Kupikir menikah dengan pria yang kucintai adalah awal dari kehidupan yang bahagia. Namun, aku tidak pernah menyangka bahwa musuh terbesarku justru tinggal serumah denganku.
Mertuaku menganggapku hanya menumpang hidup. Aku dipaksa mengerjakan seluruh pekerjaan rumah, difitnah di depan tetangga, diperas secara materi, bahkan harga diriku diinjak setiap hari. Sementara suamiku... selalu memilih mengalah demi ibunya.
"Fitri, mengalah dulu ya. Mama cuma ingin yang terbaik."
Kalimat itu terus kudengar selama tiga tahun pernikahan kami.
Hingga suatu hari, aku sadar. Seorang istri tidak seharusnya berjuang sendirian mempertahankan rumah tangga.
Saat kesabaranku habis dan perceraian menjadi satu-satunya jalan, penyesalan justru datang kepada mereka yang selama ini menghancurkan hidupku.
Sayangnya, beberapa penyesalan memang selalu datang ketika semuanya sudah terlambat.
ikuti untuk bab selanjutnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30. Kepulangan Ayah
Keesokan paginya. Bu Mirna kembali bersikap seperti biasa.
"Yan."
"Iya, Ma?"
"Nanti pulang jangan lupa beli beras lima kilo."
"Iya."
"Terus Mama mau minta uang sedikit."
"Berapa, Ma?"
"Lima ratus ribu."
Mas Viyan menatap ibunya beberapa saat. "Untuk apa?"
Bu Mirna tampak sedikit heran. "Ya buat kebutuhan."
"Kebutuhan apa?"
"Belanja."
"Belanja apa?" Tanya mas Viyan dengan detail.
Untuk pertama kalinya, Mas Viyan menanyakan setiap pengeluaran secara rinci. Wajah Bu Mirna perlahan berubah.
"Lho. Kamu kok sekarang banyak tanya?"
"Biar jelas saja, Ma."
"Sekarang apa-apa ditanya."
Bu Mirna mulai terlihat tidak nyaman. "Ya sudah. Nanti Mama ambil dari uang rumah saja."
Mas Viyan mengangguk. "Iya."
"Nanti sore kita belanja bareng."
"Enggak usah. Mama bisa sendiri."
"Enggak apa-apa. Biar sekalian."
Bu Mirna tidak menjawab. Beliau langsung masuk ke kamarnya. Dari raut wajahnya terlihat jelas... Beliau tidak menyukai perubahan sikap anaknya.
---
Saat Bu Mirna sudah masuk kamar, Dinda menghampiri Mas Viyan.
"Bang."
"Iya?"
"Aku butuh uang."
"Berapa?"
"Tujuh ratus ribu."
"Buat apa?"
"Buat beli modul."
"Nama modulnya apa?"
Dinda langsung terdiam.
"Ya...Modul."
"Modul mata kuliah apa?"
Dinda mulai gelagapan. "Aku lupa."
Mas Viyan tersenyum tipis. "Kalau memang buat kuliah...nanti kirim daftar kebutuhannya.Abang transfer ke toko atau kampus. Lagian kamu beli modul buat apa? Kuliah kamu kan belum di mulai lagi"
"Enggak usah. Aku butuh uang tunai."
"Kenapa?"
"Soalnya..." Dinda kembali tidak bisa menjawab. Akhirnya ia mendecak kesal. "Ya sudah! Enggak usah!"
Ia berjalan masuk ke kamar sambil membanting pintu. Aku yang melihat kejadian itu dari dapur hanya menghela napas. Perlahan... Cara lama mereka untuk meminta uang mulai tidak berhasil.
---
Malam harinya. Saat sedang menyiram tanaman di depan rumah, Bu Rina menghampiriku.
"Fitri."
"Iya, Bu?"
"Ibu mau tanya, kamu ngga apa?."
Aku mengernyit. "Enggak apa bu, memang nya aku kenapa?"
"Soal kemarin. Ibu denger kamu di olok-olok sama ibu-ibu kompleks sebelah. Ibu mau samperin kamu tapi ibu masih agak jauh dari kamu. Ibu juga di kasih tau sama ibu-ibu lain kata nya kamu malah nyiksa Bu Mirna dengan biarkan Bu Mirna kerjakan semua pekerjaan rumah tuh. Ibu enggak percaya dan coba kasih tau malah mereka bilang liat sendiri Bu Mirna jemur baju dan nyapu"
Aku tersenyum tipis. "Enggak apa-apa, Bu. Terimakasih sudah bertanya ya"
"Tapi beberapa hari ini Ibu sering lihat sendiri."
"Lihat apa?"
"Kamu berangkat kerja pagi. Pulang masih masak. Masih nyapu. Masih jemur pakaian. Kalau benar kamu malas..enggak mungkin kuat seperti itu."
Aku tersenyum haru. "Terima kasih, Bu."
"Ibu cuma mau bilang..Enggak semua orang percaya gosip."
Kalimat itu membuat dadaku terasa hangat. Akhirnya... Ada seseorang yang mulai melihat kenyataan dengan mata kepalanya sendiri. Namun dari balik jendela ruang tamu...
Bu Mirna memperhatikan percakapan kami. Tatapannya tajam mengarah kepadaku. Beliau menggertakkan giginya pelan.
"Fitri...Gagal satu cara....bukan berarti Mama menyerah. Lihat saja. Mama masih punya cara lain." Dan tanpa diketahui siapa pun...
Malam itu Bu Mirna mengambil ponselnya. Beliau menghubungi seseorang yang selama ini belum pernah muncul dalam kehidupanku. Seseorang yang kedatangannya nanti...
Akan membuat rumah tangga kami memasuki konflik yang jauh lebih besar daripada sekadar fitnah tetangga.
**
Hari Sabtu. Aku terbangun lebih pagi dari biasanya. Baru saja selesai salat Subuh, Bu Mirna sudah berdiri di depan pintu kamarku.
"Fitri."
"Iya, Ma?"
"Hari ini Ayah pulang."
Aku mengangguk pelan. "Oh iya, Ma."
"Jangan bikin malu Mama di depan Ayah."
Aku mengernyit. "Maksud Mama?"
"Kamu tahu sendiri. Jangan pasang wajah cemberut. Jangan banyak mengadu. Dan jangan cari perhatian Viyan terus."
Aku hanya terdiam. Belum sempat aku menjawab, Bu Mirna sudah berbalik meninggalkanku.
---
Pagi itu rumah mendadak sibuk. Aku memasak lebih banyak dari biasanya.
Rendang.
Sayur asem.
Ayam goreng.
Sambal terasi.
Semuanya kusiapkan sejak pukul lima pagi. Sementara Bu Mirna hanya sesekali masuk ke dapur. "Jangan terlalu asin., Sayurnya jangan terlalu matang."
"Piring yang besar saja."
Aku hanya mengangguk. "Iya, Ma."
---
Sekitar pukul sepuluh pagi terdengar suara mobil berhenti di depan rumah. "Pak Haris pulang!"
Seru Dinda sambil berlari keluar. Aku ikut keluar bersama Mas Viyan. Seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun turun dari mobil dengan membawa tas besar. Tubuhnya masih tegap. Wajahnya terlihat tegas.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Mas Viyan langsung mencium tangan ayahnya. Aku pun melakukan hal yang sama.
"Ini Fitri, Yah."
Pak Haris menatapku sekilas. "Iya."
"Sehat?"
"Alhamdulillah, sehat, Yah."
Beliau hanya mengangguk. "Masuk."
Aku memang belum pernah bertemu ayah mas Viyan karena saat kami menikah, beliau sedang berada di luar negeri. Katanya beliau bekerja sebagai TKA dan baru pulang sekarang ini.
---
Saat makan siang, suasana terasa hangat. Pak Haris banyak bercerita tentang pekerjaannya di luar negeri. Sesekali beliau tertawa bersama Mas Viyan. Aku merasa lega.
Setidaknya hari ini tidak ada keributan. Namun ternyata aku terlalu cepat berharap. Setelah makan selesai, Pak Haris memanggil Bu Mirna ke teras. Aku tidak berniat menguping. Tetapi saat hendak menjemur pakaian, suara mereka terdengar cukup jelas.
"Gimana keadaan rumah?" Tanya Pak Haris.
Bu Mirna menghela napas panjang. "Ya... begitulah."
"Kenapa?"
"Sejak ada Fitri....rumah jadi sering enggak tenang."
Langkahku langsung terhenti.
"Memangnya dia kenapa?"
"Orangnya baik. Tapi keras kepala. Kalau di nasihati susah. Kadang membantah. Bahkan beberapa kali bikin Mama nangis."
Aku memejamkan mata. Lagi. Cerita itu kembali diulang. Dengan versi yang lebih menyedihkan.
Pak Haris tidak langsung menjawab. Beliau hanya mengangguk pelan.
"Pantas..."
"Pantas apa, Pak?"
"Waktu Viyan telepon minggu lalu...suaranya seperti banyak pikiran."
"Iya."
"Mama juga kasihan sama Viyan. Dapat istri yang susah diatur."
Dadaku terasa sesak. Aku ingin keluar dan membela diri.
Namun ku urungkan niat itu. Aku memilih kembali ke belakang rumah.
---
Sore harinya, Pak Haris memanggilku.
"Fitri."
"Iya, Yah?"
"Duduk."
Aku duduk dengan sopan di hadapannya. "Kamu betah tinggal di sini?"
Aku tersenyum. "Insyaallah betah, Yah."
Beliau mengangguk pelan. "Laki-laki itu tugasnya mencari nafkah. Perempuan tugasnya menjaga rumah."
"Iya, Yah."
"Jadi kalau ada perbedaan pendapat dengan mertua...mengalah saja. Namanya juga orang tua."
Aku menundukkan kepala. "Iya, Yah."
Padahal... Beliau sama sekali belum pernah mendengar ceritaku.
---
Malam harinya, aku masuk ke kamar dengan langkah pelan. Mas Viyan langsung menyadari wajahku yang murung.
"Ayah ngomong apa?"
Aku menceritakan semuanya. Mas Viyan langsung menghela napas panjang.
"Pasti Mama cerita macam-macam lagi."
"Aku enggak marah sama Ayah. Beliau hanya belum tahu kenyataannya."
Mas Viyan menggenggam tanganku.
"Sayang."
"Iya?"
"Mas janji. Suatu hari nanti...Ayah akan tahu semuanya."
Aku tersenyum tipis. "Semoga saja, Mas."
Namun di ruang tengah... Pak Haris masih duduk bersama Bu Mirna.
Tanpa diketahui siapa pun, Bu Mirna kembali berkata pelan.
"Pak... Kalau nanti Fitri mulai mengeluh tentang saya..Bapak jangan langsung percaya. Anak sekarang pintar membalikkan keadaan."
Pak Haris mengangguk mantap. "Tenang. Bapak percaya sama kamu."
Mendengar jawaban itu, senyum tipis kembali menghiasi wajah Bu Mirna. Rencananya berhasil. Kini bukan hanya tetangga yang memandang Fitri sebelah mata. Suaminya memang mulai sadar. Namun ayah mertuanya... Baru saja berhasil ia jadikan sekutu baru.
Bersambung...