Arthur Summers, mantan Jenderal pasukan elit rahasia, memutuskan pensiun dari dunia pertumpahan darah untuk hidup tenang bersama istrinya, Elena. Ia kembali ke kota metropolis dan mengambil pekerjaan rendah hati sebagai dosen di Universitas St. Jude, tempat Elena bekerja sebagai Dekan.
Namun, kepulangan Arthur disambut dengan kenyataan pahit. Ia memergoki Elena berselingkuh dengan Julian Thorne, putra donatur utama kampus yang arogan. Pengkhianatan ini menghancurkan hati Arthur, apalagi istrinya ternyata lebih memilih bersenang-senang dengan pria lain—sebuah drama pengkhianatan yang mengingatkan pada kekecewaan saat mendengar pasangan bersenang-senang dengan pria bejat di tempat hiburan.
Namun yang lebih buruk, Arthur menyadari bahwa perselingkuhan itu hanyalah puncak gunung es. Julian Thorne ternyata menggunakan universitas tersebut sebagai kedok untuk sindikat kriminal internasional yang berencana mengancam keamanan kota.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Interogasi Berdarah di Pelabuhan Utara
Angin malam berhembus membawa aroma garam dan karat di area Pelabuhan Kargo Utara. Di bawah guyuran hujan yang belum juga reda, deretan kontainer baja menjulang tinggi layaknya labirin raksasa yang menyembunyikan sisi gelap kota metropolis.
Di dalam salah satu kontainer berpendingin udara yang telah dimodifikasi, sebuah lampu bohlam berayun pelan, memancarkan cahaya kuning redup. Di tengah ruangan sempit itu, Elena terikat erat di sebuah kursi besi. Gaun sutranya yang basah dan kotor kini robek di beberapa bagian. Wajahnya yang dulunya selalu dirawat dengan kosmetik mahal kini memar dan pucat pasi akibat udara yang membekukan tulang.
Sejam yang lalu, saat ia sedang berjalan tanpa arah meratapi nasibnya di pinggir jalan, sebuah van hitam berhenti mendadak. Beberapa pria tegap dengan penutup wajah langsung menyeretnya masuk tanpa ampun.
Pintu besi kontainer berderit terbuka, meloloskan hembusan angin laut. Jenderal Volkov melangkah masuk dengan setelan jas putihnya yang masih bersih tanpa noda. Di tangannya, ia memegang sebuah tongkat baja pendek. Dua pengawal setianya berdiri menjaga di ambang pintu.
"Selamat malam, Nona Elena," sapa Volkov dengan aksen Eropa Timurnya yang kental. Ia menarik sebuah kursi kayu dan duduk tepat di hadapan wanita yang tengah gemetar ketakutan itu. "Saya minta maaf atas metode penjemputan yang kurang elegan ini. Tapi waktu saya di kota ini sangat terbatas."
"S-siapa kau...?" rintih Elena, bibirnya membiru karena kedinginan. "Aku tidak punya apa-apa lagi. Julian sudah membuangku. Aku tidak punya uang—"
"Ssst," Volkov meletakkan jari telunjuknya di bibir, menyuruh Elena diam. "Aku tidak peduli pada pewaris manja itu atau uang recehmu. Aku sedang memburu hantu. Dan dari semua lalat yang berkerumun di sekitar bangkai Yayasan Thorne, kau adalah satu-satunya orang yang berada tepat di pusat ledakan."
Volkov mencondongkan tubuhnya, menatap tajam ke mata Elena.
"Dua belas algojo Viper dibantai, dan sebuah kekaisaran bisnis diruntuhkan dalam setengah hari," ucap Volkov dingin. "Presisi seperti itu membutuhkan kekuatan militer tingkat tinggi. Pasukan bayangan itu beroperasi di kampusmu, Nona Elena. Katakan padaku, siapa komandan mereka? Siapa dalang di balik kehancuran Julian Thorne?"
Elena menelan ludah. Teror yang memancar dari mata Volkov sama mengerikannya dengan aura Arthur. Pikirannya kembali pada pertemuan malam tadi di halte bus, saat mantan suaminya itu mengungkap kebenaran yang menghancurkan kewarasannya.
"A-aku..." Elena tersendat. Jika ia menyebut nama Arthur, pria di hadapannya ini mungkin akan membunuhnya karena menganggapnya berbohong. Namun jika ia tidak menjawab, ia tahu nyawanya akan berakhir di kontainer ini.
Melihat keraguan Elena, Volkov mengangkat tongkat bajanya dan menghantamkannya dengan sangat keras ke lengan kursi besi yang diduduki Elena, hanya berjarak beberapa sentimeter dari tangan wanita itu.
BAM!
Elena menjerit histeris saat percikan api memercik dari benturan baja tersebut.
"Jangan menguji kesabaranku, Jalang!" bentak Volkov, arogansinya meledak. "Bicaralah! Siapa yang memegang otoritas setinggi itu di kota ini?!"
"A-Arthur!" jerit Elena sambil menangis sejadi-jadinya. "Arthur Summers! Dia yang melakukannya! Dia yang menghancurkan Julian!"
Ruangan itu mendadak hening. Volkov mengerutkan keningnya, mencoba mengingat nama yang baru saja diucapkan wanita itu. Beberapa detik kemudian, memori tentang pria yang ia temui di balkon VIP malam ini terlintas di benaknya.
Volkov tertawa terbahak-bahak, tawanya menggema memenuhi dinding baja kontainer.
"Arthur Summers? Maksudmu dosen sejarah rendahan yang bersikap arogan di pesta tadi?" Volkov menggelengkan kepalanya dengan tatapan meremehkan. "Kau pasti sudah gila. Kau pikir seorang guru sekolah yang bahkan tidak bisa memegang pistol dengan benar memiliki kekuatan untuk meruntuhkan kekaisaran konglomerat?"
"K-kau tidak mengerti!" isak Elena, putus asa mencoba meyakinkan pria Rusia itu. "Dia bukan dosen biasa! Dia telah membohongi semua orang! Dia membangun organisasinya sendiri dari nol. Dia memiliki bawahan di mana lima orang raja dan delapan belas orang jenderal tunduk padanya!"
Mata Volkov sedikit menyipit. Deskripsi yang baru saja diucapkan Elena sangat spesifik, sebuah struktur militer yang hanya dimiliki oleh organisasi tingkat dunia.
"Dia telah memiliki otoritas tertinggi di dunia ini, bersama dengan kekayaan dan status sosialnya," lanjut Elena dengan napas terengah-engah, mengulangi kata-kata yang menancap di jiwanya. "Dia datang ke kota ini dan sengaja menyamar... dia sengaja hidup sebagai dosen rendahan murni hanya karena dia dulu berjanji padaku..."
Volkov berdiri perlahan. Tawa di bibirnya lenyap. Sebagai seorang Jenderal intelijen, instingnya mulai merangkai kepingan teka-teki yang selama ini hilang. Dosen sejarah yang membalas tatapannya tanpa rasa takut. Dosen sejarah yang berdiri di samping keponakan Drake Tucker. Dosen sejarah yang memiliki nama depan 'Arthur'.
Arthur... The Ghost of Karakum.
"Blyat..." umpat Volkov tertahan. Wajah sang Jenderal Utara itu seketika memucat saat menyadari kebodohannya. Pantas saja Arthur terlihat begitu tenang saat diancam. Komandan musuh yang ia cari-cari selama ini ternyata berdiri tepat di depan hidungnya, menyamar sebagai warga sipil tak berdaya.
Volkov menatap Elena dengan senyum kejam yang baru. "Kau sangat berguna, Nona Elena. Mantan suami? Ah... dewa perang itu ternyata memiliki kelemahan masa lalu. Jika dia dulu berjanji padamu, pasti masih ada sedikit empati yang tersisa di hatinya untuk kematianmu."
"T-tidak... dia membenciku!" Elena menggeleng histeris.
Namun Volkov mengabaikannya. Ia berbalik dan menatap kedua pengawalnya. "Siapkan kamera dan kirimkan siaran langsung terenkripsi ini ke jaringan internal Universitas St. Jude. Kita akan melihat, apakah sang Jenderal besar akan keluar dari persembunyiannya untuk menyelamatkan mantan istrinya."
Sementara itu, di markas bawah tanah Pusat Perdagangan Internasional.
Arthur sedang duduk di kursi kebesarannya, membaca laporan intelijen di layar tablet. Silas Mercer dan Maya Lin berdiri di hadapannya dengan ekspresi tegang.
"Bos, jaringan kita baru saja meretas sinyal video yang dikirim secara paksa ke server kampus," lapor Maya dengan cepat. Ia menekan tombol pada remot, memunculkan gambar di layar utama ruangan itu.
Di layar, tampak Elena yang babak belur, terikat di kursi besi dengan latar belakang kontainer kargo. Di sebelahnya, Jenderal Volkov berdiri memegang tongkat baja.
"Aku tahu kau menonton ini, Arthur Summers," suara Volkov terdengar statis dari speaker. "Atau haruskah aku memanggilmu Komandan Phantom? Kau sangat pintar menyembunyikan identitasmu di balik jas dosen murahan itu. Tapi sekarang rahasiamu sudah terbongkar. Datanglah ke Pelabuhan Utara sendirian dalam waktu satu jam, atau aku akan menguliti mantan istrimu ini hidup-hidup dan mengirimkan potongannya ke ruang kelasmu."
Maya menelan ludah melihat kebrutalan itu. Ia menoleh ke arah Arthur, menunggu perintah.
Sang Jenderal meletakkan tabletnya di atas meja dengan tenang. Matanya menatap layar yang menampilkan wajah Elena yang berurai air mata.
Melihat wanita itu menderita, memori lama kembali berkelebat di benak Arthur. Saat ia pertama kali tiba di kota ini, ia berharap disambut dengan pelukan. Namun yang ia temukan hanyalah pengkhianatan. Perasaan pria itu sangat hancur ketika mengetahui kenyataan tersebut. Wanita yang ia perjuangkan mati-matian ternyata hanya mementingkan dirinya sendiri dan justru asyik bersenang-senang dengan para pria bejat di tempat hiburan.
Dulu, saat melihat pengkhianatan itu, Arthur sempat bertanya pada dirinya sendiri, mungkinkah selama ini dia telah salah menilai wanita itu?. Dan jawabannya sudah sangat jelas. Elena bukanlah wanita yang pantas ia lindungi. Wanita itu tidak lebih dari sekadar benalu yang menghancurkan janjinya sendiri.
Meskipun Arthur tidak lagi memiliki perasaan sedikit pun terhadap Elena, ada satu hal yang tidak bisa ia toleransi. Volkov telah berani membawa medan perang ke kotanya, mengancam kehidupan tenangnya, dan menggunakan cara licik untuk memancingnya keluar.
Wajah Arthur seketika menjadi sangat gelap seperti seekor binatang buas yang marah, siap untuk menerkam. Bukan karena ia ingin menyelamatkan sang mantan istri, tetapi karena martabat kekuasaannya telah diinjak-injak oleh anjing dari Utara.
"Silas," panggil Arthur, suaranya sangat berat dan mematikan, membuat udara di ruangan itu terasa membeku.
"Siap, Jenderal!" Silas memberikan hormat militer dengan tegap.
"Siapkan unit tempur divisi satu. Kunci seluruh akses keluar masuk Pelabuhan Utara. Jangan biarkan satu pun kapal atau helikopter asing meninggalkan area tersebut," perintah Arthur tanpa mengalihkan pandangannya dari layar. "Malam ini, aku tidak akan menjadi dosen sejarah. Aku akan mengajari Volkov arti dari sebuah pembantaian."
"Dimengerti, Jenderal!"
Arthur berdiri dari kursinya, meraih jas hitam panjangnya.
Jika Kalian Suka dengan cerita ini silahkan beri
Like, Ranting ⭐️ dan Vote 🎟 serta Gift 💰.
Penilaian & Kontribusi kalian sangat berharga bagi author untuk tetap semangat update cerita ini.
TERIMA KASIH.... ✌️
kira2 kultivasi arthur sudah kaisar bumi minimal...