Indonesia
NovelToon NovelToon
Istri Pengganti Sang Komandan

Istri Pengganti Sang Komandan

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Berbaikan / Cinta setelah menikah / Penyesalan Suami / Dokter / Menikahi tentara / Tamat
Popularitas:2.9M
Nilai: 4.8
Nama Author: Ayu Lestari

"Demi menyelamatkan ayahnya, Alya setuju menggantikan kakaknya untuk memenuhi janji pernikahan dengan Mayor Damar. Namun, pada akhirnya semua hanyalah status dan diikat surat perjanjian yang berlaku selama tiga tahun. Di samping itu, Alya dan Damar menjalani kehidupan mereka masing-masing.

Namun, dua tahun kemudian, keduanya dipertemukan kembali di medan perang. Alya sebagai dokter ditugaskan ke perbatasan NTT, tempat Damar bertugas. Kontrak yang awalnya dianggap sebagai garis aman perlahan-lahan berubah menjadi bom waktu ketika cinta mengetuk hati Mayor Damar."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 27

Bab 27 - Nasihat yang Terlalu Manis

Siska Paramitha kembali ke perbatasan dua hari kemudian.

Alasannya bantuan lanjutan yayasan.

Truk kecil membawa tablet penjernih air, selimut, obat dasar, dan paket makanan untuk warga terdampak gempa. Semua orang menyambut dengan lega. Alya pun tidak bisa menyangkal bantuannya berguna.

Masalahnya, Siska tidak pernah datang hanya membawa barang.

Dia selalu membawa sesuatu yang lain.

Senyum.

Kata-kata manis.

Dan duri yang dibungkus sangat rapi.

Pagi itu, Alya sedang memeriksa daftar penerima bantuan di balai desa ketika Siska mendekat membawa dua gelas kopi.

"Dokter Alya, istirahat sebentar?"

Alya menatap gelas itu.

"Terima kasih. Saya masih bekerja."

"Justru karena bekerja terus, harus minum."

Siska meletakkan satu gelas di dekat Alya tanpa menunggu persetujuan. Aromanya kopi susu mahal, jelas bukan dari dapur posko.

"Saya dengar Dokter dapat tawaran tim medis kemanusiaan."

Tangan Alya berhenti di atas kertas.

"Cepat sekali kabarnya."

Siska tersenyum.

"Dunia kesehatan itu kecil. Apalagi kalau menyangkut orang sehebat Dokter."

"Saya belum sehebat itu."

"Jangan merendah. Damar pasti bangga."

Alya tidak menjawab.

Siska menyeruput kopi.

"Atau khawatir?"

Alya menatapnya.

"Mbak Siska ingin membahas bantuan atau perasaan Damar?"

Siska tertawa pelan.

"Maaf. Saya terlalu terus terang ya?"

"Lumayan."

"Saya hanya berpikir, perempuan seperti kita sering berada di posisi sulit. Kalau memilih karier, dianggap egois. Kalau memilih keluarga, dianggap tidak punya ambisi."

Kalimat itu terdengar benar.

Terlalu benar.

Alya tidak langsung memotong.

Siska melanjutkan, "Mama saya dulu dokter. Pintar sekali. Tapi setelah menikah dengan Papa, semua berubah. Tugas Papa, acara keluarga, tekanan sosial. Pelan-pelan Mama berhenti praktik. Awalnya bilang hanya cuti. Lalu setahun. Dua tahun. Sampai akhirnya semua orang mengenalnya hanya sebagai istri pejabat."

Alya menatap daftar bantuan, tapi huruf-hurufnya mulai kabur.

"Mama menyesal?"

"Sangat."

Suara Siska melembut.

"Dia sering bilang, perempuan yang terlalu lama hidup di bawah bayangan suami akan lupa bentuk dirinya sendiri. Apalagi kalau suaminya kuat seperti Damar."

Duri pertama masuk.

Halus.

Tidak berdarah di luar.

Siska menatap Alya dengan wajah penuh empati.

"Saya tidak bilang Damar jahat. Dia hanya terbiasa memimpin. Terbiasa memutuskan. Orang seperti dia bisa sangat melindungi, tapi perlindungan kadang terasa seperti ruangan tanpa pintu."

Alya menggenggam pena.

Kalimat itu terdengar seperti ketakutannya sendiri.

"Damar sedang belajar," kata Alya.

"Saya percaya." Siska tersenyum. "Tapi orang tidak berubah semudah itu, Dok. Apalagi pria yang sejak kecil dididik menjadi pewaris keluarga dan komandan."

Alya menatapnya.

"Mbak Siska mengenal dia dulu."

"Benar."

"Saya mengenal dia sekarang."

Senyum Siska tidak hilang, tapi matanya mengeras sesaat.

"Semoga yang sekarang tidak melukaimu seperti yang dulu."

Kalimat itu seperti doa.

Juga ancaman.

Sebelum Alya menjawab, Damar datang bersama Rendra. Dia melihat kopi di dekat Alya, lalu Siska.

"Distribusi selesai?"

"Sebagian," jawab Siska. "Saya sedang membantu Dokter Alya istirahat. Dia terlalu keras pada diri sendiri."

"Dia memang begitu," kata Damar.

Alya meliriknya.

Damar menambahkan, "Tapi dia tahu batasnya."

Siska tersenyum. "Semoga."

Rendra yang sensitif terhadap udara beracun langsung pura-pura menerima radio.

"Dan, saya cek tenda sebelah."

Dia pergi.

Damar menatap Alya.

"Kamu sudah makan?"

Alya hampir tertawa karena pertanyaan itu muncul di depan Siska.

"Belum."

Wajah Damar berubah.

Alya cepat berkata, "Tapi saya akan makan setelah daftar ini selesai."

"Daftar bisa ditunggu."

Siska berkata lembut, "Damar, jangan terlalu memerintah. Dokter Alya pasti tahu dirinya sendiri."

Damar menatap Siska.

Kalimat itu terdengar biasa, tapi Alya mendengar kaitnya.

Damar juga sepertinya mendengar.

"Aku tidak memerintah," katanya. "Aku mengingatkan karena dia sering lupa makan saat bekerja."

"Manis sekali."

Siska tersenyum, tapi senyumnya tidak sampai ke mata.

Alya berdiri.

"Saya ambil makanan dulu."

Damar menatapnya.

"Aku ambilkan."

"Tidak. Saya ambil sendiri."

Dia berjalan menuju dapur umum sebelum dua orang itu mengubah posko bencana menjadi medan perang dingin.

Di dapur umum, Bu Wati sedang membagikan nasi bungkus. Dia melihat wajah Alya dan langsung menyodorkan satu porsi.

"Ada yang bikin tekanan darah naik?"

"Kopi susu."

"Oh. Mbak cantik dari yayasan?"

Alya menatapnya.

Bu Wati mengangkat bahu.

"Saya ini ibu-ibu, Dok. Mata saya tajam."

Alya duduk di bangku kecil dan membuka nasi bungkus.

Bu Wati duduk di sebelahnya.

"Mbak itu ngomongnya halus, tapi bikin perut panas ya?"

Alya hampir tersedak.

"Bu Wati."

"Saya benar, kan?"

Alya tidak menjawab.

Bu Wati mengambil cabai dari bungkus nasi.

"Dokter, saya tidak sekolah tinggi. Tapi saya tahu perempuan yang tulus memberi nasihat itu matanya beda dengan perempuan yang ingin melihat rumah orang retak."

Alya menatap nasi.

"Kadang nasihatnya ada benarnya."

"Bisa. Racun juga bisa dicampur madu asli."

Kalimat itu membuat Alya terdiam.

Sore harinya, Alya memeriksa berkas seleksi lagi. Surat rekomendasi dari RSUD sudah masuk. Tinggal surat keterangan lapangan dari Damar dan esai motivasi.

Dia menulis beberapa kalimat, lalu menghapus.

Kenapa ingin ikut?

Karena saya dokter.

Terlalu umum.

Karena saya ingin berguna.

Terlalu sederhana.

Karena saya takut jika berhenti di sini, saya akan menjadi versi diri saya yang dibentuk oleh pernikahan, bukan pilihan.

Terlalu jujur.

Damar masuk ke pos kesehatan saat hari mulai gelap. Di tangannya ada map.

"Surat keterangan."

Alya menerima map itu.

"Sudah?"

"Sudah."

Dia membuka.

Surat itu rapi, resmi, dan lebih panjang dari yang dia kira. Damar menulis penilaian tentang kemampuan Alya di posko bencana, kepemimpinan medis, ketahanan lapangan, komunikasi warga, dan pengambilan keputusan dalam krisis.

Tidak ada kalimat setengah hati.

Tidak ada tanda dia menahan.

Alya membaca sampai akhir.

Di bagian terakhir, Damar menulis:

Dokter Alya Prameswari memiliki kapasitas profesional dan mental untuk mengikuti seleksi tersebut. Saya merekomendasikannya tanpa keberatan administratif.

Tanpa keberatan.

Alya menatap kalimat itu lama.

"Anda yakin?"

Damar duduk di seberangnya.

"Tidak."

Dia mengangkat wajah.

"Aku tidak yakin aku siap melihatmu pergi ke tempat berbahaya," katanya. "Tapi aku yakin kamu pantas mendapat kesempatan memilih."

Dada Alya terasa penuh.

Siska salah.

Atau mungkin belum tentu sepenuhnya salah.

Tapi malam itu, Damar tidak sedang menjadi ruangan tanpa pintu.

Dia sedang memaksa dirinya membuka pintu, meski ketakutannya berdiri jelas di ambang.

"Terima kasih," kata Alya.

Damar mengangguk.

"Kamu sudah makan?"

Alya menatapnya.

Damar mengangkat tangan. "Pertanyaan tulus."

Dia tertawa kecil.

"Sudah."

"Bagus."

Hening sebentar.

Lalu Damar berkata, "Siska bicara sesuatu padamu?"

Alya menyimpan surat itu kembali ke map.

"Banyak."

"Tentang aku?"

"Sebagian."

"Apa yang dia katakan?"

Alya menatap Damar lama.

"Bahwa perlindungan Anda bisa menjadi ruangan tanpa pintu."

Damar diam.

"Dia tidak sepenuhnya salah," kata Alya.

Wajah Damar menegang, tapi dia tidak membela diri.

"Aku tahu."

"Tapi hari ini Anda memberi saya pintu."

Damar menatapnya.

"Jangan buat aku menyesal."

"Itu ancaman?"

"Permintaan yang terdengar seperti perintah."

Alya tersenyum.

"Nada Anda membaik sedikit."

Damar melihat senyum itu, dan untuk sesaat pos kesehatan terasa jauh dari puing, penyakit, dan orang-orang yang ingin menusuk dari sisi halus.

Namun di luar jendela, Siska berdiri di dekat truk bantuan, melihat mereka dari kejauhan.

Wajahnya tenang.

Terlalu tenang.

Sore itu, Siska tidak langsung pergi. Ia membantu membagikan selimut, menanyakan nama anak-anak dengan suara lembut, bahkan menyuapi seorang nenek yang tangannya masih gemetar. Semua orang melihatnya sebagai perempuan baik dari keluarga besar Prameswari.

Alya juga melihat kebaikan itu.

Yang membuatnya waspada adalah cara Siska memilih kalimat.

"Kak Damar dari dulu begitu," kata Siska kepada Bu Wati, cukup pelan untuk terdengar seperti rahasia, cukup keras untuk sampai ke telinga Alya. "Kalau sudah merasa bertanggung jawab, dia bisa lupa membedakan kasihan dan sayang."

Bu Wati berhenti melipat kain.

Alya tidak menoleh.

Siska tersenyum, seolah tidak baru saja meletakkan duri di lantai.

Malamnya, ketika Alya mencatat stok obat, kalimat itu kembali muncul. Kasihan dan sayang. Dua kata yang bisa merusak seluruh keberaniannya bila ia membiarkannya masuk.

Damar datang membawa daftar pasien.

Alya menatapnya sebentar. "Kau pernah kasihan padaku?"

Damar tidak segera menjawab.

Justru jeda itu membuat Alya menggenggam pena lebih erat.

1
Ryani
di awal cerita masih baguss seruuu kenapa setelah 5 tahun jadi rada rada miring otak untuk mencerna🤣
Ryani
tunggu tunggu tunggu... lohhh kok pada ganti sih jln ceritanya🤣 yg paling membengongkann pas mamanya Alya ketemu Damar🤭 sebelumnya kan udah pda kenal karena perjodohan
Asni JM
suka dengan ceritanya,dn susunan kalimatnya sangat enak di baca
Azkiya Arsyila
bukannya laras itu kakaknya iya,tapi kok tiba2 jadi Alya yg jadi kakaknya
Ryani
iklannya banyak sekali, padahal pengen cepat baca jln ceritanya
Yuliati
penulisan kalimatnya terputus2 jadi capek bacanya
🥰Ary Ambar Kurniasari Surya🥰
membingungkan diepisode seblmya udh dipanggil.ayah dsn msh 9m dan msh mt ijin manggil ayah, yg nulis apa lg mabuk lem ya in. hahaha maaf thor bingung dgn critamu thor
🥰Ary Ambar Kurniasari Surya🥰
bingung baca in, dihapus aja
🥰Ary Ambar Kurniasari Surya🥰
aneh cerita ini awalnya damar dr keluarga wiratama kok ini berubah jd pradipta, trs kpn tdr bersama bikin sikembar, aneh, apa jangan2 ini cerita bkn ditulis asli tp nyomot 🤣🤣🤣maaf thor habisnya membagongkan lo, tiba2 hamil, tiba2 brubah marga, tiba2 penugasan dan pencarian pdhl slm in tgl dijkt juga, hhhmmm aneh
🥰Ary Ambar Kurniasari Surya🥰
kok bisa hamil pdhl mrk blm prnh tdr bareng deh, anak siapa itu, slm tugas jg rmh mrk sndr2 kok hamil????
🥰Ary Ambar Kurniasari Surya🥰
jg mau pindah alya harga drmu, tdk dianggap istri dikasih rmh dinas rusak, sekarang disuruh pulang ke rmh dinas enak bgt, harga diri alya
🥰Ary Ambar Kurniasari Surya🥰
ceritanya kurang sip, harusnya dokter tdk pdl dl dgn komandan, krn komandan tdk menghargai dan memperlakukanya spt istri, tinggal juga sndr, sedangkan yg lain suami istri tgl bersama2
🥰Ary Ambar Kurniasari Surya🥰
harusnya dokter cuek dan gaksah pdl dulu sm damar, biarin sj damar mrs kok dokter tdk pdl, biar dia mrs seperti itu rsnya tdk dipedulikan orang
Khoirun Nisa
Agak kecewa sih sma jalan ceritanya, awalnya ceritanya bagus seru dan buat penasaran. tapi setelah sampai dibab alya pergi jadi agak aneh ceritanya. aku berhenti baca sampai bab ini saja biar gak emosi. tetap semangat ya thor💪
This Is Me
Wow! 5 tahun naik 2 level dari mayor ke letkol ke kolonel.
eec
nadia itu bukannya yg di telp sama Alya untuk minta tolong ya. kenapa jadi ketemu di pengungsian pas kondisi hamil besar. padahal di awal dah oke banget ceritanya. masuk bab ini jd ilang feel nya
Nung_che
kehidupan di pelosok kenapa ada percakapan seperti ini? setahu aku pelosok identik dg bahan bakar kayu.
bibuk Hannan & Afnan
suka banget sama karakter nya Alya kalem tegas tdk menghakimi 👍keren lah
bibuk Hannan & Afnan
wkwkwkwk barang bukti 😄😄😄😄
bibuk Hannan & Afnan
makanya kenali lah Dan buka sedikit hatimu berikan ruang untuk Alya berteman lah dulu, tak kenal maka tak sayang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!