SALAHKAN AKU MENCINTAIMU
Sinopsis
Pernikahan kedua orang tua mereka tidak hanya menyatukan dua kepala, tetapi juga menyematkan status baru bagi Devan dan Aluna: saudara tiri.
Tinggal di bawah satu atap yang sama membuat mereka tidak pernah benar-benar bisa saling menghindari. Di sekolah, mereka mengikat janji untuk bersikap layaknya kakak-adik biasa—canggung, berjarak, dan sewajarnya. Namun, di balik dinding rumah yang sunyi, perhatian-perhatian kecil Devan, tatapan mata yang tertahan, dan rasa nyaman yang tumbuh mendalam perlahan berubah menjadi perasaan yang tak seharusnya ada.
Di antara seragam putih-abu, riuk pikuk koridor sekolah, dan keheningan malam di dalam rumah, Devan dan Aluna terjebak dalam dilema cinta pertama yang paling rumit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: PERTEMUAN PERTAMA DI RUMAH BARU
Aroma cat tembok yang masih segar bercampur dengan wangi kayu jati lantai dua menyambut langkah kaki Aluna saat ia melangkah melintasi ambang pintu utama rumah berlantai dua tersebut. Udara sore di luar tampak mendung pekat, memancarkan bias cahaya remang yang menembus kaca-kaca jendela tinggi di ruang tamu. Hari ini adalah hari pertama Aluna dan ibunya resmi pindah ke kediaman megah milik Ayah Danu—pria paruh baya berwibawa yang dua minggu lalu resmi menikahi ibunya.
Aluna memegang erat tali tas punggungnya. Jemari mungilnya dingin, menghantarkan getaran cemas yang tak kunjung mereda sejak mobil travel yang membawanya berhenti di pelataran. Bagi seorang gadis berusia lima belas tahun yang terbiasa hidup tenang di rumah kontrakan kecil, kemewahan rumah ini terasa amat asing dan menghimpit.
"Aluna, ayo masuk, Nak. Jangan berdiri di pintu begitu," tegur Ibu lembut seraya mengusap bahunya, mencoba mencairkan kekakuan putrinya.
Ayah Danu tersenyum hangat dari arah ruang keluarga. "Anggap saja rumah sendiri, Aluna. Kamarmu di lantai atas, persis di sebelah kamar Devan."
Nama itu mendadak membuat dada Aluna berdesir aneh. Devan. Putra tunggal Ayah Danu yang berjarak dua tahun lebih tua darinya—sosok yang selama proses pernikahan orang tua mereka hanya Aluna lihat lewat foto di meja kerja Ayah Danu. Seorang siswa kelas dua belas di SMA Garuda yang terkenal berprestasi, dingin, dan sulit didekati.
Tap... tap... tap.
Suara derap langkah kaki berirama konstan dari arah tangga melingkar memecah keheningan ruang tamu. Aluna refleks mendongak.
Seorang remaja laki-laki berpostur tegap dan tinggi melangkah turun menyusuri anak tangga satu per satu. Ia mengenakan kaus polos hitam santai dan celana panjang gelap. Rambut hitamnya yang sedikit berantakan membingkai paras tampannya yang tegas. Namun, yang paling menyita perhatian Aluna adalah sepasang iris mata cokelat gelap milik cowok itu—tajam, dingin, dan seolah sanggup menembus titik tersembunyi dari pikiran siapa pun yang ditatapnya.
"Devan, sini," panggil Ayah Danu melambaikan tangan. "Ini Tante Rina dan adik barumu, Aluna."
Devan menghentikan langkahnya tepat di anak tangga terakhir. Matanya menyapu keberadaan Ibu sejenak, memberikan anggukan sopan yang amat formal, sebelum akhirnya mengunci pandangannya lurus-lurus pada Aluna.
Tatapannya yang intens membuat darah di tubuh Aluna mendesir dingin seketika. Aluna menundukkan kepalanya, mencoba melarikan diri dari intimidasi tak kasatmata yang dipancarkan oleh kakak tirinya.
Devan memangkas jarak di antara mereka tanpa menimbulkan suara berarti. Udara di sekitar Aluna mendadak terasa makin pekat saat aroma kayu cendana yang maskulin dari tubuh Devan menyergap seluruh inderanya. Devan berhenti persis di depan Aluna, menghalangi pendar cahaya lampu gantung dengan perawakan tubuhnya yang menjulang.
"Devan," ucap pria itu singkat. Suaranya terdengar begitu rendah, serak, dan penuh ketegasan mutlak.
"A-Aluna..." cicit Aluna sangat pelan, memberanikan diri mendongak sedikit untuk membalas uluran tangan Devan.
Saat jemari mungil Aluna menyentuh telapak tangan Devan yang lebar dan hangat, Devan tidak langsung melepaskannya. Pria itu justru menggenggamnya sedikit lebih erat, menyalurkan kehangatan yang kontras dengan raut wajahnya yang tanpa ekspresi. Tatapan matanya yang tajam meneliti garis wajah Aluna dari jarak yang amat dekat—seseorang yang baru saja menandai wilayah barunya.
"Selamat datang di rumah," bisik Devan pelan, cukup rendah hingga hanya Aluna yang mampu menangkap intonasi ganjil di balik kata-katanya.
Aluna menarik tangannya dengan napas tertahan, jantungnya berdegup gila-gilaan di dalam dada. Ia bisa merasakan secara naluriah bahwa kehidupan barunya di bawah atap rumah ini tidak akan pernah berjalan dengan sederhana.