Indonesia
NovelToon NovelToon
DUA SAHABAT DAN BAYI MISTERIUS

DUA SAHABAT DAN BAYI MISTERIUS

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Penyelamat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Yeni Sri Wahyuni

Reyga membenci aturan ayahnya. Berry membenci cinta karena perceraian orang tuanya.

Keduanya memilih hidup bebas dengan cara masing-masing—sampai mereka menyelamatkan seorang bayi berusia sembilan bulan dari penculikan.

Tak tahu siapa orang tua bayi itu, Reyga dan Berry terpaksa merawatnya bersama.
Dua lelaki yang bahkan tak tahu cara mengganti popok itu perlahan belajar tentang tanggung jawab, pengorbanan, dan perjuangan seorang ibu.

Di saat Reyga mulai jatuh cinta pada Amelia, reporter muda yang selama ini selalu ia hindari, Berry justru dihantui masa lalu bersama Melda—perempuan polos yang pernah ia sakiti hingga harus menghadapi kehamilannya seorang diri.

Namun ketika identitas bayi mulai terungkap, mereka sadar bahwa penculikan itu bukan kebetulan.

Bayi kecil yang awalnya mereka anggap sebagai beban ternyata menjadi jalan bagi dua lelaki yang terluka untuk menemukan cinta, keluarga, dan kesempatan kedua.

Bila suka ceritanya, jangan lupa subscribe, like, komentar & votenya ❤

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12 : BERITA YANG DATANG SENDIRI

...BAB 12...

...BERITA YANG DATANG SENDIRI...

Amelia berjalan meninggalkan arena dengan langkah pelan. Tangannya masih menggenggam buku catatan yang hampir kosong.

Hari ini lagi-lagi ia gagal mendapatkan wawancara yang diinginkan. Bukan hanya gagal. Ia bahkan semakin membuat Reyga kesal.

Amelia menghela napas panjang. "Kenapa sih orang itu susah banget untuk diwawancarai?"

Ia berhenti di dekat mobilnya. Belum sempat membuka pintu, ponselnya berdering.

Nama adiknya muncul di layar. Amelia langsung mengangkat.

"Halo?"

Suara adiknya terdengar dari seberang. ["Kak..."]

Nada suara itu membuat Amelia langsung waspada. "Kenapa?"

["Uang sekolahku belum dibayar."]

Amelia terdiam. "Berapa?"

["Katanya kalau minggu ini belum dibayar, aku nggak boleh ikut ujian."]

Amelia memejamkan mata.

"Terus adikmu yang satunya?"

["Dia juga belum punya buku pelajaran yang diminta sekolah."]

Amelia menunduk. Jari-jarinya menggenggam ponsel semakin erat.

"Jadi berapa semuanya?"

Adiknya menyebutkan jumlahnya. Amelia terdiam cukup lama. Jumlah itu mungkin tidak besar bagi orang lain. Tetapi bagi dirinya, jumlah itu cukup untuk membuatnya pusing.

"Baik." Amelia berusaha tersenyum meskipun adiknya tidak bisa melihat.

"Kakak akan usahakan."

["Benar, Kak?"]

"Iya."

Setelah telepon berakhir, Amelia bersandar di mobil. Matanya mulai berkaca-kaca. Ia menatap buku catatan di tangannya.

Tidak ada berita. Tidak ada wawancara. Tidak ada bahan yang bisa membuat atasannya puas.

Padahal ia membutuhkan pekerjaan itu. Bukan hanya untuk dirinya sendiri. Ada adik-adiknya yang menunggu. Ada uang sekolah yang harus dibayar. Ada buku-buku yang harus dibeli.

Amelia mengusap sudut matanya. "Makanya aku harus tetap bertahan."

Ia menatap kembali ke arah arena. Di dalam sana, Reyga mungkin sedang mempersiapkan pertandingan besarnya.

Dan Amelia tahu, lelaki itu mungkin tidak akan pernah mengerti kenapa ia terus mengejarnya.

Bukan karena ingin mengusik kehidupannya. Bukan karena ingin mencari sensasi. Ia hanya sedang berusaha mendapatkan penghasilan.

Sama seperti Reyga yang sekarang berjuang memenangkan pertandingan demi uang.

Amelia menarik napas panjang. "Maaf, Reyga." Ia memasukkan buku catatannya ke dalam tas. "Tapi aku belum bisa menyerah."

Kemudian Amelia masuk ke dalam mobil. Mesin dinyalakan.

Sementara di dalam arena, Reyga masih sibuk mempersiapkan motornya.

Dua orang itu sama-sama sedang berjuang mendapatkan sesuatu.

Reyga berjuang mendapatkan uang untuk bertahan hidup bersama Bintang.

Amelia juga sedang berjuang mendapatkan berita untuk mempertahankan pekerjaannya dan membantu keluarganya.

*****

Sejak pagi, apartemen Berry terasa jauh lebih berantakan dari biasanya.

Botol susu berada di atas meja. Popok bersih menumpuk di sofa. Tas bayi terbuka di lantai.

Dan di tengah semua kekacauan itu, Berry berdiri sambil menggendong Bintang.

Sementara satu tangannya memegang mangkuk kecil berisi bubur.

"Ayo, Bintang. Aaaa!"

Bayi itu membuka mulut. Berry memasukkan sesendok bubur.

"Berhasil." Berry tersenyum bangga. "Bagus."

Namun baru dua detik kemudian. Bintang menyemburkan bubur itu.

Pfftt!

Sebagian mengenai dagu Berry.

Berry refleks menutup mata, dan membeku. "Kenapa selalu ke muka gue?"

Bintang malah tertawa. Berry mengusap wajahnya. "Lo senang banget kayaknya ya?"

Bintang tertawa semakin keras. Berry akhirnya ikut tertawa. "Ya sudah."

Ia mengambil tisu. "Bos kecil memang nggak bisa dilawan."

Sejak pagi Berry memang harus mengurus Bintang sendirian.

Karena Reyga sedang latihan intensif untuk pertandingan yang akan berlangsung beberapa hari lagi.

Ia harus mempersiapkan motor, fisik, dan konsentrasi.

Berry tidak ingin mengganggunya. Apalagi hadiah pertandingan itu sangat besar.

Kalau Reyga berhasil menang, setidaknya masalah keuangan mereka untuk sementara bisa teratasi.

Karena itu Berry memilih mengurus Bintang sendiri.

Namun baru beberapa jam kemudian, ia sudah hampir menyerah.

"Reyga enak." Berry memasukkan sendok ke mangkuk. "Latihan."

Lalu ia menatap Bintang. "Gue di sini jadi koki, pengasuh, tukang cuci, sama badut." keluhnya.

Bintang memukul meja dengan mainannya.

Plak plak!

Berry menghela napas. "Iya. Gue juga tahu."

*****

Di tempat lain, Amelia sedang menghadapi masalah yang jauh lebih serius.

Ia berdiri di depan meja atasannya dengan kepala tertunduk.

"Amelia, saya sudah memberi kamu waktu."

"Saya tahu, Pak."

"Tapi hasilnya?"

Amelia terdiam.

Atasannya meletakkan beberapa lembar kertas di meja. "Wawancara Reyga sebelumnya tidak lengkap."

"Saya akan coba lagi."

"Sudah berapa kali?"

Amelia menelan ludah. "Beberapa kali."

"Dan hasilnya?"

"Dia menolak."

Atasannya menghela napas. "Kamu reporter. Kalau satu narasumber menolak, ya cari cara."

Amelia mengepalkan tangannya. "Saya sudah mencobanya Pak."

"Kalau begitu coba lebih keras lagi."

Amelia hanya mengangguk. "Baik, Pak."

"Dan saya ingin bahan sebelum besok."

"Baik."

Amelia keluar dari ruangan itu dengan langkah berat.

Ponselnya bergetar. Pesan dari adiknya kembali masuk.

Kak, jangan lupa uang sekolah.

Amelia memejamkan mata. Ia memasukkan ponsel ke dalam tas.

"Hari ini aku harus dapat berita." Ia menarik napas.

Hari masih panjang. Menjelang sore, Amelia akhirnya meninggalkan kantor.

Namun pikirannya masih kacau. Ia berjalan melewati taman kota.

Awalnya ia hanya ingin duduk sebentar. Tetapi langkahnya berhenti ketika melihat seseorang yang sangat dikenalnya.

"Berry."

Lelaki itu duduk di bangku taman sambil menggendong Bintang. Di tangannya ada mangkuk bubur. Wajahnya terlihat sangat lelah.

"Kenapa mulutnya nggak mau buka?" Berry membujuk bayi itu. "Ayo Bintang..."

Bintang justru memalingkan wajah. Berry mengikuti. Bintang kembali memalingkan wajah. Berry mulai frustrasi.

"Ini mulut, bukan pintu otomatis." kesalnya.

Amelia tanpa sadar tersenyum.

Kemudian Berry mencoba lagi. Bintang akhirnya membuka mulut.

Berry memasukkan bubur. Namun ketika menarik sendok. Bintang justru menarik tangannya.

Bubur tumpah ke baju Berry.nBerry menatap bajunya. "Astaga..."

Amelia akhirnya mendekat. "Kamu sedang kesulitan?"

Berry menoleh. Ia langsung mengenali Amelia.

"Lo?"

"Iya."

Berry menghela napas. "Jangan bilang mau wawancara."

Amelia tertawa kecil. "Tidak."

Berry terlihat lega. "Syukurlah."

Amelia menunjuk mangkuk. "Biar saya bantu."

Berry menatapnya curiga. "Emang lo bisa?"

"Sedikit."

Berry menyerahkan sendok. "Kalau dia muntah, lo yang tanggung jawab."

Amelia tertawa. "Baik." Amelia duduk di sebelahnya. Ia menggendong Bintang dengan hati-hati.

Kemudian menyuapkan bubur sedikit demi sedikit. Anehnya...

Bintang langsung membuka mulut. Berry melongo. "Lho?"

Amelia tersenyum. "Pelan-pelan."

Sendok kedua masuk. Bintang makan lagi.

Berry menatap tidak percaya.

"Kenapa sama lo mau?"

Amelia tersenyum. "Mungkin karena saya nggak ngomel-ngomel."

Berry mendengus. "Gue juga nggak ngomel."

Amelia menatap bajunya. "Bajumu bilang sebaliknya."

Berry melihat noda bubur. "Ya sudah." Untuk pertama kalinya hari itu, Berry tertawa.

Mereka akhirnya menyuapi Bintang bersama-sama.

"Reyga nggak ikut?" Amelia bertanya tanpa terlihat terlalu penasaran.

Berry menggeleng. "Dia latihan."

"Untuk pertandingan?"

"Iya."

Amelia terdiam sambil mengusap kepala Bintang di depannya, yang sedang duduk di taman dengan alas tikar, dia tidak mengeluarkan buku catatan.

Namun Berry justru melanjutkan. "Dia latihan gila-gilaan."

Amelia menoleh. "Kenapa?"

"Karena hadiah pertandingannya sangat besar."

"Seberapa besar?"

Berry menyebutkan nominalnya. Amelia membelalak. "Serius?"

"Iya." angguk Berry.

"Siapa sponsornya?"

Berry mengangkat bahu. "Pengusaha kaya."

"Namanya?"

Berry berpikir. "Armand Wijaya, kalau nggak salah."

Amelia langsung mengingat nama itu. "Kenapa dia mau memberikan hadiah sebesar itu?"

Berry tertawa kecil. "Katanya putrinya fans berat Reyga."

Amelia mengangkat alis. "Fans?"

"Fanatik." Berry mulai bercerita. "Gadis itu katanya sering datang ke pertandingan Reyga. Ayahnya bahkan sengaja membuat hadiah utama jadi miliaran."

Amelia terdiam. Tanpa sadar, tangannya meraih buku catatan.

Berry melihatnya. "Lo mau nyatet?"

Amelia langsung tersadar. "Ah. Maaf."

Berry tertawa. "Ambil saja."

"Serius?"

"Iya."

"Kenapa?"

Berry menatap Bintang. "Karena lo tadi sudah bantuin gue. Nyuapin Bintang."

Amelia tersenyum. "Terima kasih."

Berry mengangguk. Kemudian Amelia bertanya lagi. "Jadi... Reyga ikut pertandingan itu karena lagi butuh uang?"

Berry terdiam sebentar. "Iya. Karena fasilitasnya dibekukan ayahnya?"

Berry menatap Amelia. "Lo pasti sudah tahu soal ini kan?"

Amelia mengangguk. Berry menghela napas. "Jangan ditulis terlalu jauh."

"Saya mengerti."

"Dia nggak suka masalah keluarganya dibicarakan."

Amelia mengangguk lagi. "Saya tidak akan memaksa."

Berry memperhatikan Amelia. "Lo sebenarnya nggak seburuk yang Reyga kira."

Amelia tertawa hambar. "Sayangnya Reyga tidak berpikir begitu."

Berry tersenyum. "Dia memang keras kepala."

Amelia mengangguk. "Dan galak."

"Setuju." Mereka tertawa kecil.

Bintang tiba-tiba menguap. Berry melihat jam.

"Kayaknya dia ngantuk."

Amelia mengusap kepala Bintang lagi. "Kasihan."

Berry berdiri sambil mengambil tas bayi. "Terima kasih sudah bantu."

"Sama-sama." Amelia kemudian menatap Bintang. "Jaga dia baik-baik."

Berry mengangguk. "Kami akan coba."

Amelia tersenyum. Ia mendapatkan sesuatu yang tidak pernah berhasil ia dapatkan dari Reyga.

Berita.

Namun kali ini, berita itu datang bukan karena ia memaksa. Melainkan karena ia membantu.

Ia membuka buku catatan. Menatap tulisan-tulisannya.

Untuk pertama kalinya hari itu, wajah Amelia sedikit lega. Setidaknya ia punya bahan untuk dibawa ke kantornya.

Sementara Berry berjalan meninggalkan taman sambil menggendong Bintang.

Bersambung...

Lanjut kan gakk? Tinggalkan like dan komennya terus yaa... 🫶🫶🫶😍

1
Lisa
Wah Bintang dapat dikenali org³ nih..moga aj g ada yg ngaku sbg ortunya..
Lisa
Alessia akhirnya tau tuh klo Reyga suka sama Amel
Kam1la
apa yang akan terjadi setelahnya...
Kam1la
Alesia kebakaran jenggot
Lisa
Oo jadi Darmawan mengira Bintang adalah anak dr Reyga & Amel..kalian harus lebih berhati²
Lisa
Aneh banget si Darmawan ini..ditanya alasannya menculik Amel dia g mau mengatakannya..
Kam1la
lanjutkan kak...
Kam1la
dobrak aja pintunya...💪
Lisa
Reyga harus menjelaskan pd papanya tentang hubungannya dgn Amel.
Lisa
ya nih ayo Reyga cpt cari Amel
Lisa
Ya tuh pasti papanya Reyga yg nyulik Amel..ayo Reyga cpt temukan Amel.
Kam1la
mulai naik nih tensi ketegangan dalam keluarga. Dermawan semoga sadar ya, dengan pemaksaan justru semakin membuat Reyga menjauhinya
Kam1la
lapor polisi.... ! atau cari tahu lewat CCTV 🤭
Kam1la
mulai deg-degan ini, mau diapain ya Amelia....ini ulah nya papanya Reyga
Kam1la
honey....!! panggilan yang so sweet
Kam1la
seru banget.... sekarang 1 apartemen dihuni banyak orang dan penuh kegembiraan
Mita Paramita
semoga hubungan mereka direstui keluarga masing-masing 😍
Mita Paramita
lanjut Thor 😈😈😈
Kayla Rane: siaaP ❤️😍
total 1 replies
Lisa
Lanjut donk Kak..makin seru aj nih..😊
Lisa
Ceritanya menarik banget 👍👍
Kayla Rane: terimakasih Kak Lisaaa❤️❤️❤️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!