Di balik senyum humoris pemuda 18 tahun, ada tekad nekat untuk memenangkan hati seorang janda beranak satu yang trauma akan cinta.
Vino, koki kedai berpenghasilan pas-pasan, jatuh hati pada Evita (30 tahun), pemilik butik anggun yang membentengi hatinya rapat-rapat akibat masa lalu yang kelam. Diapit cinta segitiga dengan adik Evita dan kejaran pria dewasa yang mapan, Vino memilih menghilang. Bukan untuk menyerah, melainkan memantaskan diri. Lima tahun berlalu, ia kembali bukan lagi sebagai remaja biasa, melainkan pria yang siap meruntuhkan tembok trauma Evita dan melawan stigma dunia. Bisakah ketulusan dan kehangatan Vino menyembuhkan luka masa lalu Evita, ataukah perbedaan usia dan restu keluarga akan merenggut kebahagiaan mereka?
Ikuti kisah romantis antara Evita dan Arvino dinovel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julian rifai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Garis-Garis Pengenalan
Lampu sorot LED di atas meja kerja Vino masih menyala terang meski jarum jam di dinding studio sudah menunjuk pukul sepuluh malam. Di saat staf lain sudah mengemas barang dan pulang, Vino masih terpaku di depan layar monitor. Jemarinya menari lincah di atas keyboard, menyesuaikan ketebalan garis notasi material pada denah potongan fondasi yang baru saja dicoret tinta merah oleh Mas Danang tadi sore.
Langkah kaki terdengar mendekat dari arah pintu pantry. Mas Bayu, drafter senior lulusan teknik sipil yang biasanya bersikap agak kaku pada Vino, berjalan mendekat sambil membawa dua cangkir kopi hitam yang masih menggepul.
"Masih belum kelar, Vin?" tanya Mas Bayu seraya meletakkan satu cangkir kopi di samping tatakan mouse Vino.
Vino mendongak, lalu mengulas senyum ramah. "Tinggal rapihin notasi penulangan sloof sama kolom lantai dua, Mas Bayu. Mas Danang minta besok pagi jam delapan sudah harus siap cetak."
Mas Bayu menarik kursi kosong di sebelah Vino, lalu menyandarkan punggungnya sambil mengamati layar monitor pemuda itu. "Garis potongannya makin rapi. Dulu waktu awal masuk, komandan... maksudku Mas Danang, hampir lempar penggaris besi gara-gara skalanya ngawur, kan?"
Vino terkekeh halus, menyipitkan mata mengingat momen menegangkan di minggu pertamanya. "Iya, Mas. Dulu saya pikir nggambar rumah itu cuma soal estetika kayak nggambar di kertas gambar. Ternyata salah milimeter sedikit aja di kertas kalkir, tukang di lapangan bisa salah pasang sloof."
"Tapi jujur ya, Vin," lanjut Mas Bayu seraya menyeruput kopinya. "Awalnya anak-anak studio sempat ragu sama kamu. Kamu nggak punya ijazah S1, nggak pernah duduk di bangku kuliah teknik, tapi Mas Danang langsung bawa kamu ke studio ini. Kami pikir kamu dapat jalur khusus karena kenalan bos."
Vino menghentikan ketukan jemarinya. Ia menatap Mas Bayu dengan raut wajah tenang, tanpa ada nada tersinggung sedikit pun. "Saya paham kok, Mas Bayu. Kalau saya jadi Mas Bayu atau teman-teman yang lulusan sarjana, saya juga bakal mikir hal yang sama. Makanya saya sengaja pulang paling akhir tiap malam. Saya sadar saya ketinggalan jauh, jadi saya harus lari dua kali lebih cepat dari yang lain."
Mas Bayu menepuk bahu Vino cukup keras, memancarkan rasa hormat yang murni dari seorang senior. "Tapi dalam tiga bulan ini kamu ngebuktiin, Vin. Etos kerjamu gila. Rekan-rekan di depan juga sudah nggak ada yang meremehkan kamu lagi. Kalau ada perintah shortcut AutoCAD atau rumus perhitungan bahan yang kamu bingung, tanyakan saja ke aku atau Rian. Jangan dipendam sendiri."
"Terima kasih banyak, Mas Bayu. Nasihat sama bimbingannya berharga banget buat saya," sahut Vino tulus.
Hari Minggu menjadi satu-satunya jeda dalam jadwal ketat Vino di studio. Di sebuah kedai kopi teduh berarsitektur Jawa kontemporer di daerah kawasan Pojok Beteng, Vino duduk berhadapan dengan Yunita. Udara sore Jogja yang sejuk bertiup pelan, mengibaskan ujung jilbab simpel yang dikenakan Yunita.
Di atas meja kayu, tersaji dua cangkir kopi susu gula jawa dan sepiring pisang goreng hangat.
"Jadi, kamu beneran sengaja minta pindah kuliah ke UGM, Yun?" tanya Vino usai mendengar cerita singkat sahabatnya itu.
Yunita menyeruput minumannya, lalu mengangguk mantap. "Iya, Vin. Waktu pengumuman jalur mandiri keluar, aku langsung bicara sama Ayah. Kamu kan tahu sendiri Ayah itu mantan perwira polisi yang disiplinnya luar biasa. Awalnya Ayah enggan izinkan aku kuliah jauh-jawah ke Jogja. Beliau pengennya aku masuk Fakultas Kedokteran di Surabaya aja supaya dekat sama rumah."
"Terus, gimana caranya kamu bisa meyakinkan Ayahmu?" selidik Vino penasaran. Beliau paham betul ketegasan ayah Yunita yang legendaris itu.
Yunita tersenyum tipis, menatap Vino lurus-lurus. "Aku bilang sama Ayah kalau aku butuh suasana baru buat mendewasakan diri. Aku nggak mau selamanya berada di bawah naungan protektif keluarga atau terus-menerus terjebak di lingkaran masalah yang bikin hatiku sesak di Surabaya."
Vino terdiam sejenak. Ia menangkap makna tersurat dari ucapan Yunita, bahwa keputusan gadis itu pindah ke Jogja adalah bentuk keberanian untuk keluar dari bayang-bayang luka masa lalu, termasuk perasaannya pada Vino dan dinamika dinginnya dengan Evita.
"Ayah sempat menginterogasi aku berjam-jam," lanjut Yunita seraya terkekeh pelan. "Khas gaya pensiunan perwira. Tapi begitu aku tunjukkan komitmenku dan nilai tes akademisku yang tinggi, akhirnya Ayah luluh dan mengurus semua kepindahanku ke sini."
"Kamu hebat, Yun," puji Vino tulus. "Nggak semua orang punya keberanian buat melangkah keluar dari zona nyaman kayak gitu."
"Kamu yang mengajarkan itu ke aku, Vin," balas Yunita cepat, matanya berbinar hangat. "Waktu aku lihat kamu berani tinggalkan Surabaya cuma bawa koper tua dan buku sketsa demi mengejar impianmu di studio Mas Danang... aku mikir, kenapa aku nggak bisa berani kayak Vino?"
Vino terkekeh halus seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Aku waktu itu nggak punya pilihan lain, Yun. Keadaanku terdesak. Pilihannya cuma dua: tetap jadi pemuda kerdil yang minder, atau nekat merantau demi memperbaiki hidup."
"Dan pilihanmu tepat," sahut Yunita lembut. Ia memperhatikan jemari tangan Vino yang kini agak kasar dan berkapalan di ujung jari akibat terbiasa memegang penggaris siku dan mesin draf. "Aku bangga banget sama kamu, Vin."
"Terima kasih, Yunita. Kehadiranmu di Jogja ini juga bikin aku merasa nggak sendirian," ujar Vino jujur.
Sore itu di sudut kota Jogja, percakapan mereka mengalir hangat tanpa beban. Tidak ada canggung, tidak ada penyesalan, dan tidak ada lagi tuntutan emosi yang rumit. Garis-garis kehidupan yang dulu sempat tumpang-tindih di Surabaya kini perlahan-lahan mulai tertata rapi, menemukan bentuk rancangannya sendiri yang jauh lebih dewasa.
btw jangan lupa mampir di novel ku ya judulnya "AKU BUKAN SIMPANAN" terimakasih 🙏👍