namun malam ini hal itu tak terjadi.

"Silakan duduk," ujar Bram.

Vandra kembali duduk.

Sementara Levia melepaskan pelukan di lengan ayahnya, lalu memilih duduk di sisi Bram.

Sebuah meja menjadi pembatas di antara dirinya dan Vandra.

Vandra mengerutkan dahi tipis. Biasanya, wanita itu akan langsung mengambil tempat di sampingnya tanpa diminta. Duduk sangat dekat, memeluk lengannya, bahkan tak jarang menyandarkan kepala di bahunya meski berkali-kali ia melepaskannya. Namun malam ini, Levia bahkan tidak berusaha mendekat.

Bram melirik putrinya sekilas. Sejak pagi tadi, perubahan-perubahan kecil terus ia lihat. Namun baru malam ini ia benar-benar yakin.

Levia tidak lagi menjadikan Vandra sebagai pusat dunianya.

Perasaan hangat perlahan memenuhi dadanya, meski ia sendiri belum mengerti apa yang menjadi penyebab perubahan itu. Dan rasanya ia hampir tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Namun, agar suasana tidak terasa canggung, ia akhirnya berdeham pelan. "Via, kok gak nyapa suamimu," tegurnya lembut.

Levia menoleh sebentar ke arah Vandra. "Malam."

Hanya itu. Bahkan nada suara itu terdengar datar, sopan, dan... terasa asing.

Vandra membalas dengan anggukan singkat. "Malam."

Entah mengapa, sikap Levia itu membuatnya sedikit terusik.

"Kenapa dia bersikap seolah sedang menerima tamu?"

Padahal, selama hampir satu tahun menikah, Vandra memang tidak pernah menganggap rumah Gultom sebagai rumah mertuanya.

Ia tak pernah sekali pun menginap di sana. Setiap datang, tujuannya selalu jelas, mengantar atau menjemput Levia atas permintaan Ratih. Atau membicarakan urusan tertentu dengan Bram Gultom. Setelah itu, ia akan segera pergi.

Karena itulah, setiap berkunjung, ia selalu menunggu di ruang tamu seperti tamu pada umumnya.

Namun malam ini, justru Levia yang memperlakukannya seperti tamu.

Tak lama kemudian, Ninis masuk membawa sebuah nampan. Di atasnya terdapat satu teko teh hangat, tiga cangkir porselen, serta sepiring kecil kue kering.

"Permisi, Pak."

Ia meletakkan nampan itu di atas meja dengan gerakan cekatan. Namun, sebelum menuangkan teh, matanya sekilas melirik ke arah sofa.

Levia tetap duduk di sisi Bram tanpa sedikit pun berusaha mendekati Vandra.

Alis Ninis bertaut. "Biasanya, Levia bakal sibuk nyari perhatian pria itu. Malam ini justru seolah menjaga jarak. Apa benar Levia berubah... atau dia cuma sedang memainkan sandiwara baru?"

Meski dipenuhi tanda tanya, Ninis tetap memasang senyum ramah. Ia menuangkan teh ke dalam ketiga cangkir satu per satu.

"Silakan diminum."

Bram mengangguk pelan. "Terima kasih, Nis."

"Sama-sama, Pak."

Ninis menundukkan kepala dengan sopan, lalu melangkah mundur beberapa langkah sebelum berbalik meninggalkan ruang tamu.

Sesaat sebelum pintu tertutup, ia kembali melirik Levia. Tatapannya semakin dalam.

"Aku harus cari tahu apa yang sebenarnya terjadi padamu, Levia."

Setelah Ninis pergi, keheningan memenuhi ruangan.

Entah kenapa, suasana itu justru membuat Vandra merasa tidak nyaman.

Biasanya ia selalu kesal karena Levia terlalu banyak bicara. Sekarang ketika wanita itu benar-benar diam, rasanya justru aneh.

Tatapan Vandra tanpa sadar kembali mengarah pada Levia. Wanita itu sama sekali tidak melihat ke arahnya. Sebaliknya, Levia sedang mengambil cangkir teh untuk Bram.

"Yah, tehnya."

"Terima kasih, Via Sayang." Bibir Gultom melengkung ke atas saat menerima cangkir itu.

"Sama-sama." Levia tersenyum tulus.

Setelah itu Levia kembali duduk dengan tenang. Tak ada usaha membuka percakapan dengannya. Tak ada pertanyaan tentang pekerjaannya. Tak ada rengekan agar ia segera pulang bersama.

Tak ada apa-apa.

"Apa dia masih marah karena kejadian kemarin?" pikir Vandra. "Apa kata-kataku kemarin keterlaluan?" Namun ia segera menghapus pikiran itu. "Bagus kalau begitu. Berarti urusannya bakal jadi lebih mudah."

Meski begitu, entah mengapa ada sesuatu yang terasa mengganjal. Wanita yang selama bertahun-tahun selalu berputar mengelilinginya, kini bahkan tidak terlihat tertarik menatapnya lebih dari beberapa detik.

Perubahan itu terlalu mendadak. Dan untuk pertama kalinya, Vandra merasa seperti sedang berhadapan dengan orang yang berbeda.

Vandra akhirnya membuka map cokelat yang sejak tadi dibawanya.

"Aku datang bukan buat jemput Levia."

Kalimat itu membuat Bram dan Levia sama-sama menatapnya.

Vandra mengeluarkan selembar surat berkop resmi, lalu meletakkannya di atas meja.

"Aku dapat penugasan sebagai Satgas Misi Perdamaian PBB."

Bram sedikit terkejut. "Satgas perdamaian?"

"Iya." Vandra mengangguk pelan. "Penugasannya sekitar satu tahun."

Vandra mengira Levia akan langsung panik seperti dulu.

Biasanya, baru mendengar kata pergi saja wanita itu sudah menangis dan memohon agar ia tidak berangkat. Namun kali ini tak ada suara.

Levia hanya berkedip beberapa kali. "Satu tahun?"

Jantung Vivian justru berdebar karena gembira. "Serius? Aku gak bakal ketemu manusia kutup ini selama setahun?"

Di dalam hati, rasanya ia ingin mengangkat kedua tangan ke langit. "Ya Tuhan... ini kabar paling bagus sejak aku jadi Levia!"

Satu tahun. Tiga ratus enam puluh lima hari. Lebih dari cukup untuk menurunkan berat badan, memperbaiki kesehatan, membangun karier sebagai desainer, dan menjauh dari semua kekacauan yang diwariskan Levia.

Susah payah ia menahan senyum agar tidak terlihat terlalu bahagianya.

Di sisi lain, Bram juga sedang berusaha menjaga ekspresinya. Awalnya ia sempat khawatir Vandra datang untuk membawa Levia pulang. Ternyata... pria itu justru akan pergi selama satu tahun.

"Berarti Via bisa tetap di rumah..."

Sudut bibir Bram hampir terangkat. Ia buru-buru meneguk teh untuk menyembunyikan senyum yang nyaris lolos.

"Selamat ya, Vandra," ucapnya setenang mungkin. "Itu penugasan yang membanggakan."

"Terima kasih, Yah."

Vandra kembali menoleh kepada Levia. Ia menunggu. Satu detik. Dua detik. Tiga detik.

Tetap tidak ada tangisan. Tidak ada pertanyaan seperti, 'Kapan pulangnya?'

Tidak ada rengekan agar dirinya membatalkan keberangkatan. Yang terdengar justru...

 

...✨"Orang yang dulu mati-matian ingin mempertahankanmu, suatu hari bisa menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat jalan tanpa ragu."✨...

.

To be continued

1
Uthie
selalu dibikin nagih terus baca kisah cerita mereka 😁👍👍
Ass Yfa
ya ampun..nyesek bngt..pulang jerumah istri yg buka pintu orang luar...maksutnya gimana..kalo Vandra nggk bisa mengelola emosi jelas mencak2,,,Via juga buasa aja...dia bukan Levia...mssalahnya dia Viviana..jadi rasa cinta iti tak pernah ada😭😭
Ass Yfa
ribet bngt sih Van..cintamu
Ass Yfa
kenapa harus Risa yg nelpon...berharap Levia....harusnya tiap kali Risa nrlpon tdk usah diangjt diabaikan saja...ters meners ngasih harapan ke Risa...Vandra sendiri tdk tegas
Anitha
Van jangan biarkan Levia tanda tangan surat cerai itu, ayo kamu ngomong jangan kelu gitu di depan Via...buktikan kalo kamu mesih mencintai Levia dan menginginkannya💪
mery harwati
Ini minum kopi online dulu lah pagi², agar kalian (Vandra, Andri & Levia) gak salah paham lagi, apapun akhir cerita ini, mau berpisah baik² mencari pasangan hidup masing² silahkan, mau dilanjut sebagai suami istri terserah, karena author yang punya alur ceritanya 😍
Wardi's
beuh berat vandra... berat..., hayo loh mau jawab apa .. mo ngomong apa..., jangan malu., akuin aja klo kamu mau batalin perceraian itu...
mery harwati
Sengaja alurnya dibuat Andri yang buka pintu saat Vandra berkunjung ke rumah Pak Gultom mertua Vandra, padahal ada Bu Sari ART di rumah Pak Gultom 😀
Apa iya Andri Mahesa sebagai tamu sekaligus rekan bisnis Brenda malah yang membukakan pintu saat ada tamu di rumah Pak Gultom? Sedangkan posisi Andri sendiri juga tamu 😂
Dan Pak Gultom sebagai tuan rumah tidak memperkenalkan Andri pada Vandra, kesannya dibuat agar salah paham antara Vandra, Andri & Levia 🤭
Anitha
setahun bertugas dan baru pulang ingin menemui istrinya,dan sampai rumah di sambut dengan adanya Andri yang nginep du rumah Levia...

panggilan kak Andri membuat Vandra membeku😄
Wardi's
pasti nyess bgt rasanya ya vandra.., yg sabar ya., anggap aja ujian atas perbuatanmu selama ini.. msh berhubungan sama risa pdhl blm cerai..
Wardi's
omegat gmn tuh rasanya vandra..., disaat sdh mulai menerima levia., tp ada pria lain yg nginap dirumahnya .
aku
terkesan plin plan. kmren bandingin sm si onoh yg bergelar dokter. klo skrg d blg ke via jd mkirnya org pasti krn via lbh sukses. 😌
Wardi's
nah loh.... pagi2 vandra d kejutkan ada andri nginep d rumah levia...
Anitha
kejutan untuk Vandra di saat pulang ke rumah Levia di sambut dengsn adanya Andrii yang nginep di rumah Levia...kamu jangan salah paham dulu ya Van..bersikaplah dengan bijak
asih
gimana reaksi vandra Nanti ketika DIA datang ke rumah via dan ternyata disana Ada andri hahaha
Ma Em
Apakah Levia akan kembali pada Vandra atau berjodoh dgn Andri Mahesa .
Kadek Sri
wah Vandra akan bertemu Levia
Puji Hastuti
jeng jeng jeng
Dokkan Battle
Fiks sakit mental mereka berdua
Karo Karo
dan akupun menyukai lagunya sperti kisah ku dan cerita ini pun sprti kisahku ketikan kita sdh berhenti berharap 😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!