Kael Dravenhart, Pahlawan Perang Kerajaan Valdoria, menagih janji pernikahan dari sang Raja. Ia mengira akan menikahi sang putri tercantik, Liana. Namun, takdir berkata lain ketika Raja memberikannya Virelia; sang putri pertama yang terkenal gila, kasar, dan suka melempar vas ke kepala orang.
Kael mengira rumah tangganya akan menjadi neraka karena harus mengurus istri yang gemar berteriak, menyuruhnya memanjat bulan. Ia tidak tahu bahwa di balik tawa kosong dan lemparan garpunya, sang istri adalah Raven, ketua pembunuh bayaran paling berbahaya sekaligus pemimpin revolusi yang bersumpah untuk menggulingkan sang Raja tiran!
Ketika komedi pernikahan paksa berpadu dengan aksi pembunuhan berantai dan rahasia istana, sang Serigala Perang harus memilih: melaporkan istrinya ke istana, atau ikut membantu sang ratu bayangan menjungkirbalikkan takhta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19. PANIK
Suara derap sepatu bot berlapis baja menghantam lantai marmer Aula Utama Kediaman Duke Dravenhart dengan kecepatan yang tidak biasa. Jam menunjukkan pukul tiga pagi, waktu di mana seluruh sudut puri seharusnya tenggelam dalam keheningan total.
Namun malam ini, kedamaian itu hancur berkeping-keping.
Di dalam dekapannya, Kael membawa tubuh Virelia yang terkulai lemas. Pakaian hitam sang ketua pembunuh bayaran compang-camping di beberapa bagian, dan noda darah segar yang pekat merembes keluar dari luka tusukan di sisi perut kiri gadis itu, menetes perlahan meninggalkan jejak merah di sepanjang lantai marmer koridor. Wajah Virelia sepucat kertas, bibirnya mulai membiru, dan tubuhnya terasa sangat dingin di dalam pelukan sang suami.
"Buka pintunya! Cepat!" teriak Kael dengan suara menggelegar yang memecah kesunyian malam, suaranya sarat akan kepanikan murni dan kemarahan yang membakar.
Beberapa pelayan jaga yang mendengar teriakan itu langsung berlari keluar dari lorong. Begitu melihat Duke Kael menggendong sang istri bersimbah darah, wajah para pelayan langsung memucat pasi.
"Y-Yang Mulia Duke!" pekik salah satu pelayan wanita histeris.
"Panggil tabib istana sekarang juga! Siapkan air hangat, kain bersih, dan ramuan penawar racun terkuat di ruang obat! Cepat bergerak atau kubunuh kalian semua hari ini!" bentak Kael murka, matanya memerah menatap tajam para pelayan di hadapannya.
Panik yang luar biasa seketika melanda seluruh isi puri. Para pelayan berlari kesana-kemari membawa peralatan medis, sementara Kael terus melangkah lebar menuju kamar utamanya, membawa Virelia yang telah kehilangan kesadaran sepenuhnya.
Tepat saat Kael hendak merebahkan tubuh istrinya di atas ranjang, Julian menyusul masuk ke dalam kamar dengan napas tersengal-sengal. Sang ajudan baru saja tiba di puri setelah menerima laporan darurat dari salah satu anggota pasukan elit bayangan yang membuntuti pergerakan Virelia dari kejauhan.
Wajah Julian tampak sama tegangnya dengan Kael. Sebagai orang yang paling tahu rahasia besar Virelia, Julian langsung mengerti betapa gawatnya situasi ini.
"Yang Mulia, pasukan bayangan kita baru saja memberikan laporan lengkap. Sekelompok pembunuh bayaran elit menyergap Yang Mulia Duchess di pelabuhan sungai barat ternyata mereka dikirim secara langsung oleh faksi rahasia Raja Lucien," lapor Julian dengan suara terengah-engah namun tegas, berdiri di sisi ranjang.
Mendengar nama Raja Lucien disebut sebagai dalang di balik penderitaan istrinya, rahang Kael mengeras begitu hebat hingga otot-otot di wajahnya berkedut. Kilatan amarah yang mematikan terpancar dari sepasang mata birunya.
"Raja tua keparat, berani sekali dia menyentuh istriku di wilayah kekuasaanku!" desis Kael penuh kebencian, suaranya bagaikan lolongan serigala lapar yang siap merobek mangsanya.
"Kita harus bergerak cepat, Yang Mulia. Dengar semuanya! Tidak ada satu pun dari kalian yang boleh membicarakan insiden malam ini di luar dinding puri ini! Jika ada berita tentang luka dan racun Duchess yang bocor ke telinga istana atau para bangsawan luar, kepala kalian akan menjadi jaminannya! Paham?!" seru Julian, mengambil alih komando darurat untuk menenangkan kekacauan di puri.
Julian menoleh ke arah para pelayan yang mulai berkerumun di ambang pintu kamar dengan wajah ketakutan.
"P-Paham, Tuan Julian!" jawab para pelayan serempak dengan suara gemetar ketakutan.
"Bagus. Sekarang bubar dan siapkan semua yang diminta tabib!" titah Julian tegas.
Di atas ranjang, Kael sudah berlutut di sisi Virelia. Pria bertubuh tegap itu mengabaikan darah yang mengotori seragam militernya. Ia meraih tangan kanan Virelia, tangan yang terasa sangat dingin seperti es. Saat ia menyentuh pergelangan tangan sang istri, Kael merasakan denyut nadinya berdetak sangat lambat dan lemah.
Kael menatap wajah pucat Virelia, sementara bibir gadis itu kini telah membiru pekat. Sebagai seorang panglima yang sering menghadapi berbagai jenis senjata dan racun di garis depan, Kael langsung mengenali gejala itu.
"Racun pelumpuh saraf ..." gumam Kael dengan suara bergetar.
Raut wajah Kael menyiratkan ketakutan yang belum pernah ia tunjukkan seumur hidupnya. Ketakutan akan kehilangan orang yang paling berharga di dunia ini.
"Virelia ... bertahanlah. Tabib sedang perjalanan ke sini," ucap Kael.
Tidak lama kemudian, pintu kamar terbuka lebar. Tabib istana yang sudah tua, ditemani oleh Elaine dan dua pelayan senior, berlari masuk membawa kotak obat besar berisi botol-botol ramuan. Elaine tampak sangat pucat, matanya berkaca-kaca menahan air mata melihat kondisi sang putri.
"Yang Mulia Duke, biarkan saya memeriksa Duchess!" seru tabib tua itu tergesa-gesa, langsung menjatuhkan diri berlutut di samping ranjang.
Kael bergeser sedikit, memberi ruang bagi sang tabib untuk bekerja, namun tangannya tetap menggenggam erat tangan kiri Virelia seolah tidak ingin melepaskannya sedetik pun.
Elaine yang berdiri di dekat kepala ranjang menutup mulutnya dengan kedua tangan, air matanya akhirnya tumpah membasahi pipinya. Ia menatap nanar ke arah gaun Virelia yang berlumuran darah.
"Y-Ya ampun, apa yang terjadi pada Yang Mulia Putri? Padahal ... padahal beberapa jam sebelum tidur tadi malam, Yang Mulia ada di kamarnya sendiri ... bagaimana bisa Yang Mulia terluka separah ini di luar puri?" isak Elaine tertahan, menatap Kael dengan pandangan penuh kebingungan dan kepedihan mendalam.
Elaine dan para pelayan pribadi lainnya tentu saja tidak tahu apa-apa tentang identitas rahasia Virelia sebagai Raven atau pemimpin kelompok revolusioner. Bagi mereka, sang Duchess adalah gadis malang yang mengalami gangguan jiwa dan tidur di kamarnya seperti biasa. Mengetahui bahwa Virelia tiba-tiba ditemukan sekarat di luar puri dengan luka tusuk dan racun membuat mereka merasa sangat terpukul dan bingung luar biasa.
Kael tidak menjawab pertanyaan Elaine. Pikirannya sepenuhnya tersita pada apa yang sedang dilakukan oleh tabib di hadapan mereka.
Tabib tua itu merobek kain pakaian di sekitar luka perut kiri Virelia untuk melihat seberapa dalam tusukan tersebut. Begitu luka itu terbuka, aroma amis darah bercampur cairan kehitaman langsung menguar. Racun pelumpuh itu telah mengubah warna kulit di sekitar luka menjadi keunguan.
"Bagaimana keadaannya, Tabib?" tanya Kael mendesak, suaranya serak menahan emosi.
Tabib itu memeriksa denyut nadi di leher Virelia, lalu membuka kelopak mata gadis itu untuk melihat reaksi pupilnya. Wajah tabib tua itu tampak sangat kelam dan penuh keringat dingin.
"Buruk, Yang Mulia Duke. Luka tusukan di perutnya cukup dalam, hampir mengenai organ vital. Tapi masalah yang jauh lebih besar adalah jenis racun pelumpuh saraf ini. Racun ini bekerja dengan cara melumpuhkan sistem pernapasan dan menghentikan peredaran darah secara perlahan," lapor tabib itu dengan suara bergetar.
Dada Kael terasa dihantam palu godam raksasa. "Lalu apa penawarnya?"
"Kita harus mengeluarkan sisa racun dari dalam darahnya secara manual, lalu meneteskan cairan penawar khusus ke dalam lukanya. Tapi proses ini sangat menyakitkan. Bahkan dalam keadaan tidak sadar, tubuhnya mungkin akan mengalami kejang. Dan yang paling mengkhawatirkan ketahanan tubuh Duchess sudah berada di ambang batas. Jika dalam waktu satu jam racun ini tidak di netralisir, jantungnya akan berhenti berdenyut," jawab tabib itu cepat, membuka botol kaca berisi cairan hijau berpendar.
Jantungnya akan berhenti berdenyut ...
Kalimat itu terngiang-ngiang di kepala Kael seperti petir di siang bolong. Pria yang tidak pernah gentar menghadapi pasukan naga es di perbatasan utara itu kini merasakan ketakutan yang sesungguhnya, ketakutan bahwa ia akan kehilangan wanita yang baru saja membuka pintu hatinya.
"Lakukan sekarang! Gunakan seluruh obat terbaik di Valdoria! Selamatkan istriku, atau kubakar habis seluruh fasilitas tabib istana!" perintah Kael mutlak, suaranya bergetar keras.
"B-Baik, Yang Mulia!" jawab tabib tua itu panik, langsung mengambil pisau bedah kecil dan mangkuk ramuan.
Julian maju selangkah, meletakkan tangan di pundak Kael untuk memberikan ketenangan, meski Julian sendiri tampak sama tegangnya.
"Tenangkan diri Anda, Yang Mulia. Tabib akan melakukan yang terbaik. Kita harus percaya pada Duchess, Beliau adalah wanita yang sangat kuat," ujar Julian.
Kael tidak menjawab. Ia kembali menggenggam tangan Virelia yang sedingin es, mendekatkan telapak tangan gadis itu ke bibirnya, lalu mengecupnya lembut dengan mata terpejam rapat.
Virelia, kumohon bertahanlah. Kau boleh terus berpura-pura gila seumur hidup, asal kau bertahan dan hidup, batin Kael penuh kepedihan.
menjadikan aku lebih tegar dan terlihat serba bisa .
siapapun yg selalu didorong kepinggir jurang setiap saat,pastinya mekanisme perlindungan diri nya lebih aktif 🥹🥹
" menjadi seorang perempuan harus serba bisa
bahkan ketika kita memakai gaun yg cantik,kita harus bisa berdiri tegak di dalam sebuah pertempuran."
ratu awan lu
Elaine mana?
syok ga liat boneka Barbie nya bisa begitu🤣🤣🤨
sweet banget si mereka😍😍
dah kayak Mak Mak komplek
pas bgt itu🤣🤣
ga usah malu
bangga donk ah
ajaran siapa itu🤣🤣🤣
gara gara siapa tu woiiii🫣🤣🤣🤣
lama lama virusnya akan kah nyampe ke Julian???🤨
othor.....tolong
kok lebih menjiwai mereka si
aku jadinya percaya sama siapa???
🫣🤣🤣🤣🤣