Indonesia
NovelToon NovelToon
MENANTU MISKIN INI TERNYATA PRESDIR!

MENANTU MISKIN INI TERNYATA PRESDIR!

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Dian Mita

Tiga tahun menikah, Rendy selalu dihina, diperlakukan seperti pembantu, dan dibeda-bedakan oleh ibu mertua serta iparnya karena hanya dianggap seorang sopir miskin tak berpendidikan. Clarissa, sang istri, hanya bisa diam menahan tekanan keluarga besarnya. Puncaknya, saat bisnis keluarga mengalami krisis, Rendy difitnah mencuri, dipaksa menandatangani surat cerai, dan diusir di tengah hujan deras tanpa membawa apa pun.
​Namun, keluarga itu tak pernah tahu bahwa Rendy sebenarnya adalah satu-satunya ahli waris Pradipta Group—konglomerat terbesar yang sengaja menyamar demi menguji ketulusan cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dian Mita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27: Ibu Mertua Mengemis

Lobi utama Pradipta Group yang megah dan beralaskan marmer kualititas tertinggi mendadak gempar oleh suara jeritan histeris seorang wanita tua. Ratusan karyawan yang berlalu-lalang serta para tamu VIP menghentikan langkah mereka, menatap iba sekaligus jijik ke arah wanita yang tengah berlutut di tengah aula lobi.

Ibu Rosma berlutut di lantai marmer yang dingin, menangis gerung-gerung tanpa memedulikan lagi sisa-sisa harga diri atau status sosial yang dulu amat dibanggakannya. Pakaian mewahnya tampak kusut, rambunya yang tersanggul rapi kini terurai acak-acakan.

"Rendy! Rendy, keluar kamu! Kasihanilah ibumu ini, Rendy!" jerit Rosma histeris seraya memukul-mukul lantai marmer dengan telapak tangannya yang gemetaran. "Lepaskan Dion! Dia adikmu, Rendy! Jangan kamu penjarakan dia!"

Dua pengawal berbadan kekar berseragam hitam berdiri membentengi area lift eksekutif, mencegah Rosma menerobos masuk. Suasana lobi kian memanas hingga Asisten Bagas turun dari lantai lima puluh lima dan menghampiri wanita tua yang terlunta-lunta itu.

"Ibu Rosma," ujar Bagas datar, menatap dingin wanita di bawahnya. "Tuan Presdir bersedia menemui Anda. Namun hanya lima menit. Jika Anda membuat keributan lagi, tim keamanan akan menyeret Anda ke kantor polisi atas tuduhan perbuatan tidak menyenangkan."

Rosma menyapu air matanya tergesa-gesa, bangkit dengan tubuh gemetaran dan langkah yang terseret mengekor di belakang Bagas menuju lift pribadi VIP.

Di lantai lima puluh, pintu tebal berbahan kayu jati bergeser terbuka secara halus.

Ruang kerja Presiden Direktur Pradipta Group membentang begitu megah dan anggun, disinari pendar cahaya matahari yang menembus dinding kaca raksasa. Di tengah ruangan, Rendy Pradipta duduk tenang di kursi kulit kebesarannya.

Rendy mengenakan kemeja kustom berwarna abu-abu gelap dengan gulungan lengan hingga siku, memamerkan jam tangan mewah berharga miliaran rupiah di pergelangan tangannya yang kekar. Pria tegap itu duduk dalam posisi yang sangat santai, menyilangkan satu kakinya di atas kaki yang lain, sementara jemari tangannya yang kokoh mengetuk-ngetuk pelan sandaran tangan kursi kulitnya.

Aura dominasi dan keagungan mutlak yang dipancarkannya memenuhi seluruh penjuru ruangan.

Rosma melangkah masuk dengan napas memburu panik. Begitu matanya mengunci sosok pria tegap yang dulu selalu ia suruh-suruh membersihkan toilet rumahnya, lutut Rosma mendadak melentur.

BRUK!

Wanita tua itu berlutut secara dramatis tepat tiga meter di depan meja kerja jati milik Rendy.

"Rendy... Maksud Ibu, Nak Rendy..." tangis Rosma pecah kembali, merangkak sedikit di atas karpet sutra mahal seraya menangkupkan kedua tangannya di udara. "Tolong cabut laporan polisi itu, Nak! Ibu mohon! Dion anak satu-satunya yang menjadi harapan keluarga kita! Dia bisa gila kalau harus mendekam di sel penjara!"

Rendy tidak bergerak dari posisi santainya. Manik matanya yang pekat menatap Rosma dari atas dengan kilatan dingin yang tak tersentuh oleh rasa iba sedikit pun.

Melihat wanita tua yang dulu paling rajin meludahi harga dirinya kini tersungkur bagai pengemis di bawah pijakan kakinya, sebuah desiran kepuasan yang dingin dan tajam mengalir perlahan di dalam dada Rendy. Pria tegap itu menikmati setiap detik penderitaan, air mata, dan kehancuran mental yang terpancar dari wajah mantan ibu mertuanya.

"Harapan keluarga?" suara Rendy mengudara—berat, rendah, dan penuh intimidasi yang membekukan darah. "Harapan yang dibangun dari hasil mencuri uang perusahaan orang lain dan memeras darah orang-orang yang tidak berdaya?"

Rosma menggeleng-gelengkan kepalanya histeris. "Dion cuma khilaf, Rendy! Dia masih muda! Kasihanilah Ibu yang sudah tua ini, Nak... Dulu Ibu memang kasar padamu, tapi Ibu yang merawat Clarissa! Ibu yang membiarkanmu tinggal di rumah kami!"

"Membiarkanku tinggal?" Rendy menyunggingkan senyum tipis yang teramat kejam di sudut bibirnya yang tegap. Jemari tangannya yang kokoh meraba cangkir kopi kristal di atas meja, menyesapnya perlahan seraya matanya tetap menguliti rasa bersalah Rosma. "Anda menampungku untuk menjadikannya pembantu gratisan, Ibu Rosma. Anda menyuruhku mencuci mobil Dion di tengah hujan, mencaci almarhum ibuku, dan mengusirku tanpa uang sepeser pun saat kalian merasa aku tidak berguna lagi."

Setiap kata yang meluncur dari bibir tegap Rendy menghantam dada Rosma bagaikan gada besi. Wanita tua itu tertunduk makin dalam, menempelkan dahinya ke karpet sutra di bawah kaki Rendy.

"Ibu mengaku salah, Rendy! Ibu memang manusia jahat! Pukullah Ibu, caci maki Ibu, tapi tolong lepaskan Dion!" jerit Rosma dalam keputusasaan yang teramat dalam. "Ibu akan melakukan apa saja! Apa saja asalkan Dion tidak dipenjara!"

Rendy perlahan menurunkan cangkir kristalnya. Pria tegap itu menegakkan posisi duduknya, memajukan sedikit tubuh atletisnya ke depan meja jati.

Keheningan yang amat tegang seketika membungkus ruangan luas tersebut. Aura kekuasaan Rendy makin menekan udara, membuat Rosma bahkan takut untuk menaikkan pandangan matanya.

"Apa saja?" tanya Rendy dengan nada santai namun penuh dengan kebusukan dendam yang nyata.

Rosma mendongak cepat, matanya yang sembap berbinar oleh secercah harapan yang menyedihkan. "Iya, Rendy! Apa saja! Ibu janji!"

Rendy bersandar kembali ke kursi kulitnya, merapikan kerah kemeja kustomnya dengan gerakan yang amat elegan dan tak tersentuh. Senyum dingin berhias kejam kembali terukir anggun di rahang tegapnya.

"Aku bisa saja mencabut laporan polisi atas tuduhan penggelapan dana lima miliar itu..." tutur Rendy pelan, setiap kata yang diucapkannya dijatuhkan secara teratur seperti tetesan racun. "...tapi ada satu penawaran mutlak yang tidak bisa ditawar."

Rosma menahan napasnya, dadanya yang kuyu naik turun dengan cepat. "A-apa syaratnya, Rendy?"

Rendy menatap lurus ke arah pintu utama ruang kerjanya, seolah membayangkan wajah wanita yang pernah mengisi hidupnya.

"Mulai besok pagi," tegas Rendy dengan suara berat yang bernada perintah tak terbantahkan, "Clarissa harus datang sendiri ke kantor ini, berlutut meminta maaf padaku, dan menandatangani kontrak kerja sebagai sekretaris pribadiku."

Sambungan Bab 27

Kata-kata Rendy menggantung mematikan di udara, meremukkan sisa-sisa harapan yang sempat melintas di wajah Ibu Rosma. Wanita tua itu melongo kaku, matanya terbelalak lebar menatap mantan menantunya yang kini duduk bak raja di atas takhta kekuasaan.

"M-maksudmu... Clarissa? Menjadi sekretaris pribadimu?" bisik Rosma gagap, tenggorokannya mendadak mengering.

"Bukan sekadar sekretaris biasa," sahut Rendy dingin, jemari tegapnya terulur mengambil selembar berkas kontrak dari dalam laci meja jatinya. "Dia harus berada di bawah pengawasanku dua puluh empat jam penuh. Melayaniku, mematuhi setiap perintahku tanpa bantahan, dan merasakan bagaimana rasanya menjadi bawahan dari pria yang dulu kalian injak-injak."

Rendy melemparkan dokumen kontrak tersebut ke atas meja. Kertas tebal berstempel segel Pradipta Group itu mendarat tepat di hadapan Rosma.

"Clarissa memiliki waktu hingga pukul delapan pagi besok untuk menandatangani kontrak ini di hadapanku," lanjut Rendy dengan nada yang membekukan darah. "Jika lewat dari jam itu dia tidak muncul, berkas kejahatan Dion akan langsung dilimpahkan ke kejaksaan dan hukuman maksimal lima belas tahun penjara akan memastikan adikmu membusuk di dalam sel."

Rosma meremas jemarinya sendiri, tubuhnya gemetaran hebat. Ia tahu betul apa artinya menyerahkan putri kandungnya ke dalam cengkeraman Rendy. Di balik status sekretaris pribadi, Clarissa akan sepenuhnya menjadi milik Rendy—di bawah dominasi mutlak pria tegap yang kini dipenuhi aura dendam membara.

Namun, bayangan Dion yang melolong di dalam jeruji besi dan ancaman kebangkrutan mutlak yang membanting keluarga Wijaya tak memberikan Rosma pilihan lain.

"B-baik, Rendy... Ibu akan menyuruh Clarissa datang besok pagi!" tangis Rosma pecah seraya merangkak menyambar lembaran kontrak tersebut dengan tangan gemetaran. "Ibu janji Clarissa akan datang dan menuruti semua kemauanmu!"

Rendy tidak membalas lagi. Ia hanya mengibaskan tangan kirinya secara anggun, memberi isyarat kepada Asisten Bagas untuk menyeret wanita tua itu keluar dari ruang kerjanya.

Malam harinya, rumah kontrakan keluarga Wijaya kembali diliputi jeritan keputusasaan.

Ibu Rosma melempar berkas kontrak kerja itu tepat ke atas meja kayu di hadapan Clarissa. Hendra terduduk lesu di sudut ruangan, sementara Rosma berlutut di depan kaki Clarissa seraya menangis histeris.

"Clarissa! Ibu mohon padamu, Nak!" jerit Rosma memegang erat kedua pergelangan tangan putrinya. "Hanya kamu satu-satunya yang bisa menyelamatkan Dion! Selamatkan adikmu dari penjara! Kamu harus mau bekerja pada Rendy!"

Clarissa menatap lembaran kertas kontrak di meja dengan mata yang sembap dan dada yang bergemuruh heboh. Jemari lentiknya memutar lembaran tersebut, membaca poin demi poin persyaratan yang diajukan oleh Rendy.

Setiap klausul dalam perjanjian itu dirancang khusus untuk melucuti kebebasannya, menuntut kepatuhan penuh, dan menyerahkan dirinya secara utuh ke bawah kendali sang Presdir. Rendy tidak hanya menginginkan kepatuhannya secara profesional, melainkan kepatuhan emosional dan fisik dari wanita yang pernah melepaskan genggamannya.

Mas Rendy... jadi ini cara yang kamu pilih untuk menghukumku...? bisik batin Clarissa dalam penyesalan yang membakar ulu hatinya.

Desir panas yang merayap di perut bawahnya kembali bangkit saat membayangkan dirinya harus berada di ruangan yang sama dengan Rendy setiap hari, berada di bawah kungkungan dan tatapan dominan mantan suaminya tanpa ada garis pembatas lagi.

Keesokan harinya, tepat pukul 07.55 pagi, pintu ganda ruang kerja Presiden Direktur Pradipta Group perlahan bergeser terbuka.

Clarissa melangkah masuk dengan gaun pensil hitam pas badan yang membungkus ketat siluet tubuh rampingnya. Rambut panjangnya terurai indah, memamerkan leher mulus yang pernah disesap mesra oleh Rendy.

Di balik meja kayu jati raksasa, Rendy berdiri membelakangi pintu, menatap pemandangan kota di balik dinding kaca raksasa. Pria tegap itu memutar tubuhnya secara anggun saat mendengar derap langkah sepatu tumit tinggi Clarissa.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Clarissa melangkah mendatangi meja utama. Dengan dada yang berdetak kencang dan air mata yang menggenang di pelupuk matanya, Clarissa perlahan menundukkan tubuhnya... lalu berlutut di atas karpet sutra tepat di bawah kaki tegap Rendy Pradipta.

"Aku sudah datang, Mas..." bisik Clarissa dengan suara bergetar pasrah. "Aku siap menjadi sekretaris pribadimu..."

Rendy menatap wanita di bawah kakinya dengan pandangan dingin yang amat tajam. Namun, sebelum Rendy sempat melangkah mendekat, pintu ruang kerjanya mendadak terbuka kasar dari luar tanpa ketukan.

Seorang wanita bergaun mewah dengan aura keagungan yang amat dominan melangkah masuk dengan senyum sinis.

"Ternyata rumor itu benar..." suara wanita asing itu mengudara nyaring, memotong atmosfer panas di dalam ruangan. "Kamu memelihara mantan istrimu di sini, Rendy?"

1
Dian Paramita Dewi
Semangat....terus berkarya ☺️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!