Indonesia
NovelToon NovelToon
HABISNYA CINTA SUAMIKU

HABISNYA CINTA SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Duda
Popularitas:10.9k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Demi amanah terakhir sang kakak, Alana rela menikah dengan kakak iparnya, Gema. Namun selama enam tahun, Alana hanyalah pelengkap. Gema mengunci rapat hatinya, terjebak duka masa lalu, dan memperlakukan Alana hanya sebagai pengasuh berstatus istri. Bahkan sakit maag akut yang diderita Alana pun tak pernah Gema ketahui.

​Beruntung, Alana wanita mandiri. Pemilik toko kue besar ini bertahan murni demi sang anak sambung yang menyayanginya sebagai Bunda.

​Hingga suatu malam, pertahanan Alana runtuh bersama rasa sakit yang tak lagi bisa disembunyikan. Di saat Gema akhirnya berbalik ingin meraihnya, akankah sisa-sisa cinta Alana masih ada, atau justru sudah habis tak bersisa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HABISNYA CINTA SUAMIKU

​Sinar matahari pagi merayap pelan menembus jendela kaca ruang makan, membiaskan cahaya di atas meja marmer yang tertata rapi. Aroma nasi goreng mentega, telur mata sapi, dan seduhan kopi hitam pekat membumbung tinggi, menciptakan atmosfer sarapan yang semestinya hangat. Namun, kehangatan itu hanya sebatas uap makanan. Di antara orang-orang yang mengelilingi meja, suasana terasa sedingin puncak es.

​Gema duduk di ujung meja dengan kemeja kerja berwarna biru gelap yang tergulung hingga ke siku. Jemarinya sesekali bergerak menggeser layar ponsel pintarnya, memeriksa surel masuk dari kantor. Namun, meski matanya tertuju pada layar digital, fokus pikiran pria itu sesungguhnya terbagi sepenuhnya pada wanita yang duduk tenang di sebelahnya.

​Alana.

​Pagi ini, Alana tampil sangat rapi dalam balutan gaun kasual berwarna krem lembut dengan rambut yang disanggul sederhana. Wajahnya dipoles riasan tipis cukup tebal untuk menutupi kepucatan bibir dan rona lelah di bawah matanya. Wanita itu sibuk memotongkan sosis dan menyiapkan suapan kecil untuk Tania yang duduk di sebelah kirinya.

​Biasanya, suasana sarapan pagi di rumah itu selalu diwarnai oleh celotehan Alana yang bersemangat. Alana yang dulu akan sibuk menanyakan apakah racikan kopinya sudah pas di lidah Gema, menanyakan jadwal rapat suaminya hari ini, atau sekadar mengingatkan Gema agar tidak lupa membawa vitamin.

Alana yang dulu selalu berusaha menciptakan komunikasi sekecil apa pun untuk mengisi ruang hampa di antara mereka.

​Namun pagi ini, tidak ada satu patah kata pun yang meluncur dari bibir Alana untuk Gema.

​Alana bekerja dalam keheningan yang disiplin. Dia menuangkan air putih ke gelas Gema, meletakkan piring nasi goreng di depan suaminya, lalu kembali memfokuskan seluruh perhatiannya pada Tania tanpa sekali pun menatap mata Gema atau menebar senyum hangat seperti biasa.

​Gema mematikan layar ponselnya. Pria itu meletakkannya di atas meja dengan ketukan yang sedikit agak keras. Suara itu membuat Bi Sastro, yang sedang merapikan teko di dekat pantry, sempat menahan napas cemas.

​"Nanti sore jam tujuh, kita semua makan malam di rumah Mama," ujar Gema tiba-tiba, memecah keheningan meja makan dengan suara beratnya yang datar.

"Mama menelepon kemarin malam. Dia rindu Tania dan minta kita datang bertiga."

​Alana yang sedang menyuapkan sepotong telur ke mulut Tania tidak menghentikan gerakannya. Wajahnya tetap datar, seolah kabar itu hanyalah pengumuman cuaca di radio yang tidak perlu ditanggapi dengan emosi.

​Keheningan kembali menggantung selama beberapa detik. Alana hanya mengangguk pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari Tania.

​Gema memicingkan mata. Alisnya bertaut rapat melihat reaksi pasif tersebut. Biasanya, setiap kali ada undangan makan malam dari keluarga besar Gema, Alana akan langsung menunjukkan binar antusias atau setidaknya raut cemas khasnya. Dulu, Alana pasti akan bertanya jam berapa Gema bisa menjemputnya di toko kue. Alana selalu memohon agar Gema mau mampir sebentar ke Lumina Bakehouse untuk berangkat bersama satu mobil, hanya demi merasakan momen kebersamaan singkat sebagai sepasang suami istri di mata keluarga besar.

​Dan biasanya pula, Gema akan menanggapi permohonan itu dengan dengusan malas atau kalimat tajam: "Kamu ini selalu manja dan menyusahkan, Alana. Kamu punya mobil dan sopir sendiri, kenapa harus selalu minta dijemput seolah saya ini supir pribadimu?"

​Namun pagi ini, Alana tidak meminta dijemput. Dia tidak mengajukan syarat apa pun. Dia tidak menunjukkan rasa bahagia maupun keberatan. Dia hanya diam, seolah undangan itu tidak ada hubungannya dengan perasaannya.

​Rasa tidak nyaman dan jengkel yang membakar dada Gema sejak semalam kembali menyala. Pria itu menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap Alana dengan rahang yang mengetat keras.

​"Alana, saya sedang bicara sama kamu!" ucap Gema kesal, suaranya sedikit meninggi dengan nada ketus yang menuntut kepatuhan.

​Alana akhirnya meletakkan sendok Tania perlahan. Dia menegakkan tubuhnya, memutar pandangannya, lalu menatap lurus ke arah manik mata Gema.

Pandangan wanita itu begitu bening, begitu tenang, namun teramat sangat dingin. Tidak ada lagi rasa panik atau raut merasa bersalah di sana.

​"Iya, Mas Gema. Nanti saya datang setelah dari toko kue," jawab Alana singkat, suaranya meluncur begitu mulus tanpa riak emosi sedikit pun.

​Gema tertegun sejenak. Panggilan Mas Gema dengan penekanan yang begitu formal dan lugas terasa seperti hembusan angin malam yang menusuk kulit.

Dulu, kata Mas yang diucapkan Alana selalu dibalut kehangatan dan kelembutan. Kini, sebutan itu terasa tak lebih dari sekadar sapaan formalitas tanpa jiwa.

​"Kamu tidak minta saya jemput di toko?" tanya Gema, tanpa sadar melontarkan pertanyaan yang justru menguji keanehan sikap istrinya.

​Alana mengulas senyum sangat tipis senyuman formal yang biasa dia berikan pada pelanggan asing di toko kuenya.

​"Tidak perlu, Mas. Saya tahu Mas Gema sibuk dan tidak suka direpotkan dengan hal-hal sepele seperti ini," sahut Alana tenang. "Saya bisa pergi sendiri membawa mobil bersama Pak Mamat setelah urusan toko selesai. Jadi Mas tidak perlu buang-buang waktu menyeberangi kota hanya untuk menjemput saya."

​Kalimat itu meluncur dengan sangat sopan, namun dampaknya bagaikan tamparan tak terlihat di wajah Gema. Kata-kata Alana seolah memantulkan kembali seluruh penolakan dan ucapan kasar yang pernah Gema lemparkan padanya selama enam tahun terakhir. Gema hendak membuka mulut untuk membalas, tetapi lidahnya mendadak terasa kelu.

​Di tengah ketegangan yang makin membeku itu, Tania yang dari tadi mengunyah makanannya tiba-tiba mendongak. Anak kecil itu menatap Alana dengan mata bulatnya yang dipenuhi kebingungan dan kecemasan polos.

​"Memangnya Bunda mau ke toko?" tanya Tania polos, suaranya yang cempreng memecah ketegangan di antara kedua orang tuanya. "Bunda kan lagi sakit..."

​Deg.

​Jantung Alana seolah berhenti berdetak seketika. Di balik lipatan serbet di pangkuannya, jemari Alana meremas kain itu kuat-kuat. Kepolosan Tania mendadak menjadi ancaman terbesar bagi rahasia yang berusaha dia tutupi rapat-rapat.

​Gema yang mendengar celetukan putrinya langsung memalingkan pandangan sepenuhnya pada Tania, lalu beralih menatap Alana dengan tatapan menelisik yang tajam.

​"Sakit?" ulang Gema dengan alis terangkat. "Sakit apa, Tania?"

​Bi Sastro yang berdiri di sudut ruangan seketika membeku. Tangan wanita tua itu gemetaran saat memegang lap dapur, takut jika rahasia rawat inap Alana selama dua hari ini kebongkar di depan Gema pagi ini.

​Alana dengan cepat menguasai keterkejutannya. Dia mengulas senyum paling lembut, lalu mengusap pipi murni Tania dengan jemarinya yang hangat, mencoba mengalihkan perhatian putrinya sebelum anak itu membocorkan hal yang lebih jauh.

​"Bunda udah mendingan, Tania sayang," sela Alana cepat, suaranya tetap terkontrol dan menenangkan. "Lagian Bunda kan ada obat misal sakit. Tania nggak usah khawatir ya..."

​Tania mengerutkan dahinya yang mungil. Anak itu belum paham betul kerumitan dunia orang dewasa. "Tapi kata Tante Maya kemarin waktu bawa obat, Bunda nggak boleh capek-capek dulu... Bunda kan kemarin pingsan terus dimasukin cairan di tangan..."

​"Tania," panggil Alana sedikit menekan, namun tetap dibalut kelembutan seorang ibu. "Bunda cuma agak lemas karena kemarin lupa makan siang waktu mendekorasi kue pesanan. Sekarang Bunda sudah minum obat dari dokter dan terasa jauh lebih segar. Tania makan lagi ya, nanti terlambat masuk sekolahnya."

​Gema tidak mengalihkan pandangannya dari Alana. Pria itu menangkap setiap perubahan kecil pada raut wajah istrinya mulai dari ketegangan singkat di matanya hingga caranya yang terburu-buru menenangkan Tania.

​"Pingsan?" suara Gema meluncur lebih rendah dan dalam, memotong percakapan ibu dan anak itu. "Kamu pingsan di toko, Alana?"

​Alana menarik napas pendek, lalu menatap Gema kembali dengan raut wajah yang kembali dikunci rapat-rapt tanpa ekspresi.

​"Hanya masuk angin biasa dan kelelahan, Mas. Tidak ada yang perlu dibesar-besarkan," jawab Alana datar. "Maya memang selalu berlebihan kalau melihat saya agak lemas. Dia hanya mengantarkan obat maag dan vitamin ke rumah kemarin sore."

​"Kalau kamu sakit sampai pingsan, kenapa kamu tidak memberi tahu saya?" desak Gema, dadanya mendadak terasa sesak oleh rasa tidak terima. Pria itu merasa ada sesuatu yang besar yang sengaja disembunyikan darinya di rumahnya sendiri.

​"Memberi tahu Mas Gema?" Alana tertawa kecilmsebuah tawa pendek yang sangat hampa tanpa rasa humor. "Untuk apa, Mas? Mas sedang dinas di luar kota untuk urusan pekerjaan yang sangat penting. Saya tidak mau mengganggu fokus Mas hanya karena masalah kesehatan sepele yang bisa saya selesaikan sendiri."

​Gema mengepalkan tangannya di atas meja. Rasa tersindir yang tajam kembali menghantam dadanya. Kalimat Alana terdengar begitu rasional, tetapi di balik rationalitas itu, Gema bisa merasakan penolakan yang sangat kuat. Alana tidak lagi menganggapnya sebagai pelindung atau tempat bersandar. Bagi Alana saat ini, keberadaan Gema tidak lagi relevan untuk membagikan rasa sakitnya.

​"Kamu ini istri saya, Alana!" tegas Gema dengan suara tertahan, menahan agar tidak meledak di depan Tania. "Kalau kamu sakit di rumah ini, orang-orang akan menganggap saya tidak bisa mengurus kamu!"

​Alana menatap Gema lurus-lurus, tidak ada lagi rasa takut di matanya menghadapi kemarahan pria itu.

​"Bukankah selama enam tahun ini Mas memang tidak pernah mengurus saya?" bisik Alana pelan, namun kata-katanya menghantam ruang makan itu bagaikan dentuman keras. "Mas hanya peduli pada reputasi Mas dan kenyamanan Tania. Jadi Mas tidak perlu cemas, di depan keluarga besar Mas nanti sore, saya akan tetap menjadi istri yang baik dan tidak akan merusak nama baik Mas."

​Gema terperanjat. Kata-kata Alana begitu menohok, membongkar seluruh kenyataan pahit yang selama ini ditutupi oleh kepatuhan Alana. Pria itu mematung, dadanya bergemuruh hebat, tetapi tidak ada argumen yang bisa dia keluarkan untuk membantah kebenaran dari ucapan istrinya.

​Alana berdiri dari kursinya. Dia tidak lagi menyentuh sarapannya yang masih utuh di piring. Dia membungkuk sedikit, mengecup puncak kepala Tania dengan penuh kasih sayang.

​"Bunda siap-siap dulu ya, Sayang. Nanti Pak Mamat yang antar Tania ke sekolah," tutur Alana lembut.

​"Iya, Bunda..." sahut Tania pelan, menyadari aura tegang yang sangat pekat di antara Bunda dan Ayahnya.

​Alana kemudian merapikan pakaiannya, membalikkan badan, dan melangkah keluar dari ruang makan tanpa melirik sedikit pun ke arah Gema yang masih duduk membeku di kursinya. Langkah kaki Alana terdengar begitu mantap, meninggalkan kehampaan yang luar biasa di ruangan tersebut.

​Gema menatap punggung Alana yang menghilang di balik lorong menuju tangga. Tangannya yang mengepal di atas meja perlahan melemas. Nasi goreng di piringnya mendadak terasa sangat hambar. Untuk pertama kalinya dalam enam tahun pernikahan mereka, Gema merasa kekuasaan dan kendali penuh yang selalu dia pegang atas diri Alana telah runtuh sepenuhnya disapu bersih oleh dinginnya keputusasaan wanita itu.

​Di sudut pantry, Bi Sastro menghela napas panjang seraya memanjatkan doa dalam hati. Wanita tua itu tahu, tembok pertahanan Alana telah berdiri begitu kokoh, dan Gema baru saja mulai menyadari betapa dingin dan sepinya dunia tanpa kehangatan dari wanita yang selama ini disiakannya.

1
Ma Em
Bagus Alana keputusan Alana sdh benar jgn menyiksa diri sendiri hanya untuk membahagiakan orang lain lbh baik Alana cari kebahagiaan Alana sendiri , semoga Alana dapat pengganti gema lelaki baik yg mencintai dan menyayangi Alana 🤲🤲.
Arieee
mantap alana💪💪💪💪💪👍👍👍👍👍👍
Sri Widiyarti
nyesek banget Alana 😭 semoga author kasih pasangan hidup yang memuliakan Alana ...
Zhafran Althaf
good job alana
Lee Mba Young
eleh paling nnti juga balikan🤣. soale yg bucin Alana nya nnti dng alasan Tania pasti balikan.
Chintya Ananda
bagus alana pergilah dan raihlah kebahagiaanmu...lanjut thor💪💪
Lee Mba Young: nnti pling juga balikan, biasanya bgitu sih 🤣.
total 1 replies
sutiasih kasih
telatttt gema....
kmana aja km 6 th ini🤔🤔🤔
sutiasih kasih
bukan tiba" dodol.....
justru alana sdh sangat siap melepas org" yg tak tau diri.....
sutiasih kasih
keren g tuh......
brtahun lamanya brtahan dlm ksakitan.... akhirnya mmbuat kputusan yg bkal mnnghuncangkn jiwa suami egois dan tak tau diri😅😅
Elina thea
akhirnya Alana membuat keputusan yg benar👍... please Alana setelah ini kamu harus lebih berani kalo di rendahkan ibumu atau orang lain,jangan mudah luluh sampai rujuk lagi kayak cerita kebanyakan yah...
Susi Susanti: ini judul nya mesti di balik🤭
total 1 replies
Elina thea
memang mikirnya harusnya kesana alana...buat apa mempertahankan pernikahan dgn alasan anak kalo diri sendiri udah sakit,sakit secara fisik masih bisa ke dokter untuk bisa sembuh...tapi batin dan jiwa yg sakit,sekalipun bibir berucap sudah ikhlas dan memberikan kesempatan kedua belum tentu bisa sembuh meski dalam waktu yg panjang,karna sakit batin yg tidak terlihat justru akan slalu di ingat dan akan jadi bayangan di dalam pernikahan...
Sri Widiyarti
Ya Allah terbayang diposisi Alana 😭😭😭
Arieee
menguras emosi💪💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍👍👍
sutiasih kasih
pdahal alana bukan perempuan biasa lho....
dia perempuan mandiri... sukses & hatinya baik...
tpi memang org" di skitrnya bneran buta mata dan hatinya....
sutiasih kasih: suka heran dgn mereka...
ap lgi ibunya Alana tuh.... g tau malu... minta uang buat selametan kirana... tpi mulutnya paling pintar mncaci dan merendhkn Alana....
kpan sih ibunya Alana kena stroke🙄🙄
total 2 replies
sutiasih kasih
kpan ibu durjananya kena stroke🤔🤔
sutiasih kasih
mau km tebus pke apa.... luks hati istrimu slm ber tahun lamanya....
blcak areng
terima kasih kakak 🙏
Sri Widiyarti
menjadi asing ditengah keramaian Allah nyesek banget Alana semoga kak author kasih pasangan hidup yg memuliakan Alana ..
Sri Widiyarti
dah tinggalin aja Alana kamu berhak bahagia...
Agunk Setyawan
othor love you♥️🥰🥰 novelnya bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!