Indonesia
NovelToon NovelToon
Dia Istriku, Tapi Kayak Orang Asing

Dia Istriku, Tapi Kayak Orang Asing

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Selingkuh / Cinta Terlarang
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Storyginal Finger

Seorang pria bernama AZKA (27 tahun) sudah beberapa minggu mengalami koma akibat kecelakaan kerja ketika ia yang merupakan pimpinan konstruksi sedang meninjau proyek pembangunan.

Azka telah menikah dengan VISHA (24 tahun) selama 3 tahun tapi belum memiliki momongan. Meskipun begitu, hubungan pernikahan mereka masih sangat harmonis. Visha senantiasa merawat Azka di rumah sakit.

Tapi siapa sangka kalau ternyata otak Azka yang sedang koma justru menciptakan ingatan baru yang berbeda.

Dia teringat dengan SESILIA (19 tahun) yang merupakan kepala tim QC baru di kantornya. Walaupun Azka baru bertemu beberapa kali, ternyata secara tidak sadar, Azka mempunyai rasa ketertarikan dengan Sesilia.

Hal ini membuat kenangan-kenangan indah tentang hubungan Azka dan Sesilia. Sedangkan ingatan tentang Visha justru terhapuskan.

Semenjak sadar, Azka mengalami dilema antara Visha dan Sesilia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Storyginal Finger, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 32: Paket Kilat Hadiah untuk Visha

Pagi ini, tanggal 2 Juli, hari ulang tahun Visha Aurelia.

Ia bersama suaminya, Azka yang masih tertidur pulas meski matahari sudah meninggi. Wajar saja, mereka habis begadang tadi malam, kelelahan.

Hingga pada akhirnya Visha bangkit dari ranjang karena mendengar suara telepon hotel.

“Pagi Kak. Saya ingin memberitahu kalau ada paket atas nama Azka Saputra dari kamar 314. Apakah ingin diambil ke lobi resepsionis atau diantarkan ke kamar?”

Visha terdiam sejenak. Ia membangunkan Azka, memberitahu apa yang baru saja dikatakan pegawai hotel. Sayangnya Azka masih terlalu mengantuk, hanya bergumam tidak jelas. Ia pun memutuskan bilang agar paketnya diantar ke kamar saja.

“Baik Kak, mohon ditunggu ya.”

“Terima kasih,” Visha menutup telepon.

Ia bergegas ke kamar mandi untuk cuci muka.

Tak berapa lama, pegawai hotel datang mengirimkan paket yang tadi dibicarakan di telepon. Ia menerima, membawanya masuk.

“Azka, ini paket apa? Paket super ekspres satu hari sampai,” tanya Visha.

Terkejut mendengar ucapan Visha, ia langsung bangun dari tidurnya. Ia bahkan segera beranjak, menghampiri Visha yang sedang memegang kotak paketnya. Azka kebingungan, begitu juga dengan Visha yang terlihat heran.

“Ini apa?” tanya Visha lagi.

Bukannya menjawab, Azka berdiri seperti mencari sesuatu.  “Cari apa?” Visha cemberut kesal merasa diabaikan.

Rupanya Azka sedang mencari gunting. Oleh karena tidak berhasil menemukannya, ia mengambil pisau di tempat sendok.

“Ayo kita buka,” ajak Azka.

Visha masih tidak tertarik, ia bahkan kelihatan marah karena Azka tak menjawab pertanyaannya. Dengan rambut yang masih berantakan, baru bangun tidur dan belum cuci muka, Azka mencongkel kardus paket tersebut.

Sedangkan Visha hanya melihat sinis.

Ternyata di dalam terdapat sebuah kotak kecil, Azka langsung memberikannya kepada Visha.

“Ini untuk kamu, hadiah dari aku,” ucap Azka sambil tersenyum.

Azka kembali duduk di atas ranjang, merebahkan badan ke samping karena ia masih sangat mengantuk.

Masih ragu melihat apa yang ada di tangannya, Visha tidak langsung membuka kotak tersebut.

“Buka dong,” kata Azka, mengintip satu mata mengetahui istrinya hanya diam.

“Apa ini?” Visha masih tidak yakin.

Ia sebenarnya sudah menduga isinya merupakan perhiasan karena dari bentuk kotak yang khas.

Menyadari Visha masih belum juga membuka dan terus bertanya, Azka duduk kembali. “Kamu buka saja, supaya tahu isinya apa.”

Mendengar perintah Azka, perlahan, Visha membuka kotak paket itu. Tangannya sedikit gemetar. Entah kenapa, ia yakin sesuatu yang indah ada di dalamnya karena hari ini merupakan ulang tahunnya.

Tapi ia masih tidak mengetahui apa yang akan diberikan oleh Azka.

“I-ini..”

Tiba-tiba saja Visha menangis setelah mengetahui kalau di dalam kotak merupakan sebuah kalung.

“Lho, kamu kenapa?” tanya Azka, refleks memeluknya.

“Hei, kamu kenapa menangis? Apakah kamu tidak suka dengan hadiah yang aku berikan?”

Visha memberitahu ia menangis haru bahagia karena tidak mengira Azka akan membelikan kalung yang selama ini diinginkan.

Ternyata sudah sejak lama, Visha ingin memiliki sebuah kalung berlian, tapi Azka tak kunjung membelikannya dengan alasan harga yang terlalu mahal.

Bukan karena Azka pelit, tapi ia merupakan sosok yang sederhana, tidak ingin terlalu mencolok, meskipun ia mampu. Visha sempat mengadukan hal tersebut ke mertuanya, berharap ia mendapat pembelaan sehingga Azka membelikan kalung itu, tapi mereka justru mendukung apa yang dilakukan oleh Azka.

Ia bahkan diminta mendukung prinsip yang dipegang oleh Azka sebagai seorang suami.

“Dulu kamu paling anti beli barang mahal seperti ini, kenapa sekarang kamu berubah?” tanya Visha.

Tentu tidak mungkin rasanya Azka memberikan alasan yang sebenarnya bahwa ia awalnya ingin beli hadiah untuk Kayla. Azka terpaksa membeli kalung yang serupa agar hatinya tenang, merasa telah memberikan keadilan untuk kedua wanita yang dicintainya.

Menjawab pertanyaan Visha tadi, Azka berdalih selama  mengalami koma, ia menyadari betapa berharganya Visha.

“Jangankan kalung ini, apapun yang kamu minta, selama aku mampu, pasti akan aku usahakan,” gombal Azka membuat Visha meleleh.

“Sini aku pasangkan di lehermu,” lanjut Azka yang kemudian mengambil kalung dalam kotak.

Setelah mengusap air matanya, Visha mempersiapkan diri dengan leher yang tegak. Azka memasang kalung tersebut mirip seperti saat ia melakukannya pada Kayla.

Usai mengaitkan kunci kalungnya, Azka menarik rambut panjang Visha agar kalung bisa terpasang sempurna. Azka kemudian mundur sedikit, memperhatikan kalung itu seksama. Ia memberikan pujian persis seperti yang dikatakan untuk Kayla.

“Indah sekali, kamu sangat cocok mengenakan kalung ini, cantik!”

“Bikin aku makin cinta,” godanya.

Visha langsung memeluk Azka erat. Menutupnya dengan ciuman bibir yang cukup lama hingga mengakibatkan mereka melakukan nikmatnya menikah, sekali lagi.

Satu jam kemudian, mereka terbaring di atas ranjang. Posisinya persis saat malam hari seperti obrolan sebelum tidur.

“Aku baru sadar, kita belum sarapan lho,” ucap Visha, nafas masih terengah-engah, perutnya keroncongan.

Menyadari hal serupa, Azka mengaku sudah lapar dari tadi. Ia menahan diri karena tidak ingin mengganggu suasana yang sudah terbangun.

“Buffet hotel sudah tutup, kamu mau pesan di restoran hotel atau pesan dari luar pakai ojek online?” tanya Visha, beranjak bangun tapi masih hanya mengenakan pakaian dalam saja.

“Dari luar saja bagaimana? Makanan di hotel tidak ada yang menarik. Aku ingin soto betawi,” jawab Azka.

Seketika saja Visha baru ingat mengenai kondisi kesehatan Azka. Ia mempertanyakan apakah Azka kini sudah lebih baik. Ia benar-benar lupa kalau suaminya sedang sakit.

Azka memyakinkan Visha, kesehatannya sudah sangat baik, “Apalagi sudah nge-charge dua kali. Ibarat baterai, aku merasa seperti sudah full seratus persen.”

“Haha, dasar kamu ya, ada-ada saja,” respon Visha terkekeh.

***

Mereka kini sedang makan soto betawi sesuai keinginan Azka. Di tengah menyantap hidangan berkuah, Visha mempertanyakan mengenai apa rencana Azka terkait Bimo.

Ia masih merasa khawatir karena menurut apa yang ia dengar, Bimo tidak segan-segan melakukan kekerasan terhadap orang yang menyinggungnya.

Bimo bahkan juga dikenal sebagai seorang psikopat pendendam yang tidak akan berhenti hingga ia merasa puas.

“Orang yang sebenarnya tidak salah saja, kalau menurut dia menyebalkan, dia bisa sangat jahat lho. Apalagi kamu sekarang terang-terangan ingin mengibarkan bendera perang sama dia. Apa tidak berbahaya?” tanyanya.

Azka memberi pembelaan, “Kan sudah aku jelaskan kemarin Visha. Aku tidak akan terlibat. Aku hanya menyerahkan data saja. Kebetulan memang aku yang simpan dan sengaja aku jaga kalau-kalau suatu saat dibutuhkan. Dan benar saja, sekarang data tersebut diperlukan.”

Tak mau langsung percaya, Visha menjelaskan masalahnya pasti tidak akan mungkin semudah itu. Menurutnya, Bimo pasti akan menyelidiki sumber masalah yang merugikannya.

“Kamu tidak akan mungkin bisa lolos begitu saja. Kamu harus punya rencana lain. Kalau perlu, kamu harus buat plan b, c, d, dan lainnya. Ini supaya kamu bisa lebih aman. Aku tidak mau kamu mengalami hal sulit di kemudian hari,” pinta Visha.

“Aku memang ingin kembali ke ibukota, tapi kalau untuk mewujudkannya justru membahayakanmu, aku memilih tinggal di daerah. Yang penting, aku bisa menghabiskan seluruh waktu sama kamu,” lanjut Visha serius.

Menenangkan istrinya, Azka mengembalikan topik ke soto betawi yang sedang mereka santap.

“Iya, aku pasti akan lakukan yang terbaik. By the way ini soto betawi kurang pedas, minta lagi sambalnya dong,” ucap Azka mengalihkan pembicaraan.

1
Storyginal Finger
sangat bagus
Nanda Jambi
kenangan terindah pasti ada dalam setiap ingatan terdalam
Storyginal Finger: sepakat 😍👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!