Episode 3

Bab 03 - Perintah Penugasan

Dua tahun berlalu tanpa banyak kabar dari Damar.

Itu bukan hal yang mengejutkan.

Sejak pagi setelah akad, pria itu benar-benar berangkat. Selama dua tahun, Alya hanya bertemu dengannya lima kali. Dua kali saat Lebaran di rumah keluarga Wiratama. Sekali saat Eyang masuk rumah sakit. Sekali saat acara keluarga besar. Sekali lagi ketika Damar pulang mengambil berkas dan pergi sebelum subuh.

Mereka tidur di rumah yang sama hanya di hadapan keluarga.

Di balik pintu, Damar selalu menjaga jarak.

Alya juga begitu.

Dia kembali bekerja di RSUD Jakarta Selatan, mengambil shift panjang, masuk IGD, ikut operasi, dan menenggelamkan diri dalam pekerjaan. Papa menjalani operasi dengan bantuan keluarga Wiratama dan perlahan membaik. Laras akhirnya menikah dengan Farel di kota lain, setelah drama panjang yang membuat Mama kelelahan.

Tidak ada yang benar-benar selesai.

Hanya luka yang belajar diam.

Pagi itu, Alya baru selesai memeriksa pasien pascaoperasi ketika Kepala Instalasi Bedah memanggilnya.

"Dokter Alya, duduk dulu."

Alya melihat amplop dinas di meja.

Perutnya langsung terasa tidak enak.

"Ada apa, Dok?"

"Ada program penugasan medis gabungan. Dinkes, RSUD, dan TNI. Wilayah perbatasan NTT. Mereka butuh dokter dengan pengalaman bedah emergensi dan triase bencana."

Alya diam.

Kepala instalasi mendorong amplop itu ke arahnya.

"Namamu masuk daftar."

Alya membuka amplop.

Atambua.

Pos kesehatan perbatasan.

Koordinasi dengan Satgas Pamtas.

Nama satuan yang tercetak di lembar kedua membuat jantungnya berhenti sesaat.

Komandan Satgas: Mayor Damar Arkan Wiratama.

Alya menatap tulisan itu lama.

Terlalu lama.

Kepala instalasi berdeham. "Kamu keberatan?"

"Ini penugasan wajib?"

"Programnya resmi. Tapi masih bisa ditolak dengan alasan kuat."

Alya tertawa kecil dalam hati.

Alasan kuat?

Suami saya komandan di sana dan dia membenci saya.

Itu alasan kuat atau justru alasan kenapa semua orang merasa dia cocok dikirim ke sana?

"Berapa lama?"

"Minimal enam bulan. Bisa diperpanjang."

Alya melipat surat itu kembali.

"Saya ambil."

Kepala instalasi tampak terkejut. "Yakin? Wilayahnya tidak mudah. Fasilitas terbatas. Rujukan ke RS besar butuh waktu. Jalan rusak kalau hujan."

"Justru karena itu mereka butuh dokter."

"Kamu tidak perlu menjawab sekarang."

"Saya sudah menjawab."

Dokter senior itu menatapnya, lalu menghela napas.

"Baik. Berangkat tiga hari lagi. Siapkan mental. Di sana tidak seperti Jakarta."

Alya mengangguk.

Jakarta pun tidak selalu ramah, Dok.

Dia tidak mengatakannya.

Malamnya, Alya memberi tahu Mama. Mama langsung panik.

"NTT? Perbatasan? Kenapa harus kamu?"

"Ini program rumah sakit, Ma."

"Apa Damar tahu?"

Alya memasukkan beberapa baju kerja ke koper.

"Belum."

"Kamu harus bilang."

"Nanti juga dia tahu."

Mama duduk di tepi ranjang. "Alya, Mama tahu kalian tidak seperti pasangan lain. Tapi dia tetap suamimu."

Alya berhenti melipat pakaian.

"Di buku nikah, iya."

"Nak..."

"Ma, saya pergi sebagai dokter. Bukan sebagai istri Mayor Damar."

Mama tidak menjawab.

Alya menatap koper yang belum penuh.

Sebenarnya dia takut.

Takut bertemu Damar.

Takut semua hinaan lama kembali.

Tapi lebih dari itu, dia takut jika menolak hanya karena pria itu. Selama dua tahun ini dia berusaha membuktikan hidupnya tidak berputar pada pernikahan kosong. Kalau sekarang dia mundur dari tugas medis karena Damar ada di sana, berarti pria itu tetap memegang pintu hidupnya.

Tidak.

Dia tidak mau.

Tiga hari kemudian, Alya naik pesawat ke Kupang, lalu melanjutkan perjalanan darat bersama tim kecil menuju Atambua. Dari sana mereka memakai kendaraan TNI ke pos kesehatan perbatasan.

Jalan berkelok. Bukit-bukit kering terbentang. Rumah-rumah penduduk berdiri berjauhan. Anak-anak berseragam sekolah berjalan kaki di tepi jalan sambil melambai ke truk yang lewat.

Alya duduk di belakang bersama dua perawat dan satu bidan. Angin panas masuk dari jendela.

"Dokter Alya pertama kali ke sini?" tanya Bidan Rina.

"Iya."

"Nanti jangan kaget kalau sinyal hilang."

Alya tersenyum tipis. "Saya lebih khawatir obat habis."

Perawat Joko tertawa. "Nah, itu lebih realistis."

Mereka belum sampai pos ketika suara tembakan terdengar dari radio kendaraan.

Sopir langsung menegang.

"Ada operasi di jalan depan," katanya. "Kita diminta berhenti di titik aman."

Alya menoleh.

Dari kejauhan terlihat beberapa kendaraan militer berhenti di pinggir jalan. Prajurit bergerak cepat. Seorang pria berbaju sipil diborgol di dekat mobil pikap. Beberapa karung putih berserakan.

"Penyelundupan obat terlarang?" tanya Joko pelan.

Sopir tidak menjawab.

Kendaraan mereka berhenti. Seorang prajurit mendekat dan memberi instruksi agar tim medis menunggu.

Alya baru saja mengangguk ketika terdengar teriakan.

"Pak! Dia kejang!"

Semua orang menoleh.

Pria yang diborgol itu tiba-tiba jatuh, tubuhnya mengejang hebat. Mulutnya berbusa. Prajurit yang memegangnya panik.

Alya tidak berpikir dua kali.

Dia membuka pintu kendaraan.

"Dokter!" Bidan Rina memanggil.

"Bawa tas emergensi!"

Dia berlari ke arah kerumunan.

Seorang prajurit menghadang. "Bu, jangan mendekat. Ini area operasi."

"Saya dokter."

"Perintahnya—"

"Kalau dia aspirasi, dia bisa mati sebelum perintah berikutnya turun."

Prajurit itu ragu.

Alya sudah berlutut di samping pria yang kejang.

"Miringkan tubuhnya. Jangan masukkan apa pun ke mulutnya. Lepaskan tekanan di leher."

Prajurit di sekitar saling pandang.

"Cepat!" suara Alya naik.

Mereka bergerak.

Alya memeriksa pupil, nadi, dan napas. Bau kimia samar tercium dari pakaian pria itu. Dia mengambil sarung tangan dari tas Rina, memasangnya cepat.

"Kemungkinan keracunan atau overdosis. Siapkan oksigen. Joko, cek tekanan darah. Rina, ambil diazepam injeksi kalau ada."

"Bu dokter, kita belum buka segel tas—"

"Buka sekarang."

Semua berjalan cepat.

Alya mendengar langkah berat mendekat.

Sebelum dia sempat menoleh, suara dingin yang pernah menghantui malam pertama pernikahannya jatuh di atas kepalanya.

"Siapa yang mengizinkan warga sipil masuk area operasi?"

Tangan Alya berhenti setengah detik.

Lalu dia kembali menahan kepala pasien agar jalan napas tetap terbuka.

"Saya bukan warga sipil yang sedang menonton, Mayor. Saya dokter yang ditugaskan ke pos kesehatan."

Hening sesaat.

Damar berdiri di hadapannya dengan rompi taktis, wajah tertutup debu jalan, mata setajam yang dia ingat.

Dia menatap Alya seolah melihat masalah lama yang datang membawa koper.

"Alya."

"Mayor Damar."

Nada mereka terlalu formal untuk pasangan suami istri.

Prajurit di sekitar langsung saling melirik.

Damar melihat pasien di tanah, lalu menatap tas medis.

"Bawa dia ke kendaraan medis."

"Jangan diangkat dulu. Kejangnya belum terkendali."

"Area ini belum steril."

"Dan pasien ini belum stabil."

Mata Damar mengeras.

Alya mengangkat wajah. "Kalau Anda ingin dia hidup untuk diperiksa, beri saya dua menit."

Prajurit di sekitar menahan napas.

Damar tidak suka dibantah. Itu jelas terlihat.

Tapi dia juga tahu situasi.

"Dua menit," katanya.

Alya kembali bekerja. Obat masuk. Kejang mulai berkurang. Napas pasien masih kasar, tapi jalan napasnya aman. Setelah itu, barulah dia memberi instruksi pemindahan.

Ketika pasien diangkat, salah satu prajurit berbisik, "Dokter ini berani juga."

Alya pura-pura tidak mendengar.

Damar mendengar.

Dia mendekat, suaranya rendah.

"Kamu belum berubah."

Alya melepas sarung tangan kotor.

"Anda juga."

"Masih suka masuk ke masalah tanpa izin."

"Masih suka menyebut pekerjaan saya masalah."

Mata Damar menyipit.

Alya memasukkan sarung tangan ke kantong limbah medis, lalu berdiri.

Debu menempel di lutut celananya. Keringat mengalir di pelipis.

"Saya datang berdasarkan surat tugas. Kalau Anda keberatan, silakan ajukan ke Dinkes dan rumah sakit. Tapi selama saya berada di sini sebagai dokter, saya akan menangani pasien yang membutuhkan. Termasuk tersangka Anda."

Damar menatapnya lama.

Lalu sudut bibirnya bergerak sedikit.

"Selamat datang di perbatasan, Dokter Alya."

Tidak ada sambutan.

Tidak ada pertanyaan kenapa dia datang.

Hanya nada dingin yang sama.

Alya mengangkat dagu.

"Terima kasih, Komandan."

Di belakang mereka, radio berbunyi lagi. Ada laporan kendaraan lain bergerak dari arah bukit.

Damar langsung berbalik memberi perintah.

Alya melihat punggungnya menjauh.

Dua tahun dia berhasil hidup tanpa pria itu.

Tapi mulai hari ini, medan tugasnya, medan lukanya, dan medan pernikahan kosongnya berada di tempat yang sama.

Terpopuler

Comments

George Isaac

George Isaac

jangan pedulikan Damar 😄 anggap dia seperti angin,bila mengganggu pekerjaan mu Alya

2026-08-02

0

ria aja

ria aja

bgus alya,,jgn biarkan harga dirimu di kendalikan oleh damar

2026-07-25

0

bibuk Hannan & Afnan

bibuk Hannan & Afnan

nama Damar Arkan Wiratama namanya bagus banget

2026-08-21

0

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
Episodes

Updated 110 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!