Indonesia
NovelToon NovelToon
THE LAZY GENIUS

THE LAZY GENIUS

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Misteri / Anak Genius
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ardyan1

Yamada adalah seorang jenius.
Ia mampu memahami hampir segala sesuatu dengan cepat—akademik, olahraga, teknologi, strategi, bahkan berbagai keterampilan yang dianggap sulit oleh orang lain.
Masalahnya hanya satu.
Dia terlalu malas untuk menggunakannya.
Bagi Yamada, hidup yang ideal hanyalah hidup tenang tanpa masalah.
Tidak perlu menjadi nomor satu.
Tidak perlu mendapat perhatian.
Tidak perlu berusaha lebih keras dari yang diperlukan.
Sampai suatu hari, kehidupannya berakhir.
Ketika membuka mata kembali, Yamada mendapati dirinya berada di dunia yang tidak pernah ia kenal.
Lebih aneh lagi, ia tidak terlahir sebagai bayi.
Ia terbangun dalam tubuh seorang anak laki-laki berusia lima belas tahun.
Tubuh itu memiliki kehidupan, keluarga, kenangan, dan sebuah rahasia yang tidak diketahui Yamada.
Kemudian sebuah suara terdengar di kepalanya.
[System Initialization.]
[Host detected.]
[Synchronization rate: 17%.]
[Warning.]
[This body already possesses an owner.]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardyan1, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20: Janji di Bawah Bintang

Malam setelah serangan. Malam yang seharusnya menjadi malam kedua festival akademi, malam yang seharusnya penuh dengan pertunjukan kembang api sihir terbesar, kini menjadi malam yang penuh dengan asap, debu, dan tangisan pelan.

Akademi Asteria rusak. Tidak hancur total, tapi rusak cukup parah. Dinding utama yang menghadap kota runtuh sepanjang 20 meter, dengan batu-batu besar yang masih berserakan di lapangan utama festival. Beberapa stan makanan terbakar, beberapa tenda pertunjukan roboh, dan lapangan latihan yang biasanya bersih kini penuh dengan bekas cakaran monster dan bekas sihir para guru.

Banyak siswa terluka. Tidak ada yang meninggal, berkat respon cepat para guru dan kesatria penjaga kota yang datang 10 menit setelah ledakan, tapi puluhan siswa terluka ringan dan sedang, terkena reruntuhan, terkena sihir liar, atau terkena cakaran kecil dari monster-monster kecil yang ikut masuk bersama Berserk Ape Level 27. Mereka semua dibawa ke klinik akademi, yang malam itu penuh sesak.

Namun mereka selamat. Itu yang paling penting. Semua siswa tahun pertama selamat, termasuk kelompok F yang menemukan ruang rahasia. Dan itu, menurut kepala akademi yang berdiri di tengah lapangan dengan jubah robek, adalah keajaiban.

Yamada duduk di atap akademi. Bukan atap gedung utama yang tinggi dan dijaga ketat, tapi atap gedung perpustakaan lama yang rendah, yang atapnya datar dan terbuat dari batu, yang biasanya dipakai oleh kucing-kucing liar akademi untuk tidur. Tempat yang dia temukan saat mencari tempat sepi untuk tidur siang minggu lalu.

Angin malam setelah serangan terasa dingin, membawa sisa-sisa bau asap dan debu, tapi juga membawa bau bintang, bau langit malam yang bersih. Dari atap ini, dia bisa melihat seluruh akademi yang rusak, melihat lampion-lampion festival yang jatuh dan padam di tanah, melihat lampu-lampu klinik yang masih menyala terang, dan melihat langit di atas yang dipenuhi bintang, bintang yang jauh lebih banyak dan lebih terang daripada bintang di desa, karena lampu kota yang biasanya terang kini padam setengahnya akibat serangan.

Tubuhnya masih terasa berat, efek samping dari Absolute Calculation 10 detik yang menguras mana dan sinkronisasi jiwanya. Levelnya sudah 8, HP 180, MP 210, tapi tubuhnya terasa seperti habis berlari maraton selama dua hari tanpa tidur. Dokter klinik sudah bilang, "Kau butuh istirahat total 24 jam, jangan pakai mana."

Namun dia tidak bisa tidur di kamar asrama yang ramai dengan siswa yang masih trauma, jadi dia memanjat ke atap, tempat sepi idealnya yang baru.

Langkah kaki pelan terdengar dari tangga kecil di samping atap, langkah yang ringan, yang sudah sangat dia kenal dalam beberapa minggu terakhir.

Aria datang, membawa dua cangkir minuman hangat, bukan teh kali ini, tapi cokelat panas dari dapur klinik, dengan uap yang mengepul di udara dingin malam. Rambut biru keperakannya yang tadi berantakan karena debu dan pelukan, kini sudah dibersihkan, tapi masih sedikit berantakan, dan gaun biru muda festivalnya sudah diganti dengan seragam akademi musim dingin yang lebih tebal. Di pipinya masih ada sedikit goresan kecil yang sudah diobati.

"Ini. Dokter bilang kau harus minum yang manis-manis setelah kehabisan mana. Katanya otakmu butuh gula." Kata Aria, menyodorkan satu cangkir cokelat panas ke Yamada, lalu duduk di sampingnya, di atas atap batu yang dingin, dengan jarak yang sangat dekat, bahu mereka bersentuhan.

"Terima kasih." Jawab Yamada, mengambil cangkir itu dengan kedua tangan, merasakan hangatnya meresap ke jari-jarinya yang dingin. "Kau tidak tidur di klinik?"

"Aku sudah diobati. Luka gores saja. Tidak seperti seseorang yang naik 7 level sekaligus dan pingsan di pelukan orang." Jawab Aria, dengan nada yang sedikit menggoda, tapi dengan senyum khawatir yang masih tersisa.

Mereka duduk berdampingan, di atap perpustakaan lama, dengan dua cangkir cokelat panas, dengan kaki yang menggantung di tepi atap, menatap langit yang dipenuhi bintang, bintang yang terlihat seperti taburan gula di atas kain hitam.

Beberapa menit mereka hanya diam, menyesap cokelat panas, mendengarkan suara angin malam dan suara samar-samar orang-orang di bawah yang masih membereskan reruntuhan festival.

"Yamada." Aria memanggil, dengan suara yang pelan, hampir tenggelam oleh angin.

"Hm?" Yamada menjawab, tanpa menoleh, masih menatap bintang.

"Aku ingin bertanya sesuatu. Sesuatu yang penting. Boleh?" Tanya Aria, dengan nada yang tiba-tiba menjadi serius, tidak seperti nada godaan tadi.

"Tanya saja. Aku lagi tidak malas menjawab, karena cokelatnya enak." Jawab Yamada, dengan nada santai.

"Kalau kau menemukan jawaban tentang masa lalumu... tentang kenapa kau bisa ada di tubuh ini, tentang kontrak lima tahun itu, tentang perempuan rambut putih itu, tentang lingkaran Elaria, tentang gadis rambut hitam yang kau lihat di ruang rahasia..." Aria berhenti sejenak, menarik napas, menatap bintang, bukan menatap Yamada, seolah-olah takut menatapnya saat bertanya.

"...apa yang akan kau lakukan? Apa yang akan kau lakukan setelah kau tahu siapa dirimu sebenarnya?"

Yamada terdiam, cangkir cokelat panas di tangannya berhenti di tengah jalan menuju mulut. Pertanyaan itu, pertanyaan yang sederhana tapi berat, pertanyaan yang sudah menghantuinya sejak malam Requiem Flower mekar di kamarnya.

Dia memikirkan kematiannya di kehidupan pertama, ditabrak truk di sore yang malas saat ingin membeli roti krim. Dia memikirkan tubuh ini, tubuh anak 10 tahun yang mati lima tahun lalu dan dijaga selama lima tahun dalam kepompong cahaya. Dia memikirkan sistem yang selalu bilang Insufficient Authority dan Unknown. Dia memikirkan perempuan bermata merah berambut putih yang bilang "Sudah waktunya" dan gadis berambut hitam bermata merah yang bilang "Aku akan menunggumu". Dan dirinya sendiri, yang tidak tahu apakah dia Yamada yang mati ditabrak truk, Yamada anak desa, atau orang ketiga yang tidak ada hubungannya dengan keduanya.

"Aku akan pergi." Jawabnya akhirnya, dengan suara yang pelan tapi tegas, suara yang bukan suara malas, tapi suara seseorang yang sudah membuat keputusan. "Aku akan pergi mencari semuanya. Mencari kebenaran tentang kontrak itu, tentang siapa perempuan rambut putih itu, tentang siapa gadis rambut hitam itu, tentang kenapa tubuh ini kosong selama lima tahun."

"Ke mana? Ke Hutan Elaria? Ke tempat yang bahkan guru akademi tidak berani masuk?" Tanya Aria, kini menoleh, menatap wajah samping Yamada.

"Mencari semuanya. Ke mana pun jawabannya berada. Bahkan kalau harus ke ujung dunia, bahkan kalau harus ke balik lingkaran sihir itu lagi." Jawab Yamada.

Aria menatapnya, dengan mata ungu yang memantulkan cahaya bintang, dengan wajah yang terlihat sedikit pucat karena angin malam.

"Kalau perjalanan itu berbahaya? Kalau di sana ada lebih banyak monster Level 27, atau monster bermahkota tiga tanduk seperti yang kau ceritakan? Kalau kau bisa mati lagi, beneran mati kali ini, tidak bereinkarnasi lagi?"

"Aku tetap pergi. Karena kalau aku tidak pergi, aku akan tetap tidak tahu siapa aku. Dan aku tidak mau hidup seumur hidup sebagai Unknown. Itu lebih merepotkan daripada mati." Jawab Yamada, dengan logika malas yang anehnya terdengar sangat berani.

"Kalau..." Aria berhenti lagi, suaranya sedikit bergetar, cangkir cokelat di tangannya sedikit bergetar, uapnya menari-nari. "...kalau kau pergi dan kau tidak bisa kembali? Kalau kau menemukan jawaban tapi kau tidak bisa kembali ke akademi, tidak bisa kembali ke desa, tidak bisa kembali ke... ke bangku kayu di belakang perpustakaan ini?"

Yamada terdiam cukup lama kali ini. Lama, dengan hanya suara angin malam dan suara jantungnya yang berdetak pelan. Dia menatap bintang-bintang di atas, bintang-bintang yang terlihat abadi, tapi mungkin sudah mati jutaan tahun lalu, cahayanya saja yang baru sampai sekarang.

Kemudian dia menjawab, dengan suara yang pelan, tapi jelas, dengan senyum tipis yang tulus,

"Aku akan kembali. Bagaimanapun caranya, aku akan kembali. Karena aku sudah janji, kan? Aku janji akan hidup. Dan hidup di sini, di akademi ini, di bawah pohon ek, di bangku kayu itu, cukup ideal untuk seorang pemalas sepertiku."

Aria tersenyum, senyum yang lebar, senyum yang membuat mata ungunya yang berkaca-kaca karena angin malam kini benar-benar berkaca-kaca karena sesuatu yang lain, senyum yang membuat wajah dinginnya menjadi hangat seperti cokelat panas di tangan mereka.

"Janji?" Tanyanya, dengan suara yang pelan, seperti anak kecil.

Yamada menatapnya, menatap senyum itu, senyum yang sama seperti senyum gadis rambut hitam di visi, senyum yang sudah menunggu lima tahun.

"Janji." Jawabnya.

Aria mengulurkan jari kelingkingnya yang kecil, putih, dengan kuku yang bersih, jari kelingking yang sedikit gemetar karena dingin malam.

Yamada menatap jari kelingking itu beberapa detik, dengan wajah datar, seperti sedang menganalisis apakah mengaitkan jari kelingking itu efisien atau tidak, apakah itu merepotkan atau tidak.

Kemudian, dengan gerakan yang pelan, dia mengaitkan jari kelingkingnya yang sedikit lebih besar dan kasar karena latihan pedang kayu, dengan jari kelingking Aria yang kecil dan halus.

"Janji. Aku akan kembali. Ke sini. Ke tempat ini." Katanya, dengan suara yang pelan tapi tegas.

[Ding!]

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!