Indonesia
NovelToon NovelToon
Enemy To Lovers: Tersangkut Cinta Musuh Bebuyutan

Enemy To Lovers: Tersangkut Cinta Musuh Bebuyutan

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Idola sekolah / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: theonlywaaannn_

Kiara cuma punya satu impian di sekolah barunya: lulus dengan tenang tanpa drama.

​Sayangnya, takdir malah melemparnya tepat ke lingkaran kehidupan Khafi Mahendra—cowok paling jahil, menyebalkan, dan susah ditebak di SMA Cahaya Permata.

​Dua kepala batu. Dua pendirian kuat. Satu hubungan tanpa komitmen yang dipenuhi provokasi. Ketika benci menjadi satu-satunya bahasa yang mereka pahami, seberapa jauh mereka bisa saling menghindar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon theonlywaaannn_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23 : Perkara Gengsi Jadi Korban Level 5

   ​"KIA! POKOKNYA HARI INI JADI, NGGAK MAU TAHU!" teriak Neona heboh begitu bel istirahat berbunyi, menggebrak meja sampai Kiara terlonjak kaget.

​"Kaget, Ona!" ringis Kiara sembari memegang dadanya. "Iya, jadi! Gue udah ngidam seblak Prasmanan Teh Desi dari minggu lalu tau nggak!"

​"Nah, makanya! Kan katanya level cabenya bisa milih sendiri, terus ada kerupuk mawar yang mekar banget itu!" seru Neona dengan mata berbinar-binar. Ia lalu memutar badannya menatap anak-anak cewek lain di kelas. "Sisil! Maya! Ikut jajan seblak viral yuk pas pulang sekolah!"

​Sisil menoleh sambil menghela napas. "Aduh, Ona... mau banget sebenarnya. Tapi gue ada kumpul rapat PMR hari ini."

​"Gue juga ada latihan tari, Na," sahut Maya memasang raut penyesalan.

​"Yaaah, padahal rame-rame seru banget..." desah Fiola kecewa.

​Tiba-tiba dari meja belakang, Ferdi yang sedang menikmati basreng langsung membelalakkan mata. "NAH! SEBLAK TEH DESI?! ANJIR LA, ITU KAN YANG DI GANG BUNUT?!"

​"Iya! Kok lo tau, Fer?!" tanya Kiara heran.

​"Yeuuu! Makanan Sunda mah habitat urang atuh, Kia! Seblak di sana teh top pisan, kuahnya ngaldu, cikurnya berasa! Tapi cabenya galak banget, siap-siap aja usus kalian goyang!" celoteh Ferdi heboh dengan gaya khasnya.

​"Ah, masa sih? Bikin tambah penasaran aja!" pekik Neona makin tak sabar.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

   Sore harinya begitu bel pulang sekolah berbunyi, Kiara dan Neona bergegas merapikan tas. Kiara sibuk sendiri menatap layar ponselnya yang menampilkan aplikasi peta digital.

​"Ini belokannya lewat lorong pasar atau jalan pintas yang sebelah kanan sih, Na?" gumam Kiara fokus menatap maps.

​Tiba-tiba, satu tangan jahil melayang dari belakang dan TAP! Layar ponsel Kiara sengaja dimatikan.

​"Ih, Khafi! Kebiasaan banget sih!" semprot Kiara mendongak emosi.

​Khafi berdiri bersedekap di samping mejanya dengan cengiran tengil, tas sekolahnya diselempangkan santai di satu bahu. "Jalan sambil ngelihat HP terus, ntar muka lo nabrak tiang listrik baru tau rasa."

​"Mau nabrak tiang atau nabrak pohon juga bukan urusan lo ya, Khaf!" cetus Kiara sewot sambil menyalakan kembali layar HP-nya. "Sana pergi, jangan mengganggu pemandangan!"

​"Mau ke mana sih emang? Gaya banget pakai maps segala. Kayak tahu jalan aja lo," ledek Khafi lagi, sengaja memajukan badannya untuk mengintip layar ponsel Kiara.

​"Mau jajan seblak viral sama Ona. Kepo banget sih lo jadi cowok!" Kiara mengibaskan tangannya, mengusir Khafi seperti mengusir lalat.

​Neona yang sudah memegang kunci motor menepuk bahu Kiara. "Yuk, Kia, ke parkiran sekarang! Nanti keburu makin antre tempatnya."

​Khafi memperhatikan dua cewek itu sejenak, lalu raut wajahnya sedikit melunak. "Nanti naik motornya jangan ngebut-ngebut, Na. Kuntil satu ini tuh kalau dibonceng suka nggak jelas pegangannya, ntar bisa ketinggalan di belakang."

​Kiara sempat tertegun mendengarnya, tapi langsung menutupinya dengan cibiran tajam. "Ciee... perhatian banget, sok iye lo Khafi!

"Daah, mending lo pulang sana!" usirnya dengan menyingkirkan bahu Khafi. lalu satu tangannya merangkul lengan Neona sambil jalan ke parkiran.

Harapan menikmati seblak hangat nan pedas mendadak sirna di pertengahan jalan. Tiba-tiba saja, motor matic milik Neona tersendat-sendat—bat-bet-bat-bet—lalu mendadak mati total di tengah jalan gang perkampungan yang lumayan sepi.

​Neona refleks menarik rem dan panik setengah mati. "Loh, loh?! Kia! Kok motor gue mati?!"

​"Kenapa, Na?!" tanya Kiara cemas, langsung turun dari boncengan.

​Neona menekan tombol stater berkali-kali. Srek... srek... srek... Mesinnya hanya berbunyi nyaring tanpa ada tanda-tiga kehidupan.

​"Ih kok nggak mau nyala sih?! Padahal kunci udah ON!" jerit Neona panik, mulai menendang-nendang kick stater dengan sepatu sekolahnya. "Aduh gimana ini? bensinnya padahal masih dua garis lho, Masih banyak."

​"Coba diputar kuncinya, Na! Cabut terus colok lagi!" usul Kiara tak kalah panik, memberikan ide yang tidak masuk akal.

​"Udah! Tetap nggak bisa! Aduh, mana sepi banget lagi ini gangnya," Neona hampir menangis, mengacak rambutnya frustrasi. "Masa akinya soak sih? Kan baru ganti tahun lalu..."

​"Ya mana gue tau, Ona... gue aja buka jok motor cuma tahu tempat taruh jas hujan doang," keluh Kiara pasrah.

​Sinar matahari sore terasa makin menyengat kulit. Karena kebingungan dan sama sekali tidak paham mesin, mau tak mau dua cewek berseragam SMA itu akhirnya bahu-membahu mendorong motor matic yang lumayan berat itu ke pinggir jalan, berteduh di bawah pohon rindang.

​"Aduh... capek banget," keluh Kiara menyapu keringat di dahinya. "Ngapain juga motor lo pakai acara mogok di sini sih..."

​"Ya mana gue tahu bakal mogok, Kia!" sahut Neona menyandarkan motornya. "Coba telepon bengkel deh. Tapi gue nggak punya kontak bengkel daerah sini!"

    ​Sedangkan di lain tempat, sebenarnya, niat awal anak geng pojok keluar gerbang sekolah sore ini bukan untuk berburu seblak viral, melainkan mau nongkrong santai di Warung Kang Agus dekat lapangan—tempat biasa mereka main catur sambil menyedot es kopi.

​Namun, Khafi yang diam-diam cemas mengingat Kiara dan Neona nekat pergi ke gang asing berdua, sengaja membelokkan rute motornya. "Cek dulu tuh dua bocah, beneran nyampe apa nyasar," celetuk Khafi dengan alasan tadi, yang akhirnya malah berujung pada drama motor mogok di bawah pohon.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

    Saat Kiara dan Neona dengan sisa-sisa napas yang tersisa, mereka masih berusaha mendorong motornya yang semakin mendekati pohon.

​Tiba-tiba dari ujung gang...

​Brummm... BRUMM!

​Suara derum empat sepeda motor bersahutan mendekat. Begitu melintas, empat pemuda berseragam sekolah langsung mengerem mendadak.

​Itu Khafi, Ferdi, Kevin, dan Pandu.

​"LOH?! ADA YANG MOGOK!" teriak Ferdi seketika dari atas motornya, tertawa paling kencang tanpa empati.

​Kiara dan Neona seketika membeku. Rasa malu yang luar biasa langsung menyerbu wajah mereka.

​"Aduh Kia... kenapa harus mereka sih yang lewat?" bisik Neona panik setengah mati sambil menutupi wajahnya dengan tas.

​"Sumpah, cobaan apa lagi ini..." gumam Kiara dengan ringisan, rasanya ingin menghilang menembus bumi saat itu juga.

​Kevin membuka kaca helmnya seraya tertawa ngakak. "Niat hati mau makan seblak, malah latihan dorong motor! Kasian amat,"

​Kiara melotot tajam, menutup rasa malunya dengan kekesalan. "Diem lo pada! Bukannya nolongin malah pada ketawa!"

​Khafi menyandarkan standar motornya, lalu turun dan melangkah mendekati Kiara. Matanya menatap motor Neona, lalu menatap Kiara dari atas ke bawah. "Baru juga dibilangin hati-hati di kelas tadi, udah ada ulahnya aja. Kenapa motornya?"

​"Tiba-tiba mati sendiri. Bensin masih ada kok!" sahut Neona cepat-cepat membela diri.

​"Mana coba urang liat," seru Ferdi sambil melempar helmnya ke stang motornya sendiri. Dia jongkok di samping motor Fiola bersama Kevin dan Pandu. Khafi menyingsingkan lengan kemejanya dan ikut jongkok.

​Ke empat cowok itu mulai sok tahu mengotak-atik bagian mesin bawah.

​"Ini businya lebas kali nih," ucap Kevin sambil memutar-mutar kabel hitam.

​"Bukan lebas, Vin. Ini mah pengapiannya kotor," timpal Pandu sok analisis dengan tangan yang membenahi letak kacamatanya. "Di-selak dulu coba, Di."

​"Urang selak ya! Na, pegang stangnya!" perintah Ferdi, lalu mulai menekan kick stater berkali-kali dengan penuh tenaga. TAK! TAK! TAK!

​"Pelan-pelan Fer, ntar patah itu motor gue!" tegur Neona cemas.

​Khafi yang sedang berusaha menyetel bagian bawah karburator mengusap pelipisnya pakai punggung tangan. Niatnya mau menyapu keringat, tapi tangannya yang bekas memegang rantai dan mesin justru meninggalkan goresan oli hitam pekat di pipinya.

​Kiara yang memperhatikan dari tadi akhirnya tidak tahan lagi. Gemas bercampur risih melihat Khafi yang belepotan, apalagi masih memakai seragam putih. Ia merogoh tasnya dan mengambil selembar tisu basah.

​"Khaf, diem sebentar deh," potong Kiara melangkah mendekat.

​"Apaan sih, ini lagi dicek—"

​Kiara tiba-tiba berjongkok sedikit, tangan kirinya menahan bahu Khafi, sementara tangan kanannya mengusapkan tisu basah ke pipi Khafi dengan perlahan.

​"Muka lo belepotan oli tau nggak. Mana makin belepotan gara-gara disapu pakai tangan lo yang kotor itu," gumam Kiara fokus mengelap noda hitam di pipi mulus Khafi.

​Khafi seketika membeku total. Tangannya yang memegang obeng terhenti di udara. Matanya mengerjap tak berkedip menatap wajah Kiara yang berjarak hanya belasan sentimeter dari mukanya. Wewangian manis khas Kiara mendadak menyeruak mengalahkan bau bensin dan oli.

​Melihat adegan dadakan itu, tiga biang kompor dan 1 api kompor kelas XI IPS 2 langsung berhenti beraktivitas dan meledak.

​"EHEM! ADUH ADUH ADUH! ADA YANG MENDADAK JADI PATUNG NIH!" goda Ferdi heboh sambil menunjuk-nunjuk Khafi pakai obeng.

​"ANJIR KHAFI! MUKA LO MERAH KENYAS-KENYES!" seru Kevin tertawa ngakak sampai menepuk-nepuk jok motor.

​"Siram air woy! Patungnya masih bernapas nggak tuh?!" timpal Pandu makin menjadi-jadi.

Sedangkan Neona yang melongo tidak percaya menepuk lengan Kiara untuk menyadarkan.

"Kia! Nyebut Nggak?! Gue tau ini di bawah pohon rindang tapi jangan sampai kesemsem sama nih anak begajulan!"

​Kiara yang baru sadar aksi refleksnya langsung menarik tangannya cepat-cepat. Mukanya mendadak merah padam sampai ke telinga. "I-itu... noda olinya udah hilang kok! Dah!" kilah Kiara salah tingkah, buru-buru menyembunyikan tisunya di belakang tubuh.

​Khafi berdehem keras, berdiri membuang muka ke samping demi menyembunyikan senyum dan rasa canggungnya. "Ehm. Ini motornya emang nggak bisa dipaksa. Karburatornya banjir, harus dibawa ke bengkel depan."

​"Yaudah, motor Ona di dorong aja sama si Edi ke bengkel depan tuh dekat gapura," usul Kevin. "Terus gimana nih? Seblak tetep jadi kagak?" tanyanya ke dua cewek di depannya.

​"Jadi lah! Udah terlanjur lapar!" seru Neona semangat.

"La, maneh ikut naik motor si Kevin aja ya. Biar urang yang dorong motor maneh ke bengkel."

​"Terus gue gimana?!" tanya Kiara kebingungan karena semua motor cowok-cowok sudah berpenumpang.

​Pandu dan Kevin saling melempar lirikan penuh arti, lalu serempak menunjuk ke arah Khafi yang sedang memakai helmnya.

​"Tuh, sama si Khafi lah! Masa sama Pak Bon," kekeh Kevin.

​Khafi menepuk jok belakang motornya yang lumayan tinggi. "Cepat naik. Ntar seblak viral lo kehabisan."

​Kiara menggigit bibir bawahnya, merasa canggung luar biasa akibat ledekan teman-temannya tadi. Tapi karena tidak ada pilihan lain, ia akhirnya mendekat dan naik ke jok belakang motor Khafi.

​"Udah?" tanya Khafi dari balik kaca helmnya.

​"Udah..." cicit Kiara pelan.

​Brumm! Khafi sengaja menarik gas sedikit agak mengagetkan, membuat Kiara refleks terdorong ke depan dan mencengkeram erat pinggiran jaket kulit yang dikenakan Khafi.

​"Khafi! Jangan sengaja ya!" omel Kiara di balik bahu Khafi dengan muka merah.

​Khafi menyengir lebar di balik helmnya, merasakan cengkeraman jari-jari kecil itu di jaketnya. "Pegang yang kencang, Triplek. Nanti lo jatuh, gue lagi yang repot."

​Di belakang mereka, Ferdi, Kevin, dan Pandu mengiringi dengan suara klakson yang bersahutan dan sorakan godaan yang tak ada habisnya sepanjang jalan menuju kedai seblak.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

   Begitu sampai di Warung Seblak Teh Desi, suasana sudah ramai antre. Aroma kencur, cabai merah, dan kuah gurih langsung menyengat hidung mereka.

​"ANJIR! Bau kuahnya aja udah bikin ngiler!" seru Ferdi heboh, langsung mengambil mangkok seng dan penjepit makanan di meja prasmanan. Karena Ferdi punya adik cewek di rumah, seblak sudah menjadi makanan sehari-hari, jadi dia santai saja.

​"Fer, ambil sosisnya jangan dikuasai semua ya!" tegur Neona sambil ikut antre di belakangnya.

Ferdi hanya melengos sambil menunjuk tempat sosis lain yang masih penuh itu. "Sedeng aja, Teh. Tilu sendok full."

Neona maju ke barisan depan, bantu mengambilkan toping yang di luar jangkauan Kiara "Kia, mau ambil topping apa aja?"

​"Gue mau kerupuk mawar, dumpling cheese, bakso, sosis, sama kwetiau. " sahut Kiara antusias, rasa canggungnya tadi perlahan memudar berganti keinginan makan seblak.

​Di belakang Kiara, Khafi ikut berdiri di antrean. Cowok itu menatap deretan mangkok cabai yang warnanya merah membara.

Kiara yang memang pecinta pedas garis keras menatap deretan toples cabai dengan mata berbinar. "Teh, saya level empat ya! kuahnya dibikin nyemek dan gurih ya,"

​Khafi yang berdiri di sebelah Kiara langsung melirik tajam. "Ra, gila ya lo? sok kuat banget, ntar meler baru tau rasa lo."

​"Dih, Apaan sih, Khaf! Gue tuh udah biasa makan pedas ya, hidung gue aja nggak akan meler! Lo tuh yang nggak bisa makan pedas mending diem," cibir Kiara tak mau kalah.

​Gengsi Khafi seketika setinggi langit. Mana mungkin dia terlihat 'lemah' di depan Kiara dan kawan-kawannya?

​Saat gilirannya memesan, Khafi menepuk dada dengan sok tenang. "Teh, saya level lima. manis sama gurih ya,"

​Pandu yang lagi mengambil toping sampai tersedak air liurnya sendiri. "Bentar, Khaf... lo yakin? Lo kan biasanya makan sambal terasi sedikit aja udah kepedesan?"

​"Gue biasa aja," tanggap Khafi datar, padahal hatinya sudah agak was-was melihat sendok takar cabai Teh Desi yang menggunung.

​"Wihhh! Gaya bet Si Khafi, Awas ntar usus lo kaget, Khaf!" ledek Kevin dari meja makan.

​Kiara melirik Khafi tak percaya. "Yakin lo level lima? Lo kan nggak terlalu kuat pedas, Khafi!"

​"Siapa bilang? Gue kuat ya," sahut Khafi yang tetap dengan gengsi tinggi.

   Tiga puluh menit kemudian, mangkok-mangkok seblak mendarat di meja panjang. Kuah milik Khafi warnanya bukan merah lagi, tapi sudah merah pekat kehitaman berbusa.

​Baru tiga suapan pertama, Glek. Efek gengsi Khafi mulai terasa.

Khafi membeku, pipi dan telinganya seketika berubah warna menjadi merah padam seperti udang rebus. Keringat dingin sebesar biji jagung mulai bermunculan di dahinya. Dengan mata yang mulai berkaca-kaca, tangannya gemetar pelan saat meraih gelas es teh manisnya dan langsung menyedotnya sampai terdengar suara srak-srak habis. Tapi cowok itu tetap berusaha tampil sok tenang di depan Kiara.

Pandu, Ferdi, Kevin, dan Neona yang duduk di seberang meja sampai berhenti mengunyah. Mereka berempat menatap Khafi dengan meringis prihatin.

​"Khaf, lo nggak apa-apa?" tanya Kiara sambil menahan tawa melihat Khafi yang mulai gelisah, sibuk bolak-balik menyedot es tehnya sampai habis.

​"Nggak... enak kok. Gurih," sahut Khafi pelan dengan suara yang agak serak, menahan rasa terbakar di lidahnya.

​"Anjir... Khaf... lo masih napas kan?" bisik Kevin polos.

​"Khafi, muka lo udah kayak figuran Marvel yang mau meleleh," timpal Pandu panik campur heran.

​Ferdi malah ngakak paling kencang sampai menepuk meja. "GUSTI NU AGUNG! Demi gengsi di depan Kiara, Khafi rela menukar nyawanya dengan kuah cabai Teh Desi!" ucapnya dramatis yang dibalas delikan semua orangm

​Kiara yang memperhatikan dari tadi hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Ia capek melihat kelakuan Khafi yang kekanak-kanakan demi gengsi, tapi di sisi lain hatinya merasa kasihan dan luluh melihat wajah cowok itu yang sudah pasrah.

Khafi masih berkilah sambil berusaha menikmati seblak di depannya. "Gue aman kok,"

​"Halah! Muka lo udah kayak udang rebus gitu sok-sokan bilang enak!" cetus Neona ngakak dengan ponsel di depannya untuk mengabadikan.

"Lihat tuh si Khafi, gess! Demi gengsi di depan Kia, tumbal usus pun dilakoni!"

​"Diem lo, Fer," umpat Khafi lemah.

​Kiara yang gemas sekaligus kasihan melihatnya, mengambil mangkok kecil kosong, memindahkan beberapa dumpling cheese dan sosis dari mangkok seblak level tiga miliknya yang kuahnya jauh lebih ramah.

​"Nih, tukeran topping. Makan yang ini aja, jangan dipaksa kalau nggak kuat. Dasar gengsian!" omel Kiara sambil menyodorkan mangkok kecil itu ke depan Khafi.

​Khafi menatap mangkok racikan Kiara, lalu menatap cewek itu. Bibirnya yang agak memerah karena pedas perlahan mencebik karena malu, namun ia menerimanya dengan nurut.

​"Makasih, Triplek," bisik Khafi pelan, lalu mulai memakan seblak pemberian Kiara dengan lahap.

​"EHEM! Ada yang perhatiaaan!" goda Neona sambil menyenggol lengan Kiara.

​"Bukan perhatian, Ona! Gue cuma nggak mau repot kalau dia mendadak pingsan di sini!" kilah Kiara dengan muka yang kembali memerah.

​Diiringi gelak tawa Ferdi, Kevin, dan Pandu, sore itu di kedai seblak pinggir jalan, kehangatan khas anak XI IPS 2 benar-benar menyatu—di antara kuah pedas, es teh yang habis, dan perhatian kecil yang tersembunyi di balik gengsi masing-masing.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!