ZONA DEWASA‼️
Luna seorang mahasiswa yang berkuliah di universitas elite di ibukota menyembunyikan identitasnya yang seorang putri tunggal dari pengusaha yang diambang kebangkrutan, dia pun melarikan diri dari rumahnya karna hendak di jodohkan.
Di kampusnya ia jatuh cinta dengan Adrian Xander Mahasiswa terpopuler di universitas Legacy.
Namun secara tidak sengaja Luna mengalami sebuah peristiwa yang membuatnya terikat dengan Moreno Xander yang juga merupakan saudara tiri Adrian
Apa yang akan terjadi pada kehidupan Luna setelah dia dihadapkan dengan dua Xander bersaudara???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaara 26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Napas Luna serasa tercekat di tenggorokan. Jarak di antara mereka begitu terkikis hingga Luna sanggup merasakan kehangatan yang menguar dari kulit Moreno. Dari jarak sedekat ini, Luna tidak bisa memungkiri kenyataan bahwa pahatan wajah pria di hadapannya memang kelewat tampan
—rahang tegas, hidung mancung yang sempurna, dan iris mata tajam yang begitu menghipnosis.
Luna memejamkan matanya erat-erat, meratapi nasib di dalam hati.
"Gusti... masa ciuman pertama gue harus melayang buat bule sinting ini?!" batinnya menjerit meratapi ketidakadilan takdir.
Namun, mengingat taruhannya adalah keselamatan ibunya, Luna tidak memiliki celah untuk lari.
Dengan bibir gemetar dan dada yang bergemuruh hebat, ia perlahan mendekatkan wajahnya. Luna menempelkan bibirnya di atas bibir tipis Moreno—hanya sebuah kecupan singkat tak berdaya selama dua detik—sebelum menarik dirinya kembali dengan napas memburu.
Luna menunduk kaku, mengira tugasnya sudah selesai. Namun, keheningan yang menyusul justru terasa makin menekan.
Moreno menatap Luna dengan sorot mata yang kian menggelap. Jelas sekali dari raut wajahnya yang menegang bahwa ia sama sekali tidak puas dengan kecupan terpaksa itu.
SRET!
Tanpa peringatan, tangan Moreno di pinggang Luna makin mengencang. Pria itu menarik tubuh Luna hingga dada mereka menempel sempurna tanpa jarak, membuat Luna berseru kaget seraya menahan dada Moreno dengan kedua tangannya.
"Ulangi," desis Moreno dingin, suaranya berat dan mengintimidasi. "Gue paling gak suka hal yang setengah-setengah."
"What?! Diulang lagi?!" protes Luna refleks, matanya melotot tak percaya. "Gue udah turutin perintah lo ya!"
"Itu bukan ciuman, Luna. Itu cuma nempelin bibir," potong Moreno tajam. Kesabarannya yang setipis tisu jelas sudah berada di ambang batas. Lirikan matanya mengunci seluruh keberanian Luna hingga menjadi abu.
Moreno memiringkan kepalanya sedikit, mendekatkan bilah bibirnya tepat di depan telinga Luna.
"Cium gue lagi. Yang bener... dan jangan berani- lepas sebelum gue yang nyuruh," perintah Moreno tanpa menerima bantahan sedikit pun.
Luna menghela napas panjang, mencoba menetralkan degup jantungnya yang sudah tak karuan. Batinnya terus berseru menyemangati diri sendiri.
"Oke, Luna... lo pasti bisa. Lakukan aja perintah bule sinting ini sekarang supaya semuanya cepet selesai!"
Luna kembali mendekatkan wajahnya. Sama seperti sebelumnya, ia memejamkan mata rapat-rapat lalu menempelkan bibirnya di atas bibir Moreno. Kali ini ia berusaha menahannya sedikit lebih lama sesuai perintah.
Namun, belum ada lima detik, Moreno mendadak mendorong bahu Luna menjauh seraya berdecak kesal.
"Ck!" Moreno memutar bola matanya, menatap Luna dengan raut wajah serba salah.
"Kaku banget sih lo? Ciuman lo bener-bener membosankan."
Moreno memicingkan mata, meneliti ekspresi Luna yang membeku. "Jangan bilang... ini ciuman pertama lo?"
Seketika Luna menggigit bibir bawahnya erat-erat. Wajah hingga merambat ke pipinya memerah padam, menahan malu yang luar biasa karena rahasianya terbongkar begitu saja di hadapan Moreno.
Melihat perubahan warna di wajah Luna, sudut bibir Moreno perlahan terangkat. Senyum puas yang penuh kemenangan terpancar jelas dari raut wajahnya.
Fakta bahwa ia adalah pria pertama yang menyentuh dan memiliki ciuman pertama gadis ini memberikan kepuasan tersendiri baginya.
Moreno menatap bibir merona itu dengan tatapan lapar.
"Berhubung lo gak bisa... biar gue yang ngajarin gimana cara berciuman yang benar," ujar Moreno dingin namun sarat akan tekad yang tak bisa diganggu gugat.
Belum sempat otak Luna mencerna sempurna kalimat itu, tangan kekar Moreno sudah meluncur cepat menangkup tengkuk belakang kepala Luna. Moreno memangkas jarak dalam sekejap dan mendaratkan bibirnya tepat di atas bibir Luna.
DEG!
Berbeda jauh dari sentuhan kaku Luna tadi, kali ini Moreno melumat dan memagut bibirnya dengan tekanan yang dalam, menuntut, dan sedikit liar. Dominasi Moreno yang begitu intens seketika melumpuhkan seluruh pertahanan Luna.
Sensasi aneh dan asing yang belum pernah ia rasakan sebelumnya mendadak meletup di dalam dadanya, membuat seluruh tubuh Luna berdesir hebat dalam cengkeraman Moreno.
Moreno tidak memberikan celah sedikit pun bagi Luna, bahkan hanya untuk sekadar menarik napas. Ia terus melumat bibir manis itu tanpa ampun, mengklaim penuh dominasi hingga Luna serasa kehabisan oksigen.
Pandangan Luna mulai berkunang-kunang. Dengan sisa tenaganya, Luna menepuk-nepuk kasar pundak Moreno agar pria itu segera melepaskannya.
Hingga akhirnya, Moreno mengakhiri ciuman panas itu secara perlahan.
Napas Luna tersengal-sengal, dadanya naik turun memburu. Diliputi rasa kesal Luna secara refleks mengepalkan tangan dan memukul kuat dada bidang Moreno.
"Lo mau bunuh gue, hah?!" protes Luna dengan suara serak, napasnya masih terengah.
Moreno tertawa tipis—sebuah tawa langka yang merdu namun tetap terdengar menyebalkan di telinga Luna. Sorot matanya menatap lekat wajah Luna yang memerah padam dengan kondisi bibir yang sedikit bengkak akibat ulahnya.
"Sekarang lo udah paham kan gimana cara ciuman yang bener?" tanya Moreno seraya menyunggingkan senyum tipis yang menggoda.
Luna mencibir kesal, memutar bola matanya malas. Namun, bukannya marah atas penolakan itu, Moreno justru tertawa rendah. Menurutnya, ekspresi bersungut-sungut Luna saat ini terlihat sangat lucu.
"Bisa juga lo ketawa..." gumam Luna nyaris tak terdengar, menatap takjub pada Moreno yang sedang menertawakan dirinya.
"Lo bilang apa tadi?" potong Moreno cepat, menghentikan tawanya dan memicingkan mata selidik.
"Gak ada! Gue gak ngomong apa-apa!" kilah Luna cepat.
Moreno tentu saja tidak percaya, namun sebelum pria itu kembali mengintimidasi, Luna mengumpulkan sisa keberaniannya. Ia menatap lurus mata Moreno.
"Gue bakal penuhi apapun permintaan lo di sini..." ujar Luna tegas, "tapi dengan satu syarat."
Dahi Moreno mengernyit. "Syarat?"
"Gue mau tetap pergi kuliah seperti biasa," pinta Luna bersungguh-sungguh. Pendidikan adalah satu-satunya hal tersisa yang ingin ia pertahankan.
Moreno diam sejenak, menimbang permintaan itu dalam kepalanya. Setelah beberapa detik hening yang menegangkan, Moreno akhirnya mengangguk.
"Oke," sahut Moreno datar. "Tapi lo harus pergi dan pulang bareng gue. Gak ada bantahan."
Luna menghela napas berat. Walau membayangkan harus berboncengan atau satu mobil lagi dengan Moreno ke kampus akan memicu drama baru, ia tidak punya pilihan lain.
"Ya udah, iyain aja."
Dengan cepat, Luna turun dari pangkuan Moreno, merapikan gaunnya yang sedikit berantakan. Moreno ikut bangkit, lalu menunjuk sebuah pintu di sudut ruangan.
"Kamar lo di sana. Sekarang lo istirahat," suruh Moreno.
Namun, tepat saat Luna hendak melangkah beranjak, suara Moreno kembali menginstruksi,
"Inget, lo harus bangun pagi-pagi besok. Mulai aktivitas lo sebagai babu di sini."
Luna mendesah pasrah, menyembunyikan kekesalannya. "Iya, gue ingat..."
"Gue mau keluar. Gak usah nungguin gue," tambah Moreno santai seraya meraih kunci mobilnya di atas meja.
Luna berbalik membelakangi Moreno, menggerutu habis-habisan dalam hati. "Dih, Pede banget! Siapa juga yang sudi nungguin bule sinting kayak lo!!"
Tanpa membalas ucapan Moreno lagi, Luna melangkah cepat masuk ke dalam kamarnya dan langsung mengunci pintu rapat-rapat.