Mayor Aris adalah definisi komandan militer sempurna: tegas, seram, dan disiplin tinggi. Di markas, bisikan namanya saja sudah cukup membuat para prajurit gemetaran. Namun, reputasi "Mayor Galak" itu mendadak runtuh setiap kali ia berhadapan dengan Mayang—gadis pintar, super periang, centil, jujur, polos, sekaligus ceroboh tingkat dewa.
Sifat Mayang yang berbanding terbalik 180 derajat dengan Aris membuat hari-hari sang Mayor tak pernah tenang. Dari tingkah Mayang yang blak-blakan menggoda Aris di depan anak buahnya, hingga kecerobohan manis yang selalu sukses memicu kepanikan sang Mayor. Di balik keusilannya, kejujuran dan kepolosan Mayang justru menjadi tempat Aris melupakan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jilbab putih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: Sambutan Karpet Merah di Gerbang Batalyon
BAB 8: Sambutan Karpet Merah di Gerbang Batalyon
Selasa siang, langit di atas kompleks asrama Batalyon tampak cerah benderang setelah diterpa hujan deras selama beberapa hari terakhir. Angin sepoi-sepoi bertiup sejuk, membawa aroma tanah basah dan kesegaran dedaunan.
Sesuai instruksi mendadak dari Mayor Aris semalam, iring-iringan truk militer berwarna hijau tua milik Batalyon tiba lebih cepat dari jadwal semula. Suara deru mesin truk-truk besar itu bergema gagah saat memasuki lorong jalan utama menuju gerbang markas pada pukul satu siang tepat.
Di dalam truk terdepan, Mayor Aris duduk di samping pengemudi.
Seragam PDL-nya tampak sedikit kusam dan penuh noda lumpur kering bekas medan latihan di hutan, namun ketegasan dan wibawanya tidak berkurang sedikit pun. Wajahnya yang maskulin terlihat agak lelah, tetapi matanya yang tajam menatap lurus ke arah gerbang utama.
"Komandan..." panggil Sertu Budi yang bertugas di pos depan melalui radio genggam, suaranya terdengar ragu-ragu dan agak panik.
"Lapor, Komandan. Di depan gerbang utama ada... sedikit 'kondisi khusus'."
Aris berdeham pelan, membetulkan letak baret di kepalanya.
"Kondisi khusus apa, Sertu Budi? Ada kendala lalu lintas?"
"Anu... bukan, Komandan. Sebaiknya Komandan lihat sendiri saat truk melintas," jawab Sertu Budi menahan napas.
Saat truk militer terdepan perlahan memperlambat lajunya di tikungan menuju gerbang, mata Mayor Aris seketika membelalak lebar.
Kapten Yoga yang duduk di baris belakang pengemudi bahkan sampai menjulurkan kepalanya keluar jendela karena terperangah.
Di depan gerbang Batalyon yang biasanya steril, kaku, dan serba disiplin, kini terbentang selembar kain merah panjang yang digelarnya asal-asalan menyerupai karpet merah.
Dan tepat di tengah-tengah 'karpet' itu, berdiri seorang gadis berkacamata tebal dengan dress kasual warna merah muda menyala, memegang seikat bunga plastik warna-warni dan papan karton besar bertuliskan
"SELAMAT DATANG KEMBALI, MAS MAYOR ARIS GANTENGKU! HERO IS BACK!"
Gadis itu, siapa lagi kalau bukan Mayang, melambaikan tangannya dengan semangat membara begitu melihat truk Komandan berhenti tepat di depan gerbang.
"Mas Mayooorrr! Welcome back to Batalyon!" teriak Mayang nyaring tanpa rasa malu sedikit pun, diiringi cengiran lebarnya yang khas.
Kapten Yoga yang berada di dalam truk langsung tertawa terpingkal-pingkal sampai memegang perutnya.
"Astaga, Aris! Itu karpet merah beneran digelar buat kamu! Demi Tuhan, seumur-umur aku di militer, baru kali ini ada sambutan Komandan model begini!"
Wajah Mayor Aris seketika berubah kaku.
Urat-urat di leher dan pelipisnya bertumpuk, sementara rona merah padam dengan cepat merambat naik dari leher hingga ke seluruh permukaan telinganya.
Tingkat rasa malu dan salah tingkah sang Mayor berada di titik puncak teratas sepanjang sejarah karirnya!
"Hentikan kendaraan!" perintah Aris tegas pada pengemudi truk dengan suara menahan gejolak emosi.
Pintu truk terbuka.
Dengan langkah kaki yang mantap namun sarat akan rasa pusing yang luar biasa, Mayor Aris turun dari truk.
Sepatu boot militernya menapak di atas tanah.
Beliau berjalan mendekati Mayang dengan tatapan mata yang berusaha dibuat selurus dan sedingin mungkin, walaupun seluruh prajurit di dalam truk-truk di belakangnya sudah sibuk mengintip dari balik terpal sambil menahan tawa.
"Mayang," panggil Aris dengan suara bass yang berat dan tertahan saat tiba di depan gadis itu.
"Apa-apaan ini?"
Mayang menyodorkan buket bunga plastik warna-warni itu tepat ke dada bidang sang Mayor.
"Ini bunga kemenangan buat Mas Mayor Pahlawanku! Selamat ya sudah berhasil menaklukkan hutan, hujan, dan tanah longsor tanpa ada lecet sedikit pun!"
Aris menatap buket bunga plastik itu, lalu beralih menatap papan karton gambarnya, dan terakhir menatap kain merah yang diinjaknya.
"Mayang, gulung kain ini sekarang," bisik Aris dengan nada yang sangat dalam dan penuh penekanan.
"Ini markas militer, bukan arena fashion show atau acara karpet merah bioskop."
"Ih, Mas Mayor ini tidak bisa menghargai kreativitas warga negara yang berbakti!" protes Mayang sambil membetulkan letak kacamatanya yang agak meluncur.
"Kain merah ini kan simbol penghormatan tertinggi! Aku minjam spanduk bekas hajatan Bu Maya terus tak balik warna merahnya!"
Mayor Aris memejamkan matanya rapat-rapat.
Beliau memijat pangkal hidungnya pelan, menghembuskan napas panjang yang terdengar sangat lelah.
Jika yang melakukan ini adalah anak buahnya, sudah dipastikan orang tersebut akan dijemur di tengah lapangan sambil push-up seratus kali.
Tapi di depannya ini adalah Mayang gadis sipil berkacamata tebal yang nekat hujan-hujan kemarin hanya untuk memastikan keselamatannya.
Aris akhirnya mengalah.
Dengan tangan kekarnya yang penuh coretan lumpur kering, beliau meraih buket bunga plastik dari tangan Mayang.
"Terima kasih," gumam Aris sangat pelan, hampir tak terdengar di antara deru mesin truk.
"Tapi sekarang, masuk ke dalam rumah. Jangan membuat kerumunan di depan gerbang."
Mata Mayang berbinar-binar gembira melihat bunganya diterima.
"Wah, diterima!
Beneran diterima! Yeay!"
Mayang bersorak kecil sambil bertepuk tangan.
"Tapi tunggu dulu, Mas Mayor! Mana hadiah oleh-oleh dari hutannya buat aku?"
Aris menaikkan sebelah alisku. "Oleh-oleh? Saya ke hutan untuk latihan tempur, bukan jalan-jalan ke pasar malam."
"Yaaa... kirain ada batu akik unik, atau daun langka, atau minimal rasa kangen yang dibawa pulang buat aku gitu," goda Mayang sambil mengedipkan matanya di balik kacamata tebal.
Sertu Budi dan Kapten Yoga yang berdiri tidak jauh dari sana langsung pura-pura batuk keras untuk menyembunyikan tawa mereka.
Wajah Mayor Aris makin memerah.
Tanpa mengacuhkan godaan konyol itu lagi, Aris berbalik badan dan memberikan komando pada pasukannya.
"Pasukan, tetap di dalam armada! Masuk ke dalam kesatuan dan laksanakan pembersihan perlengkapan!"
"Siap, Komandan!" jawab seluruh pasukan serentak.
Sebelum melangkah masuk ke dalam gerbang bersama rombongan truk, Aris sempat menghentikan langkahnya sejenak.
Beliau menoleh ke arah Mayang yang masih berdiri riang di tepi jalan.
"Mayang," panggil Aris kaku.
"Ya, Mas Mayor Gantengku?" sahut Mayang cepat.
"Nanti sore... wadah bekal dan kantong merah mudamu akan saya kembalikan," kata Aris singkat, lalu tanpa menunggu jawaban Mayang, beliau langsung melangkah tegap masuk ke dalam markas membawa buket bunga plastik di tangan kirinya.
Mayang tersenyum lebar hingga matanya menyipit.
"Siap! Ditunggu di rumah ya, Mas Mayor! Jangan lupa mandi yang bersih dulu biar tambah ganteng!"
Sore harinya, sesuai janjinya, Mayor Aris berjalan menuju rumah cat krem di ujung jalan.
Beliau sudah berganti pakaian menggunakan kemeja kasual rapi berwarna gelap dan celana bahan yang santai namun tetap memperlihatkan postur tubuhnya yang tegap dan atletis.
Rambutnya basah dan segar setelah mandi.
Di tangannya, beliau membawa tas kain berenda milik Mayang yang sudah berisi wadah bekal merah muda dan kantong aroma terapi yang sudah rapi.
Saat tiba di depan pagar teras, Mayang sedang menyiram tanaman bunga di halaman.
"Selamat sore," panggil Aris dengan suara lembutnya.
Mayang menoleh dan langsung menyiramkan airnya ke tanah, melangkah mendekat ke pagar dengan senyum merekah.
"Sore, Mas Mayor! Wah, kalau tidak pakai seragam begini ketampanannya naik lima ratus persen!"
Aris berdeham pelan, menyodorkan tas kain tersebut.
"Ini barang-barangmu. Sudah saya kembalikan lengkap."
Mayang menerima tas kain itu, lalu mengintip ke dalamnya.
Saat memeriksa kantong merah muda berisi minyak angin dan permen jahe, Mayang mendapati permen jahenya sudah berkurang setengah dan botol minyak anginnya sudah terpakai cukup banyak.
"Tuh kan! Ketagihan kan pakai minyak angin dan permen dari aku!" seru Mayang bangga sambil menunjuk-nunjuk Aris.
"Mengaku saja, Mas Mayor! Pasti waktu di hutan minyak angin ini yang menyelamatkan leher Mas Mayor dari angin malam kan?"
Aris mengalihkan pandangannya ke arah jalanan kompleks, berpura-pura tenang padahal dadanya mendadak berdesir hangat.
Beliau merogoh saku celananya, lalu mengeluarkan sebuah benda kecil dan menyerahkannya pada Mayang.
"Ini," ujar Aris singkat.
Mayang tertegun, melihat benda di telapak tangan Aris.
Itu adalah sebuah ukiran kayu kecil berbentuk bunga kemuning yang diukir dengan sangat halus dan rapi.
"Ini... apa, Mas Mayor?" tanya Mayang terperangah.
"Kamu tadi minta oleh-oleh dari hutan," jawab Aris pelan dengan nada canggung yang teramat sangat.
"Saya buatkan itu dari ranting pohon jati saat ronda malam di posko. Untuk... mengganti bunga plastik konyolmu tadi siang."
Mayang terpaku menatap ukiran kayu di tangannya, lalu menatap wajah Mayor Aris yang kini menatapnya lurus.
Ada kehangatan luar biasa yang memancar dari mata pekat sang Komandan.
Pria dingin yang irit bicara ini... meluangkan waktunya di tengah latihan hutan hanya untuk mengukirkan setangkai bunga kayu kecil untuknya!
"Mas Mayor..." gumam Mayang pelan, untuk pertama kalinya suaranya terdengar begitu lembut tanpa kehebohan.
"Saya permisi dulu," kata Aris cepat, merasa makin salah tingkah melihat perubahan ekspresi Mayang.
Namun sebelum Aris sempat berbalik, Mayang menggenggam ukiran kayu itu erat-erat di dadanya dan berteriak riang,
"Mas Mayor Aris! Bunga kayunya bakal aku simpan di bawah bantal selamanya! Terima kasih ya, Calon Masa Depanku!"
Mayor Aris yang berjalan pergi hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala dengan senyuman tipis yang terukir indah di bibirnya.
Benteng pertahanan sang Komandan Galak kini benar-benar telah runtuh oleh kehangatan gadis berkacamata tebal itu.