Indonesia
NovelToon NovelToon
SISTEM PEWARIS TABIB SAKTI

SISTEM PEWARIS TABIB SAKTI

Status: tamat
Genre:Sistem / Penyelamat / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:45.6k
Nilai: 5
Nama Author: Cherlly

Genta, pemuda udik dari gunung dengan kemampuan medis legendaris, turun ke kota metropolitan untuk menikahi Kiara Prameswari, CEO cantik dan dingin dari keluarga konglomerat, sesuai wasiat gurunya. Alih-alih sambutan hangat, Genta justru dihina dan dianggap benalu oleh Kiara dan keluarganya yang tidak tahu bahwa di balik penampilannya yang lusuh, Genta didampingi oleh "Sistem Pewaris Tabib Sakti" yang memungkinkannya menyembuhkan penyakit mustahil. Terjebak dalam pernikahan politik yang dingin, Genta harus menggunakan ilmu medis magis dan bantuan sistemnya untuk menampar balik semua orang yang meremehkannya, menyelamatkan nyawa, dan membangun kekuasaannya sendiri di rimba kota.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31

Ibu kota negara menyambut kedatangan Genta dengan terik matahari yang menyengat kulit.

Gedung-gedung pencakar langit di sini terlihat dua kali lipat lebih tinggi dan megah dibandingkan kota sebelumnya.

Genta melangkah keluar dari stasiun kereta cepat super VIP dengan membawa sebuah koper kecil berwarna hitam.

"Jadi ini sarang utama dari Aliansi Medis Gelap yang sangat ditakuti itu," gumam Genta sambil tersenyum tipis.

Tanpa membuang waktu untuk beristirahat di hotel, Genta langsung menyetop taksi dan menuju ke markas besar aliansi.

Perjalanannya memakan waktu hampir satu jam menembus kemacetan ibu kota yang luar biasa padat.

Taksi itu akhirnya berhenti di depan sebuah kompleks bangunan raksasa yang didesain menyerupai istana kuno berlapis emas.

Ratusan mobil mewah terparkir rapi di halaman depan yang dijaga ketat oleh puluhan penjaga berseragam khusus.

Genta melangkah masuk ke dalam lobi utama yang luasnya menyamai lapangan sepak bola.

Di dalam lobi, ratusan tabib dari berbagai penjuru negeri berkumpul dengan mengenakan pakaian sutra atau jas mahal kebanggaan mereka.

Mereka semua saling bertegur sapa, memamerkan koneksi dan kekayaan mereka satu sama lain.

Genta mengabaikan pandangan merendahkan dari beberapa orang yang melihat jas abu-abunya yang terlihat terlalu sederhana untuk acara ini.

Dia melangkah dengan tenang menuju meja pendaftaran turnamen yang dijaga oleh seorang resepsionis wanita berwajah jutek.

"Nama, asal kota, dan surat rekomendasi," ucap resepsionis itu tanpa repot-repot menatap wajah Genta.

"Namaku Genta, aku dari kota metropolitan wilayah selatan, dan ini undangan resmiku," jawab Genta meletakkan amplop berstempel emas di atas meja.

Resepsionis itu melirik amplop tersebut, lalu mendengus sinis.

"Kota pinggiran wilayah selatan? Sungguh keajaiban ada orang udik dari sana yang berani mendaftar di turnamen ibu kota."

"Tunggu di sebelah sana, aku harus memprioritaskan pendaftaran para tuan muda dari keluarga inti ibu kota lebih dulu."

Genta mengerutkan keningnya, merasa diperlakukan tidak adil secara terang-terangan.

"Aku datang lebih dulu dan antreanku sudah sesuai aturan, kenapa aku harus menunggu orang yang belum datang?" tanya Genta dengan nada dingin.

Belum sempat resepsionis itu menjawab, sebuah suara tawa arogan terdengar dari arah belakang Genta.

"Karena di ibu kota ini, kasta dan kekuasaan adalah aturan mutlak yang harus dipatuhi oleh gembel daerah sepertimu!"

Seorang pemuda tampan dengan balutan jas putih sutra berlapis benang emas melangkah maju membelah kerumunan.

Di belakangnya, ada empat asisten yang membawakan tas dan peralatannya.

Pemuda itu adalah Dokter Reyhan, putra tunggal dari salah satu keluarga medis elit di ibu kota negara.

Kerumunan tabib di lobi langsung berbisik-bisik penuh kekaguman melihat kedatangan Reyhan.

"Minggir dari mejaku, gembel udik," usir Reyhan sambil menepuk bahu Genta dengan kasar.

"Udara di sekitarmu membuat hidungku gatal karena bau kemiskinan."

Resepsionis wanita yang tadinya jutek kini langsung berdiri dan membungkuk hormat sembilan puluh derajat kepada Reyhan.

"Selamat datang Tuan Muda Reyhan, formulir pendaftaran Anda sudah kami siapkan secara khusus," ucap resepsionis itu dengan senyum manis yang dibuat-buat.

Genta tidak bergeser satu sentimeter pun dari posisinya di depan meja.

Dia justru menepis tangan Reyhan dari bahunya seolah sedang mengusir lalat yang menjijikkan.

"Kau menyebut dirimu elit ibu kota, tapi etika dan sopan santunmu bahkan lebih buruk dari anjing jalanan," ucap Genta dengan suara santai namun menusuk.

Urat di dahi Reyhan langsung menonjol keluar, dia tidak pernah dihina seperti ini di depan umum.

"Berani sekali kau! Kau tidak tahu siapa aku?!" bentak Reyhan menunjuk wajah Genta.

"Aku adalah pewaris sah dari Klinik Teratai Emas, calon juara utama dalam Turnamen Tabib Kematian tahun ini!"

Para tabib lain mulai mengerumuni mereka, menatap Genta dengan pandangan mengejek dan kasihan.

Mereka semua berpikir pemuda daerah ini pasti sudah bosan hidup berani menantang tuan muda ibu kota.

Genta menghela napas malas, matanya menatap tajam ke arah Reyhan dari ujung rambut hingga ujung kaki.

[Mata Surgawi Level 1 diaktifkan penuh.]

[Memindai target: Reyhan. Diagnosis: Penyakit Sifilis Tulang tahap lanjut, kecanduan obat pereda nyeri ilegal.]

Senyum sinis yang sangat mendominasi perlahan terbentuk di sudut bibir Genta.

"Calon juara utama katamu? Jangan membuatku tertawa sampai sakit perut Tuan Muda Reyhan."

"Bagaimana mungkin seorang tabib yang bahkan tidak bisa menyembuhkan penyakit busuk di selangkangannya sendiri bermimpi menjadi juara?"

Pernyataan frontal dan luar biasa vulgar itu langsung membuat seluruh lobi hening seketika.

Mulut para penonton menganga lebar, tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar.

Wajah Reyhan mendadak berubah pucat pasi, keringat dingin langsung membasahi kerah jas sutranya.

"O-omong kosong! Kau memfitnahku dasar gembel gila!" jerit Reyhan dengan suara yang bergetar hebat.

"Keamanan! Seret pemuda gila ini keluar sekarang juga!"

Genta sama sekali tidak gentar, dia melangkah satu tindak lebih dekat hingga hidungnya nyaris bersentuhan dengan Reyhan.

"Kau tidak perlu berteriak panik jika kau memang bersih Tuan Muda."

"Setiap malam kau harus menyuntikkan obat pereda nyeri berdosis tinggi langsung ke pangkal pahamu hanya untuk bisa tidur, bukan?"

"Dan sekarang, kau memakai bedak tebal di lehermu untuk menutupi ruam hitam berbau busuk yang mulai menyebar ke atas."

Reyhan mundur selangkah dengan kaki gemetar, matanya melotot ngeri seakan melihat iblis yang mengetahui seluruh rahasia gelapnya.

"Tutup mulutmu! Aku akan membunuhmu!" teriak Reyhan kehilangan akal sehatnya.

Reyhan mengangkat tangannya untuk menampar wajah Genta dengan sekuat tenaga.

Namun Genta dengan mudah menangkap pergelangan tangan Reyhan di udara.

Cengkeraman Genta sangat kuat bagaikan jepitan besi, membuat Reyhan meringis kesakitan.

"Kalau kau tidak percaya, mari kita tunjukkan pada semua orang di sini bukti kehebatan elit ibu kota."

Genta menggunakan ibu jarinya untuk menekan keras sebuah titik saraf rahasia di pergelangan tangan Reyhan.

Tekanan itu mengirimkan rasa kejut yang luar biasa ke seluruh sistem saraf pusat Reyhan.

"Arrrgghhh!"

Reyhan menjerit melengking, tubuhnya kejang-kejang dan dia langsung jatuh berlutut di lantai lobi.

Rasa sakit yang luar biasa membuat Reyhan tanpa sadar menggaruk lehernya sendiri dengan sangat brutal.

Srek! Srek!

Kuku-kukunya merobek kulit dan lapisan bedak tebal di lehernya, memperlihatkan ruam hitam menjijikkan yang dipenuhi bintik-bintik bernanah.

Bau busuk menyengat langsung menyebar ke udara, membuat orang-orang di sekitarnya menutup hidung dan mundur teratur.

Tidak hanya itu, karena hilangnya kendali saraf akibat tekanan Genta, cairan kuning pesing merembes membasahi celana jas sutra mahal milik Reyhan.

Tuan muda kebanggaan ibu kota itu kini mengompol di depan ratusan tabib elit dari seluruh negeri.

Kerumunan yang tadinya memuja Reyhan kini menatapnya dengan tatapan luar biasa jijik.

"Astaga! Ternyata dia benar-benar mengidap penyakit kotor yang menular!" seru seorang tabib senior menutup hidungnya.

"Sungguh memalukan! Bagaimana bisa orang berpenyakit menjijikkan seperti ini mengklaim diri sebagai calon juara?!" tambah yang lain dengan nada mencibir.

Reputasi Reyhan hancur lebur tanpa sisa dalam waktu kurang dari lima menit.

Reyhan menangis meraung-raung di lantai, menutupi wajahnya yang sudah tidak memiliki harga diri lagi.

Asisten-asistennya yang tadi sombong kini buru-buru menggotong tubuh tuan muda mereka dan berlari kabur keluar dari gedung karena menanggung malu yang teramat sangat.

Lobi kembali sunyi, namun kali ini tatapan semua orang kepada Genta berubah drastis menjadi penuh rasa hormat dan ketakutan.

Hanya dengan satu tatapan dan satu sentuhan jari, pemuda daerah ini berhasil membongkar rahasia mematikan dan menghancurkan masa depan elit ibu kota.

Genta mengambil tisu dari meja pendaftaran, mengelap tangannya dengan santai, lalu membuangnya ke tempat sampah.

Dia kemudian menatap resepsionis wanita yang kini seluruh tubuhnya bergetar hebat menahan tangis ketakutan.

"Jadi Nona, apakah sekarang giliranku untuk mendaftar sudah tiba?" tanya Genta dengan senyum ramah yang justru terlihat mengerikan di mata resepsionis itu.

"S-sudah Tuan! Tentu saja sudah!" jawab resepsionis itu panik dan langsung mengambil stempel pendaftaran.

Dengan tangan gemetar, dia memproses formulir Genta dalam waktu kurang dari sepuluh detik.

"I-ini kartu identitas peserta Anda Tuan Genta, mohon maaf atas kelancangan saya tadi," ucap wanita itu membungkuk nyaris menyentuh meja.

Genta mengambil kartu identitas berwarna hitam dengan ukiran emas itu dan memasukkannya ke dalam saku jasnya.

[Ding!]

[Misi membungkam kesombongan elit ibu kota berhasil diselesaikan.]

[Poin Reputasi Master bertambah 3000 Poin.]

Suara notifikasi sistem menyambut langkah pertama Genta di panggung yang sesungguhnya.

Genta berbalik dan berjalan menuju lift yang akan membawanya ke asrama peserta turnamen.

Kerumunan tabib elit itu secara otomatis membelah jalan, memberikan ruang yang lebar bagi Genta seolah menyambut kedatangan seorang raja baru.

Ibu kota negara mungkin besar dan kejam, tapi Genta bertekad untuk membuat kota ini tunduk berlutut di bawah kakinya mulai hari ini.

1
VirgoRaurus 31Smile
sayang sekali Sekar dan Larasati gak di beri keturunan... istri MC 3 tapi yg di beri keturunan cuma istri pertama thok...kalau mereka di beri keturunan pasti makin hebat... sayang sekali.
VirgoRaurus 31Smile
keluarga LEBAY...
Cherlly: trimakasih kaka🙏
total 1 replies
VirgoRaurus 31Smile
Sekar sebagai istri ke 3 masih juga dianggap pelayan... luar biasa hebat kau Thor...
Cherlly: makasih kaka😘😘😘
total 1 replies
VirgoRaurus 31Smile
kapan istri ke 2 dan ke 3 MC hamil Thor...? sudah 5th lebih pernikahan kok belum hamil
Cherlly: belum hamil,soal nya mc masih sibuk kak😊
total 1 replies
VirgoRaurus 31Smile
manggil Sekar dulu bibi sekarang mama...
VirgoRaurus 31Smile
gimana caranya bertepuk tangan dg membawa cangkir kopi Thor...
Cherlly: kan itu genta sedang bersandar di pilar sebelah nya ada meja sebelum tepuk tangan dia letakan dulu,cuman saya singkat cerita nya kaka😊
total 1 replies
VirgoRaurus 31Smile
sudah 3th lebih menikah Sekar dan Larasati kok belum hamil...
VirgoRaurus 31Smile
pelayan.... katanya istri ke 3 MC.
VirgoRaurus 31Smile
Hmmm... terbuat dari apa boneka beruang itu, sampai harganya menyamai mobil sport... LEBAY...
Cherlly: itu boneka untuk colector maka nya mahal kaka
total 1 replies
VirgoRaurus 31Smile
kok bawa marga Prameswari, kok gak bawa marga Genta...
VirgoRaurus 31Smile
orang tua dan kakek Tiara sudah meninggal semua ya Thor... kok gak pernah diceritakan... kalau sudah meninggal, kapan...
Cherlly: bukan meninggal tpi belum ada percakapan lagi kaka
total 1 replies
VirgoRaurus 31Smile
keluarga inti... emangnya orang tua dan kakek bukan keluarga inti.... orang luar malah di undang.
VirgoRaurus 31Smile
ratusan batang jarum emas... katanya 99 batang jarum emas, ini kok ratusan... weleh.
Cherlly: itu tersembunyi kaka
total 1 replies
VirgoRaurus 31Smile
apakah MC sudah bisa terbang...?
Cherlly: belum kaka😁
total 1 replies
VirgoRaurus 31Smile
kakek, orang tua pengantin, sang jendral dan orang orang penting di sekitar para penganting gak di beritakan sama sekali....
VirgoRaurus 31Smile
apa gak terbalik kalimat ini Thor... hutang budimu padaku, begitu harusnya....
Cherlly: bukan kaka😊
total 1 replies
VirgoRaurus 31Smile
emangnya Ratih punya berapa pedang, Thor... kan pedangnya sudah patah...
Cherlly: ada simpanan pedang yang ga pernah dia pakai😊
total 1 replies
VirgoRaurus 31Smile
di dalam istana ada cahaya rembulan... apakah istananya tak beratap, Thor...?
Cherlly: itu kata istilah kaka😊
total 1 replies
VirgoRaurus 31Smile
istana yg hancur... istana mana yg hancur, kan cuma gerbangnya yg hancur...
Cherlly: istana hancur bukan berarti hancur rata kaka
total 1 replies
VirgoRaurus 31Smile
bangkai monster bukan mayat monster
Cherlly: kalo mayat baca nya kurang nyaman kak😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!