Indonesia
NovelToon NovelToon
Dua Tahun Jadi Janda Bersuami, Kini Aku Istri Sang Mayor

Dua Tahun Jadi Janda Bersuami, Kini Aku Istri Sang Mayor

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Penyesalan Suami / Menikahi tentara / Mandul
Popularitas:267
Nilai: 5
Nama Author: Vyrkon

Dua tahun hidup seperti janda meski masih bersuami, Larasati terus dihina mandul oleh keluarga suaminya. Sampai sebuah kecelakaan membangkitkan ingatannya: ia hanyalah istri karbitan dalam sebuah novel, tokoh malang yang ditakdirkan mati agar Rendra dan selingkuhannya hidup bahagia.
Kali ini Laras menolak menjadi korban. Ia menuntut cerai, merebut kembali harga dirinya, lalu menerima lamaran Mayor Bramantyo Adiningrat, perwira dingin yang juga dikabarkan tak bisa punya keturunan.
Pernikahan mereka seharusnya hanya sebuah kesepakatan. Namun sang Mayor perlahan menjadi lelaki yang selalu berdiri di depannya saat bahaya datang. Dengan keahlian sebagai dokter hewan dan mimpi yang dapat menunjukkan masa depan, Laras membangun hidup baru, menaklukkan wabah, dan membungkam setiap orang yang pernah merendahkannya.
Semua orang menertawakan pernikahan dua manusia yang dianggap mandul. Mereka tidak tahu bahwa satu rahasia akan segera terungkap: Laras bukanlah sumber masalah dalam pernikahan pertamanya.
Dan ketika tes itu menunjukkan dua garis, siapa sebenarnya yang akan menjadi bahan tertawaan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 25

Bab 25: Sebelum Badai

Dua bahaya itu belum menunjukkan bentuknya, tetapi Laras tidak berniat menunggu.

Pagi berikutnya, ia tiba di peternakan sebelum pekerja menggiring ternak keluar. Angin semalam telah menjatuhkan beberapa cabang. Sapi di kandang timur berdiri bergerombol, sementara ayam lebih cepat masuk ke sudut tertutup meski matahari sudah terbit.

"Tekanan udara berubah," kata Pak Yohanes. "Burung liar juga terbang rendah sejak subuh."

Laras memeriksa palung air. Penguapan hari sebelumnya lebih tinggi dari hitungan. Tanah di sekitar sumur kedua retak, dan debit pompa turun hampir seperlima dalam tiga hari.

Ia membuka kembali tabel risiko. Data resmi memprediksi angin kencang dalam beberapa hari, tetapi perilaku ternak dan keadaan tanah menunjukkan waktu yang lebih sempit.

"Hentikan penggembalaan jauh mulai siang ini," katanya. "Semua kelompok kembali sebelum sore. Periksa pengikat atap, bersihkan saluran, dan pindahkan induk bunting ke bangunan tengah."

Pak Sutrisno tidak lagi bertanya apakah Laras yakin. "Saya kerahkan semua pekerja."

Wati mencatat kebutuhan obat dan cairan. Santi menghitung lampu darurat, baterai, serta jumlah wadah air. Pak Yohanes mengirim dua orang memeriksa jalan masuk agar kendaraan tidak terjebak jika hujan mendadak mengubah debu menjadi lumpur.

Laras lalu pergi ke Puskeswan. Drh. Hutomo telah menerima tiga laporan kambing batuk akibat debu dan satu kasus sapi terluka karena berebut air.

"Kalau badai datang, telepon mungkin putus," kata Laras. "Kita perlu membagi wilayah jaga dan menempatkan tas darurat di kendaraan sebelum jalan rusak."

Drh. Hutomo menyetujui. Wati bertugas mendampingi Laras di peternakan, sementara petugas lain memegang desa utara dan selatan. Daftar nomor pemilik ternak dicetak, bukan hanya disimpan di ponsel.

Laras juga meminta setiap kendaraan membawa air bersih, sarung tangan, kain penahan perdarahan, obat dasar, dan senter. Ia menolak memasukkan semua obat ke satu mobil. Jika satu jalan terputus, persediaan harus tetap tersedia di wilayah lain.

"Kita belum tahu apakah peringatannya akan menjadi badai besar," kata salah satu petugas.

"Benar. Karena itu kita menyiapkan kebutuhan yang tetap berguna meski bencana tidak terjadi. Air dan obat tidak akan terbuang. Daftar kontak bisa dipakai untuk kunjungan biasa. Persiapan bukan kepanikan."

Drh. Hutomo menunjuk kalimat itu di papan. "Semua orang dengar? Kita bekerja berdasarkan risiko, bukan ketakutan."

Kembali di peternakan, Laras mengadakan simulasi singkat. Ketika peluit dibunyikan dua kali, pekerja harus menutup pintu luar dan menggiring kelompok merah ke bangunan tengah. Tiga kali berarti atap atau pagar rusak, sehingga tak seorang pun boleh berdiri di bawah seng yang terangkat. Setiap orang diberi pasangan agar tidak bekerja sendirian saat listrik padam.

Percobaan pertama kacau. Dua kambing berbalik arah, seorang pekerja lupa membuka jalur samping, dan lampu cadangan tersimpan di lemari terkunci. Laras tidak memarahi mereka. Ia mengulang dari awal sampai waktu pemindahan berkurang separuh.

"Bencana tidak menunggu kita membaca catatan," katanya. "Tubuh harus mengingat urutannya."

Pak Yohanes memindahkan lampu ke tempat terbuka. Pak Sutrisno membagikan kunci gudang kepada dua penanggung jawab berbeda. Menjelang petang, kesalahan kecil yang bisa membunuh ternak telah ditemukan sebelum badai mengujinya.

Menjelang sore, kesiapan dua tempat itu mulai terlihat. Namun di bagian kota lain, orang-orang yang mempercayai ingatan Vania justru melakukan sebaliknya.

"Tidak usah membeli beras atau pakan tambahan," kata Vania kepada Bu Marni. "Badai lokal paling cuma hujan satu malam. Tahun ini kemarau panjang, tetapi tidak ada bencana besar. Harga akan turun lagi."

Bu Marni memandang rak dapur yang hampir kosong. Uang mereka menipis sejak Rendra berhenti menerima pasien. Ia ingin membeli persediaan, tetapi Vania berbicara dengan keyakinan orang yang merasa pernah melihat masa depan.

"Kamu yakin? Bu Endah bilang kompleks harus menyiapkan makanan tiga hari."

"Mereka cuma ikut panik karena Laras. Dia sengaja membesar-besarkan cuaca supaya kelihatan hebat."

Bu Marni akhirnya menyimpan uangnya. Ia bahkan menelepon kerabat agar tidak ikut memborong barang.

Di kamar, Rendra tidak peduli pada peringatan cuaca. Ia sedang membaca kembali perkataan Laras tentang laporan kesuburan. Kata-kata itu membuat keringat dingin muncul di tengkuknya.

Bertahun-tahun lalu, sebelum menikah, ia sudah tahu ada kelainan pada tubuhnya. Pemeriksaan pribadi menunjukkan peluangnya menjadi ayah hampir tidak ada. Sebagai dokter, ia memahami hasil itu. Sebagai lelaki yang membangun harga diri dari kekaguman orang lain, ia menolaknya.

Ketika dua tahun pernikahan berlalu tanpa anak, ia membiarkan Bu Marni menyalahkan Laras. Ia mengubah susunan laporan, menyembunyikan halaman pemeriksaan dirinya, dan membuat seolah-olah tubuh istrinya yang bermasalah. Kebohongan itu lebih mudah daripada mengakui kekurangan sendiri.

Kini Laras mulai melihat celahnya.

Rendra menutup map lama dan menguncinya di lemari. Ia tidak tahu bahwa pembaca kisah mereka telah melihat kebenaran yang masih disembunyikannya dari semua orang.

Vania berdiri di ambang pintu dan melihat kunci itu masuk ke saku Rendra. "Apa yang kamu sembunyikan?"

"Dokumen pasien. Bukan urusanmu."

"Kamu sedang tidak menangani pasien."

Rendra membanting pintu lemari. "Lebih baik pikirkan bagaimana memperbaiki peringatanmu di tempat kerja. Jangan ikut campur urusanku."

Mereka saling menatap dengan kecurigaan yang sama. Pernikahan yang dibangun dari pengkhianatan mulai berubah menjadi rumah tempat masing-masing orang mengunci rahasia dari pasangannya.

Malam turun lebih cepat. Laras pulang membawa salinan stok peternakan dan peta jalur desa. Bram sedang memasang papan tambahan pada jendela belakang agar tidak dibanting angin.

"Petugas cuaca menaikkan peringatan," katanya. "Kesatuan juga bersiap membantu bila ada pohon tumbang."

"Di peternakan, ternak sudah berubah perilaku. Ajag dan burung bergerak mendekati permukiman. Sumur turun terlalu cepat."

Laras duduk di lantai dan menyusun daftar. Air minum dipisahkan dari air pembersih. Pakan harus diangkat dari lantai dan ditutup terpal. Atap diikat silang dengan kawat. Saluran di sekitar kandang dibuka, karena tanah keras dapat membuat hujan singkat berubah menjadi arus deras. Hewan lemah dan bunting dipindah ke bangunan paling kokoh.

Bram membaca daftar itu. "Berapa lama untuk menyelesaikan semuanya?"

"Kalau pekerja mulai sekarang, sampai menjelang subuh."

"Aku antar."

"Kamu sudah seharian bekerja."

"Dan kamu akan pergi tanpa melihat jam kalau tidak ada yang mengingatkan makan."

Laras hendak membantah, tetapi suara benda logam jatuh terdengar dari halaman. Angin baru saja menerbangkan ember kosong hingga membentur pagar.

Ia keluar bersama Bram. Langit di barat tidak gelap seperti hujan biasa. Warnanya merah kusam, tertutup lapisan debu yang bergerak rendah. Udara terasa pengap, lalu mendadak dingin di permukaan kulit.

Seekor burung melintas cepat menuju kota. Dari kejauhan, anjing-anjing mulai menggonggong tanpa putus.

Dada Laras mengencang. Potongan suara, lumpur, dan seng terlepas melintas singkat di benaknya seperti sisa mimpi yang belum lengkap. Ia tidak bisa memastikan seberapa parah bencana itu, tetapi ia tahu waktu mereka habis.

Laras menggenggam daftar persiapan dan menatap Bram.

"Bukan besok," katanya. "Badai itu datang malam ini."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!