Impian Puja untuk melangkah ke bangku kuliah dan menjadi seorang psikolog seketika sirna tepat di hari kelulusannya. Tanpa persetujuannya, Abi memintanya menikah dengan Ustadz Jeffry, putra dari sahabatnya, Kyai Ali. Tekanan kian berat ketika Umi Mina, ibu tirinya, terus mendesak Puja demi hadiah yang dijanjikan keluarga Kyai Ali, memanfaatkan kepatuhan mutlak Abi terhadap setiap kata-katanya.
Di sisi lain, Ustadz Jeffry memegang teguh prinsip berbakti dan memilih patuh pada keinginan orang tuanya untuk menyegerakan pernikahan. Ketika dua insan dengan rasa yang bertolak belakang ini disatukan—Puja yang terpaksa melipat mimpinya dan Jeffry yang pasrah pada titah sang ayah—pernikahan tersebut menjadi awal dari pergolakan batin dan kepasrahan atas takdir yang tak pernah Puja inginkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Suasana di ruangan itu perlahan mencair. Ketegangan yang sempat mencekik kini berganti dengan kehangatan rasa kekeluargaan yang tulus.
Jeffry merangkul pinggang Puja erat, merasa bahwa badai besar yang sempat mengancam rumah tangga mereka akhirnya berhasil dilewati bersama-sama.
"Sekarang, mari kita makan bersama di sini," ajak Kyai Ali dengan nada hangat, mencairkan sisa-sisa ketegangan.
"Abah sudah minta disiapkan masakan kesukaan kalian."
Jeffry dan Puja menganggukkan kepalanya ke arah Kyai Ali.
Hari menjelang siang saat Kyai Ali mengajak mereka beranjak dari ruang tamu menuju ruang makan di bagian dalam paviliun.
Suasana di meja makan terasa jauh lebih hangat dan menenangkan dibandingkan ketegangan yang baru saja mereka lalui beberapa menit lalu.
Di atas meja, berbagai hidangan sederhana namun lezat khas rumahan sudah tersaji rapi, berkat inisiatif Kyai Ali yang sepertinya sudah mengantisipasi kedatangan mereka.
"Silakan, dinikmati. Abah sengaja pesan menu ini
karena tahu kalian suka," ucap Kyai Ali ramah sambil mempersilakan putra dan menantunya duduk.
Jeffry menarikkan kursi untuk Puja terlebih dahulu sebelum ia mendudukkan diri di samping sang istri.
Dengan penuh perhatian, Jeffry mengambilkan nasi dan lauk ke piring Puja, memastikan istrinya makan dengan baik setelah melewati pagi yang cukup melelahkan secara emosional.
Kyai Ali mengamati interaksi manis di antara keduanya sambil tersenyum simpul.
Beban berat di dadanya seolah terangkat melihat bagaimana putranya kini tumbuh menjadi suami yang bertanggung jawab dan mampu melindungi rumah tangganya dengan bijak.
"Abah senang kalian berdua datang dan menyelesaikan masalah ini bersama-sama," ujar Kyai Ali di sela-sela santap siang mereka.
"Menghadapinya secara langsung adalah keputusan yang tepat. Biar Ningsih dan Ningrum tahu batasan, dan tidak lagi berani mengganggu ketenangan kalian."
Puja mengangguk pelan sambil merapikan sendok di piringnya.
"Iya, Abah. Puja cuma ingin semuanya menjadi jelas, supaya tidak ada lagi rasa curiga atau ketakutan saat Mas Jeffry sedang tidak ada di rumah."
"Dan, mulai sekarang, Abah akan pastikan mereka tidak akan punya kesempatan lagi untuk berulah," tambah Kyai Ali dengan nada tegas yang menyiratkan wibawa seorang pemimpin pondok pesantren.
Makan siang pun dilanjutkan dengan obrolan ringan dan penuh kehangatan.
Tidak ada lagi bayang-bayang ancaman atau rasa cemas yang menggelayut di benak mereka.
Rumah tangga Jeffry dan Puja kini telah melewati ujian besar pertamanya, dan mereka melewatinya dengan tangan bergandengan erat—membuktikan bahwa cinta dan kejujuran adalah benteng terkuat yang tidak akan pernah bisa diruntuhkan oleh ambisi siapapun.
Selesai makan siang dan menghabiskan waktu sejenak dengan berbincang santai di ruang keluarga, suasana di ndalem pondok pesantren mendadak kedatangan tamu tak terduga.
Seorang pria paruh baya berpeci hitam dengan pembawaan yang berwibawa dan ramah tampak melangkah memasuki area paviliun, didampingi oleh seorang santri pengurus.
Kyai Ali yang melihat kedatangan tamu tersebut langsung berdiri menyambut dengan senyum lebar dan pelukan hangat.
"Alhamdulillah. Ya Allah, Kyai Saiful! Sudah lama sekali kita tidak berjumpa. Silakan, silakan masuk," sambut Kyai Ali penuh takzim, mempersilakan tamu jauhnya itu duduk di ruang tamu.
Tamu agung itu ternyata adalah Kyai Saiful, ulama kharismatik pimpinan pondok pesantren besar dari Kediri yang sekaligus merupakan sahabat karib Kyai Ali semasa menimba ilmu di pesantren masa muda dulu.
Jeffry dan Puja yang berada di dekat sana pun turut berdiri, menyambut dan bersalaman dengan Kyai Saiful secara bergantian dengan penuh hormat.
Setelah duduk dan dihidangkan secangkir teh hangat, Kyai Saiful langsung mengutarakan maksud kedatangannya yang jauh-jauh datang dari Kediri.
"Begini, Sahabatku Kyai Ali," ucap Kyai Saiful sambil tersenyum ramah, memandang Kyai Ali lekat-lekat.
"Kedatangan saya ke sini, selain untuk bersilaturahmi, saya mendapat amanah dari para sesepuh dan pengurus yayasan di Kediri untuk mengundang secara khusus kehadiran Kyai Ali."
Kyai Ali mendengarkan dengan penuh perhatian.
"Undangan dalam rangka apa, Kyai?"
"Insya Allah, bulan depan pesantren kami akan mengadakan acara Haul Akbar untuk memperingati wafatnya para pendahulu kami," jawab Kyai Saiful antusias.
"Acara ini cukup besar dan dihadiri banyak jamaah dari berbagai daerah. Kehadiran jenengan, Kyai Ali, sangat kami harapkan untuk memberikan ceramah utama sekaligus memimpin doa bersama. Keberkahan ilmu jenengan sangat dirindukan oleh para santri dan masyarakat di sana."
Mendengar ajakan tersebut, Kyai Ali mengangguk-angguk pelan, merenungkan permohonan sahabat lamanya itu.
Di sisi lain, Jeffry dan Puja menyimak percakapan tersebut dengan tenang, ikut merasa bangga atas kehormatan yang diberikan kepada sang ayah.
Kyai Ali tersenyum hangat, menyambut niat baik dan kehormatan yang diberikan oleh sahabat lamanya itu.
Sebagai sesama pengasuh pesantren yang memiliki ikatan persaudaraan batin yang kuat, permintaan Kyai Saiful tentu bukanlah hal yang bisa ditolak begitu saja.
"Insya Allah, Kyai Saiful. Undangan dan amanah yang mulia ini akan saya penuhi," jawab Kyai Ali dengan nada tulus dan bersahaja.
"Merupakan suatu kehormatan bagi saya bisa hadir dan bersilaturahmi kembali dengan para santri serta jamaah di Kediri."
Mendengar jawaban tersebut, wajah Kyai Saiful langsung berbinar cerah.
Ia menghela napas lega dan tersenyum lebar sambil menepuk pelan lutut Kyai Ali.
"Alhamdulillah, terima kasih banyak, Kyai Ali. Kehadiran jenengan pasti akan membawa keberkahan besar bagi acara Haul Akbar kami nanti."
Suasana ruang tamu terasa semakin hangat dipenuhi keakraban dua ulama besar yang bernostalgia mengenang masa-masa perjuangan mereka di masa lalu.
Jeffry yang duduk tidak jauh dari sang ayah ikut merasa senang.
Ia melirik sekilas ke arah Puja yang duduk di sebelah suaminya, melempar senyuman tipis yang dibalas dengan anggukan lembut oleh sang istri.
Kehadiran Kyai Saiful seolah menjadi penutup hari yang menenangkan, mengalihkan seluruh sisa ketegangan akibat ulah Ningsih dan Ningrum dengan suasana yang penuh berkah.
Setelah berbincang cukup lama dan merampungkan beberapa detail acara terkait keberangkatan nanti, Kyai Saiful pamit undur diri karena harus melanjutkan perjalanan kembali ke Kediri hari itu juga. Kyai Ali, didampingi Jeffry dan
Puja, mengantar kepulangan sahabatnya itu hingga ke halaman depan ndalem.
Selepas mobil yang membawa Kyai Saiful meninggalkan gerbang pondok, Kyai Ali menarik napas dalam-dalam lalu menoleh kepada putra dan menantunya.
"Sepertinya bulan depan Abah harus pergi ke Kediri selama beberapa hari untuk memenuhi undangan Kyai Saiful," ujar Kyai Ali sambil tersenyum menatap Jeffry dan Puja.
"Tapi, kalian tidak perlu khawatir. Suasana di sini insya Allah sudah jauh lebih kondusif. Ningsih dan Ningrum tidak akan berani berbuat macam-macam lagi setelah kejadian tadi."
Jeffry mengangguk mantap.
"Baik, Bah. Kami ikut mendoakan semoga perjalanan dan acara Abah di Kediri nanti diberi kelancaran dan membawa berkah."
"Aamiin.Terima kasih, Nak," balas Kyai Ali penuh kasih.
Hari menjelang sore, dan setelah berpamitan dengan Kyai Ali untuk kembali ke rumah mereka, Jeffry dan Puja berjalan berdampingan menuju mobil.
Perasaan mereka kini jauh lebih ringan, siap menyambut lembaran baru kehidupan rumah tangga mereka yang kini telah menemukan ketenangannya kembali.