Episode 5

Bab 05 - Panggung Kecil di Kompleks TNI

Pagi pertama Alya di kompleks dimulai dengan ayam berkokok, suara sepatu prajurit berlari, dan ketukan keras di pintu.

Dia membuka mata.

Jam menunjukkan pukul lima lewat sepuluh.

Ketukan itu terdengar lagi.

"Dokter Alya?"

Alya bangkit cepat, memakai jilbab instan, lalu membuka pintu. Di luar berdiri seorang prajurit muda dengan napas agak memburu.

"Maaf, Dok. Ada anak demam tinggi di rumah Sertu Bagas. Bu Niken minta tolong."

Rasa kantuk hilang.

"Saya ambil tas."

Lima menit kemudian, Alya sudah berada di rumah Bu Niken. Anak laki-laki berusia empat tahun terbaring di kasur ruang tengah. Tubuhnya panas, bibir kering, mata sayu. Bu Niken menangis sambil mengipasnya dengan buku.

"Dari kapan demamnya?"

"Semalam, Dok. Saya pikir masuk angin. Tadi subuh menggigil."

Alya memeriksa suhu, nadi, pernapasan, dan tanda dehidrasi. Dia menanyakan riwayat muntah, mimisan, buang air kecil, makanan, dan gigitan nyamuk. Di wilayah itu, demam bukan hal sepele.

"Kita bawa ke pos. Perlu cek darah kalau alatnya siap. Jangan tunggu."

Bu Niken panik. "Bahaya, Dok?"

"Belum tentu. Tapi kita jangan menebak."

Kalimat itu sederhana, tapi membuat Bu Niken bergerak. Sertu Bagas yang baru pulang lari pagi langsung menggendong anaknya. Mereka berjalan cepat ke pos kesehatan.

Di pos, Alya bekerja bersama Bidan Rina. Alat terbatas, tapi cukup untuk pemeriksaan awal. Dia mencatat kemungkinan dengue, malaria, atau infeksi lain. Anak itu mulai membaik setelah cairan dan obat penurun demam, namun Alya tetap meminta observasi.

Berita itu menyebar lebih cepat daripada yang dia duga.

Menjelang siang, tiga ibu datang membawa anak masing-masing. Ada yang batuk, ada yang gatal-gatal, ada yang hanya ingin "sekalian dicek". Joko berbisik di meja obat.

"Dok, selamat. Hari kedua sudah jadi dokter kompleks."

Alya menulis resep. "Lebih baik mereka datang sekarang daripada menunggu parah."

"Betul. Tapi siap-siap. Kalau ibu-ibu sudah percaya, hidup Dokter tidak akan tenang."

Dia belum selesai bicara ketika Bu Wati masuk bersama seorang perempuan tinggi berkulit cerah, rambutnya tersanggul rapi, memakai seragam Persit yang sangat pas di tubuh. Senyumnya manis, matanya menilai.

"Dokter Alya ya?"

Alya berdiri.

"Iya."

"Saya Siska. Istri Kapten Rendra. Saya bantu koordinasi kegiatan ibu-ibu di kompleks."

Nada suaranya halus, tapi ada posisi yang sengaja diletakkan di meja.

Alya tersenyum sopan. "Senang bertemu, Bu Siska."

"Saya dengar Bu Dokter baru datang kemarin. Tapi sudah langsung menangani anak Bu Niken. Hebat sekali."

"Saya hanya melakukan pekerjaan saya."

Siska menatap ruangan pos yang sederhana.

"Kebetulan besok ada arisan kecil sekaligus pertemuan Persit. Biasanya istri komandan hadir untuk menyapa ibu-ibu."

Joko pura-pura sibuk menata kapas.

Bidan Rina menunduk.

Alya tetap tenang.

"Saya bukan anggota Persit aktif, Bu. Saya di sini sebagai dokter penugasan."

Senyum Siska tidak berubah.

"Tapi Dokter istri Mayor Damar, kan?"

Kalimat itu jatuh seperti batu di ruangan kecil.

Bu Wati terlihat terlalu tertarik.

Alya menutup map pasien.

"Secara administrasi, iya."

Alis Siska terangkat sedikit.

"Secara administrasi?"

"Maksud saya, saya tidak ingin status pribadi mengganggu pekerjaan saya."

"Wah, bagus sekali. Rendah hati."

Pujian itu terdengar seperti cubitan.

Siska melanjutkan, "Tapi di kompleks ini, posisi seseorang tetap membawa tanggung jawab. Ibu-ibu pasti ingin mengenal Bu Komandan."

Alya ingin mengatakan jangan panggil aku begitu.

Tapi dia tahu menolak terlalu keras hanya akan memicu gosip.

"Kalau tidak ada pasien darurat, saya akan datang sebentar."

"Bagus." Siska tersenyum. "Oh ya, besok kami juga membahas kegiatan penyuluhan kesehatan. Mungkin Dokter bisa memberi materi ringan. Cara mencegah demam berdarah, makanan anak, hal-hal seperti itu."

"Bisa."

"Jangan terlalu berat ya, Dok. Ibu-ibu di sini sederhana. Tidak semuanya paham bahasa medis."

Alya menatapnya.

Nada itu lembut.

Tapi isinya merendahkan dua pihak sekaligus.

"Tentu. Justru tugas dokter memastikan semua orang paham, bukan membuat orang merasa kecil."

Senyum Siska menipis.

Bidan Rina menahan batuk.

Setelah Siska pergi, Joko langsung berbisik, "Dokter berani juga."

Alya kembali duduk.

"Saya hanya menjawab."

"Bu Siska itu dekat dengan Bu Nadia. Katanya dulu Mayor Damar hampir dijodohkan dengan seseorang dari lingkaran mereka."

Alya pura-pura membaca catatan.

"Itu urusan mereka."

"Katanya orangnya cantik, pintar, anak pejabat."

"Pak Joko."

"Iya, Dok?"

"Obat demam anak tinggal berapa?"

Joko langsung diam.

Sore harinya, Damar datang ke pos kesehatan.

Alya sedang mencatat stok obat. Dia tahu Damar masuk bahkan sebelum melihatnya. Suasana ruangan selalu berubah ketika pria itu hadir. Prajurit berdiri lebih tegak. Suara menjadi lebih rendah.

"Dokter Alya."

Alya tidak mengangkat kepala.

"Komandan."

"Ada laporan anak Sertu Bagas demam tinggi."

"Sudah stabil. Saya observasi sampai malam. Kalau trombosit turun atau ada tanda bahaya, saya rujuk ke RSUD Atambua."

"Ambulans siap."

Dia akhirnya menatap Damar.

"Terima kasih."

Damar melihat buku stok di depannya.

"Obat kurang?"

"Beberapa. Parasetamol anak, cairan infus, rapid test malaria, kasa steril, antiseptik."

"Tulis daftarnya."

"Sudah saya tulis untuk logistik."

"Tulis lagi untuk saya."

Alya berhenti.

"Bukankah itu melewati prosedur?"

"Aku minta daftar, bukan menyuruhmu mencuri obat."

Dia mengambil kertas kosong, menulis cepat, lalu menyerahkannya.

Damar membaca daftar itu.

"Besok kamu ikut pertemuan Persit?"

Alya menatapnya.

Cepat sekali kabarnya sampai.

"Kalau tidak ada pasien."

"Kamu tidak wajib."

"Bu Siska bilang biasanya istri komandan hadir."

Wajah Damar sedikit berubah saat mendengar nama itu.

"Siska tidak punya wewenang atasmu."

"Tapi dia punya pengaruh atas ibu-ibu kompleks."

"Kamu takut?"

Alya menutup pena.

"Saya lelah, bukan takut."

Damar diam.

Kata itu keluar lebih jujur dari yang Alya rencanakan.

Dia segera menambahkan, "Saya akan datang sebagai dokter. Jika mereka butuh materi kesehatan, saya berikan. Jika mereka butuh tontonan tentang rumah tangga kita, saya tidak punya."

Damar menatapnya lama.

"Rumah tangga kita?"

Alya merasa pipinya panas, tapi dia tidak menarik kata itu.

"Istilah administrasi," katanya datar.

Entah kenapa, kali ini Damar tidak menyindir.

Dia melipat kertas daftar obat.

"Besok aku ada patroli. Kalau ada yang membuatmu tidak nyaman, lapor ke Rina atau langsung ke pos komando."

Alya hampir tertawa.

"Anda sedang menawarkan bantuan?"

"Aku sedang mencegah masalah."

"Tentu."

Damar berbalik hendak pergi.

Alya memanggil sebelum sempat berpikir.

"Mayor."

Dia berhenti.

"Obat semalam. Itu dari Anda?"

Damar tidak langsung menjawab.

"Telapak tanganmu lecet."

Jadi benar.

"Terima kasih."

"Jangan salah paham."

Alya tersenyum kecil, pahit. "Saya tidak punya keberanian untuk salah paham sejauh itu."

Punggung Damar menegang.

Dia pergi tanpa menoleh.

Keesokan harinya, pertemuan Persit diadakan di aula kecil dekat lapangan. Tikar digelar, meja penuh kue basah, teh manis, dan gorengan. Ibu-ibu duduk berkelompok. Begitu Alya masuk, bisik-bisik langsung mengalir.

"Itu istrinya Mayor Damar?"

"Katanya dokter dari Jakarta."

"Kok baru sekarang muncul?"

"Pernikahannya memang aneh, katanya."

Alya mendengar sebagian.

Dia tetap berjalan ke depan.

Siska menyambutnya dengan senyum lebar.

"Akhirnya Bu Komandan datang."

Alya membalas senyum.

"Selamat pagi. Saya Alya. Hari ini saya datang sebagai dokter."

Beberapa ibu saling pandang.

Siska tertawa kecil. "Tetap rendah hati ya, Bu."

Alya membuka map materi.

"Kita mulai dari demam pada anak. Kalau anak demam tinggi di wilayah seperti ini, jangan langsung menyimpulkan masuk angin. Ada beberapa tanda bahaya yang harus ibu-ibu kenali."

Awalnya ruangan masih ramai bisik.

Lalu Alya mulai bertanya langsung.

"Kalau anak demam dan mimisan, apa yang harus dilakukan?"

"Dikompres?"

"Boleh, tapi bukan itu yang utama."

Dia menjelaskan dengan bahasa sederhana. Tidak menggurui. Tidak memakai istilah sulit tanpa menjelaskan. Ibu-ibu mulai memperhatikan. Bu Niken bahkan mencatat.

Setengah jam kemudian, seorang ibu mengangkat tangan dan menceritakan anaknya sering diare. Lalu yang lain bertanya soal air bersih. Lalu soal malaria. Lalu soal luka yang tidak sembuh.

Siska yang tadinya duduk paling depan mulai kehilangan panggung.

Ketika sesi selesai, Bu Wati menghampiri Alya.

"Dok, nanti boleh cek tensi suami saya? Dia suka pusing tapi bandel."

"Boleh. Bawa ke pos sore ini."

Bu Niken menambahkan, "Dokter jelas sekali kalau menjelaskan. Saya baru paham kapan harus bawa anak ke IGD."

Alya tersenyum.

Untuk pertama kalinya sejak datang, dia merasa napasnya agak longgar.

Tapi saat dia membereskan map, Siska mendekat.

"Hebat, Dok. Baru dua hari sudah mengambil hati ibu-ibu."

Alya menatapnya.

"Saya tidak mengambil apa pun."

"Semoga saja begitu."

Siska tersenyum manis, lalu berbisik cukup pelan agar hanya Alya yang mendengar.

"Kompleks ini kecil. Orang cepat suka, tapi lebih cepat lagi membenci. Hati-hati, Dokter Alya."

Alya tidak sempat menjawab.

Dari luar aula terdengar suara motor berhenti mendadak, lalu seorang prajurit berlari masuk.

"Dokter! Ada kecelakaan di jalan pos bawah. Korban berdarah banyak!"

Semua ibu menjerit kecil.

Alya langsung meraih tas medis.

Siska mundur.

Panggung kecil itu selesai.

Sekarang panggung yang sebenarnya menunggu di jalan berbatu.

Terpopuler

Comments

❥␠⃝ ͭ🍁🅡🅐🅘🅝🅐💖❣️

❥␠⃝ ͭ🍁🅡🅐🅘🅝🅐💖❣️

Siska orang nya sepertinya carmuk tuh.. hati hati dokter alya, lagian damar kalau ngga suka lepasin aja sih.. biar kamu nyesel tuh.. terlalu angkuh bgt jadi org❣️

2026-08-02

1

bibuk Hannan & Afnan

bibuk Hannan & Afnan

seolah meremehkan status ya kamu Bu Siska menunjukkan klo kamu istri kapten, tp jgn kaget ya apalagi smpe syok klo tau ternyata Alya istri dr komandan suamimu.

2026-08-21

0

George Isaac

George Isaac

sangat membingungkan sekali??🤔kenapa Siska ga begitu suka dengan dokter Alya??

2026-08-02

0

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
Episodes

Updated 110 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!