Alea hidup dalam realitas kemiskinan mulai dari tagihan listrik dan kontrakan yang menunggak memaksanya berjuang keras banting tulang demi memenuhi kebutuhannya sendri.
Di sisi lain, Arka Adiwangsa hidup dalam kemewahan namun dibayangi darah, pengkhianatan, dan rahasia gelap keluarganya.
Hingga pertemuan tak terduga di tepi jembatan malam itu menjadi titik balik yang mengubah segalanya.
Dua dunia yang bertolak belakang pun berbenturan: Alea perlahan terseret ke dalam pusaran bahaya dunia mafia, sementara logika absurd gadis itu tanpa sadar menundukkan sisi gelap di dalam diri Arka.
Ketika nyawa dan uang receh dipertaruhkan di meja yang sama, akankah sang pewaris takhta akhirnya luluh dan menaklukkan hati Alea? Atau justru mereka harus kembali melangkah di jalan masing-masing?
Kisah mereka lebih dari sekadar pertemuan dua dunia yang tak seharusnya bersentuhan. Penasaran? Langsung baca saja ya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Deru mesin motor sport berkapasitas 1000cc milik Arka membelah kemacetan pagi ibu kota dengan keangkuhan yang mutlak. Di belakang, Alea duduk sedikit kaku.
Kedua tangannya mencengkeram erat ujung jaket kulit Arka, berusaha menjaga jarak aman agar helm full-face kebesaran yang ia pakai tidak terus-menerus membentur helm pemuda itu setiap kali Arka mengerem.
Bagi siswi SMA normal, dibonceng oleh cowok paling tampan, kaya, dan misterius di sekolah adalah sebuah pencapaian yang layak ditulis di buku harian dengan tinta warna-warni. Namun bagi Alea, perjalanan ini tak ubahnya simulasi wahana ekstrem.
Otaknya sibuk mengalkulasi berapa liter bensin oktan tinggi yang terbakar hanya untuk sekali tarikan gas motor ini.
Lima belas menit kemudian, motor itu berbelok memasuki gerbang besi menjulang bertuliskan SMA Harapan Warga.
Tepat ketika ban motor Arka melindas aspal area parkir, suasana riuh kerumunan siswa yang sedang nongkrong pagi mendadak hening.
Obrolan terputus di udara. Puluhan pasang mata serentak menoleh, mengunci pandangan pada satu titik yang sama.
Lautan siswa berseragam putih abu-abu itu perlahan menepi, membelah jalan secara otomatis layaknya Laut Merah yang terbelah.
Arka mematikan mesin. Hening yang tercipta setelah raungan motor itu mati justru terasa jauh lebih memekakkan telinga.
Alea melepas helmnya dengan susah payah, rambutnya sedikit mencuat berantakan. Begitu kakinya menjejak tanah, telinganya yang tajam langsung menangkap bisik-bisik yang mulai berdengung seperti kawanan lebah kelaparan.
*"Gila... itu Alea, kan? Kok bisa berangkat bareng Arka, sih?"*
*"Mereka berangkat bareng, jir? Jangan bilang mereka... udah jadian, aduh! Potek deh hati gue?"*
*"Bukannya kemarin kata Vanessa si Alea cuma dibayar buat jadi ture guidenya Arka, doang?"*
Alea menghela napas panjang. Mengabaikan tatapan membunuh dari fans club dadakan Arka, ia merapikan roknya dan menengadahkan telapak tangan ke arah Arka yang baru saja turun dari motor.
"Oke, Bos. Layanan ojek VIP gratis udah selesai,"
ucap Alea dengan volume suara yang sengaja dibesarkan agar terdengar oleh beberapa murid yang kepo.
"Argo perlindungan di area sekolah resmi dimulai. Sesuai kesepakatan, harap jaga jarak radius satu meter. Jangan sampe ada rumor gue melet lo pakai guna-guna, itu akan buat reputasi gue sebagai siswi teladan bisa hancur. Sebagai pengingat aja tarif ganti rugi pencemaran nama baik itu mahal!"
Arka tidak menjawab. Alih-alih mendengarkan rentetan omelan Alea atau memedulikan tatapan takjub murid-murid di sekitarnya, mata sekelam obsidiannya justru menyapu tajam ke arah luar gerbang sekolah.
Di seberang jalan, terparkir sebuah sedan hitam pekat dengan kaca film berlapis. Tidak ada yang mencurigakan bagi mata orang awam. Namun bagi seorang eksekutor sindikat, pelat nomor kendaraan yang sengaja dibuat kotor dan sudut parkir yang menghadap langsung ke arah lobi utama sekolah itu menjeritkan satu fakta itu pasti mata-mata pengintai.
Rahang Arka mengeras. Hartawan rupanya benar-benar tidak main-main. Ia mengirim anjing pelacaknya langsung ke sekolah hanya untuk memastikan apakah peringatan keras semalam berhasil membuat Alea angkat kaki dari kota ini atau tidak.
"BOS? Lo denger gue, nggak sih?" Alea melambaikan tangannya di depan wajah Arka.
Bukannya menjaga jarak satu meter seperti yang diproteskan Alea, Arka justru melangkah maju memangkas jarak mereka menjadi nol.
Tanpa ragu sedikit pun, tangan besar dan hangat milik pemuda itu meraih pergelangan tangan Alea. Cengkeramannya posesif, erat, namun sama sekali tidak menyakiti.
Alea tersentak kaget. Matanya membulat sempurna. "Bos! Lo ngapain pegang-pegang gue, sih?! Gue kan udah bilang, kontak fisik skin-to-skin di depan umum gini ada charge tambahannya! Lima puluh ribu per menit!"
"Gak masalah," balas Arka dingin, nadanya tidak menerima penolakan.
Ia dengan sengaja menarik Alea agar berjalan lebih dekat di sisinya. Arka sama sekali tidak memedulikan jeritan tertahan dari para siswi menyaksikan adegan itu dengan mata berkaca-kaca.
Tujuan Arka hanya satu, ia hanya ingin memastikan sosoknya dan Alea yang saling berdampingan terlihat dengan sangat jelas oleh siapa pun yang sedang mengawasi dari balik kaca sedan hitam di seberang sana.
"Liat baik-baik, Hartawan Adiwangsa!" batin Arka dingin, sudut bibirnya menyunggingkan seringai sinis yang mematikan.
"Kau ingin menyingkirkannya? Maka gue akan menariknya ke pusat takhta gue yang sesungguhnya hingga kalian semua mati kehabisan napas."
Tepat saat mereka melewati koridor utama menuju kelas, rombongan Vanessa, Siska, dan Nindy yang baru saja keluar dari ruang guru membeku di tengah jalan. Mata Vanessa nyaris melompat keluar melihat tangan Arka yang menggenggam erat pergelangan tangan Alea.
"A-Alea!" jerit Vanessa melengking.
"Lo bener-bener nggak tau malu, ya! Pakai pelet murahan apa lo hah! Sampai bisa berangkat bareng Tuan Muda Arka?!"
Alea yang sedari tadi meronta pelan berusaha melepaskan tangannya, mendadak berhenti. Insting dagangnya kembali menyala terang benderang. Ia melirik tangan Arka yang masih menggenggamnya, lalu menatap Vanessa dengan senyum meremehkan.
"Lo nanya gue pake pelet apa? Sorry ya, Vanes, dukun gue lulusan S2 Manajemen Bisnis. Jadi gue nggak main pelet, gue main kontrak eksklusif!" balas Alea pongah.
Ia lalu sengaja mengangkat tangannya yang sedang digenggam oleh Arka tinggi-tinggi ke udara, memamerkannya seperti memamerkan trofi piala dunia.
"Liat nih? Nih, namanya Layanan Pengawalan Premium! Bos Arka aja sanggup bayar argo per menit buat genggam tangan gue. Kalau lo mau protes, mending lo siapin modal yang lebih gede buat lelang jam istirahat gue nanti siang!"
Vanessa ternganga, kehabisan kata-kata menghadapi tingkat kepercayaan diri Alea yang berada di luar nalar manusia normal.
Di sisi lain, Arka mendadak harus menundukkan wajahnya sedikit. Urat halus di lehernya kembali berdenyut, mati-matian menahan senyum yang hampir meledak melihat bagaimana gadis mungil ini mengubah situasi penuh ancaman mematikan dan drama remaja menjadi ajang promosi bisnis.
Ketegangan akibat mata-mata intelijen Papa-nya barusan menguap begitu saja.
"Ayo," potong Arka pelan, menarik tangan Alea melewati geng Vanessa yang masih mematung layaknya patung Pancoran.
Saat mereka melangkah menjauh, Arka sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah telinga Alea, membisikkan sesuatu dengan suara baritonnya yang serak dan dalam, memastikan hanya gadis itu yang bisa mendengarnya.
"Genggaman ini... lo mau gue hitung per menit, atau mau gue borong sistem unlimited untuk seharian penuh?"
Langkah Alea langsung tersandung udara. Wajahnya yang biasa kebal terhadap gombalan mendadak terasa sedikit panas.
Bersambung...
udh lah jngan suka mancing2 Alea yg bar2 ini, bisa kena bogem loh buru**nya nnt 😂😂😂