Lima tahun lalu, Larasati pergi tanpa penjelasan, meninggalkan Raka dalam kebencian yang tak pernah ia pahami alasannya. Kini takdir mempertemukan mereka kembali—bukan sebagai kekasih, tapi sebagai atasan dan bawahan. Raka yang dingin membalas luka lamanya lewat cara-cara kecil yang menyakitkan, meski diam-diam hatinya masih menyimpan rasa.
Namun ketika kebenaran akhirnya terungkap—bukan dari Laras, melainkan dari orang lain—Raka sadar betapa kejamnya ia selama ini. Sayangnya, penyesalan itu datang terlambat. Laras telah menemukan kebahagiaannya sendiri, bersama seseorang yang benar-benar memilih untuk mendengarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DIAM DIAM JATUH CINTA
Hujan benar-benar turun begitu Laras selesai bekerja. Raka sudah menunggu di dekat pintu, payung yang sengaja dibelinya tadi sore masih terbungkus plastik.
"Kamu beli payung?" Laras menatap heran begitu melihat benda di tangan Raka.
"Punyaku ketinggalan di mobil kantor."
"Terus kenapa beli baru, bukan ambil dari mobil?"
"Mobilnya lagi dipakai sopir buat jemput tamu." Raka membuka plastiknya, sedikit canggung. "Lagian ini lebih besar, muat buat berdua."
Laras menahan senyum, meski jelas ia tidak percaya sepenuhnya dengan alasan itu. "Kamu ini kalau alibi, jelek banget."
"Aku nggak lagi beralibi."
"Terserah deh." Ia melangkah keluar, berdiri di bawah teras sebentar sebelum akhirnya masuk ke dalam lindungan payung yang disodorkan Raka. Jarak di antara mereka canggung, terlalu dekat untuk sekadar teman, terlalu jauh untuk disebut apa-apa.
"Rumahmu arah mana?" tanya Raka, mulai melangkah.
"Belok kiri di ujung jalan, terus lurus sampai gang ketiga."
"Jauh juga."
"Makanya tadi aku bilang nggak usah repot-repot."
"Aku nggak keberatan jalan jauh."
Laras melirik sekilas, mencoba membaca ekspresi Raka yang tenang seperti biasa, tidak menunjukkan tanda-tanda keberatan atau terpaksa. Mereka berjalan dalam diam beberapa saat, hanya suara hujan yang jatuh di permukaan payung yang mengisi kesunyian.
"Kamu nggak nanya soal keluargaku?" Laras tiba-tiba bersuara.
"Emang harus nanya?"
"Kebanyakan orang penasaran. Terutama kalau tau bapakku cuma kerja serabutan."
"Aku nggak lihat kenapa itu harus jadi masalah."
"Buat sebagian orang, itu masalah besar."
Raka terdiam sebentar sebelum menjawab. "Aku bukan sebagian orang itu."
Kalimat itu sederhana, tapi entah kenapa membuat Laras terdiam cukup lama, memikirkan maknanya lebih dalam dari yang seharusnya. Ia mempercepat langkah sedikit, seolah ingin menyembunyikan reaksinya sendiri.
"Kamu jalan cepet banget," Raka menyusul.
"Udah deket kok."
Benar saja, tidak lama kemudian mereka sampai di depan sebuah rumah kecil dengan cat yang mulai memudar, pagar besi yang sedikit berkarat di beberapa bagian. Lampu teras menyala redup, menerangi seorang pria paruh baya yang sedang duduk di kursi kayu, rokok terselip di jarinya.
"Itu bapak?" tanya Raka pelan.
"Iya." Laras buru-buru melepaskan diri dari bawah payung, berjalan lebih dulu ke arah pagar. "Pak, ini temen kerja."
Bapak Laras menatap Raka sejenak, mengangguk singkat tanpa banyak bicara, lalu kembali fokus pada rokoknya. Raka membalas anggukan itu dengan sopan, meski merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan—bukan penolakan, tapi semacam jarak yang sengaja dijaga.
"Makasih udah nganterin," kata Laras, berdiri di depan pintu pagar. "Hati-hati pulangnya, masih hujan."
"Nggak apa-apa. Aku bawa payung, inget?"
"Iya, aku inget. Payung yang katanya ketinggalan di mobil."
"Kali ini beneran ketinggalan," Raka tersenyum kecil. "Besok kamu kerja?"
"Kerja. Kenapa?"
"Nggak, cuma nanya."
"Kamu nanya 'nggak apa-apa' tapi keliatan pengen tau banget."
"Mungkin emang pengen tau."
Laras tertawa pelan, menggeleng. "Ya udah, aku masuk dulu. Hati-hati di jalan."
"Laras."
Ia berhenti, menoleh. "Apa?"
Raka terdiam sebentar, seperti menahan sesuatu yang ingin diucapkan tapi belum menemukan kata yang tepat. "Nggak jadi. Besok aja."
"Kamu ini beneran suka banget bilang 'besok aja' atau 'nanti aja'."
"Karena beberapa hal butuh waktu yang tepat."
"Terserah," Laras memutar bola mata, tapi senyum di wajahnya tidak hilang. "Selamat malam, Raka."
"Selamat malam."
Ia menunggu sampai Laras benar-benar masuk ke dalam rumah sebelum akhirnya berbalik, berjalan menembus hujan yang belum juga reda. Dalam perjalanan pulang, pikirannya dipenuhi oleh percakapan-percakapan kecil yang terasa tidak ada artinya bagi orang lain, tapi entah kenapa terasa begitu berharga baginya.
Sesampainya di rumah, ia mendapati ibunya masih menunggu di ruang makan, meski jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
"Dari mana saja kamu?" tanya ibunya, nada suaranya datar namun menyelidik.
"Ada urusan sebentar."
"Urusan apa sampai kehujanan begini?"
Raka melirik bajunya yang memang sedikit basah di bagian bahu. "Cuma jalan kaki, Ma. Nggak ada apa-apa."
Ibunya menatapnya lama, seperti mencoba membaca sesuatu yang disembunyikan di balik jawaban singkat itu. "Kamu akhir-akhir ini sering pulang malam."
"Kerjaan lagi banyak."
"Kerjaan, atau ada hal lain?"
Pertanyaan itu membuat Raka terdiam sesaat, sebelum akhirnya menjawab dengan nada setenang mungkin. "Cuma kerjaan, Ma. Aku ke kamar dulu, capek."
Ia melangkah menaiki tangga, meninggalkan ibunya yang masih duduk di ruang makan dengan tatapan penuh selidik mengikuti punggungnya sampai menghilang di ujung tangga. Ada firasat yang mulai tumbuh di hati wanita itu—firasat yang, jika dibiarkan terlalu lama, akan menjadi awal dari semua yang kelak menghancurkan kebahagiaan kecil yang baru saja mulai dirasakan putranya.