Indonesia
NovelToon NovelToon
Cewek Bar Bar Milik Tuan CEO

Cewek Bar Bar Milik Tuan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / CEO / Teen
Popularitas:258
Nilai: 5
Nama Author: lannn_019

Zevanna Lyana Oliver dikenal sebagai gadis bar-bar yang sering bolos, membuat onar, dan gemar balapan liar.

Namun, hidupnya berubah setelah kakaknya, Zoyya Fiorellia Oliver, dikabarkan meninggal dunia di sebuah perusahaan ternama.

Kematian Zoyya dianggap sebagai kecelakaan. Tapi Zevanna menemukan kejanggalan yang membuatnya yakin ada sesuatu yang disembunyikan.

Setelah lulus SMA, Zevanna masuk ke Verion Group, perusahaan tempat kakaknya dulu bekerja.

Tujuannya cuma satu: mencari tahu kebenaran di balik kematian Zoyya.

Tapi semakin jauh Zevanna mencari, semakin banyak rahasia yang terbongkar.

Siapa sebenarnya yang berada di balik kematian Zoyya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lannn_019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Interview

Pagi hari di rumah keluarga Oliver, Zevanna sudah selesai mandi dan berdandan rapi. Ia mengenakan kemeja putih polos yang dimasukkan ke dalam celana bahan hitam—bersiap untuk pergi ke kantor Verion Group.

Zevanna mengambil botol parfum favoritnya lalu menyemprotkannya ke tubuh dan pergelangan tangan.

Saat ia sedang merapikan riasan tipis di wajahnya, ponsel di meja berbunyi.

Ting!

Zevanna menoleh dan meraih ponselnya.

Tisha: Zev. Lo udah siap belum?

Zevanna dengan cepat mengetik balasan.

Zevanna: Gue udah siap nih. Nanti gue langsung jalan jemput lo ya.

Tisha: Oke siap, gue tunggu di depan pagar.

Zevanna mematikan layar ponselnya, lalu menyambar tas selempang dan map berisi dokumen fisik. Ia kembali mengecek kelengkapan berkasnya sejenak.

"Oke, sempurna. Tinggal otw!" gumam Zevanna mantap lalu melangkah keluar kamar.

Di ruang makan, ia mendapati kedua orang tuanya sedang menikmati kopi pagi.

"Ma, Pa... Aku berangkat interview dulu ya," pamit Zevanna.

Liona menoleh. "Kamu enggak sarapan dulu, Nak?"

Zevanna menggeleng cepat. "Nggak sempat, Ma. Aku bisa ganjel makan di luar nanti. Aku pergi dulu ya, udah ditungguin Tisha nih!"

Liona mengangguk tersenyum. "Ya udah kalau gitu, kamu hati-hati di jalan ya, Sayang."

"Kalau ada kendala apa-apa di jalan, langsung telepon Papa ya," tambah Yovandra.

"Siap, Pa!"

Zevanna mencium dan menyalami punggung tangan kedua orang tuanya secara bergantian.

Ia berlari kecil keluar rumah menuju garasi. Zevanna membuka pintu mobilnya, menyalakan mesin, lalu melaju membelah jalanan kompleks menuju rumah Tisha.

Tidak butuh waktu lama, sekitar lima belas menit kemudian, mobil Zevanna berhenti tepat di depan gerbang rumah sederhana milik keluarga Tisha.

Zevanna menurunkan kaca jendela mobilnya. "Cepat masuk, Tis!"

Tisha yang sudah menunggu langsung membuka pintu samping dan duduk di sebelah Zevanna.

"Duh, Zev... Gue deg-degan banget, sumpah! Ini pertama kalinya gue bakal interview kerja di kantor beneran. Gimana kalau nanti gue salah ngomong atau gagap?!" cerocos Tisha mengelus dadanya gelisah.

"Santai aja, Tis. Nggak usah lebay tegangnya! Anggap aja ini lagi presentasi di depan kelas," kata Zevanna mencoba bersikap tenang, padahal sejujurnya di dalam hati ia juga sedikit gugup.

"Ya itu kan di sekolah! Ini di perusahaan raksasa loh! Mana gedung kantornya segede gitu lagi. Gue takut banget kalau nggak diterima..." ringis Tisha.

"Pasti diterima kok, kan kita udah lolos seleksi berkas kemarin. Udah, nanti pas masuk dan interview, lo tinggal jawab sebisa dan sejelas lo aja," kata Zevanna menenangkan.

"Iya, Zev."

Zevanna kembali fokus menyetir menuju pusat kota.

Tisha melirik Zevanna dari samping. "Zev, ingat ya... Kita ke sana tuh tujuan utamanya buat kerja dulu. Jangan langsung grusa-grusu sibuk ngubrak-ngabrik soal Kak Zoyya!"

Zevanna mengangguk paham. "Iya, gue tahu kok. Gue bakal tetap fokus kerja, tapi sambil pelan-pelan cari tahu celah soal Kak Zoyya."

***

Beberapa saat kemudian, mobil Zevanna akhirnya memasuki pelataran parkir gedung pencakar langit Verion Group.

Zevanna dan Tisha melangkah keluar dari mobil. Mereka berdua mendongak melihat gedung Verion Group yang menjulang tinggi di depan mereka.

Merapikan pakaian masing-masing, mereka berdua berjalan masuk menuju meja resepsionis di lobi utama. Zevanna menunjukkan bukti surat panggilan interview dari ponselnya.

Mbak resepsionis memeriksa nama mereka di komputer, lalu tersenyum ramah. "Silakan naik ke lantai tiga dan menunggu di ruang tunggu interview ya, Mba."

"Baik, terima kasih," sahut Zevanna.

Mereka berdua naik lift menuju lantai tiga. Begitu sampai di ruang tunggu, ternyata sudah ada belasan pelamar lain yang duduk rapi memakai kemeja putih.

Zevanna dan Tisha mengambil tempat duduk di barisan belakang.

Tisha semakin gugup melihat banyaknya pelamar yang sudah menunggu. "Zevanna... Banyak banget pelamar yang datang."

Zevanna menoleh dan menatap wajah sahabatnya itu. "Tenang, Tis! Nggak usah nervous gitu napa. Gue liat muka lo udah kayak ditagih utang sama debt collector tahu nggak!"

Plak!

Tisha mengeplak pelan lengan Zevanna. "Ihhh! Lo tuh ya malah bercanda mulu! Gue lagi gugup setengah mati ini!"

Zevanna terkekeh geli melihat ekspresi Tisha.

Tak lama kemudian, pintu ruang interview terbuka. Seorang staf HRD wanita cantik bernama Elsa melangkah keluar membawa papan jalan.

"Tisha Zora Emilia?" panggil Elsa.

Tisha tersentak kaget lalu buru-buru mengangkat tangannya. "S-saya, Mbak!"

"Silakan masuk ke dalam ruangan," kata Elsa ramah.

Tisha berdiri dengan kaki sedikit gemetar, menatap Zevanna panik. "Zev, gue masuk dulu ya. Doain gue!"

Zevanna mengangguk memberi semangat. "Udah, sana masuk! Lo pasti bisa!"

Tisha melangkah masuk ke dalam ruang interview.

Zevanna menunggu sendirian di kursi sambil bersedekap dada, mengamati suasana sekitar.

Di dalam ruangan, Tisha menjalani proses interview bersama tim HRD. Pertanyaan yang diajukan terbilang umum dan standar:

Riwayat pendidikan terakhir.

Keterampilan yang dimiliki.

Alasan melamar di Verion Group.

Kesiapan bekerja di bawah tekanan.

Posisi staf yang diminati.

Tisha berusaha mengendalikan gugupnya dan menjawab semua pertanyaan sebaik mungkin.

Setelah lima belas menit berlalu, Tisha keluar dari ruangan dan berjalan cepat menghampiri Zevanna.

"Zevanna..." panggil Tisha lemas.

Zevanna mendongak. "Gimana interview-nya? Lancar kan?"

"Sumpah, gue tadi gugup banget pas jawab! Kayaknya ada beberapa kalimat gue yang belibet deh!" ringis Tisha.

"Ah, lo udah berusaha maksimal kok, Tis. Namanya juga baru pertama kali interview, wajar kalau agak gugup," puji Zevanna.

Tisha menunduk sedikit berbisik. “Tapi Zev... tadi gue liat salah satu pewawancaranya ganteng banget. Cuma mukanya dingin kayak kulkas.”

Zevanna mengernyit. "Dingin? Kayak es batu dong?"

"Iya! Es batu berjalan!" kata Tisha mereka-reka.

Zevanna mengernyit. “Terus kenapa lo malah merhatiin?”

“Ya nggak tahu, refleks aja!”

Belum sempat Zevanna membalas ucapan Tisha, pintu ruangan kembali terdorong terbuka.

"Zevanna Lyana Oliver?" panggil Mbak Elsa dari ambang pintu.

Zevanna seketika tegak dan berdiri. "Saya, Mbak!"

"Silakan masuk."

"Semangat, Zev!" bisik Tisha menepuk bahu Zevanna.

Zevanna menarik napas dalam-dalam, menata setelan kemejanya, lalu melangkah mantap masuk ke dalam ruang interview.

Awalnya, Zevanna mengira yang akan mewawancarainya hanya staf HRD biasa.

Namun, begitu pintu tertutup, langkah Zevanna langsung berhenti.

Pria yang duduk di balik meja itu bukan orang asing.

Ravenzo Verion Ganendra.

“Lo?!”

Ravenzo mengangkat pandangan. “Kamu?”

Otak Zevanna seketika berputar kencang. Bayangan kejadian tabrakan motor minggu lalu dan permintaan ganti rugi lima miliar mendadak terlintas di kepalanya.

“Lo... ngapain ada di dalam ruangan ini?!” tanya Zevanna heran.

Ravenzo menatapnya datar. “Ini perusahaan saya.”

Zevanna membelalak. “HAH?! Lo CEO-nya?!”

“Sekarang kamu tahu.”

Zevanna seketika bungkam. Ia benar-benar nggak menyangka cowok yang beberapa hari lalu ribut dengannya di jalan ternyata adalah CEO Verion Group.

Ravenzo kembali melihat berkas di hadapannya.

“Duduk,” perintah Ravenzo dingin.

Dengan bibir cemberut dan wajah menahan kesal, Zevanna akhirnya duduk di kursi hadapan Ravenzo.

Ravenzo mulai menanyakan pendidikan, keterampilan, pengalaman, dan alasan Zevanna melamar di Verion Group.

Zevanna menjawab semuanya dengan cukup tenang meskipun sebenarnya ia masih gugup.

"Kenapa kamu memilih melamar pekerjaan di Verion Group?" tanya Ravenzo menatap lurus mata Zevanna.

Zevanna berdehem kecil, menegakkan posisinya. "Saya ingin mencari pengalaman kerja sendiri dari bawah, dan tidak mau terus-terusan bergantung pada fasilitas keluarga."

Ravenzo kembali melihat nama lengkap di CV itu.

Zevanna Lyana Oliver.

Nama Oliver bukan nama asing baginya. Keluarga Oliver memang pernah bekerja sama dengan Verion Group.

Ravenzo mendongak menatap Zevanna lagi. "Apa hubungan kamu dengan Oliver Corp?"

“Saya putri dari keluarga Oliver,” jawab Zevanna jujur.

Ravenzo tidak menunjukkan reaksi heboh. Wajahnya tetap datar dan tenang. Ia hanya menutup map berkas Zevanna.

"Oke, proses interview selesai. Kamu bisa keluar sekarang. Nanti hasil keputusannya akan diumumkan oleh pihak HRD melalui email," kata Ravenzo formal.

Zevanna langsung berdiri dari kursinya. Namun sebelum berbalik menuju pintu, langkahnya terhenti. Ia kembali teringat kejadian di jalan.

"Soal... masalah perbaikan mobil waktu itu..." ujar Zevanna agak ragu.

Ravenzo menaikkan pandangannya.

"Udah ah, lupakan aja! Lagian itu kan udah lewat!"

"Saya juga sudah tidak mempermasalahkannya lagi," balas Ravenzo datar tanpa ekspresi.

Zevanna mendengus kasar lalu melangkah lebar keluar dari ruangan itu.

Ceklek!

Begitu pintu ruangan tertutup rapat, Zevanna memegangi dadanya dan mengembuskan napas lega yang sangat panjang.

Tak lama setelah Zevanna keluar, Arvin masuk ke ruangan membawa cangkir kopi.

“Rav, tadi siapa yang baru keluar?”

“Zevanna Lyana Oliver.” jawabnya singkat.

Arvin mengernyit. “Zevanna?”

Ravenzo menatapnya. “Cewek yang nyerempet mobil gue waktu itu.”

Arvin yang sedang menyeruput kopinya seketika tersedak hebat!

UHUK! UHUK!

"WHAT?! Jadi cewek galak yang nyerempet mobil lo itu melamar kerja di kantor lo?!" seru Arvin melotot tak percaya.

Ravenzo mengangguk pelan.

"Gila sih! Kok bisa kebetulan banget gini dunia?!" ujar Arvin geleng-geleng kepala.

Ravenzo meliriknya sekilas. "Kebetulan apa?"

"Ya kebetulan! Kalian ketemu lagi di sini! Jangan-jangan..." Arvin menggantung kalimatnya sambil tersenyum jahil.

"Jangan-jangan apa?" tegur Ravenzo menaikkan alisnya.

"Jodoh!" seru Arvin tertawa.

Ravenzo menyipitkan mata tajam. "Ngaco lo! Gue baru ketemu dia dua kali, mana ada jodoh-jodoh begitu!"

"Yah, namanya jodoh kan nggak ada yang tahu, Bro! Siapa tahu bentrok di jalan, berujung di pelaminan!" ledek Arvin makin gencar.

Ravenzo menghembuskan napas kasar. "Udah diem!”

Arvin tertawa puas melihat wajah bos sekaligus sahabatnya yang mulai salah tingkah.

***

Sementara itu, Zevanna dan Tisha berjalan cepat keluar dari gedung Verion Group menuju parkiran.

"Zev! Gimana tadi interview-nya?! Kok muka lo ditekuk gitu sih?" tanya Tisha penasaran.

Zevanna yang masih emosi dan tidak percaya langsung menoleh. "Lo tahu nggak siapa yang meng-interview gue di dalam tadi?!"

Tisha menggeleng polos. "Nggak tahu. Emang siapa?"

"Cowok Lima Miliar!" semprot Zevanna gemas.

Tisha seketika melongo lebar. "HAH?! Serius lo?!"

“Gue nggak nyangka cowok yang mobilnya gue serempet ternyata CEO Verion Group! Sialan banget!" oceh Zevanna berapi-api.

"Terus... pas dia tahu lo melamar kerja di kantor dia, reaksi dia gimana?" cecar Tisha makin kepo.

"Ya gitu! Sok gengsi, mukanya datar dan dingin banget kayak papan gilas! Tahu gitu kalau dia CEO-nya, gue males melamar ke sini!" ketus Zevanna berkacak pinggang.

Tisha menatap sahabatnya itu serius. "Tapi kan tujuan utama lo mau masuk ke sini buat cari tahu rahasia kematian Kak Zoyya, Zev..."

Mendengar ucapan Tisha, perkataan Zevanna seketika terhenti. Ia terdiam sejenak lalu berdecak kesal.

"Aaargh! Tau ah! Pusing gue! Ayo pulang!" gerutu Zevanna melangkah cepat menuju mobilnya, diikuti Tisha dari belakang.

Sementara itu, Ravenzo masih berada di ruangannya.

Ia kembali melihat CV Zevanna sebelum memasukkannya ke dalam map.

Nama Oliver memang bukan nama asing baginya.

Namun Ravenzo tidak terlalu memikirkannya dan kembali melanjutkan pekerjaannya.

Tanpa Ravenzo sadari, nama Zevanna akan kembali muncul dalam urusan perusahaan beberapa hari kemudian.

Bersambung…

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!