Indonesia
NovelToon NovelToon
Pengasuh Manis Sang Direktur

Pengasuh Manis Sang Direktur

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Pengasuh
Popularitas:46
Nilai: 5
Nama Author: Mutiara Putri

Demi kabur dari kawin paksa—dijual ayahnya yang mabuk demi melunasi utang—Sekar, gadis desa yang selalu menahan lapar demi menyembunyikan tubuhnya yang "terlalu menonjol", nekat merantau ke Surabaya dan jadi pengasuh di rumah keluarga konglomerat Adiwijaya.

Di rumah megah itu ada Narendra—orang memanggilnya Nara. Putra bungsu yang dingin, sempurna, dan seolah tak tersentuh. Priyayi, direktur muda, es yang tak pernah mencair. Sekar cuma punya satu rencana: menunduk, jangan menonjol, kumpulkan uang, lalu pergi diam-diam.

Tapi malam itu, saat rahasia tubuhnya nyaris terbongkar, justru Nara yang menemukannya lebih dulu. Dan lelaki yang katanya tak pernah kehilangan kendali itu... malah berbisik pelan:
**"Mulai sekarang, kau hanya boleh kenyang di depanku."**

Sejak itu, semuanya berubah. Ipar yang memfitnahnya mencuri, preman yang terus mengganggu, keluarga sosialita yang memandang rendah "gadis desa yang tak tahu bibit-bebet-bobot"—satu per satu dihadapi. Nara membelanya di depan semua orang; dan Sekar sendiri belajar melawan, bangkit dari nol dengan tangannya sendiri.

Demi Sekar, Nara rela keluar dari perusahaan keluarga, memulai dari titik nol, membalik keadaan sampai jadi orang terkaya—hanya untuk menaruh semua hartanya atas nama perempuannya.

Dari pengasuh yang menahan lapar... jadi nyonya besar yang dimanja seumur hidup.

Waktu wartawan bertanya kenapa ia sekeras itu bekerja, sang konglomerat yang biasanya dingin cuma melirik istrinya, lalu tersenyum tipis:
**"Istriku manja. Ya, harus kumanjakan."**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 34

Bab 34

Aku Cemburu

Nara

Tiga hari setelah ciuman di hotel, aku membaca satu halaman laporan selama dua puluh menit tanpa memahami satu kalimat pun.

Setiap mencoba berkonsentrasi, pikiranku kembali pada Sekar. Pada caranya memanggil namaku. Pada bibirnya yang mengatakan tidak ingat sementara wajahnya mengaku sebaliknya. Lalu bayangan itu digantikan Fajar di depan warung dan tangan Sukir pada pergelangannya.

Aku menutup laptop.

"Saya cemburu," kataku pada ruangan kosong.

Pengakuan itu terdengar konyol. Fajar sudah mundur, Sekar sudah menolak, tetapi aku masih tidak menyukai ingatan lelaki itu berdiri di dekatnya. Lebih buruk, aku sadar kecemburuan bukan hak. Kami belum punya hubungan, dan aku sendiri yang terus menunda bicara.

Aku memanggil Bayu ke kantor.

Dia masuk membawa tablet. "Rapat proyek sepuluh menit lagi."

"Tunda lima belas menit. Saya perlu membahas keamanan Sekar."

"Sukir?"

"Sukir dan Roy."

Bayu membuka catatan. Setelah laporan pasar, nomor Sukir sudah dimasukkan ke daftar pengawasan gerbang. Polisi menerima bukti medis dan keterangan saksi. Roy masih bebas menunggu proses perkara gang sebelumnya, dan beberapa hari terakhir tidak terlihat.

"Saya ingin jadwal keluar Sekar diperhatikan," kataku. "Belanja, bertemu Yuni, atau urusan pribadi. Jangan membuntuti tanpa sepengetahuan. Tawarkan pendamping dan tombol darurat."

"Bagus Bapak menambahkan bagian tanpa sepengetahuan."

"Saya tidak ingin mengurungnya."

"Wajah Bapak kadang mengatakan sebaliknya."

Aku mengabaikan komentar itu. "Buat grup kecil: Sekar, Bu Nah, kau, dan satu petugas perempuan. Lokasi hanya dibagikan saat dia meminta atau ketika jadwal pulang terlewati."

"Roy pernah terlihat dekat pasar malam tempat Yuni berjualan."

Aku langsung menegakkan punggung. "Kapan?"

"Dua malam lalu. Belum ada bukti dia mengikuti Sekar. Saya menempatkan orang di sekitar area mulai besok."

"Mulai malam ini."

"Saya bisa menempatkan dua petugas berpakaian biasa di sisi utara dan area parkir," kata Bayu. "Mereka tidak akan mengikuti sampai ke kios kecuali ada ancaman. Sekar harus menyimpan nomor komando pasar dan membagikan titik lapak Yuni."

"Lakukan."

"Kalau Roy muncul, prioritas evakuasi. Jangan ada tindakan fisik kecuali mencegah serangan. Polisi sektor sudah menerima foto dan cirinya."

"Saya ingin semua petugas memakai kamera badan."

"Sudah. Bukti kejadian lama lemah karena sudut video terpotong. Kali ini kita tidak memberi ruang untuk bantahan."

Aku menyetujui biaya dan jadwal. Pengamanan yang baik seharusnya tidak terasa seperti penjara. Sekar tetap bisa membantu Yuni, berbicara dengan pembeli, dan belajar pasar. Bahaya yang harus dipersempit, bukan hidupnya.

Bayu menatapku. "Sekar berencana membantu Yuni malam Jumat."

"Pastikan dia tahu risikonya dan memilih sendiri apakah tetap pergi."

"Bapak tidak melarang?"

"Kalau saya melarang setiap tempat berbahaya, dia tidak akan pernah punya hidup di luar rumah."

Bayu mengangguk. "Akhirnya belajar."

Setelah urusan keamanan, dia belum pergi.

"Ada lagi?"

"Bapak memanggil saya karena Sukir dan Roy, atau karena Fajar?"

Aku menatapnya.

"Bu Tumi bilang Bapak datang seperti hendak membeli seluruh gang."

"Fajar bukan ancaman."

"Tapi mengganggu pikiran."

"Keluar."

Bayu tertawa. "Baik. Berarti benar."

Pintu tertutup. Aku kembali menatap laptop, lalu membuka laci. Tiga sapu tangan terlipat rapi di sisi dokumen. Aku sudah berjanji mengembalikan, tetapi baru dua yang kembali ke Sekar. Satu dengan bordir huruf S masih kusimpan.

Aku tidak bisa terus hidup dari benda kecil dan jawaban setengah.

Keluarga akan menolak. Sekar takut bergantung kepadaku. Sukir bisa memakai posisi wali untuk menghambat masa depannya. Semua itu membutuhkan langkah yang terencana, bukan ciuman saat demam.

Pertama, Sekar harus punya penghasilan dan tempat aman yang tidak tergantung pada status pekerja rumah. Aku bisa mengajar, membuka akses informasi, dan membeli produk secara wajar nanti, tetapi tidak boleh menciptakan usaha palsu hanya agar dia merasa berhasil.

Aku teringat catatan harga kain yang kuselamatkan dari pasar. Angkanya ditulis tidak rapi, beberapa ejaan salah, tetapi perbandingannya teliti. Dia tidak membutuhkan toko hadiah. Dia membutuhkan waktu belajar, akses pemasok yang adil, dan seseorang yang tidak menertawakan pertanyaan dasar.

Aku membuka agenda dan menyisihkan dua malam setiap pekan untuk pelajaran membaca, berhitung, dan penggunaan aplikasi kas. Jika Sekar bersedia, pelajaran berlangsung di ruang keluarga atau ruang kerja dengan pintu terbuka. Setelah hotel, aturan ruang bukan formalitas lagi. Ia melindungi kami dari diri sendiri sekaligus dari fitnah.

Kedua, aku harus menyelesaikan sikap keluarga sebelum meminta jawaban darinya. Bukan menunggu restu sempurna, melainkan memastikan dia tidak masuk ke rumah ini sebagai sasaran tanpa perlindungan.

Ketiga, aku harus mengatakan perasaanku dalam keadaan sehat, di tempat terbuka, tanpa bahaya yang membuatnya merasa berutang.

Aku menulis satu kalimat di kertas: `Saya menyukaimu dan ingin mengenalmu untuk tujuan serius.` Terlalu kaku. Kucoret.

Kucoba lagi: `Kar, saya ingin kau menjadi bagian hidup saya.` Terlalu besar untuk hubungan yang belum dimulai.

Kertas kedua ikut diremas. Aku bisa berbicara di depan investor tanpa catatan, tetapi satu perempuan dari desa membuatku menguji setiap kata seperti kontrak berisiko tinggi.

Pada akhirnya aku menyimpan kertas kosong. Kejujuran tidak perlu dibuat sempurna. Ia hanya harus disampaikan tanpa tempat bersembunyi.

Daftar itu terasa seperti rencana proyek. Bedanya, hasil akhirnya tidak bisa dikendalikan dengan kontrak.

Sekar bisa menolak.

Kemungkinan itu menakutkan, tetapi tetap haknya.

Aku melihat bayangan kota di jendela kantor. Untuk pertama kali, aku tidak menyebut rasa di dadaku sebagai tanggung jawab atau belas kasihan. Aku menginginkan Sekar, cemburu ketika orang lain mendekat, dan takut kehilangannya.

Namun keinginan bukan izin untuk memiliki.

Aku mengirim pesan kepada Bayu: `Pastikan perlindungan mulai malam ini. Sekar harus tahu semua pengaturannya.`

Lalu kubuka percakapan Sekar. Aku mengetik banyak kalimat, menghapus semuanya, dan akhirnya hanya menulis:

`Jangan pulang sendiri dari pasar malam. Gunakan pendamping yang sudah disiapkan. Ini permintaan, bukan larangan.`

Balasannya datang beberapa menit kemudian.

`Baik. Saya akan kabari.`

Dua kalimat itu tidak memuaskan bagian diriku yang ingin menjemput sendiri. Tetapi belajar mencintai mungkin dimulai dari menahan keinginan mengatur.

Aku meminta pengemudi tetap siaga malam Jumat, lalu memasukkan jadwal pasar ke kalender pribadi. Bukan agar Sekar tidak bisa bergerak tanpa pengawasanku. Aku ingin siap bila dia meminta bantuan, dan cukup disiplin untuk tidak muncul hanya karena rasa cemburu menyuruhku.

Aku menutup laci berisi sapu tangan terakhir dan mengucapkan keputusan kepada diri sendiri.

Jadwal pengamanan, pelajaran, dan batas kutulis jelas di agenda supaya perhatianku tidak berubah menjadi kendali yang menelan kebebasan Sekar sedikit demi sedikit tanpa kusadari pada hari-hari mendatang dalam kehidupan kami berdua kelak.

Aku tidak akan menunggu lama lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!