Istri Pengganti Sang Komandan

Istri Pengganti Sang Komandan

Episode 1

Bab 01 - Aku yang Akan Menikah Dengannya

Alya Prameswari berdiri di depan rumah besar keluarga Wiratama dengan map cokelat di tangan.

Hujan baru saja berhenti. Halaman batu di depan rumah itu masih basah. Aroma tanah naik bersama udara dingin Jakarta sore itu.

Di dalam rumah, suara laki-laki terdengar keras.

"Saya sudah bilang, Eyang. Saya tidak mau menikah dengan Laras."

Suara itu rendah, tapi tajam.

Alya berhenti satu langkah sebelum pintu ruang tengah. Tangannya menggenggam map sampai ujung kertasnya terlipat.

Dia pernah melihat wajah pria itu di berita militer. Mayor Damar Arkan Wiratama. Komandan muda yang sering dikirim ke wilayah perbatasan. Tegas, dingin, dan nyaris tak pernah tersenyum di depan kamera.

Tapi mendengar suaranya secara langsung, dada Alya tetap terasa sesak.

"Damar!" suara Eyang Wiratama bergetar karena marah. "Keluarga Prameswari pernah menyelamatkan keluarga kita saat kita jatuh. Janji ini bukan main-main."

"Janji Eyang, bukan janji saya."

"Kalau kamu tetap menolak, lepaskan jabatanmu di satuan itu. Pulang. Bantu ayahmu urus perusahaan keluarga. Aku tidak akan membiarkan cucuku mempermalukan janji yang dibuat di depan orang tua yang sudah meninggal."

Ruangan itu hening.

Alya menunduk. Wajah Laras yang pucat muncul di pikirannya.

"Alya, aku tidak bisa. Aku mencintai Farel. Kalau aku dipaksa menikah dengan Mayor Damar, aku kabur. Aku serius."

Kakaknya menangis sampai napasnya putus-putus. Papa duduk di sofa rumah sakit dengan selang infus di tangan. Mama tidak berhenti membaca doa. Utang perusahaan, operasi jantung Papa, dan nama baik keluarga mereka seperti tali yang melilit leher.

Laras tidak kuat.

Papa tidak boleh tahu Laras kabur.

Dan keluarga Wiratama tidak boleh membatalkan bantuan yang bisa menyelamatkan Papa.

Alya menarik napas.

Dia mengetuk pintu.

Semua orang menoleh.

Di ruang tengah itu, Eyang Wiratama duduk di kursi roda. Wajahnya keras, rambut putihnya tersisir rapi. Di sampingnya ada Om Bima dan Tante Nadia, orang tua Damar. Keduanya tampak tegang.

Lalu mata Alya bertemu dengan mata Damar.

Tajam.

Dingin.

Seolah dia sudah tahu Alya datang untuk berbohong.

"Assalamualaikum," kata Alya pelan.

Tante Nadia berdiri. "Alya? Laras mana?"

Alya menelan ludah.

"Mbak Laras sakit. Dia tidak bisa datang."

Damar menyipitkan mata.

"Kebetulan sekali."

Alya pura-pura tidak mendengar. Dia melangkah masuk, lalu berhenti di depan Eyang Wiratama.

"Eyang," katanya, "saya datang untuk menyampaikan sesuatu."

Eyang memandangnya lama. "Bicaralah."

Alya menahan gemetar di lututnya.

"Kalau keluarga Wiratama masih ingin menjaga janji dengan keluarga Prameswari, izinkan saya menggantikan Mbak Laras."

Tante Nadia menutup mulutnya.

Om Bima mengerutkan kening. "Alya, kamu paham apa yang kamu katakan?"

"Saya paham, Om."

Damar tertawa pendek.

Tidak ada humor di suara itu.

"Jadi ini rencana baru keluarga kalian?"

Alya menoleh kepadanya. "Bukan."

"Laras menolak, lalu adiknya maju. Hebat." Damar melangkah mendekat. Seragam dinasnya masih melekat di tubuh, bahunya lebar, tubuhnya tinggi sampai membuat Alya harus sedikit mendongak. "Kamu pikir ini apa? Kursi kosong yang bisa diisi siapa saja?"

"Saya tidak berpikir begitu."

"Lalu kenapa kamu datang?"

Karena Papa bisa mati kalau operasi itu ditunda.

Karena Laras tidak akan kembali malam ini.

Karena Mama sudah terlalu lelah menangis.

Alya tidak mengatakan semua itu.

Dia mengangkat wajah.

"Karena saya bersedia menikah dengan Anda."

Mata Damar makin gelap.

"Bersedia?" Dia mengulang kata itu seperti sesuatu yang kotor. "Kamu bahkan tidak mengenal saya."

"Saya tahu Anda prajurit yang baik."

"Jangan menjilat."

Alya terdiam.

Ucapan itu menampar lebih keras dari yang dia duga.

Eyang Wiratama memukul sandaran kursi rodanya. "Damar, jaga mulutmu!"

"Tidak perlu, Eyang." Damar masih menatap Alya. "Dia datang sendiri. Dia pasti sudah menyiapkan jawabannya."

Alya menggenggam map di tangannya lebih kuat. Di dalam map itu ada fotokopi KTP, surat keterangan belum menikah, dan semua berkas yang sejak pagi dia urus bersama Mama. Terlalu cepat. Terlalu gila. Tapi semuanya bisa diurus jika dua keluarga besar dan uang keluarga Wiratama bergerak.

Dia tahu itu terdengar buruk.

Mungkin di mata Damar, dia memang buruk.

"Saya tidak meminta Anda menyukai saya," kata Alya. "Saya hanya meminta Anda menepati akad jika akad itu nanti terjadi."

Ruangan kembali hening.

Damar menatapnya seolah baru saja mendengar tantangan.

Eyang Wiratama menarik napas panjang. "Aku lebih suka anak yang berani bicara jujur daripada anak yang kabur dari tanggung jawab."

Alya menunduk.

Maaf, Mbak.

Dia tahu kalimat Eyang melukai Laras, meski Laras tidak ada di sana.

Damar berbalik ke arah kakeknya.

"Baik."

Alya mengangkat kepala.

Damar berkata lagi, lebih dingin.

"Saya akan menikah dengannya."

Tante Nadia tampak lega, tapi wajah Om Bima justru makin berat.

"Tapi ada syarat," lanjut Damar.

Eyang Wiratama mengatupkan rahang.

"Katakan."

Damar menatap Alya.

"Pertama, setelah menikah, tidak ada yang ikut campur dengan penugasan saya. Saya tetap kembali ke perbatasan."

"Itu bisa dibicarakan," kata Om Bima.

"Tidak. Itu syarat."

Eyang mengangguk pelan.

"Kedua," Damar melanjutkan, "pernikahan ini hanya status. Jangan menuntut apa pun dari saya. Jangan cinta, jangan perhatian, jangan hak sebagai istri yang kamu bayangkan."

Dada Alya terasa ditusuk.

Damar belum selesai.

"Ketiga, tiga tahun. Kalau dalam tiga tahun pernikahan ini tidak membawa apa pun selain masalah, kita berpisah."

Tante Nadia tersentak. "Damar!"

"Saya tidak akan membuat perjanjian aneh di depan KUA," katanya datar. "Saya tahu hukum. Tapi dia perlu mendengar ini dari awal."

Mata Damar kembali ke Alya.

"Kamu masih mau?"

Alya merasa semua orang menunggunya bernapas.

Dia bisa mundur.

Dia bisa pulang, membangunkan Laras, memaksa kakaknya bertanggung jawab.

Tapi bayangan Papa di ruang rawat membuat pilihan itu mati sebelum lahir.

Alya mengangguk.

"Saya mau."

Damar menatapnya lama. Lalu bibirnya terangkat tipis, bukan senyum, melainkan penghinaan.

"Kalau begitu, selamat. Kamu mendapatkan posisi yang kamu inginkan."

Alya tidak menjawab.

Dia hanya menunduk, menyembunyikan tangan yang mulai gemetar.

Malam itu, saat keluarga membicarakan wali, saksi, KUA, dan akad yang harus dipercepat dengan surat dispensasi dari kecamatan, Alya duduk diam di sudut ruangan.

Tidak ada yang bertanya apa dia takut.

Tidak ada yang bertanya apa dia rela.

Karena jawaban dari dua pertanyaan itu tidak penting lagi.

Yang penting hanya satu.

Besok pagi, keluarga Prameswari masih punya harapan menyelamatkan Papa.

Dan Alya akan menjadi istri pria yang sejak detik pertama sudah membencinya.

Saat mobil Mama menjemputnya pulang, Alya sempat melihat Damar berdiri di balkon lantai dua. Pria itu tidak mendekat, tidak memberi salam, hanya menatap dari atas seperti seorang komandan menilai wilayah yang baru saja dipaksa masuk dalam petanya.

Alya menunduk lebih dulu.

Di dalam mobil, Mama menggenggam tangannya sambil berulang kali menyebut nama Allah. Alya membiarkan tangan itu menggenggamnya erat, meski kukunya sendiri sudah meninggalkan bekas di telapak.

"Kamu yakin, Nak?" tanya Mama akhirnya.

Alya melihat lampu jalan yang memantul di kaca mobil.

Tidak.

Dia tidak yakin pada Damar. Tidak yakin pada keluarga Wiratama. Tidak yakin pada pernikahan yang belum dimulai tapi sudah terasa seperti hukuman.

Tapi dia yakin pada satu hal.

Kalau malam ini dia mundur, rumah mereka akan runtuh sebelum fajar.

"Iya, Ma," jawabnya.

Mama menangis lagi.

Alya tidak ikut menangis. Dia hanya menatap jalan, memikirkan ruang operasi Papa, wajah Laras yang entah bersembunyi di mana, dan mata Damar yang dingin.

Mulai besok, semua orang mungkin akan memanggilnya istri Mayor Damar.

Tapi malam itu, Alya merasa seperti orang asing yang baru saja menandatangani kontrak dengan badai.

Di rumah, Laras belum pulang.

Mama tidak menyebut namanya. Papa juga tidak. Semua orang seperti sepakat menutup satu pintu agar rumah tidak makin berantakan.

Alya masuk kamar, melepas kerudung, lalu duduk di lantai.

Ponselnya bergetar.

Pesan dari Laras hanya berisi dua kata.

Maaf, Dek.

Alya menatap layar lama sekali.

Dia tidak membalas.

Terpopuler

Comments

Fleuriaa

Fleuriaa

aku suka sama alur cerita nya, semoga aku bisa menjadi author novel seperti kamu kak, yang karya nya bisa populer dan di kenal sama pembaca di aplikasi ini aamiin

2026-08-19

0

George Isaac

George Isaac

masih belum memahami ceritanya?? kenapa Damar ga mau di jodohkan 🤔

2026-08-02

0

indrie_💖

indrie_💖

tidak usah di balas .jd kakak kok egois banget si laras itu

2026-08-06

0

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
Episodes

Updated 110 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!