Dijodohin sama Kian, sahabat dari kecil yang pernah nempelin permen karet di rambut gue itu sebuah bencana.
Gue tahu betul bobroknya Kian dari A sampai Z, tahu cara mikirnya yang ajaib sampai rekor kencannya yang melebihi jumlah anggota DPR. Kalau dipikir secara logika, harusnya tanpa pikir panjang gue langsung nolak.
Tapi masalah utamanya satu, Gue suka sama Kian.
Sialan emang.
Kini, demi gengsi Kian yang terluka gara-gara ditolak di meja makan, gue jadi terjebak masa percobaan 6 bulan jadi pasangan PDKT resmi. Masa di mana gue harus bertahan di antara dada yang deg-degan parah, dan dorongan kuat buat ngeplak kepala Kian saban hari.
Sanggupkah gue bertahan tanpa kehilangan akal sehat ini?😭
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Bencana Panggilan "Sayang"
Semua keribetan ini sebenarnya berawal dari telepon kemarin malam.
Gue yang lagi selonjoran santai di kasur sambil maskeran, dengan muka hijau mirip Shrek habis kena tipes, mendadak dibuat mengernyit saat suara Kian di seberang sana berubah serius.
"Ra," panggil Kian saat itu. "Kayaknya kita harus mulai ubah panggilan kita deh. Mungkin... bisa mulai pakai 'Aku-Kamu'?"
Gue merotasi bola mata malas. "Gak mau."
"Kok gak mau, sih?" protes Kian cepat.
"Geli, Kian. Geli banget," sahut gue tanpa beban.
Malam itu, obrolan kami di telepon selama hampir satu jam murni dihabiskan cuma buat berdebat soal per-aku-kamu-an. Kian ngotot bilang kalau pasangan yang udah resmi berpacaran itu butuh panggilan yang lebih manis demi estketika hubungan, sedangkan gue tetap kekeuh menolak.
Bayangin aja, ngomong 'aku-kamu' ke cowok yang dari zaman ingusan udah langganan main di rumah gue, itu rasanya aneh dan canggung setengah mati. Tingkat kecanggungannya setara dengan ketahuan kentut di dalam lift penuh orang. Ujung-ujungnya, gue tetap menang dan menolak panggil 'kamu'.
Tapi ternyata Kian belum menyerah.
Sore harinya, sesuai janji kami akan pergi kencan, mobil SUV hitam milik Kian sudah terparkir di depan rumah. Begitu gue masuk dan menutup pintu penumpang, Kian yang duduk di balik kemudi mendadak membetulkan kerah jaketnya yang sebenarnya kagak melipat sama sekali, lalu menyapa manis.
"Selamat sore... Pacar. Kamu udah siap pergi hari ini?"
Gue mematung seketika. Sabuk pengaman yang mau gue tarik melayang setengah menggantung di udara. Muka gue lempeng seratus persen. Gue menatap mukanya lekat-lekat dari ujung rambut sampai dagu.
"Lu sehat, Ki? Kesambet setan pos ronda depan?"
"Ah, lu ini..."
Kian cuma menghela napas gusar. Dengan pasrah dan raut muka sedikit cemberut, dia mulai melajukan mobilnya membelah jalanan sore yang lumayan padat.
Melihat Kian yang lagi fokus menyetir sambil memanyunkan bibirnya tipis-tipis, jiwa jahil gue yang tertidur mendadak bangun. Gue yang dihinggapi ide iseng langsung menyusun tata bahasa yang baik dan benar sesuai EYD di dalam kepala.
Gue menoleh pelan ke arahnya. "Kamu... mau ajak aku ke mana?" tanya gue pelan, intonasinya dibuat sehalus dan selembut mungkin.
Seketika itu juga, Kian mematungkan badannya di atas kursi kemudi. Kaki kanannya mendadak menginjak rem sedikit mengejutkan sampai SUV tinggi itu terguncang pelan dan kepala gue hampir membentur dasbor. Dia menoleh patah-patah ke arah gue dengan mata melotot, persis kayak orang yang baru ngeliat penampakan pocong di siang bolong.
"Lu... lu panggil gue 'kamu'?" tanya Kian dengan suara pelan dan kaget luar biasa.
"Lah, semalam kan lu yang nyuruh?" amuk gue refleks.
"Iya sih, tapi kan lu gak mau. Tadi aja pas gue bilang 'aku-kamu' malah lu ledekin," kata Kian bete.
Gue menghela napas. "Iya deh, iya... maaf. Gue mau deh pakai aku-kamu."
"Beneran?"
"Iya... Aku gak mau lihat kamu marah," kata gue sambil pasang senyum manis.
Kian tertegun total. Otaknya kelihatan butuh waktu beberapa detik buat memproses kalimat bahaya itu. Gue bisa melihat dengan jelas warna merah padam menyebar cepat dari leher sampai ke seluruh daun telinganya. Ujung bibirnya terangkat, menahan senyum bangga yang nggak bisa dia tahan lagi.
Melihat respons Kian yang ternyata sangat menggemaskan itu, jiwa jahil gue makin meronta-ronta gila. Lucu juga ternyata bikin Kian salah tingkah parah kayak gini.
Gue memiringkan badan sedikit ke arahnya, menyunggingkan senyum paling manis, lalu berbisik dengan nada manja yang sengaja dibuat-buat.
"Terus jadinya kita mau ke mana... Sayang?"
Dampak dari kata 'Sayang' itu rupanya sepuluh kali lipat lebih mematikan dari dugaan gue. Senjata pamungkas itu beneran bikin sistem saraf Kian melayang ke luar angkasa.
Kian membeku total. Matanya berkedip lambat, pikirannya langsung kosong melompong. Masalahnya, otaknya korsleting, tapi kakinya malah refleks menekan pedal gas lebih dalam.
"KIAN! AWAS!!!" jerit gue histeris begitu melihat moncong mobil melaju kencang ke arah trotoar.
Kebengongan Kian buyar seketika.
CRASH! BUK! BUK!
"AAAGHHH!"
"MAMA!"
Mobil SUV Kian naik ke atas trotoar, memotong pot bunga kota, dan menabrak papan seng pembatas jalan sampai berguncang hebat. Gue dan Kian menjerit-jerit di dalam kabin bagai orang kesurupan sampai akhirnya mobil berhenti total setelah memanjat ban bekas di pinggir jalan.
Kepanikan menyelimuti kabin mobil yang mendadak hening. Cuma ada suara napas kami berdua yang memburu tajam beradu dengan raungan mesin yang mati mendadak.
Gue menoleh ke arah Kian dengan jantung yang rasanya mau melompat keluar dari tenggorokan.
"KIANNNN!!!!" jerit gue melengking, memukul bahunya heboh pakai tas. "Lu gila ya?! Lu mau bikin kita berdua mati, hah?!"
Bukannya kaget, panik, atau meratapi nasib bodi SUV-nya yang kini terlihat menyedihkan, Kian malah cuma mematung memegang setir. Perlahan, warna merah padam makin menyebar penuh ke seluruh wajahnya.
Kian menoleh pelan ke arah gue. Matanya berbinar-binar dengan senyum bodoh yang enggak bisa dia tahan lagi.
"Ra..." gumam Kian dengan suara serak tanpa dosa. "Panggil... panggil 'sayang' sekali lagi dong?"
Amarah gue perlahan naik ke ubun-ubun.
"KIAN BAGASKARA!!!"